jump to navigation

Teknologi – Pasar – Pendidikan November 26, 2009

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Abu Khaulah Zainal Abidin

Dahulu kala manusia harus berenang untuk menyeberangi hanya sebuah sungai. Mereka harus -dan hanya bisa- berlari sekencang-kencangnya untuk tiba segera di tempat yang dituju. Bersusah payah melompat setinggi-tingginya hanya untuk meraih buah yang hendak dipetik.

Kini mereka mampu berlayar bahkan mengarungi samudra. Cukup memacu kendaraannya untuk tiba di tempat dalam sekejap. Terbang bahkan menembus awan dengan pesawat.

Semua itu karena manusia tak henti berupaya; mengatasi tantanganmempermudah cara, dan meningkatkan hasil. Berbagai ilmu mereka kembangkan, berbagai cara mereka lakukan, dan berbagai alat mereka ciptakan. Itulah teknologi.

Teknologi

adalah yang juga hewan telah mengenalnya sejak awal, jauh sebelum istilah itu diciptakan. Hewan memanipulasi dirinya di dalam rangka menghadapi tantangan alam yang mengancam kehidupannya. Mereka berupaya mempermudah cara untuk melanjutkan kehidupannya,  bahkan bersiasat untuk meningkatkan hasil buruannya.

Jadi, teknologi bukan monopoli manusia,  apalagi harus identik dengan moderen. Ya, fitrah makhluq hidup -yang punya keinginan; mengatasi tantangan atau rintangan, mempermudah cara, dan  meningkatkan hasil atau kualitas hidup- itulah yang menjadi sebab mengapa teknologi ada,  sesederhana apapun bentuk dan cara kerjanya.

Manusia berupaya mengatasi tantangan, sehingga  menjadi punya dari sebelumnya tak punya, menjadi bisa dari sebelumnya tak bisa. Setelah itu, manusia berupaya mempermudah berbagai cara, sehingga lebih mudah untuk punya, lebih mudah untuk bisa, serta lebih mudah meraih hasrat dan menyampaikan maksud,. Tidak cukup sampai di situ, kemudian manusia berupaya meningkatkan apa yang telah  dihasilkan atau diperolehnya, sehingga hidupnya menjadi lebih baik;  tidak sekedar punya…, tidak sekedar bisa….

Dan ketika tahap meningkatkan hasil telah manusia lampaui, ia akan menemukan lagi tantangan baru yang harus diatasi, begitu seterusnya. Juga boleh jadi apa yang bagi seseorang sebagai upaya meningkatkan hasil ternyata bagi yang lain sebagai upaya mengatasi tantangan. Ya, karena dunia senantiasa berubah dan manusia berbeda di dalam kesempatan atau kemampuan. Akan tetapi prioritasnya tetap. Mengatasi tantangan, mempermudah cara, -terakhir-, meningkatkan hasil. Inilah yang logis dan berlaku di dalam segala urusan; makan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, informasi, transportasi, telekomunikasi, dan….

Pasar…

adalah tempat bertemunya pembeli dengan penjual. Pasar hidup karena penawaran bertemu dengan permintaan.  Pasar hidup selagi pembeli dan penjual sama-sama untung.

Persaingan adalah nafas pasar, sedangkan tawar-menawar denyut nadinya. Dan produk-produk teknologi -ketika masuk pasar- juga tidak luput darinya; persaingan dan tawar-menawar.  Tentu saja pada asalnya pembeli menginginkan  produk  yang:

  1. Paling Tinggi atau Besar Kemampuannya.

Teknologi yang paling tinggi / besar kemampuannya adalah jawaban untuk mengatasi tantangan, mempermudah cara, dan meningkatkan hasil. Setiap orang menginginkannya dan setiap penjualpun menjanjikannya. Di dalam perkara inilah produk teknologi pertama kali saling bersaing. Tetapi yang menikmati persaingan di tingkat ini hanya segelintir orang yang memang sudah mengerti produk dan sudah waktunya untuk menikmati. Selebihnya, hanya yang terbawa arus  menjadi korban peradaban.

2. Paling Mudah Mengoprasionalkannya.

Paling mudah menggunakannya, ringan, atau praktis menjadi alasan berikutnya. Dan para produsen -setelah sama unggul dalam hal kualitas-  berlomba di dalam hal ini. Yang rumit, berat, lemot, dan ribet akan dicampakkan dan tak akan laku di pasaran. Alasan pembeli di dalam perkara ini sangat logis.

3. Paling Murah Harganya.

Bahwa  lebih banyak  yang  memiliki kendala daya beli dari pada yang tidak itulah asal mula prinsip ini. Kalau bukan karena mantera para pedagang, manusia tak akan mabuk barang-barang mewah dan lupa dengan kemampuan daya belinya. Iklan dan promosi yang menyesatkan telah menyihir mereka sehingga tidak lagi berpikir “murah”, bahkan berpikir “pokoknya mahal”, karena yang mahal itu pasti bagus!

Tetapi tetap saja yang terbanyak adalah para pecinta barang murah. Terbukti, banyak sekali yang gampang terpancing membeli barang “asal murah”, meski mereka belum terlalu -bahkan mungkin tidak- membutuhkannya.  Karena alasan “murah” pula lah terkadang pembeli menjadi tidak terlalu rewel terhadap masalah praktis-tidaknya barang.

4. Paling Aman atau Sedikit Efek Sampingannya

Berpikir tentang efek sampingan bukan monopoli karakter manusia “posmo“. Orang jaman baheula pun punya kearifan itu. Teknologi yang mereka ciptakan, mulai dari rumah sampai ke persenjataan,  menunjukkan hal itu.

Hanya saja “moderenisasi” telah membius manusia menjadi tak lagi peka, Selama lebih dari satu abad manusia moderen sempat dibuat mati rasa oleh slogan ” stronger and faster“. Sampai akhirnya ketika berbagai dampak mulai tampak, dan manusia berpikir, “Ada yang salah dengan moderenisasi selama ini“, kesadaran dan kearifan itu pun pulih.

Mulailah “Back to nature“. Dari makanan, pakaian, rumah, sampai ke teknologi kedokteran dan pengobatan. Orang mulai memilih minum obat-obat herbal sebelum memutuskan untuk ke dokter, mencoba dibekam dulu sebelum menyerahkan diri ke rumah sakit.

Teknologi Ramah Lingkungan pun menjadi pilihan penting. Daun pisang kembali dilirik untuk mengambil alih fungsi Styrofoam sebagai pembungkus makanan, emisi otomotif mulai dipersoalkan, sampai ke alat tulis dan mainan anak-anak menjadi harus yang non-toxin.

Tetapi untuk kebanyakan orang kesadaran ini terlalu mewah dan dianggap mengada-ada, meski samar-samar mereka telah mendengar Borax, Formalin, atau Formaldehyde serta bahayanya.

5. Paling Bagus atau Indah Penampilannya.

Logisnya ini adalah pertimbangan yang terakhir setelah empat prinsip terdahulu. Tetapi kenyataannya malah ini yang sering mendominasi pertimbangan. Wajar saja, karena yang pertama kali dilihat orang adalah penampilan, karena kebanyakan manusia suka bermegah-megah, suka dilihat dan dipuji. Sifat semacam inilah yang dimanfaatkan para produsen dan pedagang.

Ya, kira-kira begitulah urutan logis -alasan masyarakat- memilih sebuah produk. Maka jika semua produk bersaing secara sehat, tentu yang laku adalah yang paling canggih, paling praktis, paling murah, paling aman, dan paling indah. Ini artinya kemenangan bagi pembeli.

Akan tetapi, pembeli tidak boleh jadi pemenang. Karenanya, iklan, promosi, serta cara pembayaran telah menjadi perkara yang tidak bisa dipisahkan dari pasar, bahkan sangat menentukan, sehingga mampu mengubah-ubah urutan di atas sesuai dengan kemauan penjual.

Pasar memang -dan selalu- berpihak kepada pembeli, dan pembeli adalah “raja” bagi mereka. Hanya sayang, “raja” ini sering tak berdaya menghadapi kepandirannya sendiri dan kecerdikan (baca: kelicikan) para “pelayannya”, pedagang. Gempuran bertubi-tubi iklan yang memikat dan menyilaukan, bujuk rayu promosi yang menggiurkan -mulai dari diskon, hadiah, sampai ke layanan purna jual-, ditambah lagi dengan kemudahan pembayaran lewat cara-cara angsuran telah membuat “raja” tak lagi mampu berpikir logis dan murni berpihak kepada kebutuhannya sendiri.

Lebih dari itu, para pelayan (baca: pedagang) -yang kelihatannya berseteru dan saling bersaing- ini ternyata punya kepentingan bersama; memaksa “raja” melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Mereka menjadikan iklan bukan lagi semata alat untuk membuat produk jadi terkenal. Lebih dari itu, mereka menjadikannya alat untuk mempengaruhi sistim nilai sang “raja” dan mengarahkannya kepada gaya hidup tertentu. Maka jadilah “raja” -yang tertawan ini- ibarat pemabuk yang keburu teler sebelum minum. Meski jasadnya masih di tahap “mengatasi tantangan“, namun jiwanya sudah jauh melayang ke tahap “meningkatkan hasil”.

Akhirnya, kualitas, brand image, dan alasan gaya hidup telah membuat “raja” meremehkan harga dan skala prioritas. “Murah dan Praktis” membuat “raja” tak mempedulikan faktor keamanan atau efek sampingan, juga  telah menyihirnya membeli produk yang belum tentu ia butuhkan. Dan sebodoh-bodoh “raja” adalah yang tertipu oleh kemasan. Ya, di dalam budaya pasar semacam inilah kita dibesarkan dan dibiasakan.

Pendidikan…

adalah upaya menjadikan yang dididik bisa berprilaku sesuai dengan harapan terbaik dan cita-cita termulia. Karenanya, pendidikan selalu punya harapan dan keyakinan, bahwa setelah melalui proses pendidikan seseorang akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Lewat pendidikan manusia berharap bisa mengatasi tantangan, mempermudah, dan meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk itu, berbagai ilmu tentangnya dikembangkan, berbagai cara dilakukan, dan berbagai alat diciptakan. Maka lahirlah teknologi pendidikan (-walaupun lebih tepat kalau saya katakan teknologi pengajaran-).

Jadilah kemudian; gedung, kelas, jejeran bangku menghadap papan tulis, termasuk taman bermain dengan ayunan berwarna-warni, juga pakaian seragam. Diadakanlah kemudian sekolah, kursus, seminar, atau pelatihan-pelatihan. Disusunlah kurikulum, dicetaklah buku-buku pegangan, disiapkan alat peraga dan laboraturium, diciptakan berbagai metode pembelajaran, serta dibuat alat pengukur hasil belajarnya.

Dan ketika teknologi pendidikan ini -dalam bentuk perangkat keras dan lunaknya- ditawarkan (baca: dipasarkan) , ia berhadapan dengan harapan-harapan masyarakat -yang sama seperti harapan mereka terhadap produk-produk teknologi lainnya- selama ini: yang paling berkualitas, paling murah, paling mudah, paling aman, dan paling cantik.

Dan lagi-lagi budaya pasar ikut bermain. Bukan pedagang namanya kalau tak punya jurus menaklukkan pembeli. Mulai dari brosur serta pamplet bergambar gedung megah dan suasana belajar yang menyenangkan, bermacam-macam pelayanan, sampai ke janji-janji prestasi dan kemudahan mencari lapangan kerja selepas masa belajar menjadi bagian dari promosi pendidikan. Dan sebagaimana slogan “Kesehatan itu Mahal” telah dijadikan pembenaran filosofis mahalnya berobat, “Pendidikan Itu Mahal” juga dijadikan pembenaran filosofis ; pendidikan adalah komoditi.

Ya, sekarang giliran orangtua murid menjadi “raja”.  Dibujuk untuk melompat jauh dari tahap “mengatasi tantangan” langsung ke tahap “meningkatkan hasil“, padahal belum waktunya. Terhuyung-huyung menapakkan langkahnya di bumi yang baru. Terbius oleh slogan-slogan atau brand image yang membuatnya tak punya pilihan selain menerima gaya hidup yang ditawarkan.

Tanggung Jawab Para Pendidik…

dewasa ini bukan hanya mempersiapkan generasi terpelajar. Para pendidik juga bertanggung jawab membebaskan “raja” dari tawanan para pelayannya (pedagang), bukan malah ikut-ikutan menggiring “raja” masuk ke dalam budaya pasar. Mereka bertanggung jawab; mengajak “raja” kembali menapaki buminya sendiri, memulihkan kesadaran dan rasa percaya dirinya, mengajarinya kembali cara melihat skala prioritas -sebagaimana fitrah telah mengajarinya- agar bisa mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan dan hati nuraninya.

Sesungguhnya budaya pasar ini telah menelan begitu banyak korban; terfitnahnya ketulusan belajar-mengajar, pengharapan yang berlebihan kepada lembaga pendidikan, dan   -yang paling parah-  berapa banyak cita-cita telah ditenggelamkan dan bakat-bakat telah dibunuh olehnya. Maka membebaskan pendidikan dari budaya pasar bukan semata bertujuan menghindari komersialisasi pendidikan.  Lebih penting dari itu, membangun budaya tulus di dalam belajar-mengajar, menghilangkan ketergantungan kepada lembaga pendidikan, serta menyelamatkan bakat dan cita-cita generasi masa depan.

Ya, ini adalah juga tanggung jawab para pendidik. Dan tentu saja -kita percaya- masih banyak orang tulus, yang tidak berniat sama sekali menjadikan pendidikan sebagai komoditi. Namun kebanyakan mereka terikat secara sistim, bahkan terbelenggu secara struktural. Apalagi terbukti bahwa tidak ada satupun model lembaga pendidikan dewasa ini yang aman dari sergapan budaya pasar; tidak sekolah, tidak pesantren, tidak juga home schooling, apalagi sekedar lembaga kursus. Karenanya para pendidik juga harus pandai-pandai menjaga jarak dari perangkap pasar. Ya, jika kurang waspada dan tak menjaga jarak, tidak mustahil setiap usaha mulia ini (pendidikan) akan ditangkap oleh para “Impresario” untuk kemudian disulap jadi peluang bisnis.

About these ads

Komentar»

1. Peduli pendidikan - November 26, 2009

[]…Pendidikan adalah upaya menjadikan yang dididik bisa berprilaku sesuai dengan harapan terbaik dan cita-cita termulia…[]
tetapi kenyataannya pendidikan sekarang banyak tujuannya yang melenceng yaitu belajar yang rajin dan cepet lulus dan cepet kerja………. :(

2. Bapaknya Hamidah - November 26, 2009

Subhanallah………, Sebuah analogi sederhana. Memang begitulah nasib Pendidikan yang ada di sekitar kita. Kita selalu berdoa kepada Allah untuk tidak ikut-kutanan terjebak dalam ‘eforia’ semacam ini, yakni baik sadar ataupun tidak sadar mengemas pendidikan sebagai sebuah lahan perdagangan. Baarakallahu fiikum.

3. sadda - November 30, 2009

pendidikan zaman ini ibarat pasar yg tiap pergantian tahun berganti juga harga jualnya. masing2 sekolah berlomba2 mempromosikan skolahnya dengan embel2 skolah tersebut mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yg memadai, sehingga terciptanya pembelajaran yg kondusif dan menghasilkan lulusan dgn nilai yg baik,.. wallahu’alam,

4. dennyjuzaili - Desember 4, 2009

ana izin kopi dan print ya ustadz

5. haliratnanto - Desember 28, 2009

pemaknaan sangat mendalam berikut penyama’an/analogi/padanan/penyetaraan jeli+tajam&bagus juga halus…tanpa mendengus, cukup mengelus dada . . .
harkat pengajaran terjebak dalam pusaran arus lomba perangkat & peringkat pembelajaran [lahiriah], sedangkan perihal pemahaman &
keinginan & harapan digantungkan kepada proses pendidikan akan melahirkan ketulusan budi, keluhuran tata krama,tersemai tumbuh &
bakat terpendam, kesopanan, kepribadian mental santun, mengabdi
pada untuk apa sebenarnya belajar+mengajar menjadi terlanda angin badai “segala”nya serba diukur bernilai komersial mendatang kan keuntungan ekonomis.

pola pengajaran demikian membuahkan hasil alumni pendidikan
berwatak pandai berhitung untung buatku-rugi baginya,
diterapkan dalam hal apa & kepada siapa saja,[anak,istri,suami,ortu]
berjiwa loba dan tamak, kadang culas
bersikap hidup hemat, cenderung kikir
berakal pengusaha [kalau cerdas] atau bagian dari usaha [korban], praktis+pragmatis, mengabaikan lurus dan benar.
luruhnya idealisme digantikan oleh pragmatisme

usai melihat konsekuensi amanat pendidikan dikendalikan oleh jiwa ekonomi komersialisme, daya apa bisa menghindarkan keterpurukan
pendidikan generasi masa depan dari rongrongan “kenikmatan” sesat
, sesaat ini?

kelurusan niat disertai ketulusan nurani kuat
berkumpul dalam sebuah majelis serikat
dan bermohon restu kepada Illahi … Insya Allah membawa manfaat

ulasan Teknologi–Pasar–Pendidikan tajam+ringan+mudah dipahami
alasan Teknologi–Pasar–Pendidikan disandingkan sesuai masanya
elusan Teknologi–Pasar–Pendidikan terasakan kini akibatnya
terima kasih artikel blognya berguna semoga bermanfaat buat saya khususnya dan rekan+sahabat lainnya. amin

6. antosalafy - Januari 14, 2010

Profesionalisasi Pendidikan:
Dapatkah Menghindar dari Wacana Pasar?

Dapatkah pranata pendidikan menghindar dari wacana pasar? Harus diakui bahwa menjadi suatu hal yang nyaris mustahil sekarang ini untuk menghindar seratus persen dari wacana pasar. Pasar, yang gampangannya didefinisikan sebagai tempat bertemunya pembeli dengan penjual, adalah tempat berlangsungnya transaksi dagang (commerce). Demikianlah hubungan pranata pendidikan dengan konsumen pendidikan itu bisa diibaratkan secara sederhana sebagai hubungan antara penjual dengan pembeli. Logika yang harus diakui juga tanpa malu-malu oleh para praktisi pendidikan. Jangankan dunia pendidikan, jihad fi sabilillah saja, suatu amalan yang paling mulia di sisi Allah, dimisalkan-Nya sebagai proses transaksi. Allah “membeli” harta dan nyawa mukmin yang berperang di jalan-Nya dengan surga beserta kenikmatannya yang kekal abadi.

Hubungan berdasar asas manfaat inilah yang mendasari dilangsungkannya proses “jual beli” jasa pendidikan. Tinggal lagi di sana ada penjual yang baik, penjual yang muslim, yang berdagang bukan semata-mata untuk menangguk keuntungan duniawi. Penjual yang memudahkan konsumennya dalam proses jual-beli. Penjual yang mencari keberkahan dalam perdagangannya. Penjual semacam ini beroleh dua kebaikan: laba dari hasil perdagangannya dan pahala dari Allah untuk akhiratnya. Dan, manusia terbaik adalah yang paling banyak memberi dan menularkan manfaat kepada manusia yang lain.

Di tataran empirik, pranata pendidikan, bil khusus pendidikan Islam, sedikit banyaknya terbawa dalam bingkai “kompetisi pasar” tersebut. Artinya, “dakwah” seolah-olah merupakan “produk” dari sekian banyak produk yang berebut tampil di “pasar wacana” dengan pelbagai model iklan dan pencitraannya. Persoalannya kemudian adalah: sejauh mana kompromi antara kehendak pasar dengan produk yang ditawarkan itu “berjodoh” lewat pilihan transaksi yang dilakukan konsumen secara sadar?

Wacana Pasar
Benar bahwa wacana pasar adalah arena pertarungan pelbagai image (pencitraan) yang direpresentasikan lewat iklan. Bila kita berhenti pada wacana pasar semata, misalnya pada pemahaman awam: “yang mahal pasti bagus” atau “yang penting harganya murah” niscaya kita terseret pada budaya massa yang ciri utamanya adalah objektifikasi dan pembodohan. Objektifikasi artinya konsumen diperlakukan semata-mata sebagai objek yang harus manut pada tren yang diciptakan para trend-setter pasar pendidikan, tanpa mengerti kebutuhan dan nurani mereka sendiri. Pembodohan artinya konsumen tidak diberi kesempatan melakukan koreksi diri dan melakukan perhitungan yang matang akan kebutuhannya. Plus, tidak punya sikap kritis terhadap produk pendidikan yang ditawarkan.

Dari sini ada kalanya para “penjual” terpaksa menempuh cara terbalik demi membimbing konsumennya yang awam: dengan mengemas sedemikian rupa produk pendidikan yang ditawarkan, dengan artikulasi yang tak kalah “wah” dengan yang lain. Disertai keyakinan bahwa memang produk mereka sangat sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tanpa sikap bangga diri dan besar kepala, tentu saja.

Akan tetapi pencitraan, iklan, kemasan, image, apapun namanya, tidak akan bermakna apa-apa kalau bobot dan isi dari produk itu ternyata tidak ada bedanya dengan yang lain. Dari sinilah “kompetisi” yang sesungguhnya dimulai: kompetisi di tataran “pasar wacana.”

Pasar Wacana
Pasar wacana untuk sebagiannya memang memerlukan wadah berupa pasar beserta tabiat-tabiatnya. Hanya ia lebih mengedepankan substansi. Pasar wacana tidak menjual citraan, tetapi dasar ideologi, tawaran metodologis pendidikan, perangkat praksis, dan profesionalisme. Di sinilah para penjual bertarung pada tataran yang lebih nyata.

Pada pasar wacana, bukan semata “selera” konsumen yang dikedepankan, tetapi juga kritisisme mereka. Di sini konsumen dilibatkan sebagai subjek yang cerdas. Dalam wacana pasar, komunikasi hanya berlaku searah. Penjual “mendikte” konsumen tentang apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sedangkan dalam pasar wacana, dialog dan pertarungan wacana menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Kalau latar ideologi dan tawaran metodologis menunjukkan sejauh mana komprehensi perangkat konseptual lembaga, maka profesionalisme merupakan penunjuk prestasi di ranah praksis. Konsumen boleh melongok reputasi dan mencoba mengukur-ngukur prospek lembaga di masa mendatang.

Yang Baru dan Yang Unik
Dalam wacana pasar dan pasar wacana, bukan hanya produk yang murah, canggih, paling mudah, paling aman, dan paling indah kemasannya saja yang kemungkinan besar dilirik pembeli, akan tetapi juga segala yang unik dan baru yang mencoba keluar dari kebiasaan umum bakal menarik perhatian orang. Karena itu homeschooling, sekolah alam, sampai diskursus masyarakat tanpa sekolah sempat mencuat sebagai alternatif baru dan unik dalam pasar wacana pendidikan. Pada mulanya alternatif yang baru dan unik ini muncul dalam rangka melawan arus wacana pasar dan komersialisasi pendidikan, namun sependek pengetahuan penulis, belum ada tolak ukur yang diterima bersama menyangkut hasil yang diharapkan dari proses didik yang telah dijalankan. Misalnya: apakah dengan metodologi yang unik dan baru itu ada keunikan dan kebaruan dalam kecerdasan, keterampilan sosial, life skill, mental peserta didik, dan lain sebagainya. Kemudian bagaimana output proses didik berkiprah di dunia luas yang mayoritasnya didominasi cara berpikir awam?

Terlebih, banyak variabel-variabel lain yang terlibat di luar metodologi itu sendiri (level kesejahteraan, lingkungan keluarga, individualitas peserta didik dan seterusnya). Sehingga, sebagai konsekwensinya, komprehensi metodologi harus pula mencakup dan mengatasi persoalan-persoalan yang ditimbulkan variabel-variabel luar itu. Sampai di sini, saya kira, orang akan terbentur berbagai macam kendala.

Keterbukaan Terhadap Kritik
Sehebat dan sebagus apapun sebuah metodologi pada asalnya adalah produk ikhtiar dan ijtihad manusiawi. Bahkan lembaga-lembaga pendidikan moderen yang dimapankan orang, mungkin-mungkin saja menyimpan banyak celah kelemahan. Human error pada ranah praksis pengorganisasian dan penyelenggaraan pendidikan wajar-wajar saja terjadi. Perjalanan waktu jualah yang akan menguji kekuatannya.

Untuk itu keterbukaan terhadap kritik dan dialog, dengan tetap memerhatikan tata krama tentunya, merupakan suatu kemestian bagi para kompetitor pasar wacana. Sikap arif dalam menyikapi kritik insya Allah akan membawa dampak konstruktif bagi penguatan bagi metodologi-metodologi yang “bertarung” itu. Iktikad untuk menyelenggarakan pendidikan seprofesional mungkin, penyempurnaan struktur, dan perangkat praksis membutuhkan pembelajaran terus menerus dan simultan: lewat praktik langsung, pengalaman, dan di antaranya juga interaksi dengan kritik-kritik.

Lain persoalannya kalau pasar wacana sudah terlalu dibanjiri konsumen awam, yang jangankan berpikir kritis, untuk sekedar melirik dan peduli pada nurani mereka sendiri saja sudah ogah.

Simpulannya, para praktisi pendidikan memang tidak bisa menghindar dari wacana pasar, akan tetapi di pasar wacana mereka harus lebih fokus pada penguatan metodologi dan profesionalisme praksis. Dari sinilah “dakwah” akan tampil lebih unggul dari segala aspeknya, disegani di antara wacana-wacana lain yang sekuler dan melenceng.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Deny Firmansjah

7. rumahbelajaribnuabbas - Januari 15, 2010

Jazakallahu khairan.
Komen yang bagus, yang sebagiannya bisa melengkapi apa yang tidak mampu dan sempat ana tuangkan di artikel ini. Dan tentu saja ana tidak mengatakan “yang profesional itu berarti komersil” atau sebaliknya.

8. aboe hanah - Januari 28, 2010

assalamu’alaikum
teruntuk yang kami cintai ustadz zainal abidin
kami mendoakan kepada ustadz agar Allah senantiasa melindungi ustadz dalam mendakwahkan dan mengajarkan kaum muslimin ke jalan yang lurus.
barangkali pemahaman yang demikian dapat disebarluaskan kepada bapak-ibu guru baik di sekolah negeri maupun swasta.
kepada mereka dipercayakan pendidikan generasi yang kelak akan memiliki zamannya sendiri.
terutama di zaman yang semakin dekat dengan kiamat.
di mana seharusnya seorang muslim semakin dituntut untuk memiliki bekal keimanan dan keilmuan demi menghadapi zaman yang semakin penuh dengan fitnah.
semoga Allah menambahkan pada diri ustadz ilmu yang bermanfaat
nb: mohon izin untuk menautkan link
wassalamu’alaikum

9. Bidadari surgaku - Agustus 20, 2010

Bicara soal pendidikan,seperti berenang dlautan.kadang air begitu tenang tetapi tak jarang badai menghadang.begitu juga ilmu,yg bisa kita dpt lewat sebuah proses pendidikan dg segala perangkatnya.banyak sekali kendala dhadapi.bukan hanya dikatakan sekolah itu mahal.tetapi institusi pendidikan sekarang pun mau tak mau bermetamorfose seperti pasar.bukan karena mengikuti arus tetapi karena tetap harus bertahan supaya sampai disebrang.ada yg memakai kapal dg teknologi super canggih untuk sampai tujuan,ada juga yg memilih kapal standar untuk mengantarkan penumpang,bahkan ada yang cukup menggunakan sampan dengan segala kesederhanaan.tetapi coba kita tengok sebentar,ternyata nahkoda pun kesulitan.harus belajar kmana arah angin berhembus,menjaga agar kapal tak oleng,bahkan jangan sampai kapal menjadi karam.lihatlah seberapa besar jerih payah nahkoda mengantarkan penumpang.penumpang selamat sampai tujuan itulah yang dharapkan.dan cobalah kita lihat usaha awak kapal menyakinkan penumpang bahwa mereka pasti sampai tujuan.begitulah dunia pendidikan.tugas lembaga pendidikan tidak ringan jika hanya diukur dengan nilai komersilnya.sebenarnya penumpang punya pilhan,untuk menawar,atau memilih yang lebih murah atau lebih parah lagi memilih tak usalah menyebrang.hanya saja terkadang penumpangpun tak kalah komersil dg keyakinannya,”kalo gak pake kapal tercanggih dan dkenal gak sampai tujuan” subhanalloh.bukankah memakai sampan bukan berarti tak sampai tujuan?ayolah tak ada salahnya kita saling bahu membahu tolong menolong menyebrangi lautan.

10. Rachmadi Triatmojo - September 1, 2010

Bismillah,

Manusia diciptakan bukan untuk makan. Tapi manusia butuh makan untuk menjalankan eksistensinya di dunia ini.

Kalau semua berorientasi ke arah “makan” maka manusia akan merasa kehilangan arah dan “kering” gak jauh dengan binatang.

Seperti perkataan Asysyaikh Muqbil Rahimallahu, yang maknanya kita butuh makan hanya untuk sebatas bisa menegakkan tulang punggung kita.

“Pasar” telah membuat kita berpikir apa-apa uang, apa-apa uang… padahal rizki itu tidak harus berupa uang.

Padahal dahulu, bagaimana para salafushsholeh belajar dan mengajar.
Ada yang sampai minum kencingnya sendiri karena kehausan dalam mencapai tempat-tempat untuk menuntut ilmu. Mereka saling ta’awun dalam hal rizki, saling memberi.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri memberi susu kepada Abu Hurairoh, padahal dia guru.

Dalam suasana itu akan timbul suasana ukhuwah, merasa senasib bukannya saling sikut karena kata “pasar” tadi.

Allah Musta’an sungguh kita jauh sekali dari mereka. Tapi kita harus tetap semangat sampai mati !

11. mosleminfo - Oktober 6, 2010

Wah komennya udah pada panjang2. Saya komen: derita dosen-guru, ngga ada yang tahu. Pendidikan jadi komoditi, yang untung cuma pengelola sekolah dan university. Guru-Dosen, tetep aja dari dulu dapetnya cuma beberapa sen.

12. abu nisa - Desember 2, 2010

Smoga Allah menjaga antum dan keluarga, smoga dengan ijin Allah, dengan adanya sarana pendidikan Ibnu abbas ini akan terlahir generasi-generasi yang mulia….Barakallahu fiik

13. rumahbelajaribnuabbas - September 29, 2011

Kepada Saudaraku Deny Firmansyah.

Beberapa saat yang lalu seseorang menyodorkan sebuah artikel berjudul “Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat”, yang ternyata telah dimuat dan dikopas di beberapa blog/situs tentang pendidikan-. Kemudian saya teringat komentar anda pada tulisan saya di atas sebagai berikut:“Karena itu homeschooling, sekolah alam, sampai diskursus masyarakat tanpa sekolah sempat mencuat sebagai alternatif baru dan unik dalam pasar wacana pendidikan. Pada mulanya alternatif yang baru dan unik ini muncul dalam rangka melawan arus wacana pasar dan komersialisasi pendidikan,”. Maka komentar saya tentang artikel tersebut sekaligus jawaban buat anda adalah sebagai berikut:

Perlu mereka (para penganjur masyarakat tanpa sekolah) sadari, bahwa sistim persekolahan itu meliputi berbagai jenjang, dari TK sampai ke Perguruan Tinggi. Menolak sekolah itu menolak dan berhenti dari sekolah seluruhnya atau sebagiannya saja? Sebab, tampaknya kekecewaan dan penolakan tersebut sebagai reaksi banyaknya pengangguran terpelajar, tepatnya pengangguran pelajar tingkat menengah ke atas (Perguruan Tinggi).

Kalau soal pengangguran, menurut saya itu lebih disebabkan oleh masalah kurikulum, bukan masalah sekolah sebagai institusi. Juga bukan sepenuhnya karena pemerintah gagal menyediakan lapangan kerja. Ingat, masalah ini pun menimpa negara-negara maju sekalipun!

Pengangguran itu disebabkan karena rakyat dibebaskan memilih bidang-bidang ilmu menurut kesukaannya sendiri, bukan diarahkan -oleh negara- menurut kebutuhan kelak di akhir masa belajarnya. Ya, apa jadinya kalau semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut? Seharusnya -sejak awal- negara sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan. Dengan begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri –Indonesia khususnya- ikut berdosa karena meninggalkan fardlu kifayah ini. (lihat: Dikotomisme Ilmu di dalam Islam. Adakah Itu ?)

Sikapi saja sekolah itu seperti kita menyikapi rumah sakit, ilmu seperti obat, dan guru seperti dokter. Artinya, toh tidak semua yang sakit atau penyakit itu harus ditangani dokter atau rumah sakit. Ada yang bisa diobati sendiri, ada yang cukup ke poliklinik atau puskesmas, ada yang terpaksa harus ke rumah sakit kalau memang sudah tidak ada cara lain yang lebih mudah. Bahkan obat pun ada yang bisa diupayakan sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di rumah, ada yang harus dibeli di apotik, dan ada yang memerlukan jasa orang lain untuk memasukkannya. Begitu pula pasien, ada yang cukup Rawat Jalan dan ada yang harus Rawat Inap.

Apa karena banyak (-tidak semuanya tentu-) rumah sakit melakukan malpraktek, pelayanannya brengsek, atau dokternya tidak bermutu tapi kelewat komersil, kemudian ramai-ramai kita mengatakan, “Berhentilah ke Rumah Sakit Sebelum Terlambat.” ? Yang benar, “ Jangan ke Rumah Sakit Kalau Tidak Perlu.” Kira-kira begitu juga dengan sekolah.

14. rahmadbudiawan - Oktober 20, 2011

kalau dicari benang merahnya, sesungguhnya antara teknologi, pasar, dan pendidikan, merupakan subsistem dari sebuah sistem peradaban yang tak dapat dipisahkan. kini, agaknya dunia pendidikan tak bisa lagi “bebas nilai”. secara pragmatis, Ia hadir juga dalam rangka utk menciptakan “manusia2 pasar” yang bisa menyiasati peradaban teknologi.

15. Abu Mubarok Boy - Januari 11, 2012

Salamualaikum warohmatullah,
Alhamdulillah, sebuah blog yang mencerahkan, ilmiyah dan memberi manfaat bagi pembacanya. Memang tidak mudah menulis suatu risalah, apalagi yang bertemakan pendidikan dengan tetap bersandarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah ‘ala fahmissalafunasholih…..

Semoga blog yang dikelola al-ustadz Abu Zaid Zainal Ad-Depok ini makin banyak tulisannya dan topik pembahasannya, kalo bisa minimal sebulan sekali ada tulisan baru yang bisa kami baca.

Kami tunggu tulisannya pada pembahasan yang lain.
Kalo bisa topiknya yang belum ada yakni tentang “pengaturan lay out pembagian ruang belajar santri berdasarkan umur, tingkatan dan hafalan, yang berhubungan dengan kenyamanan dan suasana belajar yang tentunya berpengaruh pada peningkatan kualitas belajar mengajar”

Demikian dari salah seorang pembaca baru di blog ini yakni Abu Mubarok Boy dari Pekanbaru.
Semoga blog ini makin banyak pembacanya yang mengambil ilmu darinya sehingga bermanfaat bagi dakwah yang haq ini dan menjadi bekal pahala bagi penulisnya dalam jihad fi sabillah ini, amin.

Barakallahufiik….

16. artikel islami - Maret 6, 2012

barokalloh fiik…!!!

17. maharudin - Agustus 14, 2012

hmm…indahnya dunia pendidikan.

18. arif al - Agustus 5, 2014

izin copy tulisannya ya bu


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 226 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: