jump to navigation

Dikotomisme Ilmu di Dalam Islam. Adakah Itu ? Agustus 2, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Abu Khaulah Zainal Abidin

Jawabnya tentu bukan sekedar ada atau tidak. Dan masalah, bahkan istilah ini -berkaitan dengan Islam- tidak pernah dipertanyakan sebelumnya, kecuali karena dua sebab: Pertama, kenyataan yang terjadi di mana sebagian kaum muslimin sendiri cenderung berpandangan atau bersikap sehingga menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya dikotomisme yang keliru. Kedua, Kecemburuan sebagian kaum muslimin atas ketertinggalan mereka oleh “barat” (baca: peradaban dunia non-muslim) di dalam urusan kesejahteraan material.

Pertanyaan ini menjadi penting, karena terlanjur muncul berbagai jawaban, mulai dari yang filosofis sampai kepada yang sifatnya praktis. Sebagai contoh (-di Indonesia-), adanya perlakuan diskriminatif antara SD, SLTP, SMU yang berinduk ke Depdiknas dengan Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang berinduk ke Depag. Kekhawatiran orang tua; kalau memasukkan anak ke Madrasah / Pesantren nanti susah mencari kerja, dan kalau memasukkan anak ke SD dan seterusnya nanti buta agama. Kesemua ini sesungguhnya bermuara kepada persoalan dikotomi ilmu.

Sementara itu tidak sedikit orang -yang karena kecemburuan ini-, langsung bersemangat menyanggah, antara lain dengan alasan: Banyaknya ulama Islam yang punya otoritas keilmuan lebih dari satu bidang adalah bukti kuat bahwa Islam tidak mengenal konsep dikotomi ilmu. Tentu saja logika semacam ini sangat naïf. Apakah jika seseorang memiliki profesi sebagai polisi sekaligus pada saat yang bersamaan juga seorang pencuri, kemudian akan kita katakan bahwa tidak ada dikotomi antara polisi dengan bandit ?

Paradigma Apa yang Kita Pakai ?

Membicarakan ilmu sebagai sesuatu yang dipahami (-sehingga melahirkan penggolong-golongan / pengelompokan / pengkategorian berdasarkan sifat/karakternya-) tentu berbeda dengan membicarakannya sebagai sesuatu yang diterapkan. Kita bisa membicarakan Leonardo da Vinci, misalnya sebagai seorang pelukis dan pematung sekaligus seorang insinyur, tidak berarti kedua ilmu yang digelutinya itu tidak berbeda, bukan? Juga karena ini masalah nilai, maka tentu jawabnya tergantung siapa yang melihat, atau tepatnya paradigma apa yang dipergunakan untuk melihat masalah tersebut. Dan yang terakhir ini sangat penting dan menentukan.

Sejarah peradaban “barat” (Kristen) sejak zaman Romawi memberikan pengaruh besar terhadap pendikotomian ilmu maupun arti dikotomi itu sendiri. “Gereja untuk tuhan dan istana untuk raja“, atau ucapan Einstein: “Agama/iman tanpa ilmu, lumpuh. Ilmu tanpa agama/iman buta.”merupakan contoh paling mendasar dan nyata dari praktek dikotomi. Lebih dari itu, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sana juga ikut membawa pengaruh. Pergulatan mereka di bidang filsafat ilmu pengetahuan -sejak Francis Bacon (15611626) sampai TS Kuhn (1922 – 1996.)- tidak pernah membebaskan mereka dari belenggu dikotomi yang telah berurat-berakar di tubuh peradaban (-kristen barat-) mereka.semenjak agama ini berkembang di sana. Sederet nama mulai dari Descartes, Newton, Voltaire, dan Hume merupakan pribadi-pribadi yang paling bertanggung jawab atas tetap terkurungnya Yesus hanya di gereja-gereja, hingga hari ini.

Kemudian ketika kaum muslimin dibesarkan di bawah asuhan nilai dan metode pendidikan “barat”, merekapun memahami dan mendudukkan perkara dikotomi sebagaimana kata/istilah itu dikenal dan dipergunakan di “barat”. Para pengekor maupun penentangnya sama-sama dibesarkan dengan cara pemahaman itu. Mereka melihat agamanya (Islam) dengan kacamata para pewaris peradaban Yunani – Romawi melihat agama Kristen. Jadi sekalipun ada sebagian yang tampak menentang, toh bantahannya sangat artifisial (semu). Kalimat-kalimat seperti: “Agama dan ilmu tak perlu dipertentangkan, keduanya bisa hidup berdampingan dan saling menunjang.” atau : ” Agar tidak menjadi generasi yang sekuler, di samping diajarkan ilmu-ilmu umum anak-anak juga harus diajarkan ilmu agama.” menunjukkan bahwa justru sekulerisme itu telah tumbuh di dalam benak tanpa mereka sadari. Telaah dan renungkan dalam-dalam kalimat-kalimat di atas, tentu akan kita dapati ruh dikotomisme-sekulerisme di dalamnya!

Sesungguhnya akar permasalahan ini bisa ditarik mulai dari makna dan penjelasan firman-ALLAH: ” …غير المغضوب عليهم ولا الضالين…” (“…selain orang-orang yang dimurkai atas mereka dan orang-orang yang sesat.” – Al Fatihah: 7), karena dari sinilah segalanya bermula. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa Al Maghdhub itu Yahudi dan Adh-Dhallin itu Nashara. (-HR:Muslim-). Dan Yahudi, sebagaimana juga Nashara, memiliki karakter yang khas. Yang pertama, berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, mengedepankan aqal, dan cenderung kepada pendekatan filsafat. Yang ke-dua, beramal tetapi tidak dilandasi ilmu, mengedepankan perasaan. dan cenderung kepada gaya tasawuf. Maka mengertilah kita siapa yang ditiru -sadar atau tidak- oleh Mu’tazilah atau kaum Sufi, jika kita ingat akan peringatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

عن أبي سعيد الخدري،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

(لتتبعن سَنَنَ من كان قبلكم، شبراً بشبر وذراعاً بذراع، حتى لو دخلوا جحر ضب تبعتموهم).

قلنا: يا رسول الله، اليهود والنصارى؟ قال: (فمن).

(Dari Abu Sa’id Al Khudry, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, berkata: “Sungguh kalian akan benar-benar mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian. Sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang kadal tanah pun, kalian pasti mengikuti mereka.” Kami bertanya: ” Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu (-kebiasaan-) Yahudi dan Nashara?” Ia Shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab; “(-tentu saja-) Siapa lagi?” ) (HR: Al Bukhari – Muslim)

Oleh karena itu, ketika kita membicarakan perkara ini (dikotomi) di dalam kaitannya dengan Islam, tentu pertanyaan pertama adalah Islam yang bagaimana yang kita ambil sebagai ukuran. Tak bisa dipungkiri bahwa di sepanjang perjalanan sejarahnya umat Islam telah melalui berbagai zaman dengan berbagai macam pemikiran dan aliran (madzhab) di dalamnya. Era Mu’tazilah -yang rasionalis- kah yang akan kita jadikan representasi Islam, atau pandangan Sufi kah yang kita jadikan acuan? Banyak analisa dan pembahasan menjadi tidak mengena disebabkan tidak memperhatikan kenyataan sejarah ini atau melihat penggalan-penggalan sejarah tersebut secara parsial.

Dewasa ini tidak sedikit orang menulis, mulai dari yang bersifat apologetik, kritik, maupun bantahan, terhadap praktek-praktek sufi -yang menistakan dan menafikan dunia, menyepelekan peranan aqal dan mendahulukan perasaan, serta menganggap kefakiran lebih mulia dari pada kekayaan- , yang kesemuanya itu menandakan meratanya anggapan bahwa sufi -apakah itu yang dipahami dan dipraktekkan selama ini, maupun ajaran itu sendiri secara keseluruhan- lah biang keladi dari keterpurukannya umat Islam.

Ya, karena pandangan-pandangan sufistik-lah maka segala yang ajeg membuyar, segala yang fokus melebar, segala yang kaku melentur, bahkan lebih mementingkan esensi ketimbang aturan-aturan, -seperti pengakuan para pembelanya-. Dan -ironisnya- itulah pula yang menyebabkan ia terkontaminasi -atau tepatnya lebur- dengan logika, etika, dan estetika dari mana saja yang sama sufistiknya. Dengan Kristen, bahkan Hindu dan Budha. Maka pandangan-pandangan .(-yang seakan-akan dunia itu seluruhnya buruk, aqal seluruhnya salah, serta harta dan kekayaan seluruhnya hina-) itu pun semakin mengental.

Di sisi lain, di dalam rangka cemburu terhadap “barat”, kaum muslimin sering (-mengerti atau tidak-) mengungkit-ungkit era Mu’tazilah sebagai zaman “kemajuan”, Alam bawah sadar -hasil pembentukan berabad-abad selama masa penjajahan- nyalah yang mengantarkan kepada “merasa bertemu dan terpenuhinya” hasrat dan kecemburuannya tersebut lewat nostalgia masa-masa kejayaannya Mu’tazilah, tanpa -sengaja atau tidak- mempersoalkan aqidahnya. Di satu sisi mereka ingin tetap diakui sebagai seorang Sunni, bersamaan dengan itu mereka bela orang-orang yang berkeyakinan bahwa ALLAH tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahwa Al Qur’an itu makhluq, bahwa ada manusia yang keberadaannya kelak tidak di sorga juga tidak di neraka (manzilatuhu bainal manzilatain), bahwa fitnah (pertanyaan) qubur itu tidak ada, dan masih banyak lagi bahwa-bahwa lain dari paham Mu’tazilah yang tidak mewakili pandangan seluruh kaum muslimin.

Rasionalis-empiris yang diimpor dari “barat” yang di tempat asalnya masih diperdebatkan kehalalan (baca: keshahihan) metodologinya keburu jadi konsumsi ilmiah kebanyakan ilmuwan di negeri-negeri muslim. Ini semua telah membentuk paradigma, bukan hanya ketika hendak melihat sesuatu, bahkan untuk menentukan apa yang harus atau perlu dilihat dan apa yang tidak boleh atau tidak perlu dilihat. Dan tentu saja pemilihan topik pembahasan kita kali ini juga tidak bebas dari pengaruh hal di atas.

Maka untuk memperjelas dan mempermudah pembahasan, secara jujur penulis harus katakan bahwa ia memilih paradigma Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, setidaknya menurut yang dipahaminya. Dan yang dimaksud Ahlus-Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang kepada Al Qur’an dan As-Sunnah sesuai menurut pemahaman generasi terdahulu (Salaful Ummah). Tepatnya, jauh sebelum lahirnya paham Asy”ariyah – Maturidiyah -sebagaimana kedua nama belakangan ini dianggap oleh sebagian kaum muslimin sebagai representasi Ahlus-Sunnah wal Jama’ah-. (?)

Pembagian Ilmu di Dalam Islam

Kata Ilmu di dalam Islam tidaklah selalu sama pengertiannya dengan ilmu (Science /Knowledge) di “barat”, sehingga pengertian ilmiah (memenuhi standar ilmu) nya pun berbeda. Bagi “barat”, sesuatu yang tidak teruji secara empiris bukanlah ilmu. Maka megertilah kita kenapa lahir ucapan : Iman/agama tanpa ilmu, lumpuh. Dan Ilmu tanpa Iman/agama, buta. Karena iman berbeda dengan ilmu. Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (baca empiris), karena ia merupakan keyakinan.

Di dalam Islam Ilmu bisa mencakup seluruh pengetahuan, baik yang diupayakan maupun yang diwahyukan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Termasuk juga, apakah yang disebut di dalam Islam Ilmu Dhorury (sesuatu yang dapat diketahui tanpa harus belajar, seperti tahunya kita bahwa air itu basah atau asap itu menyesakkan), atau Ilmu Nadhory (yang diketahui hanya dengan belajar, seperti air itu H2O atau asap itu CO2). Ilmu juga kerap diungkapkan dengan kata hikmah. Kata ilmu adakalanya juga dimaksudkan iman -seperti penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimiin -rahimahullah-.dan juga selain beliau tentang kata amanuu di dalam Surat Al Ashr, karena mustahil seorang beramal jika tidak dilandasi ilmu. Maka iman di sini adalah ilmu. Bahkan adakalanya ilmu diartikan sebagai agama, sebagaimana ucapan Muhammad ibn Siriin radhiallahu anhu:

إن هذا العلم دين. فانظروا عمن تأخذون دينكم (رواه مسلم)

(Sesungguhnya Ilmu itu adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.)

Dan sesungguhnya para ulama (-Islam / Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah-) telah menjelaskan pembagian ilmu dari berbagai sudut. Adakalanya pembagian tersebut kemudian bersifat dikotomis, adakalanya sebagai pengkhususan satu disiplin ilmu atas yang lain. Maka mengingkari (-secara mutlak-) adanya dikotomi ilmu dalam Islam adalah keliru. Sementara mendikotomikan ilmu secara serampangan juga keliru.

Dari sisi sumber atau dasar pengambilannya ilmu -di dalam Islam- terbagi dua, Ilmu Syar’iy dan Ilmu Ghairu Syar’iy. Ilmu Syar’iy adalah ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah serta berkaitan langsung dengan pengamalan syari’at Islam. Atau sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimiin -rahimahullah-. di dalam : كتاب العلمIlmu Syar’iy adalah ilmu yang berkaitan tentang apa-apa yang diturunkan ALLAH kepada Rasul-Nya berupa petunjuk dan penjelasannya.” Selainnya adalah Ilmu Ghairu Syar’iy, yaitu ilmu-ilmu peradaban dan yang berkaitan dengannya. Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam suatu kali mengungkapkan dengan kata Ilmu Dunia, sebagaimana ucapannya : أنتم أعلم بأمر دنياكم (“Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.” – HR: Muslim). Juga di dalam do’anya: ” أللهم إني أسألك العفو و العافية في ديني و دنياي ” (“…Ya, ALLAH. Aku mohon kepada Mu kemaafan dan keselamatan di dalam urusan agamaku dan duniaku…”- HR: Abu Daud dan Ibnu Majah)

Tampak dari sisi ini kata agama dihadapkan (baca: dipertentangkan) dengan kata dunia. Jadi Ilmu Syar’iy itu ilmu agama, sedangkan Ilmu Ghairu Syar’iy itu ilmu dunia.

Dari sisi manfa’at atau tidaknya, ilmu juga terbagi menjadi: Ilmu Yang Bermanfa’at (-bagi dunia dan akhirat-) dan Ilmu Yang Tidak Bermanfa’at (-bagi dunia dan akhirat-). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam do’anya berucap:

عن أبي هريرة؛ قال:- كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :

((اللهم! انفعني بما علمتني، وعلمني ما ينفعني، وزدني علما)).

(Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa berdo’a, ALLAHUMMA, Berikan manfa’at dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkan pula aku ilmu yang bermanfa’at bagiku. Dan tambahkan aku ilmu.”) (HR: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah -dishahihkan oleh Syaikh Al Albaany)

Dari sisi hukum mempelajarinya, yakni tingkat kewajibannya atas setiap muslim untuk mengetahuinya, ilmu terbagi menjadi dua. Pertama, Ilmu Fardlu ‘Ain (wajib atas setiap pribadi). Ke-dua, Ilmu Fardlu Kifayah (tidak wajib atas setiap pribadi).

Ilmu Fardlu ‘Ain adalah ilmu tentang sesuatu yang setiap pribadi -tidak bisa diwakilkan- harus mengetahui dan memilikinya, seperti; Pengetahuan/pengenalan seseorang akan rabb (Pencipta)-nya -berkaitan tentang Kekuasaan, Hak Peribadatan, serta Nama dan Sifat-Nya-. Pengetahuan/pengenalan seseorang akan nabinya -berkaitan tentang nama dan nasab, perjalanan hidup, misi risalah, serta sunnah-sunnahnya yang wajib diamalkan-. Pengetahuan/pengenalan seseorang akan agamanya -berkaitan tentang bagian-bagian, rukun-rukun, hukum-hukum (-yang wajib secara pribadi diketahui, seperti perkara halal dan haram-),serta pembatal-pembatalnya.

Sedangkan Ilmu Fardlu Kifayah adalah ilmu-ilmu yang bekaitan dengan kemaslahatan diri dan orang lain, yang jika telah dipenuhi (ada sebagian orang yang telah mempelajari dan menguasainya) maka terbebaslah sebagian yang lain dari kewajiban akannya. Adakalanya Ilmu Fardlu Kifayah ini berbentuk Ilmu Syar’iy, seperti Ilmu Fara’id (ilmu waris) dan Ilmu Tajwid. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahumahullah- :”Mencari Ilmu Syar’iy hukumnya fardlu kifayah, kecuali dalam perkara-perkara tertentu seperti mencari ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan atau diharamkan atas seseorang. Maka di dalam perkara-perkara semacam ini hukumnya menjadi fardlu ‘ain.” (Majmu’ ul Fatawa)

Adapun semua bentuk Ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia hukum mempelajarinya adalah Fardlu Kifayah. Dan ini bukan berarti mengecilkan peranan ilmu-ilmu peradaban, tetapi justru menunjukkan bagaimana Islam dapat mendudukkan setiap perkara secara proporsional. Bukankah kita tidak menuntut seluruh manusia untuk menjadi dokter atau insinyur, misalnya. Dan apa jadinya kalau di suatu negeri -antara lain disebabkan karena tidak pernah diarahkan untuk mengetahui perkara-perkara semacam ini- semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut? Ya, seharusnya sejak awal negara sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan. Dengan begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri ikut berdosa karena meninggalkan fardlu kifayah tadi.

Kesimpulan

Bukannya ada atau tidak ada dikotomisme ilmu di dalam Islam, akan tetapi kenapa muncul pertanyaan ini, itu soalnya. Atau, tepatkah kalau pertanyaan semacam itu diarahkan ke Islam, mengingat konsep dikotomi itu datang dari pengalaman yang khas “barat”. Kalau kemudian dikotomisme ini hidup di dalam Islam, itu merupakan kebiasaan dari agama lain yang disusupkan ke dalam Islam oleh kaum sufi. Maka membantahnya dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai sample juga tidak tepat. Pertama, Mu’tazilah tidak sepenuhnya mewakili Islam. Kedua, “kemajuan” di bidang ilmu pengetahuan (baca: filsafat, sejarah, fisika, ilmu-ilmu hitung (matematika dan aritmatika), biologi, kedokteran, astronomi, dan geografi) tidak dengan sendirinya membuktikan tak adanya dikotomisme ilmu pada masa itu, atau bahwa Mu’tazilah tidak menganut adanya dikotomisme ilmu. Jika ukurannya adalah kemajuan di bidang sains dan material, maka “barat” dewasa ini harus juga kita katakan tidak menganut paham dikotomisme ilmu. donk ! Apa begitu ?

Mempertanyakan dikotomisme di dalam Islam hampir sama kasusnya dengan orang yang mengait-ngaitkan Islam dengan sosialisme. Berbagai tulisan dikarang dengan tema “Sosialisme di dalam Islam”. Mereka mencoba membedah Islam dengan pisau analisa sosiologi berparadigma sosialis. Mencari sisi-sisi kesamaaan antara Islam dengan Sosialisme, atau menafsirkan ajaran Islam dengan kacamata sosialis -sesuatu yang asing sama sekali bagi Islam dan Islam tidak ada hubungannya sama sekali dengannya- , sebagaimana ditempuh Ali Syari’ati di Iran di tahun 1970-an.

Maka kalau yang dimaksudkan dikotomi di sini adalah seperti dikotominya gereja-negara, pendeta-raja, atau agama-ilmu di dalam peradaban “barat kristen”, maka di dalam Islam hanya menyangkut Ilmu Nafi’ (Ilmu yang bermanfaat) dan Ilmu Ghairu Nafi’ (Ilmu yang tidak bermanfa’at). Adapun di dalam perbedaan sumber atau dasar pengambilannya -seperti Ilmu Syar’iy atau Ilmu Agama dan Ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia- tidaklah otomatis dianggap dikotomis -sebagaimana pengertian asalnya- karena batas kedua jenis ilmu tadi (Syar’iyAgama dan Ghairu Syar’iy/Dunia) saling menerobos manakala memasuki dataran praktis atau hukum mempelajari dan mengamalkannya.

Tidak seluruh Ilmu Syar’iy itu fardhu ‘ain mempelajarinya, dan adakalanya Ilmu Ghairu Syar’iy menjadi sebab berdosanya seluruh kaum manakala tak seorangpun menguasainya sedangkan hal itu sangat dibutuhkan masyarakat. Begitu pula, ada di antara Ilmu Syar’iy yang fardhu ‘ain mempelajarinya tetapi fardhu kifayah mengamalkannya, seperti sholat jenazah. Sebaliknya ada yang fardhu kifayah mempelajrinya tetapi fardhu ‘ain mengamalkannya, seperti ilmu tajwid.

Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan nama-nama bagi kedua jenis ilmu tadi. Seharusnya kita tidak memperkenalkan dan menggunakan -seperti kebanyakan orang- kata “umum” untuk Ilmu-ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia. Pertama, karena yang dipergunakan sejak dahulu oleh para ulama kita hanyalah istilah Ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia -untuk seluruh yang tidak bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah atau yang hanya berkaitan dengan peradaban. Ke-dua, seandainya pun yang dimaksud adalah Ilmu Dunia dan istilah itu diucapkan oleh orang yang telah paham betul akan agama Islam, namun tentu kebanyakan orang awam -yang pola pikirnya telah terlanjur sekuler- akan menangkap konsep “umum” tadi dengan kacamata sekulernya pula, dan bahkan bisa membuat sekulernya semakin menjadi-jadi tanpa disadari. Begitu pula akibatnya, jika kita mempergunakan istilah “Ilmu Akhirat” -untuk Ilmu-Ilmu Syar’iy atau Agama- untuk dihadapkan dengan Ilmu Dunia..

Jelas sulit kita membantah adanya dikotomisme ilmu di dalam Islam sebagaimana juga sulitnya kita untuk keluar dari belenggu dikotomisme kalau kitanya sendiri menggunakan kata “umum” untuk Ilmu Dunia atau “akhirat” untuk Ilmu Agama. Dan pendikotomian Ilmu Agama – Ilmu Umum atau Ilmu Dunia – Ilmu Akhirat sungguh telah membawa dampak-dampak filosofis, psikologis, dan sosiologis. bagi ummat Islam.

Dampak filosofisnya, telah membuat kebanyakan orang melihat agama Islam melulu atau hanya urusan akhlaq baik-buruk, itupun sifatnya sangat umum (-tidak khas menurut ukuran Al Qur’an dan As-Sunnah-) sekali. Keadaan demikian membuat kebanyakan orang tidak memiliki perhatian sama sekali atau memang sama sekali tidak mengerti akan perkara aqiedah. Tak penting bagi mereka syirik atau bid’ah, asalkan tidak minum khamer, mencuri, berzina, membunuh, dan semisalnya dari macam-macam pelanggaran -yang sesungguhnya selain muslim pun tahu akan buruknya perkara tersebut-.

Dampak psikologisnya, kebanyakan orang baru mau mempelajari agama kalau sudah tua atau pensiun kerja, karena ilmu agama adalah ilmu akhirat. Agama adalah kesibukan orang-orang yang sudah lanjut usia. Masyarakat merasa heran kalau melihat anak yang masih muda tetapi sudah besar perhatiannya kepada agama.

Dampak sosiologisnya, misalnya lahir istilah atau ungkapan “puisi religius“, “seorang yang religius“, seakan-akan dekatnya seorang hamba kepada ALLAH atau ibadah itu perkara yang tidak lazim. Di sekolah-sekolah “umum”, pelajaran “agama” diberikan hanya dua jam sepekan, itupun meliputi pelajaran aqidah, ibadah, dan akhlaq, termasuk tafsir Al Qur’an dan pelajaran Al Hadits dijadikan satu. Sementara pelajaran ekonomi, misalnya, diberikan waktu seluas-luasnya dengan bagian-bagiannya, seperti makro, mikro, dan sebagainya. Ilmu-ilmu ghoiru syar’iy mendapatkan kedudukan yang terhormat dan dipentingkan di dalam masyarakat, sementara ilmu-ilmu syar’iy disepelekan. Kalau ada sebuah pesantren menggunakan komputer saja sudah merupakan berita yang perlu diekspos. Gambar seorang pelajar berpeci dan berjilbab duduk di hadapan komputer di jadikan hiasan halaman utama brosur-brosur pesantren, untuk menunjukkan “kemoderenan”nya -yang justru mengukuhkan “keterbelakangan”nya-. Seorang ustadz , jika berbicara soal teknologi atau ekonomi, akan dipertanyakan kapan dan di mana ia belajar, seakan-akan teknologi dan ekonomi adalah perkara yang asing baginya. Sebaliknya, seorang dokter atau insinyur berani bicara panjang lebar dan dibiarkan berjam-jam berceramah tentang Islam sementara ia tidak pernah berguru sama sekali dan hanya bermodalkan membaca dan menafsirkan sendiri, tak pernah dipersoalkan. Kenapa ? Karena belajar Ilmu Syar’iy itu mudah sedang Ilmu “umum” (baca: Ghoiru Syar’iy) itu sulit.

Jadi, bukan ada atau tidak ada dikotomisme ilmu soalnya. Tetapi, ketidaksadaran kita telah masuk ke dalam lobang kadal tanah Yahudi dan Nashara, itu soalnya. Ketidaksadaran kita menggunakan kacamata yang salah ketika hendak melihat Islam, itu soalnya. Ketidaksadaran kita memakai istilah secara keliru, itu soalnya.

About these ads

Komentar»

1. pakarfisika - Agustus 3, 2008

salam kenal,

wah salut sekali blognya…semoga barokah..amien…19x

2. rachmadi - Agustus 10, 2008

Apakah generasi salafus shalih tedahulu mempermasalahkan terminologi ilmu? Apalagi soal dikotomi ini, adakah menjai sesuatu yang penting bagi mereka? Al ilm qobla qoul wal imaan, saya kira lebih merujuk pada hakekat ketakwaan. Ketidak takwaan (mungkin)terjadi manakala seseorang membahas sesuatu tanpa dilandasi pengetahuan tentang itu (sebagai contoh seseorang dengan nama luve_nice-seorang nashoro- dalam http://myquran.org/forum/index.php/topic,14891.270.html membahas tentang 2 ayat – yang katanya kontradiktif – dalam alquran. Padahal ini karena ybs tidak memiliki pengetahuan tentang fisika astronomik- yang merupakan pangkal dari ketidak takwaannya), atau dia tidak memiliki pengetahuan tentang alquran yang dari sisi kandungan ataupun sanad mengandung super kesahihan, yang bila dia tahu niscaya ertambah kadar taqwanya.

Barokallah alaik

3. rumahbelajaribnuabbas - Agustus 10, 2008

Tentu saja, seperti saya katakan di awal tulisan, masalah ini tidak pernah dipersoalkan semula. Dan maksud anda “Al Ilmu qoblal Qaul wal Amal” (Ilmu sebelum berbicara dan bertindak), khan? Ya, Al Bukhari, bahkan menuliskan kata tersebut sebagai judul Bab di dalam Shahih-nya.
Tentang orang yang anda sebutkan, pangkal urusannya adalah dia tidak mendapat Hidayah, terus sombong lagi. Kita tidak ada urusan dengan tuduhan-tuduhan bodohnya. Suruh saja dia bela habis-habisan injilnya sendiri yang terlalu banyak kontradiktifnya itu.
Wa fiika barakallah.

4. Orang Bogor - Oktober 7, 2008

Ane paham uraiannya, lantas apa yang terbaik untuk melepas belenggu yang sudah menahun itu, minimal ane atau kita kebanyakan tidak keterusan (sadar atau tidak sadar) terbelenggu dalam dikotomi (yang sebetulnmya tidak ada dikotomi itu dalam Islam). Khususnya menjelaskan pada orang lain dalam kalimat yang mudah dimengerti. Jadi ane berharap banyak ada tulisan lain (refrensi) yang melatari tulisan di atas, termasuk juga bahasan ilmu Ghoiru Syar’iy yang maanfaat dan tidak menurut (bila ada) hadis atau dari paradigma Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah.
Wassalam,

5. aaqir - November 2, 2008

wah tulisaanya bagus amet sich, kajian yang sangt aktual….slm kenal ya dan selamat bergabung sm sy

6. Abu Thalib al Atsary - April 11, 2009

Ustadz…ana copy tulisannya ya. Jazakallah khair.

7. admin - April 23, 2009

jazakallahu khairan ust

8. admin - April 25, 2009

masyaAlloh…. bagus banget.

9. Rahmat - Sukabumi - April 28, 2009

Bismillah,

Dengan menimbang keaadaan saat ini yang makin sembraut, semakin menjauhnya fitrah manusia yang islami..dari nilai-nilai islam itu sendiri ( Al-quran & Assunnah ) idiologi & rujukan-rujukan kufar, dijadikan sandaran dalam berpedoman….karna mengira itulah jalan yang akan mengantarkan pada kesuksesan di dunia ini… ana sempat baca media poster yang terpanpang “dengan tulisan” English + matematika = Sukses..!!

hingga makin menyimpanglah pemikiran orang tua dalam mentarbiah anak-anaknya….

saya seorang ayah dari dua putri…walau usia bisa dibilang masih relatif muda..( qodarullah, anak mo 3 )

ana masih awam dalam segala ilmu pengetahuan islam..sekarang ana belajar di fatahillah sebagai mustami….
minta do’anya dari ustadz dan rekan pengunjung lainnya, kiranya- Allah meneguhkan hati ini dalam kecondongan cinta terhadap ilmu…( Al-quran & Assunnah )

Saya pribadi merasa suka dengan blog ini, artikelnya berbobot, sangat mendidik, terlebih didukung dengan hujjah dari kalamullah & Assunnah

Note :
salam cinta ana kepada ustadz semua…smoga diberi kemudahan dlam menyampaikan al-haq, serta diteguhkan diatas manhaj ( Ahlussunnah Wljama’ah )

10. edwards - Juni 13, 2009

Jazakallah undangannya membaca tulisan ini. Mencerahkan :)

11. Maximillian - Agustus 24, 2010

Pak Ustadz Ibnu Abbas, salam kenal, uraian yang menarik, saya ada beberapa poin pertanyaan :

1. [ Kata Ilmu di dalam Islam tidaklah selalu sama pengertiannya dengan ilmu (Science /Knowledge) di “barat”, sehingga pengertian ilmiah (memenuhi standar ilmu) nya pun berbeda. Bagi “barat”, sesuatu yang tidak teruji secara empiris bukanlah ilmu.]

Mohon diperjelas, definisi dari “Barat” disini, apakah yang Ustadz maksud, adalah Etika Protestan-nya Max Weber ? Atau logika Plato ? Atau logikanya Descartes ? Simplifikasi dalam idiom geografis menurut saya tidak tepat, karena yang “Timur” juga tidak lepas dari kelemahan, jika menggunakan sudut pandang Islam, seperti yang Ustadz sampaikan. Coba cek konsep Zen, Konfusianisme, atau Buddhisme. Mereka kalau secara geografis, ada di “Timur”, dan tidak kalah berpengaruhnya dibanding “Barat”, dan jika menggunakan sudut pandang seperti yang Ustadz sampaikan, tidak cocok juga dengan ontologi keIslaman.

2. [ Bukannya ada atau tidak ada dikotomisme ilmu di dalam Islam, akan tetapi kenapa muncul pertanyaan ini, itu soalnya. Atau, tepatkah kalau pertanyaan semacam itu diarahkan ke Islam, mengingat konsep dikotomi itu datang dari pengalaman yang khas “barat”. Kalau kemudian dikotomisme ini hidup di dalam Islam, itu merupakan kebiasaan dari agama lain yang disusupkan ke dalam Islam oleh kaum sufi.]

Ustadz menyampaikan sebab dan akibatnya, tetapi, untuk solusi dari masalah akibat, apakah ada ? Saya melihat bahwa tulisan ini masih jauh dari selesai, apakah ada bagian keduanya ?

Jazakumullah khair,

12. rumahbelajaribnuabbas - Agustus 27, 2010

Kepada Maximillian

Pertama, saya meralat, nama saya Zainal Abidin, bukan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas adalah nama lembaga rumah belajar di mana saya bersama teman-teman ikut membina dan mengajar di sana. Saya berterima kasih atas tanggapan dan pertanyaan anda yang “mengusik”.

Tentu saja saya katakan “mengusik”, karena –mengingat Blog ini hanya berbicara tentang pendidikan- saya tidak bermaksud berdalam-dalam dengan istilah “barat” atau “timur”, juga tentang filsafat ilmu. Penggunaan istilah “barat” pada tulisan saya sama sekali tidak bermaksud menyederhanakan (simplifikasi), karena penggunaan istilah ini –meski bisa mengandung berbagai arti sesuai sudut pandangnya- sudah sangat umum, yang, maaf, baru kali ini saya “diusik” untuk menjelaskannya dan ditegur agar tidak begitu saja menggunakan istilah yang memiliki idiom geografis ini.

Kedua, bahwa saya tidak merinci apa yang anda inginkan (Etika Protestan-nya Max Weber ? Atau logika Plato ? Atau logikanya Descartes ?) dan tidak merasa perlu harus membawa-bawa Zen, Konfusianisme, atau Buddhisme –yang juga reptresentasi dari “timur”- sebagai imbalan penggunaan kata “barat” di dalam tulisan saya, karena:

1.Menurut saya, istilah “barat” meski memuat idiom geografis (-seperti ungkapan anda-), namun ia lebih bersifat sosio-historis. Di antara buktinya; dimasukkannya Australia ke dalam rumpun “barat”, meski secara geografis tidak terletak di sebelah barat dari benua Eropa.
Istilah yang sangat etno-sentris (baca: Eropa-sentris) ini kenyataannya memang dimunculkan untuk memisahkan antara bangsa-bangsa pewaris budaya Yunani-Romawi Kristen dengan selainnya. Dan kata “western” ternyata juga sudah biasa digunakan , bahkan oleh penulis-penulis barat sendiri.
Maka tidak heran kalau para penulis –muslim maupun yang bukan- biasa mendikotomikan, seperti “Islam vs Barat”. Dan tentu saja mereka punya alasan yang kurang lebih sama dengan saya jika memang dianggap telah melakukan simplifikasi.

2.Adapun “timur”-jika diucapkan dari sudut Eropa- berkaitan dengan wilayah, bahasa, agama, serta kebudayaan dan adat istiadat bangsa-bangsa di benua Asia dan Afrika, maka ia tidak bisa dipisahkan dengan Orientalisme, studi tentang berbagai bangsa di kedua benua itu khususnya dengan metode dan tolak ukur serta demi kepentingan barat. Maka yang termasuk “timur” itu adalah Islam, Hindu, Budha, Konfucu, Sinto, termasuk paganisme Afrika dan Asia Pasifik, meski tentu saja -karena berbagai alasan- Islam mengambil porsi terbesar.
Dan meski ada juga orientalis yang sangat bersimpati dan memuji obyek “timur”nya serta berusaha mengexplorasikan “timur” dengan cara yang bisa dinikmati “barat”, namun pada umumnya “timur” tetaplah menjadi representasi peradaban masa lalu, keterbelakangan, dan “brutal”!!!

Lain lagi menurut bangsa-bangsa Asia atau Afrika, “timur” tidak lain atau sering (-memang tidak selalu-) merupakan ungkapan yang mengandung chauvisme, atau semacam sentimen rasial dari bangsa-bangsa yang mengidap inferior complex, bahwa “timur” juga memiliki kelebihan, setidaknya peradaban dan sejarahnya yang gemilang di masa lalu. “Sebagai orang timur, kita ini…blablabla, blablabla…”, adalah salah satu bentuk ungkapan itu.

Padahal yang menjadi permasalahan bagi saya bukanlah kehebatan atau kelebihan “barat” maupun “timur”, karena “Kebajikan itu bukanlah apa yang ada di Barat atau di Timur…(Al Baqarah:177). Yang jadi masalah adalah Islam dengan selainnya, apakah itu “barat” dan yang ada di barat atau “timur” dan yang ada di timur.

Ketiga, tentu saja saya ingin memberikan solusinya (-jika mampu-), tetapi paparannya pastilah tidak seringkas artikel di atas. Dan kelihatannya anda benar sekali, bahwa tulisan di atas masih (-bahkan menurut saya masih sangat-) jauh dari selesai. Terima kasih atas “usikannya” yang sangat berharga dan bagus.
Jazaakallahu khairan.

13. fatimah - Mei 19, 2013

Assalamu’alaikum…………..
berarti, adanya sistem penjurusan ipa/ips/bahasa dsb di sekolah itu
termasuk pendikotomian bukan ya????????

14. rumahbelajaribnuabbas - Mei 19, 2013

Wa alaikumussalaam. Penjurusan bukan termasuk pendikotomian. Penjurusan lebih mengarah kepada spesialisasi.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 224 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: