Sekolah atau Lingkungan Belajar? Juni 21, 2012
Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.Tags: 3 Kali Sehari, Bioritmik, Dikotomi Rumah-Sekolah, Dokter, Egoisme, Fullday School, gagap, Generasi Masa Depan, Hedonis, Hemat Energi, home schooling, Individualisme, jaman, Komersil, Komoditi, kurikulum, lantas, Lingkungan Belajar, Masalah Demografi, Masalah Transportasi, Mesin Peradaban, Obat, orangtua, Ortu Murid, Pede, Peleburan Informasi, Pencemaran Lingkungan, Perang Antar Sekolah, Pola Hidup Sehat, Prilaku Menyimpang, rambu, Rawat Inap, Rawat Jalan, remaja, Rumah Sakit, sekolah, Sirkuit Otak, Sistim Klasikal, Teknologi, Tujuan Pendidikan, Visi dan Misi Pendidikan
trackback
Abu Khaulah Zainal Abidin
Kalaulah tujuan pendidikan itu adalah agar manusia tahu untuk apa ia hadir di dunia, kalaulah tujuannya untuk melahirkan generasi yang lebih baik, kalaulah bukan semata untuk meraih kebaikan tetapi juga demi menghindari keburukan, maka bukan saatnya lagi sekarang berharap (-terlalu banyak-) kepada model sekolahan. Sekolah dewasa ini, ibarat orang, sudah pikun, paling sedikit linglung. Jangankan mempengaruhi orang, menyesuaikan diri saja sudah sulit. Dan layaknya orang pikun, ya tidak tahu mau buat apa. Bisanya hanya latah. Lain yang ditanyakan, lain yang dijawab. Itupun tergagap-gagap.
Lantas apa itu Lingkungan Belajar? Lingkungan belajar adalah lingkungan yang denyut nadinya kegiatan belajar. Dia tidak sama dengan sekolah. Lingkungan ini dibangun bukan hanya agar guru mudah mengajar, tetapi juga agar murid mudah belajar. Para guru bukan sama-sama mengajar, tetapi mengajar bersama-sama. Yang murid –mulai anak-anak sampai remaja, bahkan orangtua- bukan sama-sama belajar, tetapi belajar bersama-sama. Di lingkungan ini hampir tak ada dikotomi rumah-sekolah. Rumah ibarat sekolah, begitu pula sebaliknya. Orangtua ibarat guru, begitu sebaliknya. Lingkungan yang sangat potensial memenuhi apa yang tak lagi bisa kita harapkan dari model sekolahan.
Ada apa dengan sekolah?
Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, gugup menghadapi murid yang berbeda dengan jenis murid ketika pertama kali model ini diciptakan. Yang dihadapinya sekarang adalah murid-murid yang hidup nyaris tanpa kendala ruang dan waktu, di dunia yang tak kenal istirahat dan tak pernah tidur. Terlalu banyak yang telah mencuri perhatian mereka dan juga menyusup ke dalam pikiran mereka, suka maupun terpaksa. Bagaimana tidak? Mereka adalah generasi multikultural yang tersesat di persimpangan jalan bebas hambatan yang tak lagi punya rambu-rambu, tenggelam di tengah arus informasi yang tak lagi punya kendali. Sementara sekolah (-saya tidak membicarakan sistim klasikal atau kurikulumnya-) nyaris tidak mengalami perubahan berarti dari sejak berdirinya, 350 tahun yang lalu.
Bisakah kini sekolah memaksa murid memakai “kacamata kuda” atau menyumpal telinga mereka dengan kapas? Bisakah semua perkembangan zaman ini hanya dihadapi dengan sekedar merevisi peraturan ini dan itu, himbauan ke sana kemari, bahkan dengan membongkar kurikulum? Apa jawaban sekolah melihat orangtua murid menangisi anaknya yang tewas sia-sia – dan ini bukan satu dua kali terjadi, bahkan sangat mungkin bakal lebih sering- akibat kebrutalan perang antar sekolah? Siapa yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan murid di sepanjang perjalanan pulang pergi antara rumah dengan sekolah?
Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, gamang menghadapi tata ruang yang berbeda dengan ketika pertama kali model ini diciptakan. Ia dapati dirinya sekarang terkepung di tengah kota yang seperti tak lagi mengenal siang dan malam. Ia yang dahulu sengaja dijauhkan dari pasar, sekarang dipaksa bersanding. Yang dahulu cukup memanfaatkan sisi kanan kiri gedung untuk menyandarkan sepeda, sekarang harus menyiapkan lahan parkir yang sama luasnya dengan bangunan sekolah. Bagaimana tidak? Kalau mau bertahan hidup, sekolah harus tegak sama megahnya dengan mall, gegap-gempita, dan menyedot banyak orang!
Bisakah kini sekolah menghindari kebisingan, memaksa kendaraan menjauh atau melintas dengan sopan di hadapannya? Apa jawaban sekolah melihat kemacetan lalu lintas, terutama di jalan-jalan yang melintasi mereka? Masih optimal kah waktu belajar murid kalau separuhnya telah disita oleh jarak tempuh rumah–sekolah, kalau untuk sampai di sekolah harus dengan kelelahan fisik dan mental, apalagi untuk tiba kembali di rumah? Dalam posisi dan kondisi semacam ini, mampukah sekolah dengan jujur dan lantang menjawab isu-isu; pola hidup sehat, pencemaran lingkungan, hemat energi? Mampukah sekolah menjawab masalah demografi dan transportasi?
Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, salah tingkah dengan penampilan serta dandanannya sendiri yang tidak sesuai dengan watak yang seharusnya. Terperangkap di dalam gaya hidup hedonis yang tak mampu ia hindari. Membiarkan dirinya menjadi komoditi dan tak berdaya mengatasi penyakit “komersil” yang menggerogoti tubuhnya. Akhirnya ia memang semakin besar dan canggih hanya secara fisik, namun semakin kropos dan lemah secara psikis. Penglihatannya terhadap murid mengabur, pelukannya semakin mengendur, pengawasannya semakin melonggar, dan penilaiannya semakin permisif. Bagaimana tidak? Murid begitu banyak, sekolah tidak tahu persis dari keluarga macam apa mereka berasal. Guru tak mengenal ortu murid, begitu pula sebaliknya.
Bisakah kini sekolah bergandeng tangan dengan rumah dan merangkul murid bagai anak sendiri? Bisakah sekolah tetap menyambut ortu sebagai mitra, bukan sebagai konsumen? Mengapa sekolah bungkam menghadapi kasus-kasus moral -bahkan yang terjadi di lingkungannya-; soal ujian yang harus dikawal polisi, misalnya? Dalam kondisi semacam ini, beranikah sekolah berdiri di barisan terdepan di dalam gerakan-gerakan moral? Kalau tidak, pendidikan seperti apa yang masih bisa kita harapkan darinya?
Bagaimana dengan Lingkungan Belajar?
Namanya juga lingkungan belajar, tidak segagah dan semegah sekolah. Ruang belajarnya di teras-teras rumah guru, masjid, bisa juga di balai desa, atau kantor-kantor RT. Tak perlu gedung khusus sehingga harus menggaji Satpam dan tukang sapu. Muridnya tak sebanyak yang di sekolah. Dan mereka datang dari lingkungan di sekitar tempatnya belajar.
Begitu dekatnya jarak rumah dengan tempat belajar memungkinkan guru dan murid tak perlu mengeluarkan ongkos untuk sampai di tempat belajar mengajar. Tak ada kemacetan lalu lintas, tak ada kebisingan klakson, dan tak ada polusi, bahkan tak perlu ada polisi! Pola hidup mereka menjadi lebih sehat dan hemat. Mereka juga bisa belajar “fullday” secara natural (-mengikuti bioritmik-) tanpa mengabaikan waktu istirahat siang. Juga bisa bulak-balik ke tempat belajar 3 kali sehari (-seperti makan atau minum obat-), tanpa menyita waktu dan tenaga serta kelelahan fisik dan mental. Waktu belajar mereka pun menjadi lebih optimal.
Begitu dekatnya jarak rumah dengan tempat belajar memungkinkan murid lebih terpantau. Mereka berlalu lalang di lingkungannya seperti murid sekolah berlalu lalang di koridor antara ruang-ruang kelas dengan kantor guru. Tingkah laku mereka diawasi tetangga yang siap menegur dan menasihati jika ketahuan bolos atau berbuat tak pantas. Sangat mungkin bagi mereka untuk diikat dengan berbagai kegiatan bersama; sholat jama’ah, pengajian, pertemuan rutin, kerja bakti lingkungan. Dan ini merupakan terapi manjur untuk menyembuhkan penyakit individualisme dan egoisme di tengah masyarakat. Hampir sehari penuh berkumpul bersama guru dan di tengah-tengah orang yang mereka kenal akan ikut membantu menghalangi kemungkinan prilaku menyimpang.
Begitu dekatnya jarak rumah dengan tempat belajar memungkinkan mereka saling sangat mengenal satu sama lain. Pendidikan menjadi lebih efektif karena didasari empati. Guru mengenal ortu, begitu sebaliknya. Murid saling mengenal ortu masing-masing, begitu sebaliknya. Ortu dan guru berpeluang besar membangun visi dan misi pendidikan yang sama. Bukan saja karena mereka membaca “panduan” yang sama, lebih dari itu karena mereka hidup bersama. Mereka memiliki tolok ukur yang sama tentang anak-anak mereka; kenakalan atau kemalasannya, karena sama-sama menyaksikan dan merasakannya. Sangat mungkin bagi guru bisa berlaku sebagai ortu terhadap muridnya, ortu bersikap seperti guru terhadap anak dan teman-teman anaknya. Ya, hanya di dalam kondisi seperti inilah, guru dan ortu bisa secara optimal menghayati sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- :
(إنما أنا لكم بمنزلة الوالد أعلمكم (رواه أحمد و أبو داود
(“Kedudukanku bagi kalian tidak lain bagai orang tua yang mengajarkan kalian.”: HR Ahmad/Abu Dawud)
Mungkinkah ini diterapkan di selain Lingkungan Belajar?
Dari Mana Kita Mulai?
Pertama-tama, marilah kita umpamakan sekolah itu rumah sakit, guru itu dokter, dan ilmu itu obatnya. Artinya, toh tidak semua yang sakit atau penyakit itu harus ditangani dokter atau rumah sakit. Ada yang bisa diobati sendiri, ada yang cukup ke poliklinik atau puskesmas, ada yang terpaksa harus ke rumah sakit kalau memang sudah tidak ada cara lain. Bahkan obat pun ada yang bisa diupayakan sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di rumah, ada yang harus dibeli di apotik, ada yang bebas dan ada yang harus dengan resep dokter. Begitu pula pasien, ada yang cukup Rawat Jalan dan ada yang harus Rawat Inap. Mudah, khan?
Kemudian, mulailah menangani pasien (murid) yang paling ringan sakitnya (muda usianya). Mulailah melakukan pengobatan (pelajaran) yang tidak harus oleh dokter dan yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Mulailah dengan obat-obatan yang bisa didapat di halaman atau kebun sendiri dan tak perlu membelinya di luar. Artinya, mulailah dari yang paling mungkin kita lakukan; dari tetangga terdekat, tingkat usia belajar termuda, dan pelajaran termudah. Sulit?
Tentu saja setiap permulaan itu terasa sulit, terasa berat. Energi yang harus dikeluarkan pun terasa banyak. Tetapi kita harus memulainya sebelum lebih terlambat. Sebelum masalah demografi dan transportasi semakin kusut, sebelum peleburan informasi semakin merusak sirkuit otak anak-anak kita serta merusak akhlaqnya, sebelum mereka makin bersikap masa bodoh, egois, dan individualis. Singkatnya, sebelum generasi masa depan dibuat gila oleh mesin peradaban dan teknologi. Jika tidak, jangan-jangan impian akan lahirnya generasi yang lebih baik tak akan pernah terwujud, terhadang situasi yang selama ini tidak pernah kita perhitungkan.


Tulisan yang sangat menginspirasi Ustadz, sangat jelas menggambarkan keadaan Rumah Belajar Ibnu Abbas, Alhamdulillah meskipun sebentar saja berkunjung ke sana kami sangat menikmati nuansa lingkungan belajar yang telah dibangun RBIA, Barokallah fik
Barokallahu Fik. Mohon bantuannya saran tips trik untuk kami membuat ia di lingkungan kami al ustadz.
-Denny-
Alhamdulillah semoga apa yang dirintis oleh rb bisa dirasakan oleh lebih banyak orang lagi
Seharusnya, fungsi sekolah (apapun bentuknya) dari dahulu sampai sekarang adalah sama: sebagai media mengenal aturan, sebagai media bersosialisasi, dan sebagai media memperoleh pengetahuan. Dari 3 fungsi ini, fungsi pertama sudah ditinggalkan oleh berbagai bentuk sekolah daam berbagai tingkatannya. Siswa sudah tidak lagi diajar bagaimana bersikap pada orang tua, pada guru, pada teman, pada yang lebih tua, pada yang lebih miskin, dll
Fungsi kedua, juga sudah melantur tanpa ada yang mengembalikan pada garis fitrahnya. Sebagai media bersosialisasi seharusnya sekolah bisa membuat siswa tahu dimana posisinya berada dan seharusnya ada dimana. Sosialisasi di sekolah telah disetir oleh suara dominan tentang bagaimana status sosial mereka ditempatkan. Jadilah para pelacur dan penjahat kecil sebagai raja-raja kecil yang menentukan seberapa layak seorang siswa dinilai secara sosial. Mereka yang tidak punya tempat pada kelompok “bangsat” ini (maaf, saya tidak memiliki kata-kata yanbg lebih halus untuk hal ini) menjadi kurang berharga dan bersedia menyerahkan apapun (hatta kehormatan) agar memiliki sedikit pengakuan dalam kelompok tersebut. Jadilah fungsi media bersosialisasi sekolah menjadi media sosialisasi yang jahat.
Fungsi ketiga, berjalan tidak optimal pada semua level pendidikan: dasar, menengah dan tinggi. Semua karena aturan Diknas tentang standarisasi sekolah dan akreditasi yang mengutamakanhanya orang2 dengan gelar2 tertentu sebagai yang eligible untuk menjadi pamong di berbagai tingkatan sekolah. Aspek skill, aspek moral, aspek kesantunan, bukan lagi kriteria utama.
Jadilah output sekolah seperti sekarang ini. Mentereng tapi bobrok. Gagah namun rapuh. Nampaknya memang perlu ada reformasi dalam sistem pendidikan. Namun saya agak skeptis dengan ide lingkungan belajar seperti yang ustadz ketengahkan, sebagai solusi persoalan yang saya kemukakan di atas. Bukan karena tak layak, namun lebih pada ketidak tersediaan inventory masyarakat untuk berangkat ke sana. Tidak semua lingkungan memiliki apa yang dimiliki ibnu abbas. Mungkin sebuah lingkungan memiliki inventory orang berilmu, namun apakah dia bermoral. Bila dia berilmu dan bermoral, apakah dia bersedia, karena belantara kota dunia telah menelan semua orang ke dalam kebuasan perilaku yang sama: mencari uang tanpa bisa menawar waktu. Bagaimana dengan orang tua? Mereka kan termasuk yang ditelan oleh belantara kota dunia sehingga menceburkan dirinya, suka atau tidak suka, ke dalam aturan bermain masyarakat kota dunia, bahwa uang adalah segalanya. Seperti laron yang menceburkan diri ke dalam gelegak api…….
Bismillah, yang ane tahu sekarang ortu2 bukan menjadi guru2 thd anak2 mereka malah ortu2 ngerusak anak2nya sendiri …
untuk mencapai suatu Lingkungan Belajar mustinya belajar dan mengamalkan Tauhid bagi ortu2 …Insya Allah otomatis ntar jd guru2 anak2 mereka …anak2 mah ngikut aja ..
dengan belajar dan amal Tauhid Rubbubiyah, Uluhiyah, Asma wa Shifat dan Mutaba’ah … Insya Allah dengan taufiq dr Allah Subhana wa Ta’ala akan selalu ada kumpulan orang baik2 sampai hari Kiamat …disamping juga makin ke sini makin jelek keadaan generasi kita…
Jadi kunci pertama : ngaji
Kedua : ngumpul
ulasan yang bagus sekali pak rachmadi, tapi paling tidak masih ada secercah cahaya dengan konsep rumah belajar ibnu abbas ini. mungkin kah pemda memaksa institusi pendidikan yang ada untuk mengikuti konsep ibnu abbas ? tampaknya…. ya setidaknya kita coba dengan diri kita sendiri dulu saja deh… mudah2an bisa diterapin di lingkungan kita…
Bismillah, ngebayang gak sih bikin Lingkungan Belajar , …trus orang tua tetangga kita buka TV…di ruang tamu…trus anak-anak kita pada ngumpul di terasnya pada ikut nonton….
Gak ngebayang lagi bagaimana rusaknya kalau trus di suatu lingkungan belajar yang udah ngerti tauhid hanya 1 atau dua keluarga ???
Lingkungan Belajar akan berhasil kalau dibangun dulu di atas Tauhid …. kalau tetangga dan semua keluarga di dalam lingkungan tersebut mengerti Tauhid baru akan tercapai apa yang di jelaskan di atas apa yang dinamakan Lingkungan Belajar.
Bentuk seperti ini ana alami sangat ideal adalah di Lingkungan Pondok Pesantren Minhajus Sunnah, Muntilan.
Disana kami sampai-sampai mengadakan apa yang namanya Jaga Siang. Lho kok siang2 jaga ? emang ada maling. Bukan…. kami jaga siang menjaga anak2 yang bermain di lingkungan kami. Anak-anak bermain dijaga supaya tidak keluar batas lingkungan, supaya tidak merusak sawah2 masyarakat, supaya tidak mengambil ikan2 di empang masyarakat, supaya pas bukan jam main (jam main kami sudah tetapkan) anak-anak ada di rumah masing2 istirahat atau belajar atau muroja’ah …Kami bergantian setiap hari jaga ada 2-3 ikhwah per bulannya.
Kemudian ikhwah bikin usaha dimana santri dan ikhwan2 pegawainya, mereka bisa ikut taklim kapanpun karena bos-bos mereka juga ikut belajar….
Bentuk seperti di Depok (dulu yang ana pernah disana, sekarang gak tau deh) atau di Mujur sini masih bercampur antara Muwahidin dan non muwahidin ..sehingga kami terkadang kecolongan. Apalagi kalau non muwahidin nya masih saudara-saudara Muwahidin.Anak-anak kami terkadang masih tercemar dengan pergaulan budaya non Muwahidin…terkadang pulang sekolah masih mungkin mereka berhenti di tetangga2 kami untuk menonton TV…
Untuk lingkungan Belajar yang seperti ini harus mengadakan pengawasan yang lebih ketat lagi. Anak-anak hanya diperbolehkan main di dalam pelataran Pondok.
Penjelasan ana di atas akan memicu komentar yang sudah bisa ditebak : “kalau begitu kita harus ekslusif ya …”
Ketahuilah bahwa anak-anak kita itu masih seperti kertas putih bersih yang siap di coret2, siapapun yang mencoret. Mereka akan menerima semua yang mereka dapat.Mereka tidak punya saringan seperti kita2 yang dewasa. Manhaj ini kita dapat oleh yang tua2 ini sebagai anugerah. Kita yang istilahnya sudah kenyang dengan dosa, merasakan Islam sebagai suatu air sejuk yang sangat nikmat dapat menghilangkan dahaga ruhaniyah. Tapi, manhaj ini bagi anak-anak ini, mereka anggap suatu musibah …ini tidak boleh, itu tidak boleh ….sehingga suatu saat bukan tidak mungkin mereka jenuh dan ingin menjadi orang-orang yang awam thd Islam….Allah Musta’an …na’udzu billahi min dzalika.
Yang ideal lagi menurut ana, seperti di Muntilan …hanya saja diberikan fasilitas2 kreatifitas sehingga anak-anak tidak jenuh dan menganggap bahwa Islam bukan musibah bagi mereka. Sehingga anak-anak tidak tertarik lagi terhadap suatu dunia diluar mereka, karena semua sudah terlampiaskan di dalam lingkungan belajar mereka yang tentunya tetap dalam koridor syar’i. Adanya fasilitas bermain yang murah tapi tidak kumuh, adanya tempat2 mereka berkreativitas yang tidak menuntut biaya mahal, dsbnya.
Sehingga keinginan2 mereka dapat tersalurkan dan itu menjadi media pendidikan yang tanpa terasa mereka terima karena tersampaikan dalam bentuk permainan, dan bentuk2 yang menarik. Mereka tidak lagi ingin keluar dari lingkungan belajar mereka. bahkan mereka ketika liburan, akan selalu rindu ingin kembali ke lingkungan belajar mereka. Lingkungan Belajar bukan lagi menjadi momok bagi mereka. Tidak ada kata2 orantua seperti ini, “nanti kamu kalau nakal saya pondokkan lho” …
masya Allah …Yassarallahu lanaa untuk mewujudkannya.
Nanti kalau usia mereka minimal sudah setingkat SMA, akal mereka sudah agak stabil mereka baru akan mulai merasakan sejuknya manhaj ini. Mereka akan menyadari bahwa mereka merasakan nikmat yg telah diberikan Allah Subhana wa Ta’ala yang tiada terkira. Mereka akan dengan sendirinya berjalan di atas bumi ini dengan mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil.
Bukankah kita ingin anak-anak kita, kecil ahlussunnah, besar ahlussunnah, dewasa ahlussunnah, tua ahlussunnah, dan mati sebagai ahlussunnah ?
izin share ya ustadz
inspiratif…InsyaAllah bisa dikembangkan dilingkungan sendiri…
Alhamdulillah bi idznillah Ahad, 23 Ramadhan 1433 H (12 Agustus 2012) kami berkesempatan mengunjungi RBIA, setelah sekian masa kami berkecimpung dalam beberapa lembaga Pendidikan, kami benar-benar menemukan konsep pendidikan yang lebih dekat dengan tujuan pendidikan itu sendiri (dari berbagai pendapat). Konsep yang memberikan inspirasi, pencerahan, tentang hakikat pendidikan itu sendiri. Konsep yang lebih aplikatif, bukan basa-basi. Ustadz Abu Khaulah dan Ustadz Tri Jazakumullahu khairan, semoga Allah berikan kemudahan kepada kami untuk memulainya di lingkungan kami saat ini. Allahu yubarik fiekum
Bismillah.
Melanjutkan pernyataan ana yang kemarin berkaitan dengan artikel ini, “Jika bukan karena percaya akan rahmat dan janji Allah, ana akan menganggap artikel ini adalah bagian dari utopisme”
(apa yang akan ana sampaikan melalui kolom ini bukan argumentasi defensif dari pernyataan tsb, tapi merupakan sebuah elaborasi yang sangat terbuka untuk dikoreksi)
Kita semua di sini (ana dan lainnya) berangkat dari satu hal yang sama, yaitu keprihatinan atas rusaknya ‘peradaban’ di zaman ini akibat minimnya pendidikan agama, arus informasi yg datang tanpa kendali dsb. Dan kita semua juga menyadari bahwa metode pendidikan formal yang ditetapkan sekolah-sekolah sekarang ini tidaklah mampu untuk menghambat apalagi menanggulanginya. Alih-alih, sekolah malah menjadi agen tersendiri (langsung ataupun tidak langsung) yang perannya justru memperburuk keadaan tersebut. Bukan hanya melalui pergaulan antarsiswa, tetapi juga guru-siswa (tentang ‘pacaran’, misalnya. Guru menjadi penasihat; bukan untuk melarang pacaran, tetapi guru malah memberi nasihat agar ‘hubungan’ tsb tetap langgeng. Ini nyata. Allahulmusta’an). Atau bisa kita lihat dari buku-buku DAK yang disalurkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah, betapa sering kita mendengar berita bahwa banyak buku yang melanggar ‘norma’ (melalui saringan orang awam. Kalau disaring oleh orang yang ‘ngaji’, bisa ana jamin, banyak sekali buku yang tidak layak terbit apalagi ditaruh di perpustakaan sekolah sebagai bacaan siswa).
Kemudian, perkataan dalam artikel di atas,
“MEREKA adalah generasi multikultural yang tersesat di persimpangan jalan bebas hambatan yang tak lagi punya rambu-rambu, tenggelam di tengah arus informasi yang tak lagi punya kendali.”
Siapa ‘mereka’? Bagi ana, ‘mereka’ bukan hanya anak-anak yang saat ini baru atau sedang mengenyam dunia sekolah. ‘Mereka’ juga bisa berarti ‘kita’ atau ‘kami’. ‘Kami’ yang sebagiannya sudah menjadi orangtua, atau ‘kami’ yang sedang mempersiapkan diri untuk berkeluarga. Butuh kesadaran yang besar (di atas ilmu) agar orangtua memahami tentang pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Sebelum itu, orangtua juga harus tahu tentang pendidikan yang baik bagi dirinya.
Artinya, metode pendidikan seperti yang ditulis dan diterapkan oleh RBIA bukan hanya sebuah proses. Namun juga sebuah hasil. Hasil dari pendidikan, atau minimalnya kesadaran dari orangtuanya. Metode lingkungan belajar yang diterapkan RBIA jg merupakan hasil dari komunitas penuntut ilmu, salafiyyin di Depok yang dirintis bertahun-tahun.
Dari dua hal itulah ana mengatakan bahwa metode lingkungan belajar yang ditulis dalam artikel ini (dan berhasil diterapkan RBIA) adalah sesuatu yang ‘utopis’ (for lack of better word. Ana tidak tahu kosakata yang lain yang lebih tepat). Dengan kata ‘utopis’ tsb, ana tidak memaksudkan bahwa metode lingkungan belajar adalah suatu khayalan yang mustahil diterapkan. Utopis yang ana maksud: di tengah bobroknya sistem pendikan (sekolah), RBIA menawarkan sebuah ‘kesempurnaan’ metode pendidikan. Apalagi bagi orang-orang yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan formal, seperti melihat wadi di tengah gurun pasir, namun ragu apakah air yang ada dalam wadi tersebut bisa ‘mengairi’ semua orang dalam kafilahnya.
Namun, sekali lagi seperti yang dicantumkan dalam statement awal. Ana percaya akan janji dan rahmat Allah bagi orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.
Wallahu ta’ala a’lam.
[ana sangat berharap koreksi dari ustadz Zainal -hafizhahullah- berkaitan dengan pernyatan tsb. Melalui elaborasi ini jg antum bisa menilai apakah ana termasuk ke dalam orang-orang yang terbelenggu secara sistemik atau selainnya, disertai 'pencerahan' tentunya, hehe. Nasalullahassalamah waziyadatal'ilmi.]
Bismillah.
Kepada Ahmad Fa’iq.
Ma’af, belum bisa menanggapi komen antum (juga komen-komen yang sebelumnya), khawatir mengakibatkan rencana tulisan yang akan datang keburu muncul secara prematur. Hanya sedikit ana ingin menjelaskan tentang “Terikat Secara Sistim” dan “Terbelenggu Secara Struktural” serta perbedaan di antara keduanya. Seseorang yang terikat secara sistim, ia sadar namun tak mampu (-atau juga tak mau-) menghindar. Sedangkan yang terbelenggu secara struktural, ia tak menyadari sehingga tak merasa perlu menghindar. Ucapan jenis orang pertama,”Ya, mau gimana lagi?” Adapun ucapan jenis orang kedua,”Lha, emang kenapa. Apa yang salah?” Insya Allah ( Alhamdulillah) antum bukan jenis kedua. Juga mudah-mudahan bukan dari jenis pertama. Bukankah Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan, ““Bersemangatlah kalian kepada apa-apa yang bermanfa’at bagi kalian. Mohonlah pertolongan kepada ALLAH untuk itu, serta jangan pesimis dan merasa lemah” (HR:Ibnu Majah dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Ana kira artikel di blog ini layak untuk dibukukan, lho
Bukankah begitu ust abu khaulah, agar banyak orang membaca ide-ide Anda
diberbagai daerah sudah dipraktekkan kok …jd sdh bukan ide lagi
artikel menarik…sering-sering update ya mas…