jump to navigation

“Lihat Bagaimana Orangtuanya Diperlakukan!” Juli 11, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , ,
trackback

Abu Khaulah Zainal Abidin

Karena perkara terpenting di dalam urusan habluminannaas (hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah birr walidain (berbakti kepada orangtua). Beberapa ayat di dalam AL Qur’an menunjukkan, betapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya:Dan(-ingatlah-)ketika Kami mengambil perjanjian dengan Bani Isra’il, agar kalian (-wahai Bani Isra’il-) tidak beribadah kecuali kepada ALLAH, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orangtua.)(Al Baqarah: 83)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Dan ibadahilah oleh kalian ALLAH. serta jangan kalian sekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.)(An-Nisaa':36)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Katakanlah,”Marilah kubacakan apa yang ALLAH haramkan ataskalian, yaitu: janganlah kalian menyekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua…”)(Al An’aam:151)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.)(Al Isra':23)

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, melalui ayat di atas, mengaitkan antara bersyukur kepada ALLAH dan bersyukur kepada makhluq- Nya. Bahkan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan di dalam haditsnya:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .

هذا حديثٌ صحيحٌ.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.” (HR: At-Tirmidzi – Shohih)

Dan seutama-utama makhluq, seutama-utama manusia yang layak mendapatkan sikap bersyukur dan berterima kasih adalah kedua orangtua, ayah dan ibu.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Dari cara bersikap kepada kedua orangtuanya lah bermula bagaimana kelak seseorang hidup bermasyarakat. Dan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mewasiatkan kepada segenap manusia akan perkara ini.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

(Artinya: Dan telah kami wasiatkan manusia (-berbuat baik-) kepada kedua orangtuanya, yang mana ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang amat sangat dan menyapihnya selama dua tahun. Agar hendaknya bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orangtuanya. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.)(Luqman:14)

Melalui ayat ini ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengungkapkan tentang penderitaan dan pengorbanan orangtua bagi anaknya -sejak anaknya masih di dalam kandungan-. Kedua orangtua telah bersusah payah membesarkan serta memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anaknya. Dan pengungkapan ini tidak lain agar anak berterima kasih dan tak melupakan pengorbanan kedua orangtuanya. Juga hendaknya kedua orangtua mengajari anak-anaknya agar mampu melihat dan menghargai jasa-jasa mereka. Dan perasaan serta kebutuhan akan -disyukuri dan dihargai- ini berlaku dan merupakan fitrah pada setiap manusia, kafir sekalipun dia.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di awal-awal usianya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: bau keringat ibunya yang tercium dari balik kain gendongan, gerakan tangannya ketika menyuapi, memandikan, dan menuntunnya berjalan, bahkan keluhan atau omelan-omelannya :” Ibu capek, nak. Ibu lagi repot, nak.” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di masa-masa pertumbuhannya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: kesibukan bapaknya bersiap-siap untuk berangkat kerja, kurang tidurnya mereka karena sejak malam sudah harus mengemas barang yang hendak dibawanya ke pasar, wajah ibu bermandikan peluh yang sejak sebelum subuh sudah di hadapan tungku, mempersiapkan dagangannya di pagi hari, yang mungkin ia sendiri ikut mondar-mandir membantu mereka mengambil ini dan itu, bahkan keluhan dan omelan-omelannya “Jadi anak tahu diri, donk. Kita ini bukan orang kaya seperti mereka!” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di masa-masa menjelang dewasanya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: air muka kesedihan atau kesusahan yang nampak karena memikirkan masa depan anaknya, jerih payah jasmani dan ruhaninya guna memenuhi kebutuhan anaknya, keringat, waktu, atau mungkin rasa malu yang dikorbankan demi anaknya. bahkan keluhan dan omelan-omelannya: “Bilang, SPP sejak Juli belum bisa kami lunasi!” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ya, ketika peristiwa-peristiwa penting -yang tampaknya sepele- semua hilang dari ingatan. Ketika semua hari-hari bersejarah itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam tak terlupakan.

Maka, seandainya kepada manusia yang paling berjasa -yang terlihat dan terasa pengorbanan serta kasih sayangnya, yang telah mempersembahkan tetesan keringat, air mata, bahkan darah- bagi dirinya saja seseorang tak mampu bersyukur dan berterima kasih, bagaimana pula kepada selain mereka?

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika orangtua gagal mendidik anaknya untuk menjadi orang yang pandai berterimakasih. Ketika kepada orang yang paling berjasa saja ia tak mampu membalas budi. Kepada yang hidup bersamanya sejak kecil saja ia berbuat dzalim. Ketika kepada orang yang seharusnya ia bersikap santun dan merendahkan diri di hadapannya saja ia berlaku kasar dan jahat. Ketika kepada orang yang paling mencintainya saja begitu tega ia berdusta dan menipunya. Maka bagaimana pula kepada selain mereka?

Tentu saja ini tidak berarti, bahwa orang yang berlaku baik, patuh, dan cinta kepada kedua orangtuanya pasti berlaku sama kepada selain keduanya. Namun, sebaliknya, hampir bisa dipastikan, seseorang yang tega berlaku buruk, kurang ajar, dan jahat kepada kedua orangtuanya, sangat mungkin berbuat lebih kepada selain mereka! Maka, kepada siapa saja yang hendak memilih teman, rekan usaha, bahkan calon menantu, lihat.., lihat dan perhatikanlah bagaimana orangtuanya diperlakukan!

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menambahkan ni’mat-Nya bagi yang pandai bersyukur dan menimpakan adzab-Nya yang sangat pedih bagi yang mengkufuri ni’mat-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(Artinya:Dan (-ingatlah-) ketika rabb-mu mema’lumkan,”Jika kalian bersyukur,sungguh akan Aku tambahkah ni’mat-Ku.Dan jika kalian mengingkari (ni’mat-Ku-), maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih.”) (Ibrahim: 7)

Maka mengertilah kita mengapa di dalam urusan bersyukur digunakan kata pandai, bukan sekedar bisa. Karena begitu tak terhingganya ni’mat-ALLAH, namun begitu banyak pula yang tak mampu melihatnya. Dan ketidakmampuan -melihat atau merasakan ni’mat-ALLAH yang tiada terhingga- Itu boleh jadi disebabkan oleh kebodohan. Maka membiarkan diri atau anak senantiasa di dalam kebodohan bersyukur sama saja dengan menyiapkan diri atau anak untuk mendapat adzab ALLAH yang sangat pedih.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika ni’mat-ALLAH yang tiada terhingga itu tak mampu ia rasakan, bahkan ia senantiasa merasa kurang dan tidak bahagia. Ya, di dalam hidup yang bergelimang keni’matan saja ia merasa susah dan menderita. Bagaimana pula jika benar-benar ALLAH timpakan musibah atasnya ? Mampukah ia bersabar dan kuat mengatasi kesusahan dan penderitaan ?

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Itulah di antara hikmah kenapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa dahulukan perintah bersyukur -kepada-Nya dan berterima kasih kepada orang tua- dengan pengungkapan tentang jasa dan pengorbanan orangtua. Itulah pula di antara hikmah kenapa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : “Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.”

Itulah sebabnya, kenapa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua. Karena dari sinilah segalanya bermula…

About these ads

Komentar»

1. Tubagus Damai / Abu Rahmah - Juli 15, 2008

Barakallahu fik ; Pembahasan yang indah dan sangat bermutu. Ana masih tunggu lagi satu bahasan ; apabila orang tua (baik ayah maupun ibu) meng-abaikan hak-hak anak untuk menerima perlindungan, pendidikan dan nafaqah lainnya yang sewajibnya diberikan oleh orang tua kepada anak. Syukron.

2. arman - Desember 11, 2008

barakallah fiikum…
nasehat ini insya Allah sangat bermanfaat…

3. Rahmat-sukabumi - Mei 1, 2009

Bismillah,

Begitu berartinya anak bagi sebuah keluarga hingga terkadang orang-orang yang belum dikaruniai anak mau menempuh segala cara untuk mendapatkan harapannya itu. Mereka lupa bahwa anak adalah pemberian dari Allah, yang mestinya hanya kepada-Nya mereka meminta.

Bagi orang-orang yang beriman, mereka menyadari bahwa anak merupakan nikmat dari Allah sekaligus sebagai ujian. Dalam ruku’ dan sujud serta dalam segala munajat, mereka meminta agar dikaruniai keturunan yang baik, yaitu anak-anak yang shalih dan berbakti kepada orang tuanya.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَاماً

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali tiga perkara shadaqah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak yang shalih yang akan mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1279, Muslim no. 2658, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

peran orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk karakteristik & kejiwaan anak, hendaknyalah setiap diri-diri kita ( Orang Tua ) lebih memperhatikan pendidikan anak dalam mengenal nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran syariat…
insyaallah, dengan mengarahkan metode pengajaran yang sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wata’ala ( Alquran & Assunnah ) dengan merujuk pada pemahama terbaik ( Generasi Salaf ) dengan metode bimbingan ulama ahlussunnah Waljamaah, Insyaallah, buah hati kita akan menjadi generasi yang kuat, tangguh, bertaqwa & berahlaq mulia.

Ana hanya seorang ayah dari 2 putri, yang masih awam dalam segala hal, bimbingan ustad semua, sangatlah memberi faedah kepada ana & keluarga.. semoga ustadz semua tetap istiqomah dalam menyampaikan al-haq.

salam cinta ana teruntuk ustadz semua…semoga Allah senantiasa curahkan hidayah & karunia nikmatnya kepada kita. semoga Allah memudahkan Ustadz-ustadz semua dalam mengembangkan anak didik yang membela agama Allah…aminn.

4. Pamudji - November 10, 2009

Assalamualaikan WW pak Ustadz
Terima kasih Ustadz atas Artikel yang bagus ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk keluarga kita semua.
Semoga Ustadz selalu diberikan kesehatan dan RahmatNya

Nekarsari 10 Nopember 2009
Pamudji
Mekarsari Cimanggis Depok

5. ummu Nabil - September 24, 2010

Barakallahu fiyk
Masya Allah tulisan yang bagus dan insya Allah sarat manfaat bagi kami.
Jazakumullahu khairan

6. Abu 'Abdillah - Prambanan - Januari 30, 2011

Lama tak berkunjung.. api ketika membaca ulang…, masih nikmat saja tulisan ini dibaca.
Baarokallahu fiykum.

7. abu luqman - Maret 29, 2014

ya Allah berilah taufiq kepada kami agar kami bisa menjalankan syariat-syariat-MU.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 225 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: