jump to navigation

Teknologi – Pasar – Pendidikan November 26, 2009

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
1 comment so far

Abu Khaulah Zainal Abidin

Dahulu kala manusia harus berenang untuk menyeberangi hanya sebuah sungai. Mereka harus -dan hanya bisa- berlari sekencang-kencangnya untuk tiba segera di tempat yang dituju. Bersusah payah melompat setinggi-tingginya hanya untuk meraih buah yang hendak dipetik.

Kini mereka mampu berlayar bahkan mengarungi samudra. Cukup memacu kendaraannya untuk tiba di tempat dalam sekejap. Terbang bahkan menembus awan dengan pesawat.

Semua itu karena manusia tak henti berupaya; mengatasi tantanganmempermudah cara, dan meningkatkan hasil. Berbagai ilmu mereka kembangkan, berbagai cara mereka lakukan, dan berbagai alat mereka ciptakan. Itulah teknologi.


Teknologi

adalah yang juga hewan telah mengenalnya sejak awal, jauh sebelum istilah itu diciptakan. Hewan memanipulasi dirinya di dalam rangka menghadapi tantangan alam yang mengancam kehidupannya. Mereka berupaya mempermudah cara untuk melanjutkan kehidupannya,  bahkan bersiasat untuk meningkatkan hasil buruannya.

Jadi, teknologi bukan monopoli manusia,  apalagi harus identik dengan moderen. Ya, fitrah makhluq hidup -yang punya keinginan; mengatasi tantangan atau rintangan, mempermudah cara, dan  meningkatkan hasil atau kualitas hidup- itulah yang menjadi sebab mengapa teknologi ada,  sesederhana apapun bentuk dan cara kerjanya.

Manusia berupaya mengatasi tantangan, sehingga ia menjadi punya dari sebelumnya tak punya, menjadi bisa dari sebelumnya tak bisa. Setelah itu, manusia berupaya mempermudah berbagai cara, sehingga lebih mudah untuk punya, lebih mudah untuk bisa, serta lebih mudah meraih hasrat dan menyampaikan maksud,. Tidak cukup sampai di situ, kemudian manusia berupaya meningkatkan apa yang telah  dihasilkan atau diperolehnya, sehingga hidupnya menjadi lebih baik;  tidak sekedar punya…, tidak sekedar bisa…. (lagi…)

“Sebelum Anak Terlanjur Cerdas” Maret 17, 2009

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , ,
20 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Terlanjur cerdas ? Cerdas koq bisa terlanjur ? Bukankah setiap orang mendambakan anaknya cerdas ? Apalagi kata “terlanjur”   konotasinya jelek . -suatu yang tidak diharapkan-,  seperti;  terlanjur basah, terlanjur jatuh, atau terlanjur menjadi bubur,

Anak cerdas, siapa tak mau ? Tetapi itu bukan segala-galanya. Terlebih kalau ia dijadikan dasar bagi segala pertimbangan, mengalahkan bekal-bekal hidup lainnya yang mutlak dimiliki setiap manusia. Apalagi jika yang dimaksud cerdas itu tak lebih dari sebentuk kemampuan menalar, memahami, dan menarik kesimpulan, atau sekedar mampu berpikir logis , menemukan dan memecahkan jawaban-jawaban matematis.

Bahkan sekalipun kecerdasan itu -juga- meliputi kemampuan mengenal dan mengelola perasaan diri,  yang dengannya seseorang mampu memahami kemudian merespon orang lain melalui sikap dan tindakan. Sejenis potensi -yang menurut teori Emotional Quotient (EQ)-nya Goleman- berupa kecerdasan emosional, yang berfungsi mengimbangi kecerdasan intelektual !

Bahkan sekalipun kecerdasan itu -juga- berupa kemampuan memahami akan  nilai-nilai dan makna kehidupan, menumbuhkan harapan-harapan serta keyakinan. Sejenis potensi -yang menurut teori Spiritual Quotient (SQ)-nya Danah Zohar dan Ian Marshall- berupa kecerdasan spiritual, yang berfungsi mengimbangi bahkan mengendalikan kecerdasan intelektual dan emosional sekaligus ! (lagi…)

“Benar, Baik, dan Indah” Oktober 31, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , ,
7 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

البدء بالأهم فالأهم(Mengutamakan yang terpenting, baru kemudian yang penting) adalah prinsip setiap muslim. Artinya, mengenal skala prioritas itu -bagi seorang muslim- merupakan suatu keharusan. Dengannya ia memilih, mempertimbangkan, mengambil, atau meninggalkan sebuah tindakan. Dan terdapat banyak nash serta penjelasan betapa Islam sangat memperhatikan perkara tersebut. Urutan rukun Islam -seperti yang terdapat di dalam Hadits Ibnu Umar -radhiallahu anhu- yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim- atau arahan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ketika hendak mengutus Mu’adz -radhiallahu anhu- berda’wah di Yaman -di dalam Hadits Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- yang diriwayatkan juga oleh Al Bukhari dan Muslim-, cukup menjadi bukti akan prinsip tersebut.

Mendahulukan perkara yang Wajib dari pada Mustahabb (yang disukai), mendahulukan membayar hutang dari pada shadaqah, atau mendahulukan menjauh dari Mafsadat (kerusakan) dari pada mengejar Maslahat (kebaikan), semua ini sejalan dengan prinsip-prinsip البدء بالأهم فالأهم . Dan seandainya seorang muslim terlatih sejak dini hidup dengan prinsip ini, tentu ia menjadi pribadi yang mengerti apa yang harus diutamakan dan apa yang harus dibelakangkan. Jika hendak belajar, ia tahu mana yang wajib ia pelajari lebih dahulu dan mana yang tidak. Jika hendak memilih pekerjaan, ia tahu pertimbangan apa yang harus didahulukan. Ketika hendak berdagang, ia tahu mana yang lebih dibutuhkan orang banyak (primer) sehingga berpeluang besar -satu sikap yang sebangun dengan prinsip efektif dan efisien- . Ia tidak akan terlalu lama diombang-ambingkan kebingungan untuk mengambil keputusan atau menetapkan pilihan. Kesemua itu menjadi mudah baginya karena prinsip البدء بالأهم فالأهم sudah mendarah daging padanya. (lagi…)

Peluang itu Datang Lagi !!! Agustus 26, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Risalah.
Tags: ,
6 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Hari ini terlalu banyak yang telah berubah dan menjadi baik. Orang-orang yang semula kukenal tak pernah sholat, kini tak pernah tertinggal berjama’ah di masjid. Temanku yang dulu masih terbata-bata membaca Al Qur’an, sekarang sudah hafal beberapa juz. Juga tidak sedikit aku temui perempuan yang semula berpakaian seronok, kini bahkan nyamukpun tak menemukan sedikit celah untuk bisa mendarat di kulitnya. Subhaanallah, banyak sekali yang telah berubah…, kecuali diriku.

Hari ini tak sedikit orang yang kukenal baik telah pergi, meninggalkan alam dunia, meninggalkan aku… -yang juga belum berubah-. Dan hari ini kembali ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mempertemukan aku dengan bulan Ramadhan. Artinya, sekali lagi ALLAH, mungkin yang terakhir kali, memberikan aku kesempatan, memberikan aku peluang (lagi…)

” Dikemanakan Hadits-Hadits ini?” Agustus 13, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Risalah.
Tags: , , , , , , ,
2 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Sungguh tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang kepada orang beriman selain Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Penderitaan orang-orang beriman adalah penderitaannya. Bahkan kesusahan orang-orang beriman ia rasakan lebih perih, seakan ia pusat saraf paling peka dari sebuah tubuh.

Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih bersungguh-sungguh ingin memberikan petunjuk dan bimbingan serta ingin memberikan jalan keluar terbaik bagi orang-orang beriman, selain Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Keselamatan dan kebahagiaan orang-orang beriman adalah kebahagiaannya.

Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang dan tulus kepada orang-orang beriman selain Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Apa yang ia beri tak pernah ia harap kembali. Dialah yang tak pernah menjual nasihat demi sekedar mereguk ni’mat, syahwat atau pangkat, juga tidak pernah gila hormat. (lagi…)

Dikotomisme Ilmu Di dalam Islam. Adakah Itu ? Agustus 2, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
10 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Jawabnya tentu bukan sekedar ada atau tidak. Dan masalah, bahkan istilah ini -berkaitan dengan Islam- tidak pernah dipertanyakan sebelumnya, kecuali karena dua sebab: Pertama, kenyataan yang terjadi di mana sebagian kaum muslimin sendiri cenderung berpandangan atau bersikap sehingga menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya dikotomisme yang keliru. Ke-dua, Kecemburuan sebagian kaum muslimin atas ketertinggalan mereka oleh “barat” (baca: peradaban dunia non-muslim) di dalam urusan kesejahteraan material.

Pertanyaan ini menjadi penting, karena terlanjur muncul berbagai jawaban, mulai dari yang filosofis sampai kepada yang sifatnya praktis. Sebagai contoh (-di Indonesia-), adanya perlakuan diskriminatif antara SD, SLTP, SMU yang berinduk ke Depdiknas dengan Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang berinduk ke Depag. Kekhawatiran orang tua; kalau memasukkan anak ke Madrasah / Pesantren nanti susah mencari kerja, dan kalau memasukkan anak ke SD dan seterusnya nanti buta agama. Kesemua ini sesungguhnya bermuara kepada persoalan dikotomi ilmu.

Sementara itu tidak sedikit orang -yang karena kecemburuan ini-, langsung bersemangat menyanggah, antara lain dengan alasan: Banyaknya ulama Islam yang punya otoritas keilmuan lebih dari satu bidang adalah bukti kuat bahwa Islam tidak mengenal konsep dikotomi ilmu. Tentu saja logika semacam ini sangat naïf. Apakah jika seseorang memiliki profesi sebagai polisi sekaligus pada saat yang bersamaan juga seorang pencuri, kemudian akan kita katakan bahwa tidak ada dikotomi antara polisi dengan bandit ? (lagi…)

“Lihat Bagaimana Orang Tuanya Diperlakukan!” Juli 11, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , ,
4 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Karena perkara terpenting di dalam urusan habluminannaas (hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah birr walidain (berbakti kepada orang tua). Beberapa ayat di dalam AL Qur’an menunjukkan, betapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. (lagi…)

Dasar-Dasar Pendidikan Bagi Anak Juni 18, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , ,
5 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa juga disalahkan manakala timbul permasalahan di usia-usia belajar mereka. Dari sisi ini tampak sekali, bahwa “pendidikan sebagai produk masyarakat” lebih dominan ketimbang “masyarakat sebagai produk pendidikan”. Masyarakat telah lebih dahulu mendifinisikan, bahwa: Pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang mendidik (-nyatanya hanya mengajar-) di usia-usia belajar mereka, 6-3-3-6 th dst. Masyarakat telah lebih dahulu mendisain masa depannya dan meciptakan sistim pendidikannya untuk itu. Tepatnya, bisa dikatakan, bahwa pendidikan adalah cermin sistem sosial, di mana ia diselenggarakan di dalam sekaligus demi cita-cita sistem tersebut. (lagi…)

“Ketika Kebenaran Didustakan dan Kedustaan Dibenarkan” Juni 17, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Risalah.
Tags: , , ,
3 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Di antara sebab murkanya ALLAH kepada bangsa Yahudi, adalah karena mereka mendustakan nabi-nabi yang diutus. Padahal tidaklah ALLAH memilih utusan-utusan-Nya, kecuali dari orang-orang terbaik di kalangan dan pada zamannya. Tentu saja, karena ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengutus mereka dalam rangka mengajak manusia beribadah hanya kepada ALLAH dan meninggalkan kesyirikan. Mereka dipilih untuk . diterima, dicintai, diutamakan, serta diteladani. Mereka diutus untuk didengar, dipercaya dibenarkan, kemudian dita’ati dan diikuti.

Adapun Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, sebagai rasul akhir zaman dan penutup para nabi, tentu saja memiliki keistimewaan tersendiri. Beliau diutus untuk segenap manusia yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak mengutus lagi seseorang setelah dia, baik nabi, apalagi rasul. Yang tak ada alasan bagi orang Yahudi maupun Nashara untuk bertahan di dalam agama mereka, yang tidak ada balasan bagi mereka yang menolak ajakan Beliau Shallallahu alaihi wa sallam kecuali dijebloskan ke dalam neraka. (lagi…)

“rumah belajar Ibnu Abbas” Maret 22, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , ,
12 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Latar Belakang

Didiklah anak mu. Karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu ” [Hikmah].

Sya’ir di atas sangat masyhur di kalangan ulama dan tertulis hampir di setiap kitab yang membahas masalah pendidikan. Ia merupakan prinsip yang tak terbantahkan dan telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pendidik, bahwa pendidikan haruslah berorientasi ke masa depan karena buahnya baru dapat dirasakan justru di saat yang berbeda dengan masa penanamannya. Artinya, sebuah pendidikan haruslah diilhami oleh kecenderungan-kecenderungan masa depan dan bukan dibangun dengan visi kekinian semata.

Sampai di sini seakan tak ada yang istimewa dari sya’ir di atas. Bukankah pendidikan yang “berorientasi pasar” pun merupakan wujud prinsip di atas?.

Benar, namun tentu tak sesederhana itu maksudnya, juga ia diucapkan bukan dalam konteks lapangan kerja. Sya’ir di atas tak dapat dilepaskan dari konteks “syar’i”, yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Ia berbicara tentang Aqiedah, Ibadah,dan Akhlaq manusia di zaman di mana ummat tercerai-berai dalam kesesatan [Hadits Iftiroqul Ummah], perkara sholat dilalaikan [S.Maryam : 59], rusaknya akhlaq, sementara Islam menjadi sesuatu yang asing [Hadits Al Ghurobaa]. (lagi…)