<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rumah belajar Ibnu Abbas</title>
	<atom:link href="http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com</link>
	<description>Pendidikan, Anak, dan Risalah Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 03:36:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rumah belajar Ibnu Abbas</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/osd.xml" title="rumah belajar Ibnu Abbas" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Teknologi &#8211; Pasar &#8211; Pendidikan</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/11/26/teknologi-pasar-pendidikan/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/11/26/teknologi-pasar-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 08:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Back to nature]]></category>
		<category><![CDATA[Borax]]></category>
		<category><![CDATA[brand image]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pasar]]></category>
		<category><![CDATA[efek sampingan]]></category>
		<category><![CDATA[Formaldehyde]]></category>
		<category><![CDATA[Formalin]]></category>
		<category><![CDATA[Herbal]]></category>
		<category><![CDATA[home schooling]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Impresario]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan itu Mahal]]></category>
		<category><![CDATA[komersialisasi pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kualitas]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[layanan purna jual]]></category>
		<category><![CDATA[metode pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[moderenisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pembeli adalah raja]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Itu Mahal]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[posmo]]></category>
		<category><![CDATA[praktis]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[stronger and faster]]></category>
		<category><![CDATA[Styrofoam]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Dahulu kala manusia harus berenang untuk menyeberangi hanya sebuah sungai. Mereka harus -dan hanya bisa- berlari sekencang-kencangnya untuk tiba segera di tempat yang dituju. Bersusah payah melompat setinggi-tingginya hanya untuk meraih buah yang hendak dipetik. Kini mereka mampu berlayar bahkan mengarungi samudra. Cukup memacu kendaraannya untuk tiba di tempat dalam sekejap. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=345&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;"><em> Dahulu kala manusia harus berenang untuk menyeberangi hanya sebuah sungai. Mereka harus -dan hanya bisa- berlari sekencang-kencangnya untuk tiba segera di tempat yang dituju. Bersusah payah melompat setinggi-tingginya hanya untuk meraih buah yang hendak dipetik. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Kini mereka mampu berlayar bahkan mengarungi samudra. Cukup memacu kendaraannya untuk tiba di tempat dalam sekejap. Terbang bahkan menembus awan dengan pesawat. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Semua itu karena manusia tak henti berupaya; <strong>mengatasi tantangan</strong>,  <strong>mempermudah cara</strong>, dan <strong>meningkatkan hasil</strong>. Berbagai ilmu mereka kembangkan, berbagai cara mereka lakukan, dan berbagai alat mereka ciptakan. Itulah teknologi.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Teknologi</strong>…</p>
<p style="text-align:justify;">adalah yang juga hewan telah mengenalnya sejak awal, jauh sebelum istilah itu diciptakan. Hewan memanipulasi dirinya di dalam rangka menghadapi tantangan alam yang mengancam kehidupannya. Mereka berupaya mempermudah cara untuk melanjutkan kehidupannya,  bahkan bersiasat untuk meningkatkan hasil buruannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, teknologi bukan monopoli manusia,  apalagi harus identik dengan moderen. Ya, fitrah makhluq hidup -yang punya keinginan; mengatasi tantangan atau rintangan, mempermudah cara, dan  meningkatkan hasil atau kualitas hidup- itulah yang menjadi sebab mengapa teknologi ada,  sesederhana apapun bentuk dan cara kerjanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia berupaya mengatasi tantangan, sehingga  menjadi punya dari sebelumnya tak punya, menjadi bisa dari sebelumnya tak bisa. Setelah itu, manusia berupaya mempermudah berbagai cara, sehingga lebih mudah untuk punya, lebih mudah untuk bisa, serta lebih mudah meraih hasrat dan menyampaikan maksud,. Tidak cukup sampai di situ, kemudian manusia berupaya meningkatkan apa yang telah  dihasilkan atau diperolehnya, sehingga hidupnya menjadi lebih baik;  tidak sekedar punya…, tidak sekedar bisa….<span id="more-345"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketika tahap <em>meningkatkan hasil</em> telah manusia lampaui, ia akan menemukan lagi<em> tantangan</em> baru yang harus <em>diatasi</em>, begitu seterusnya. Juga boleh jadi apa yang bagi seseorang sebagai <em>upaya meningkatkan hasil</em> ternyata bagi yang lain sebagai<em> upaya</em> <em>mengatasi tantangan</em>. Ya, karena dunia senantiasa berubah dan manusia berbeda di dalam kesempatan atau kemampuan. Akan tetapi prioritasnya tetap. Mengatasi tantangan, mempermudah cara, -terakhir-, meningkatkan hasil. Inilah yang logis dan berlaku di dalam segala urusan; makan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, informasi, transportasi, telekomunikasi, dan….</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Pasar…</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">adalah tempat bertemunya pembeli dengan penjual. Pasar hidup karena penawaran bertemu dengan permintaan.  Pasar hidup selagi pembeli dan penjual sama-sama untung.</p>
<p style="text-align:justify;">Persaingan adalah nafas pasar, sedangkan tawar-menawar denyut nadinya. Dan produk-produk teknologi -ketika masuk pasar- juga tidak luput darinya; persaingan dan tawar-menawar.  Tentu saja pada asalnya pembeli menginginkan  produk  yang:</p>
<ol>
<li>Paling Tinggi atau Besar Kemampuannya.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Teknologi yang paling tinggi / besar kemampuannya adalah jawaban untuk mengatasi tantangan, mempermudah cara, dan meningkatkan hasil. Setiap orang menginginkannya dan setiap penjualpun menjanjikannya. Di dalam perkara inilah produk teknologi pertama kali saling bersaing. Tetapi yang menikmati persaingan di tingkat ini hanya segelintir orang yang memang sudah mengerti produk dan sudah waktunya untuk menikmati. Selebihnya, hanya yang terbawa arus  menjadi korban peradaban.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Paling Mudah Mengoprasionalkannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Paling mudah menggunakannya, ringan, atau praktis menjadi alasan berikutnya. Dan para produsen -setelah sama unggul dalam hal kualitas-  berlomba di dalam hal ini. Yang rumit, berat, <em>lemot</em>, dan <em>ribet </em> akan dicampakkan dan tak akan laku di pasaran. Alasan pembeli di dalam perkara ini sangat logis.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Paling Murah Harganya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa  lebih banyak  yang  memiliki kendala daya beli dari pada yang tidak itulah asal mula prinsip ini. Kalau bukan karena mantera para pedagang, manusia tak akan mabuk barang-barang mewah dan lupa dengan kemampuan daya belinya. Iklan dan promosi yang menyesatkan telah menyihir mereka sehingga tidak lagi berpikir &#8220;murah&#8221;, bahkan berpikir &#8220;pokoknya mahal&#8221;, karena yang mahal itu pasti bagus!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi tetap saja yang terbanyak adalah para pecinta barang murah. Terbukti, banyak sekali yang gampang terpancing membeli barang &#8220;asal murah&#8221;, meski mereka belum terlalu -bahkan mungkin tidak- membutuhkannya.  Karena alasan &#8220;murah&#8221; pula lah terkadang pembeli menjadi tidak terlalu rewel terhadap masalah praktis-tidaknya barang.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Paling Aman atau Sedikit Efek Sampingannya</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berpikir tentang efek sampingan bukan monopoli karakter manusia &#8220;<em>posmo</em>&#8220;. Orang jaman <em>baheula</em> pun punya kearifan itu. Teknologi yang mereka ciptakan, mulai dari rumah sampai ke persenjataan,  menunjukkan hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja &#8220;moderenisasi&#8221; telah membius manusia menjadi tak lagi peka, Selama lebih dari satu abad manusia moderen sempat dibuat mati rasa oleh slogan &#8221; <em>stronger and faster</em>&#8220;. Sampai akhirnya ketika berbagai dampak mulai tampak, dan manusia berpikir, &#8220;<em>Ada</em><em> yang salah dengan moderenisasi selama ini</em>&#8220;, kesadaran dan kearifan itu pun pulih.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulailah &#8220;<em>Back to nature</em>&#8220;. Dari makanan, pakaian, rumah, sampai ke teknologi kedokteran dan pengobatan. Orang mulai memilih minum obat-obat herbal sebelum memutuskan untuk ke dokter, mencoba dibekam dulu sebelum menyerahkan diri ke rumah sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknologi Ramah Lingkungan pun menjadi pilihan penting. Daun pisang kembali dilirik untuk mengambil alih fungsi Styrofoam sebagai pembungkus makanan, emisi otomotif mulai dipersoalkan, sampai ke alat tulis dan mainan anak-anak menjadi harus yang non-toxin.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi untuk kebanyakan orang kesadaran ini terlalu mewah dan dianggap mengada-ada, meski samar-samar mereka telah mendengar Borax, Formalin, atau Formaldehyde serta bahayanya.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Paling Bagus atau Indah Penampilannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Logisnya ini adalah pertimbangan yang terakhir setelah empat prinsip terdahulu. Tetapi kenyataannya malah ini yang sering mendominasi pertimbangan. Wajar saja, karena yang pertama kali dilihat orang adalah penampilan, karena kebanyakan manusia suka bermegah-megah, suka dilihat dan dipuji. Sifat semacam inilah yang dimanfaatkan para produsen dan pedagang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, kira-kira begitulah urutan logis -alasan masyarakat- memilih sebuah produk. Maka jika semua produk bersaing secara sehat, tentu yang laku adalah yang paling canggih, paling praktis, paling murah, paling aman, dan paling indah. Ini artinya kemenangan bagi pembeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, pembeli tidak boleh jadi pemenang. Karenanya, iklan, promosi, serta cara pembayaran telah menjadi perkara yang tidak bisa dipisahkan dari pasar, bahkan sangat menentukan, sehingga mampu mengubah-ubah urutan di atas sesuai dengan kemauan penjual.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasar memang -dan selalu- berpihak kepada pembeli, dan pembeli adalah &#8220;raja&#8221; bagi mereka. Hanya sayang, &#8220;raja&#8221; ini sering tak berdaya menghadapi kepandirannya sendiri dan kecerdikan (baca: kelicikan) para &#8220;pelayannya&#8221;, pedagang. Gempuran bertubi-tubi iklan yang memikat dan menyilaukan, bujuk rayu promosi yang menggiurkan -mulai dari diskon, hadiah, sampai ke <em>layanan purna jual</em>-, ditambah lagi dengan kemudahan pembayaran lewat cara-cara angsuran telah membuat &#8220;raja&#8221; tak lagi mampu berpikir logis dan murni berpihak kepada kebutuhannya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, para pelayan (baca: pedagang) -yang kelihatannya berseteru dan saling bersaing- ini ternyata punya kepentingan bersama; memaksa &#8220;raja&#8221; melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Mereka menjadikan iklan bukan lagi semata alat untuk membuat produk jadi terkenal. Lebih dari itu, mereka menjadikannya alat untuk mempengaruhi sistim nilai sang &#8220;raja&#8221; dan mengarahkannya kepada gaya hidup tertentu. Maka jadilah &#8220;raja&#8221; -yang tertawan ini- ibarat pemabuk yang keburu <em>teler</em> sebelum minum. Meski jasadnya masih di tahap &#8220;<em>mengatasi tantangan</em>&#8220;, namun jiwanya sudah jauh melayang ke tahap &#8220;<em>meningkatkan hasil&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, kualitas, <em>brand image, </em>dan alasan gaya hidup telah membuat &#8220;raja&#8221; meremehkan harga dan skala prioritas. &#8220;<em>Murah dan Praktis</em>&#8221; membuat &#8220;raja&#8221; tak mempedulikan faktor keamanan atau efek sampingan, juga  telah menyihirnya membeli produk yang belum tentu ia butuhkan. Dan sebodoh-bodoh &#8220;raja&#8221; adalah yang tertipu oleh kemasan. Ya, di dalam budaya pasar semacam inilah kita dibesarkan dan dibiasakan.</p>
<p><strong> Pendidikan…</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">adalah upaya menjadikan yang dididik bisa berprilaku sesuai dengan harapan terbaik dan cita-cita termulia. Karenanya, pendidikan selalu punya harapan dan keyakinan, bahwa setelah melalui proses pendidikan seseorang akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lewat pendidikan manusia berharap bisa mengatasi tantangan, mempermudah, dan meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk itu, berbagai ilmu tentangnya dikembangkan, berbagai cara dilakukan, dan berbagai alat diciptakan. Maka lahirlah teknologi pendidikan (-walaupun lebih tepat kalau saya katakan teknologi pengajaran-).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadilah kemudian; gedung, kelas, jejeran bangku menghadap papan tulis, termasuk taman bermain dengan ayunan berwarna-warni, juga pakaian seragam. Diadakanlah kemudian sekolah, kursus, seminar, atau pelatihan-pelatihan. Disusunlah kurikulum, dicetaklah buku-buku pegangan, disiapkan alat peraga dan laboraturium, diciptakan berbagai metode pembelajaran, serta dibuat alat pengukur hasil belajarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketika teknologi pendidikan ini -dalam bentuk perangkat keras dan lunaknya- ditawarkan (baca: dipasarkan) , ia berhadapan dengan harapan-harapan masyarakat -yang sama seperti harapan mereka terhadap produk-produk teknologi lainnya- selama ini: yang paling berkualitas, paling murah, paling mudah, paling aman, dan paling cantik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan lagi-lagi budaya pasar ikut bermain. Bukan pedagang namanya kalau tak punya jurus menaklukkan pembeli. Mulai dari brosur serta pamplet bergambar gedung megah dan suasana belajar yang menyenangkan, bermacam-macam pelayanan, sampai ke janji-janji prestasi dan kemudahan mencari lapangan kerja selepas masa belajar menjadi bagian dari promosi pendidikan. Dan sebagaimana slogan &#8220;<em>Kesehatan itu Mahal</em>&#8221; telah dijadikan pembenaran filosofis mahalnya berobat, &#8220;<em>Pendidikan Itu Mahal</em>&#8221; juga dijadikan pembenaran filosofis ; pendidikan adalah komoditi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sekarang giliran orang tua murid menjadi &#8220;raja&#8221;.  Dibujuk untuk melompat jauh dari tahap &#8220;<em>mengatasi tantangan</em>&#8221; langsung ke tahap &#8220;<em>meningkatkan hasil</em>&#8220;, padahal belum waktunya. Terhuyung-huyung menapakkan langkahnya di bumi yang baru. Terbius oleh slogan-slogan atau <em>brand image</em> yang membuatnya tak punya pilihan selain menerima gaya hidup yang ditawarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong> Tanggung Jawab Para Pendidik…</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">dewasa ini bukan hanya mempersiapkan generasi terpelajar. Para pendidik juga bertanggung jawab membebaskan &#8220;raja&#8221; dari tawanan para pelayannya (pedagang), bukan malah ikut-ikutan menggiring &#8220;raja&#8221; masuk ke dalam budaya pasar. Mereka bertanggung jawab; mengajak &#8220;raja&#8221; kembali menapaki buminya sendiri, memulihkan kesadaran dan rasa percaya dirinya, mengajarinya kembali cara melihat skala prioritas -sebagaimana fitrah telah mengajarinya- agar bisa mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan dan hati nuraninya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya budaya pasar ini telah menelan begitu banyak korban; terfitnahnya ketulusan belajar-mengajar, pengharapan yang berlebihan kepada lembaga pendidikan, dan   -yang paling parah-  berapa banyak cita-cita telah ditenggelamkan dan bakat-bakat telah dibunuh olehnya. Maka membebaskan pendidikan dari budaya pasar bukan semata bertujuan menghindari komersialisasi pendidikan.  Lebih penting dari itu, membangun budaya tulus di dalam belajar-mengajar, menghilangkan ketergantungan kepada lembaga pendidikan, serta menyelamatkan bakat dan cita-cita generasi masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, ini adalah juga tanggung jawab para pendidik. Dan tentu saja -kita percaya- masih banyak orang tulus, yang tidak berniat sama sekali menjadikan pendidikan sebagai komoditi. Namun kebanyakan mereka terikat secara sistim, bahkan terbelenggu secara struktural. Apalagi terbukti bahwa tidak ada satupun model lembaga pendidikan dewasa ini yang aman dari sergapan budaya pasar; tidak sekolah, tidak pesantren, tidak juga <em>home schooling</em>, apalagi sekedar lembaga kursus. Karenanya para pendidik juga harus pandai-pandai menjaga jarak dari perangkap pasar. Ya, jika kurang waspada dan tak menjaga jarak, tidak mustahil setiap usaha mulia ini (pendidikan) akan ditangkap oleh para &#8220;<em>Impresario</em>&#8221; untuk kemudian disulap jadi peluang bisnis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=345&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/11/26/teknologi-pasar-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Sebelum Anak Terlanjur Cerdas&#8221;</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/03/17/sebelum-anak-terlanjur-cerdas/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/03/17/sebelum-anak-terlanjur-cerdas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 19:29:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Amanah]]></category>
		<category><![CDATA[Cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional Quotient.]]></category>
		<category><![CDATA[Islam. Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[Kuat]]></category>
		<category><![CDATA[Lemah-Lembut]]></category>
		<category><![CDATA[Rajin]]></category>
		<category><![CDATA[Sopan-Santun]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Quotient]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Terlanjur cerdas ? Cerdas koq bisa terlanjur ? Bukankah setiap orang mendambakan anaknya cerdas ? Apalagi kata &#8220;terlanjur&#8221;   konotasinya jelek . -suatu yang tidak diharapkan-,  seperti;  terlanjur basah, terlanjur jatuh, atau terlanjur menjadi bubur, Anak cerdas, siapa tak mau ? Tetapi itu bukan segala-galanya. Terlebih kalau ia dijadikan dasar bagi segala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=255&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Terlanjur cerdas ? Cerdas koq bisa terlanjur ? Bukankah setiap orang mendambakan anaknya cerdas ? Apalagi kata &#8220;terlanjur&#8221;   konotasinya jelek . -suatu yang tidak diharapkan-,  seperti;  <em>terlanjur basah</em>, <em>terlanjur jatuh</em>, atau <em>terlanjur menjadi bubur</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">Anak cerdas, siapa tak mau ? Tetapi itu bukan segala-galanya. Terlebih kalau ia dijadikan dasar bagi segala pertimbangan, mengalahkan bekal-bekal hidup lainnya yang mutlak dimiliki setiap manusia. Apalagi jika yang dimaksud cerdas itu tak lebih dari sebentuk kemampuan menalar, memahami, dan menarik kesimpulan, atau sekedar mampu berpikir logis , menemukan dan memecahkan jawaban-jawaban matematis.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan sekalipun kecerdasan itu -juga- meliputi kemampuan mengenal dan mengelola perasaan diri,  yang dengannya seseorang mampu memahami kemudian merespon orang lain melalui sikap dan tindakan. Sejenis potensi -yang menurut teori Emotional Quotient (EQ)-nya Goleman- berupa kecerdasan emosional, yang berfungsi mengimbangi kecerdasan intelektual !</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan sekalipun kecerdasan itu -juga- berupa kemampuan memahami akan  nilai-nilai dan makna kehidupan, menumbuhkan harapan-harapan serta keyakinan. Sejenis potensi -yang menurut teori Spiritual Quotient (SQ)-nya Danah Zohar dan Ian Marshall- berupa kecerdasan spiritual, yang berfungsi mengimbangi bahkan mengendalikan kecerdasan intelektual dan emosional sekaligus !<span id="more-255"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ul type="disc">
<li><strong>Latih      Mereka Menjadi Orang Yang Amanah</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Sesungguhnya amanah dan sifat-sifat yang menyertainya, seperti jujur, menepati janji, dan tidak khianat merupakan dasar dari segala bentuk tanggung-jawab pada setiap pribadi -sebagai apapun dia-. Karena jujur dan bersifat amanah adalah awal dan modal dasar bagi seseorang di dalam hidup bermasyarakat. Untuk mengemban inilah ALLAH -<em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em>- menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْأِنْسَانُ</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً (الأحزاب:72)</strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;"><em>(Sesungguhnya, telah Kami kemukakan amanat kepada langit, bumi ,dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh)</em><strong> </strong>(Al Ahzab: 72<strong>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melalui ayat di atas, tampaklah bahwa Amanah -berupa keta&#8217;atan dan kejujuran- adalah sesuatu yang ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> bebankan kepada manusia, namun manusia menganggapnya sebagai suatu perkara yang sepele. Karena itu ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alla</em> mencap manusia sebagai makhluq yang zalim dan bodoh. Artinya, menyepelekan perkara amanah merupakan satu di antara bentuk kezaliman. Dan seorang yang tidak amanah hanya mungkin cerdas dalam pandangan manusia, namun tidak dalam pandangan ALLAH.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka apa jadinya kecerdasan itu jika tidak dibarengi dengan kejujuran dan sifat amanah. Bukankah kezaliman yang ditimbulkannya akan menjadi berlipat ganda dibanding apabila tak disertai kecerdasan. Dengan kepandaian berbicara serta mengelola mimik dan tingkah laku secara meyakinkan -sebagaimana pemain sandiwara-, si cerdas tadi mengelabui manusia, menciptakan berjuta alasan untuk mengingkari janji, dan mengkhianati kepercayaan manusia kepadanya. Semua itu dengan modal kecerdasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka hendaknya sejak dini pendidikan harus mengutamakan perkara ini. Arti jujur dan amanah sudah harus diperkenalkan sejak pertama kali anak bisa diberi sedikit pengertian, Segala upaya dan sarana yang dapat menanamkan kejujuran dan menumbuhkan sifat amanah harus diciptakan. Dan segala suasana dan sarana yang dapat menghantarkan kepada sifat-sifat bohong, mungkir, dan khianat harus dihilangkan dari segala media pendidikan.</p>
<p>Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabda:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:آية المنافق ثلاث: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وإذا اؤتمن خان.</strong> <strong>(البخاري)</strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Dari Abu Hurairah -<em>radhiallahu anhu</em>- , dari Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabada: &#8220;<em>Tanda kemunafiqan itu tiga. Jika bicara, dusta. Jika berjanji, ingkar. Jika diamanahi, khianat</em>.&#8221; (HR; Al Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui Hadits di atas nampak bahwa  dusta, ingkar janji, dan khianat berasal dari akar sifat yang sama, yakni munafiq..Karena itu, jika kita mengajari anak berdusta, mengingkari janji, dan mengkhianati amanah, artinya kita telah menanamkan sifat-sifat munafiq pada anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja tak ada orang tua yang menginginkan anaknya jadi orang munafiq. Tak ada orang tua -yang sehat- merasa atau mengaku telah mengajari anaknya berdusta, terbiasa mengingkari janji, atau mengkhianati amanah.  Tentu saja kita semua tidak merasa telah berbuat seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi kenapa dongeng-dongeng khayali yang kita jejali ke telinga mereka sebagai pengantar tidurnya ? Kenapa kita biarkan mereka membaca cerita-cerita fiktif sejak pertama sekali mereka bisa membaca ? Kenapa sandiwara dan sinetron kita biarkan menjadi konsumsi mereka sehari-hari ? Apalagi kalau disertai harapan dapat mengambil pelajaran atau hikmah darinya -seperti kebanyakan orang yang menganggap film atau sandiwara bisa jadi media da&#8217;wah. Bukankah itu semua dusta ? Kalau tidak dusta dari sisi cerita, dusta dari sisi peran. Bagaimana mungkin kita mengajarkan nilai kejujuran lewat cara-cara dusta ?</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, mungkin kita sering mengingkari apa yang kita janjikan kepada anak kita  <em>Beli sepeda baru, berlibur ke rumah nenek, atau tamasya ke pantai</em>, yang berulang kali janji tersebut harus kita perbaharui sambil tak lupa mengumbar macam-macam alasan. Menyuruh anak -berbohong- menjawab telepon atau mengatakan kepada tamu di depan rumah , &#8220;<em>Papa tidak ada!</em>&#8220;, Atau kita pernah ancam mereka, &#8220;<em>Awas, jangan kasih tahu Mama!</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh ternyata kita sendiri lah yang telah membuat anak-anak terbiasa dengan dusta. Ya, ternyata kita sendiri yang menginginkan -tanpa kita sadari- mereka jadi orang munafiq. Ternyata kita sendiri yang mengajari -tanpa kita sadari- mereka suka mengingkari janji dan mengkhianati amanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka tindakan yang harus ditempuh untuk mencetak anak-anak yang jujur dan amanah adalah meninggalkan cara-cara atau kebiasaan di atas. Selain itu perlu ditempuh upaya-upaya berupa latihan dan pembiasaan guna menanamkan sifat jujur, menepati janji, dan menjaga amanah. Anak perlu dilatih mengemban amanah-amanah yang mampu ia pertanggungjawabkan. Beri kesempatan mereka berjanji dan ajarkan serta mudahkan agar mereka mampu menunaikannya. Berikan sanksi -walaupun ringan- atas pelanggaran janjinya. Ajarkan mereka bersikap jujur serta ceritakan kepada mereka keutamaan bersikap jujur, tetapi bukan melalui dongeng atau cerita fiktif. Sebab -ingat sekali lagi- mustahil menanamkan kejujuran melalui kedustaan. Sampaikan kepada mereka kisah-kisah orang jujur serta buah dari kejujuran, seperti kisah Ka&#8217;ab bin Malik -<em>radhiallahu anhu</em>-.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya kita tanamkan pada diri mereka kecenderungan kepada sifat jujur dan menjaga amanah.  Sebab, apalah artinya kecerdasan tanpa kejujuran dan sifat amanah. Bukankah kita tidak menghendaki anak kita menjadi orang yang pandai menipu.</p>
<ul type="disc">
<li><strong>Biasakan      Mereka Bersikap Santun</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Manusia adalah makhluq bermasyarakat yang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Sopan-santun merupakan sifat mulia yang dapat menimbulkan rasa tenang dan hangat di dalam pergaulan bermasyarakat. Juga merupakan di antara sifat yang disukai ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em><strong>. </strong>Nabi<strong> </strong><em>Shallallahu alaihi wa sallam</em><strong> </strong>pernah berkata kepada Abdul Qais -<em>radhiallahu anhu</em>- :</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:right;" dir="rtl"><strong>&#8220;إن فيك خصلتين يحبهما الله: الحلم والأناة&#8221;.(رواه مسلم)</strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai ALLAH. Santun dan berhati-hati.&#8221;</em> (HR; Muslim)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Sopan-santun adalah sifat yang membuat pemiliknya disukai oleh orang lain, yang dengannya orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatannya, sebagaimana sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- :</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن عامر قال: سمعت عبد الله بن عمرو يقول:</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>قال النبي صلى الله عليه وسلم: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، (ألبخاري)</strong></p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">&#8220;<em>Muslim (-yang sempurna-) adalah yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya</em>.&#8221; (HR: Al Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa tidak, dengannya ia akan menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak mengganggu atau menyakiti orang lain. Dengannya pula ia bisa menempatkan diri di tengah lingkungannya. Ia mampu bersikap secara tepat di hadapan orang yang lebih tua, orang yang lebih muda, bahkan di hadapan orang-orang selayaknya dia belajar kepadanya. Dan ini merupakan satu di antara tanda-tanda pengikut Muhammad -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-, sebagaimana sabdanya:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن عبادة بن الصامت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا </strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Dari Ubadah ibn Ash-Shaamit, bahwa Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabda, &#8220;<em>Tidaklah termasuk umatku, mereka yang tidak hormat kepada  orang-orang tua kami, tidak sayang kepada orang-orang muda kami, dan tidak mengakui ulama-ulama kami</em>.&#8221; (Mustadrak Al Hakim)</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, santun juga merupakan wujud dari kelembutan hati pemiliknya. Karena mustahil seseorang bersikap santun jika tidak memiliki kelembutan hati. Kelembutan hati lah yang menyebabkan seseorang senantiasa berhati-hati ketika bersikap di hadapan orang lain. Dan ini merupakan sifat yang disukai ALLAH -<em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em>- , sebagaimana yang dikatakan  Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam- </em>kepada Aisyah <em>-radhiallahu anha-</em>:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>يا عائشة، إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله ( متفق عليه)</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">&#8220;<em>Ya, Aisyah. Sesungguhnya ALLAH bersifat Lemah-Lembut, menyukai kelemahlembutan di dalam segala perkara.&#8221; </em>(Muttafaqun Alaih)</p>
<p style="text-align:justify;">Disebabkan santun dan lemah lembut lah akan terjaga persahabatan, bahkan ukhuwah (persaudaraan) dan terlaksana tolong-menolong -&#8221;<em>ta&#8217;awun alal birri wat taqwa</em>&#8220;- , yang mustahil semua itu terjadi tanpa dilandasi sifat-sifat di atas. Yakni sifat yang dapat memperindah dan mempercantik seseorang. Sifat yang membuat sebuah pribadi laku di dalam pergaulan. Sifat yang dengannya ia tidak hanya memikirkan dirinya semata, bahkan senatiasa berupaya sekuat tenaga memberikan kebaikan kapada saudaranya sebagaimana ia harapkan kebaikan itu juga berlaku baginya. Lebih dari itu, dengan sifat tersebut ia mampu memiliki empati terhadap penderitaan saudaranya. Perhatikanlah sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- di bawah ini:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أناس بن مالك عن النبي صلىالله عليه وسلم قال: لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه</strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">&#8220;<em>Tidak sempurna iman kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.&#8221; </em>(HR: Al Bukhari &#8211; Muslim)</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن النعمان بن بشير. قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>&#8220;مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم، مثل الجسد. </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>إذا اشتكى منه عضو، تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى&#8221;.(رواه مسلم)</strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Dari An-Nu&#8217;man bin Basyir -<em>radhiallahu anhu</em>-, berkata, telah bersabda Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- :<em>&#8220;Perumpamaan orang-orang mu&#8217;min di dalam cinta kasih sayangnya dan keterikatannya seperti jasad yang satu. Apabila sakit salah satu anggota tubuhnya, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakitnya dengan panas dan demam.&#8221; </em>(HR: Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, segala upaya -sarana dan metode apa saja- yang dapat menumbuhkan sifat mulia ini harus ditempuh. Pendidikan sejak dini harus diarahkan untuk menumbuhkan sifat-sifat sopan-santun dan lemah-lembut. Orang tua harus memastikan sifat-sifat ini melekat pada anaknya sebelum anaknya terlanjur cerdas. Do&#8217;a, dzikir, shadaqah, menyantuni anak yatim, gotong-royong, atau menolong orang yang kesusahan adalah di antara hal yang dapat melembutkan hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, hendaknya sejak kecil anak dibimbing bagaimana cara bertutur, duduk, bahkan berjalan di hadapan orang yang lebih tua. Juga bagaimana di hadapan orang yang lebih muda. Kesantunan dan sikap rendah hati mereka juga harus kita perhatikan manakala mereka berjalan dan mengeluarkan suara. Perhatikanlah wasiat Luqman kepada anaknya -sebagaimana yang diabadikan di dalam Al Qur&#8217;an- :</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">(Artinya: &#8220;<em>Dan sederhanalah di dalam berjalan serta rendahkan suaramu. Karena seburuk-buruk suara adalah suara keledai</em>.&#8221;) (Luqman: 19)</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu,  apa saja yang dapat menumbuhkan sifat-sifat sebaliknya, seperti kurang-ajar, tak tahu malu, atau beringas harus dihilangkan dari segala media pendidikan dan pemandangan mereka sehari-hari.  Perhatikanlah peringatan Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- akan hal ini:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>&#8220;ياعائشة ارفقي؛ فإِنَّ الرِّفقَ لم يكن في شىء قطُّ إلا زانه، ولا نزع من شىءٍ قطُّ إلاّ شانه&#8221;. (ابو داود)</strong></p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Ya, A&#8217;isyah. Berlemahlembutlah. Karena sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia menjadi penghiasnya. Dan tidaklah kelembutan tercabut dari sesuatu kecuali ia menjadikan sesuatu itu jelek</em>.&#8221;</p>
<p>Pada kesempatan lain:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>&#8220;من يحرم الرفق يحرم الخير (رواه مسلم)</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">&#8220;<em>Siapa yang terhalang untuk bersikap lembut, maka terhalang pula baginya kebaikan</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Maka untuk itu, jauhkan dari anak penampilan sifat-sifat yang tidak baik, seperti kasar, brutal, sadis, vulgarisme, dan sikap tak punya malu, mulai dari bacaan, tontonan, maupun bentuk-bentuk permainan dan lingkungan pergaulan mereka. Yang kesemua itu lambat laun akan membentuk keperibadiannya. Orang tua harus memastikan tanda-tanda dari sifat-sifat yang tidak baik ini tak ada pada anaknya sebelum anaknya terlanjur cerdas.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya mereka telah terbiasa bersikap santun dan lemah lembut. Sebab apalah artinya kecerdasan jika tidak dibarengi dengan pekerti santun dan lembut hati, bahkan sekalipun anak tersebut jujur.  Bukankah kita tak menghendaki mereka menjadi robot;  cerdas, jujur, kaku, dingin, dan berpotensi menjadi sadis!!!</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul type="disc">
<li><strong>Didik      Mereka Untuk Rajin</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Rajin merupakan satu sifat yang sangat dipuji dalam Islam. Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- di dalam berbagai ungkapan menjelaskan akan keutamaannya . Di antara lain ucapannya <em>-Shallallahu alaihi wa sallam-</em> adalah:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة ؛ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:<br />
&#8220;لأن يغدو أحدكم فيحطب على ظهره، فيتصدق به ويستغني به من الناس، خير له من أن يسأل رجلا، </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>أعطاه أو منعه ذلك. فإن اليد العليا أفضل من اليد السفلى. وابدأ بمن تعول&#8221;.</strong> <strong>(رواه مسلم)</strong></p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Dari Abu Hurairah -<em>radhiallahu anhu</em>-, berkata: Aku telah mendangar Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabda: &#8220;<em>Sungguh seorang di antara kalian berangkat ke luar  mengikat kayu di atas punggungnya dan bersedakah dengannya serta menjaga diri dari manusia itu lebih baik dari pada meminta-minta, diberi ataupun tidak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas lebih utama dari pada tangan yang di bawah.  Dan mulailah dari yang menjadi tanggunganmu</em>.&#8221; (HR: Muslim)</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة قال وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كان داود لا يأكل إلا من عمل يده</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em> &#8220;Sesungguhnya Daud -Alaihissalaam- tidak makan kecuali dari hasil karya tangannya&#8221; </em> (HR: Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Ungkapan di atas -dan masih banyak lagi yang sema&#8217;na- menunjukkan betapa sifat rajin sangat ditekankan di dalam Islam. <strong>Syari&#8217;at diadakan tidak lain untuk memelihara lima hal. Memelihara agama, aqal, kehormatan, darah, dan harta. Dan rajin merupakan di antara sifat yang harus dimiliki demi menjaga kehormatan diri</strong>. Dengan sifat rajin pulalah seorang menjadi pribadi yang berguna bagi diri dan sekitarnya, bukan menjadi cela bagi diri dan beban bagi orang di sekitarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka hendaknya segala sarana dan metode yang dapat menumbuhkan sifat rajin pada anak harus diupayakan. Melatih anak untuk bangun pagi, merapihkan kamar tidur, membersihkan kamar mandi, menyapu ruangan, teras, dan halaman, semua itu merupakan upaya pertama yang harus dilakukan untuk membiasakan anak bekerja dan menumbuhkan sifat rajin. Ketika sampai usia belajar, maka hendaknya dahulukan mengajar mereka menulis sebelum membaca. Biarkan anak belajar membaca dari apa yang dia tulis, karena menulis itu sifatnya aktif sedang membaca pasif. Perhatikan perkembangan kemampuan psikomotorik-nya untuk mengimbangi kemampuan kognitif-nya. Ajarkan pula mereka, misalnya,  terbiasa mengolah barang-barang bekas sebelum mengambil keputusan untuk membeli yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, segala penyebab, sarana, dan metode yang dapat menumbuhkan sifat malas pada anak harus ditiadakan atau dijauhkan dari anak. Malas  -selain produk sistim sosial- asalnya adalah masalah fisik -seperti terlalu lemahnya tubuh untuk bergerak atau melakukan satu pekerjaan- . Namun jika tidak segera diambil tindakan ia berubah menjadi masalah mental. Karenanya, orang tua harus memperhatikan pertumbuhan fisik anak dan perkembangan motorik atau keterampilannya. Sudahkah gizi yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya tercukupi ?Apakah ia terlalu kurus atau gemuk untuk umurnya ? Proporsionalkah berat badan dengan tingginya ? Apakah ia sudah bisa menjaga keseimbangan tubuhnya ? Cukup lincahkah gerakannya ? Bagaimana akurasi gerak atau bidikannya? Bagaimana kecepatan geraknya ? Bagaimana kekuatan tenaganya ? Bagaimana ketahanan tubuhnya, baik ketika menahan beban maupun ketika menahan lelah ? Keseluruhan masalah di atas -meski tidak selalu- sedikit banyak berpengaruh terhadap mentalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulangi sering-sering sabda Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- berikut ini:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>&#8220;المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف. وفي كل خير. </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>احرص على ما ينفعك واستعن بالله. ولا تعجز&#8230;</strong> (رواه مسلم)<strong> </strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;"><em>Mu&#8217;min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai ALLAH ketimbang mu&#8217;min yang lemah. Dan pada seluruhnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah di dalam hal yang mendatangkan manfa&#8217;at bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada ALLAH dan jangan merasa lemah&#8230;. </em>(HR; Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya, segala bentuk kamuflase, dari kemalasan <em>-ngamen </em>misalnya-, atau main kartu, dadu, dan segala bentuk permainan yang menghabiskan waktu tidak boleh kita biarkan dilihat oleh anak kita kecuali kita jelaskan kepada mereka, &#8220;<em>Itu orang malas!</em> <em>Itu pekerjaan orang malas !</em>&#8221; Karena sesungguhnya, melalui kamufalse kemalasan yang sering mereka lihat lah kemalasan -sadar atau tidak disadari-  menemukan pembenaran teorits, bahkan filosofisnya, Dan sifat <strong>licik merupakan hasil kombinasi cerdas dengan malas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian,  jangan dikira bahwa malas itu sekedar masalah mental. Malas juga bisa menjadi masalah keyakinan. Sebagaimana <em>hasad</em> (dengki) mengurangi kesempurnaan iman akan Taqdir, begitu pula dengan malas. Ketahuilah, bahwa sifat rajin akan menumbuhkan optimisme, dan optimisme adalah bagian dari wujud <em>husnudz-dzonn billah</em> (berbaik sangka kepada ALLAH). Maka, sebaliknya, malas  akan menumbuhkan pesimisme, dan pesimisme adalah bagian dari wujud <em>su&#8217;udz-dzon billah</em> (berburuk sangka kepada ALLAH). Padahal Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- telah berwasiat::</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>&#8220;</strong><strong>لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل</strong><strong>&#8220;.</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">&#8220;<em>Jangan kalian mati, kecuali di dalam keadaan berbaik sangka kepada ALLAH</em>.&#8221; (HR:Muslim dari Jabir bin Abdillah -<em>radhiallahu anhu</em>-)<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, malas pulalah di antara  -selain ilmu dan keyakinan- yang menyebabkan manusia  -karena ingin menempuh jalan pintas- terjerumus ke dalam judi, lottre, bahkan ke dalam berbagai bentuk kesyirikan, seperti meminta kekayaan kepada kuburan, pohon, atau benda mati lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya mereka sudah terbiasa hidup rajin. Sebab, apalah jadinya jika anak terlanjur cerdas, sementara ia terbiasa dikuasai perasaan malasnya. Bukankah kita tidak menghandaki mereka menjadi orang yang licik.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul type="disc">
<li><strong>Bina      Mereka Menjadi Pribadi Yang Kuat</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Badan yang kuat lebih berdaya guna ketimbang badan yang lemah. Dengan kekuatan bukan saja seseorang mampu menopang dirinya, bahkan mampu menolong orang lain. Dengan kekuatan seseorang mampu berlari dan melompat. Dengan kekuatan seseorang mampu memanggul beban di punggungnya atau bertahan melawan dorongan arus. Dengan kekuatan pulalah seseorang mampu menghadapi cuaca buruk dan memiliki kekebalan untuk melawan penyakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka demikian pula jiwa yang kuat. Islam memuji sifat kuat dan mengaitkannya dengan sabar. Kuat, sabar, atau tabah merupakan modal di dalam mengarungi kehidupan -yang memerlukan perjuangan dan penuh dengan cobaan-.   Dengannya ia lebih berdaya guna, bermanfaat bagi orang lain, bersemangat dan kreatif, mampu memikul tanggung jawab dan berpendirian, serta mampu beradaptasi dan menetralisir perasaan dirinya. Karenanya,  Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- mengajari kita memaknai kekuatan dengan kesabaran dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu, sebagaimana sabdanya:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة رضي الله عنه:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب.(البخاري)</strong></p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Dari Abu Hurairah -<em>radhiallahu anhu</em>-, bahwasanya Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> telah bersabda: &#8220;<em>Bukanlah yang dikatakan kuat itu jago gulat. Akan tetapi yang dikatakan kuat adalah yang mampu menguasai hawa-nafsunya ketika marah</em>.&#8221; (HR: Al Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, dengan kesabaran akan lahir berbagai macam kebaikan. Manusia menjadi semakin kuat kemauannya, semakin tegar menghadapi tantangan, serta semakin tenang menghadapi ujian dan cobaan. Maka, upaya dan metode apa saja yang dapat melahirkan serta menumbuhkan kepribadian yang kuat dan sabar harus diciptakan. Perkara kuat dan sabar sudah harus mulai diajarkan ma&#8217;nanya dan ditanamkan kepada anak sedini mungkin. Pendidikan harus menjadikannya sebagai program dasar pembinaan sebelum yang lainnya. Perhatikan bagaimana Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- mengajarkan beberapa kalimat kepada Ibnu Abbas <em>-radhiallahu anhu</em>- , yang ketika itu usianya belum mencapai sepuluh tahun:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em> &#8220;&#8230;.Ketahuilah. Bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan manfa&#8217;at kepadamu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu ingin mencelakakanmu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah ALLAH tetapkan atas mu&#8230;.&#8221;</em> (HR: At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas -<em>radhiallahu anhu</em>-)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>&#8220;&#8230;Ketahuilah. Bahwa pertolongan ALLAH datang melalui kesabaran, bersama perjuangan ada pengorbanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, segala sarana dan metode yang akan membentuk kepribadian cengeng, mudah marah, mudah patah semangat, dan mudah putus asa harus dihilangkan dari media pendidikan kita.  Karena sesungguhnya seluruh sifat-sifat tersebut bersumber dari yang satu, lemah.  Anak yang gampang menangis sebetulnya sama dengan anak yang gampang marah. Kemasannya saja yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, lemahnya jiwa. Maka, jangan biarkan anak kita mengkonsumsi hal-hal yang melemahkan jiwanya, berupa sya&#8217;ir atau lagu-lagu cengeng, serta novel atau film-film picisan. Jangan biarkan anak terbiasa memanjakan perasaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ajarkan kepada mereka nilai-nilai kesatriaan, kesabaran dan ketangguhan yang diambil dari kisah para Nabi -<em>alaihimussallam</em>-, para Sahabat Nabi <em>-radhiallahu anhum</em>-, atau para Ulama dan Mujahid -<em>rahimahumullah</em>-, dan jangan sekali-kali lewat dongeng atau cerita fiktif. Jangan berlebihan memberikan perlindungan pada mereka. Biarkan mereka melatih diri menyelesaikan persoalan-persoalan mereka, baik di dalam menghadapi tantangan masalah, maupun terhadap teman-teman sebayanya. Jangan terlalu cepat memenuhi permintaan mereka, seandainya tidak mendesak.  Jika mereka minta 10, berikan 5. Jika mereka minta <em>sekarang</em>, berikan <em>nanti</em>. Ajari mereka bersabar manakala tidak terpenuhi permintaannya. Atau masih banyak lagi cara dan kesempatan untuk melatih kesabaran dan kekuatan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sebelum anak terlanjur cerdas, hendaknya mereka telah terlatih bersabar serta memiliki jiwa yang kuat. Lemah akan menjadikan mereka mudah dipengaruhi orang serta gampang lari dari tanggung jawab. Apalah artinya kecerdasan jika tidak diiringi sifat kuat dan sabar. Bukankah kita tidak menghendaki anak kita menjadi orang yang pengecut, karena ternyata pengecut itu merupakan kombinasi cerdas dengan lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, apalah artinya cerdas tanpa amanah, santun, rajin, dan kuat. Bukankah kita tak menginginkan anak kita menjadi seorang penipu sadis yang licik lagi pengecut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=255&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/03/17/sebelum-anak-terlanjur-cerdas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peluang itu Datang Lagi !!!</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/26/peluang-itu-datang-lagi/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/26/peluang-itu-datang-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 15:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Risalah]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan. puasa. ampunan.ALLAH. Muhammad.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Hari ini terlalu banyak yang telah berubah dan menjadi baik. Orang-orang yang semula kukenal tak pernah sholat, kini tak pernah tertinggal berjama&#8217;ah di masjid. Temanku yang dulu masih terbata-bata membaca Al Qur&#8217;an, sekarang sudah hafal beberapa juz. Juga tidak sedikit aku temui perempuan yang semula berpakaian seronok, kini bahkan nyamukpun tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=68&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini terlalu banyak yang telah berubah dan menjadi baik. Orang-orang yang semula kukenal tak pernah sholat, kini tak pernah tertinggal berjama&#8217;ah di masjid.  Temanku yang dulu masih terbata-bata membaca Al Qur&#8217;an, sekarang sudah hafal beberapa juz. Juga tidak sedikit aku temui perempuan yang semula berpakaian seronok, kini bahkan nyamukpun tak menemukan sedikit celah untuk bisa mendarat di kulitnya.  Subhaanallah, banyak sekali yang telah berubah&#8230;, kecuali diriku.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini tak sedikit orang yang kukenal baik telah pergi, meninggalkan alam dunia, meninggalkan aku&#8230; -yang juga belum berubah-. Dan hari ini kembali ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> mempertemukan aku dengan bulan Ramadhan. Artinya, sekali lagi ALLAH, mungkin yang terakhir kali, memberikan aku kesempatan, memberikan aku peluang<span id="more-68"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Betapa tidak? Bukankah artinya ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> telah memanjangkan umurku, yang dengannya peluangku untuk memperbaiki diri serta mengumpulkan bekal masih terbuka. Bukankah Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> pernah berkata:</p>
<p style="text-align:right;">كل إبن أدم خطاء و خيرالخطا ئين التوابون (رواه الترمذي</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Setiap anak Adam pasti punya kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah 	adalah yang bertobat</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, hari ini kembali ALLAH memanggilku dengan panggilan terhormat serta memberikan harapan dan peluang untuk menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.</p>
<p style="text-align:right;">أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون</p>
<p style="text-align:justify;">َ<br />
(Artinya: <em>Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa 	sebagaimana diwajibkan             atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi 	orang yang bertaqwa</em>.) (Al Baqarah:183)</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, harus kuakui semua ni&#8217;mat ini, yakni panggilan dan peluang ini,   sebagaimana juga harus kuakui akan dosa-dosaku selama ini. Maka pantaslah jika aku berharap ALLAH <em>Subahaanahu wa ta&#8217;alaa</em> akan mengampuniku, karena tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali DIA. Ya, aku ingat betul sebuah do&#8217;a yang diajarkan Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align:right;">&#8220;من قال حين يصبح أو حين يمسي: اللهمَّ أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك<br />
وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أبوء لك بنعمتك علي،<br />
وأبوء بذنبي فاغفر لي، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت،<br />
فمات من يومه أو من ليلته دخل الجنة&#8221;(رواه أبو داود)</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Barang siapa yang pagi atau sorenya berdo&#8217;a: &#8220;A<strong>llahumma, Engkaulah 	rabb-ku. 	Tak ada yang layak  diibadahi selain Engkau. Engkaulah yang telah 	menciptakan aku, dan aku adalah hamba-MU, dan aku terikat perjanjian 	dengan MU segenap kemampuanku. Aku berlindung kepada MU dari segala 	keburukan yang aku perbuat. Aku akui akan ni&#8217;mat-MU atas diriku, begitu 	pula aku akui akan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya 	tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali Engkau.</strong>&#8221; kemudian ia mati di 	pagi atau malamnya, niscaya ia masuk surga</em>.)</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sangat yakin ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> akan mengampuni dosa-dosaku, selain dosa besar,..oh semoga aku selamat darinya, sebagaimana yang kuketahui dari lisan Nabi-NYA <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align:right;">ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Antara Ramadhan ke bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa, selain 	dosa besar</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Aku berada di tengah-tengah waktu di mana seandainya aku melakukan satu kebaikan ALLAH <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> akan membalasnya berpuluh bahkan beratus kali lipat. Jika aku menolong seseorang itu seakan aku menolong berpuluh bahkan beratus orang. Jika aku bersedekah sekali itu seakan aku bersedekah puluhan bahkan ratusan kali. Sanggupkah aku lakukan yang demikian itu di waktu selain Ramadhan ? Mungkinkah yang demikian itu terjadi di waktu selain Ramadhan?</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Aku berada di tengah-tengah waktu di mana tak ada satu kebaikan yang aku lakukan lebih dihargai di hadapan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> selain di waktu ini,  tentunya selain amalan khusus di waktu ini, yakni shaum. Melalui Hadits Qudsyi, <em>ALLAH Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> telah berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">كل عمل ابن آدم له إلا الصيام، فإنه لي وأنا أجزي به &#8230;(رواه ألبخاري</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Setiap amalan anak Adam kembali bagi nya, kecuali Shaum. Karena shaum itu 	untuk Aku. Aku sendiri    yang akan mengganjarnya</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Paling tidak, seandainya aku berpuasa dan menegakkan malam-malamnya dengan sholat taraweh, ALLAH <em>Subhaanahun wa ta&#8217;alaa</em> akan mengampuni dosa-dosaku yang telah lampau. Ya, itu aku yakini, karena Nabi Yang Mulia <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> pernah bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">من صام رمضان إيمانا وإحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Barang siapa yang menegakkan ramadhan didasari keimanan dan 	mengharapkan pahala, niscaya diampuni bagi nya dari dosa-dosanya yang 	lampau</em>.)</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, tentu saja jika aku percaya dan yakin akan wajibnya puasa ini. Jika aku tidak mengatakan bahwa puasa ini sekedar adat kebiasaan. Jika aku tidak menyambutnya sebagai semata ritual budaya tahunan. Tetapi aku menerimanya sebagai sebuah kewajiban yang ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> bebankan kepada  setiap muslim.  kemudian aku mengharapkan ganjaran dari ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> -tidak dari selain DIA- atas puasaku ini, dan atas amalan-amalan ramadhanku ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, aku harus mengharapkan ganjaran-NYA, dan ini bukan berarti aku tidak ikhlas dalam beribadah, seperti kata sebagian orang yang aku tahu itu keliru. Justru dengan mengharapkan ganjaran-NYA lah tanda keikhlasan itu. Bukankah Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> sendiri berdo&#8217;a dan meminta kepada ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> :</p>
<p style="text-align:right;">اللهم إني أسألك الجنة وأعوذ بك من النار</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Ya ALLAH. Sesungguhnya aku mengharapkan dari MU surga dan berlindung 	kepada MU dari api neraka</em>.)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Rasulullah SAW juga bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">إذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب الناروصفدت الشياطين (رواه مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Apabila datang bulan Ramadhan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka 	ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Peluang di mana pintu-pintu rahmat-ALLAH terbuka lebar, sementara pintu-pintu neraka ditutup. Bahkan syaithan pun dibelenggu sehingga tidak leluasa mengganggu manusia, termasuk mengganggu diriku. Tinggallah aku sendiri.  Apa yang akan aku lakukan di saat  pahala dan ampunan ALLAH begitu mudah untuk diraih?</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Peluang untuk mendapatkan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lailatul Qadar !!! Malam di saat segala kebaikan dilipatgandakan lebih dari malam-malam yang lain. Malam yang seharusnya kupersiapkan diriku, manakala mendapatinya, berdo&#8217;a dengan do&#8217;a yang Rasulullah<em> Shallallahu alaihi wa sallam</em> ajarkan kepada Aisyah <em>radhiallahu anha<br />
</em></p>
<p style="text-align:right;">:<br />
اللهم إنك عفو تحب العفوفاف عني</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Ya ALLAH. Sesungguhnya Engkau Maha Pema&#8217;af, maka ma&#8217;afkanlah aku</em>.)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Dan aku tahu, setiap manusia senantiasa butuh momentum. &#8220;Inilah saatnya ! Mumpung ! Kapan lagi ?&#8221; Semua itu merupakan ungkapan yang menunjukkan betapa sebuah momentum  dapat menjadi motivator yang mampu melipatgandakan kemauan dan semangat.<br />
Karenanya, ini pulalah saatnya untuk mulai menghentikan kebiasaan-kebiasaan burukku, dan mulai membiasakan berbagai kebaikan. Inilah saatnya meninggalkan berbagai kemaksiatan yang telah menjadi kebiasaanku, kemudian menjadikan berbagai amalan sholih dan ketaatan sebagai kebiasaanku yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, peluang itu datang lagi dan sungguh tak boleh aku lupakan satu peristiwa penting di saat seorang manusia termulia di muka bumi ini meng-amin-kan ucapan dari seorang malaikat terkemuka di langit. Yakni, ketika Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> meng-amin-kan ucapan Jibril <em>alaihissalaam</em>:</p>
<p style="text-align:right;">عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ارتقى المنبر فقال آمين آمين آمين<br />
فقيل له يا رسول الله ما كنت تصنع هذا<br />
فقال قال لي جبرائيل عليه السلام رغم أنف عبد دخل عليه رمضان فلم يغفر له فقلت آمين</p>
<p style="text-align:justify;">(Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu anhu</em>: Bahwasanya Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> ketika di atas mimbar pernah 	mengucapkan, &#8221; <em>Amin!, Amin!, Amin!</em>&#8221;  Maka beliaupun ditanya,&#8221; <em>Apa yang 	menyebabkan engkau mengatakan itu, wahai Rasulullah?</em>&#8221; Maka beliaupun 	menjawab, &#8220;<em>Jibril berkata kepadaku</em> :<strong><em>Merugilah orang yang mendapati bulan 	Ramadhan tetapi tidak memperoleh ampunan</em></strong>. <em>Maka aku katakan</em>: <strong><em>Amin..</em></strong>.&#8221;</p>
<p>Ya, inilah saatnya meraih berjuta pahala, inilah saatnya meraih berjuta ampunan. Boleh jadi ini peluang terakhir bagiku. Dan alangkah merugi serta tak bersyukurnya aku seandainya bulan Ramadhan telah berlalu, sementara tak kuraih peluang ini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=68&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/26/peluang-itu-datang-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8221; Dikemanakan Hadits-Hadits ini?&#8221;</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/13/dikemanakan-hadits-hadits-ini/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/13/dikemanakan-hadits-hadits-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 14:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Risalah]]></category>
		<category><![CDATA[amar ma'ruf]]></category>
		<category><![CDATA[demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[kemungkaran]]></category>
		<category><![CDATA[ketaatan kepada pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam]]></category>
		<category><![CDATA[nahi munkar]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Sungguh tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang kepada orang beriman selain Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Penderitaan orang-orang beriman adalah penderitaannya. Bahkan kesusahan orang-orang beriman ia rasakan lebih perih, seakan ia pusat saraf paling peka dari sebuah tubuh. Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=65&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p>Sungguh tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang kepada orang beriman selain Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>. Penderitaan orang-orang beriman adalah penderitaannya. Bahkan kesusahan orang-orang beriman ia rasakan lebih perih, seakan ia  pusat saraf paling peka dari sebuah tubuh.</p>
<p>Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih bersungguh-sungguh ingin memberikan petunjuk dan bimbingan serta ingin memberikan  jalan keluar  terbaik bagi orang-orang beriman, selain Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>. Keselamatan dan kebahagiaan orang-orang beriman adalah kebahagiaannya.</p>
<p>Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang dan tulus kepada orang-orang beriman selain Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>. Apa yang ia beri tak pernah ia harap kembali. Dialah yang tak pernah menjual nasihat demi sekedar mereguk ni&#8217;mat, syahwat atau pangkat, juga tidak pernah gila hormat.<span id="more-65"></span></p>
<p>Sungguh pribadi agung ini telah ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> gambarkan akan sifatnya:</p>
<p>(Artinya: <em>Telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat    baginya penderitaanmu, sangat mengingingkan -keimanan dan keselamatan- atas kalian, dan amat penuh belas kasih sayang terhadap orang-orang beriman.</em>) (At-Taubah: 128)</p>
<p>Ya, dialah orang paling jujur nan amanah serta tulus  menasihati ummah. Lisannya terjaga penuh, bukan mengikuti hawa nafsu melainkan di bawah bimbingan wahyu. Dan sebagaimana yakinnya kita akan kelengkapan dan kesempurnaan Islam, yakin pula kita akan lengkap dan sempurnanya bimbingan Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dan tentu saja bimbingan itu -melalui nasihatnya- meliputi  ragam macam masalah yang bakal kita hadapi, sepanjang masa..Dalam urusan diri, keluarga, atau masyarakat. Yang bahkan sahabatnyapun -Abu Dzar- bersaksi:</p>
<p dir="rtl"><strong>تركنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وما طائر يطير بجناحيه إلا عندنا منه علم</strong></p>
<p>(<em>Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam</em><em> telah meninggalkan kami. Dan tidaklah burung yang terbang di udara dengan kedua sayapnya kecuali telah sampai kepada kami ilmu tentangnya</em>.)</p>
<p>Lebih dari itu. Amalan dan perkara yang dapat mendekatkan kita ke surga dan menyelamatkan kita dari neraka pun telah dia jelaskan !</p>
<p dir="rtl"><strong>ما بقي شيء يقرب إلى الجنة ويباعد عن النار إلاوقد بين لكم (اخرجه الطبراني)</strong></p>
<p>(&#8220;<em>Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan          menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.</em>&#8220;)</p>
<p>Di dalam kehidupan masyarakat,  di sana ada pihak yang mengatur,  ada pula yang diatur. Islam bukan hanya membimbing  para pengatur, bagaimana cara mengatur orang banyak. Islam juga membimbing pihak yang diatur, bagaimana cara bertutur kepada pengatur.</p>
<p>Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling sayang kepada mereka menasihati dan membimbing  agar mereka menyadari, bahwa para pengatur mereka itu juga manusia yang tak luput dari kekeliruan atau kesalahan.  Karena itu mereka harus saling menasihati.</p>
<p dir="rtl"><strong>من كانت عنده نصيحة لذي سلطان فلا يكلمه بها علانية وليأخذ بيده فليخل به </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>فإن قبلها قبلها وإلا كان قد أدى الذي عليه والذي له</strong></p>
<p dir="rtl">
<p>(<em>Barangsiapa memiliki nasihat bagi penguasa, hendaknya tidak ia sampaikan secara terang-terangan. Pegang tangannya dan bicarakan berdua. Seandainya penguasa itu mau menerima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, yang menasihati itu telah menunaikan kewajibannya, sedang penguasa itu bertanggung jawab atas kewajibannya</em>) (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim :As-Sunnah , Al Baihaqi: As-Sunnan Al Kubro, Al Hakim: Al Mustadrak, dan Ahmad: Al Musnad)</p>
<p>Ya, menasihati penguasa bukan dengan cara membuat orasi-orasi di mimbar-mimbar bebas, yang kata mereka -dengan gagahnya- : &#8220;<em>Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang jaha</em>t.&#8221; Hendaknya mereka memperhatikan betul kata &#8220;<em>di hadapan penguasa</em>&#8220;, yakni hendaknya -sejalan dengan hadits di atas- menyampaikan nasihat itu tidak di hadapan orang banyak.</p>
<p>Bagaimana akan menerima nasihat, jika telah lebih dahulu dipermalukan,  dibeberkan aib, dan dilukai hatinya. Membeberkan kesalahan dengan cara semacam ini justru akan membuat mereka semakin sulit menerima nasihat. Ingatlah pesan Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> :</p>
<p dir="rtl"><strong>لا تعينوا الشيطان على اخيكم</strong></p>
<p><strong> </strong>(<em>Jangan kalian bantu syaithan menguasai saudaramu</em>.)</p>
<p>Ya, gara-gara salah di dalam cara menasihati, hasilnya bahkan semakin parah. Syaithan semakin kuat memeluk dan menguasainya. Tidak sedikit datangnya kebrutalan kaki tangan penguasa justru diundang oleh cara-cara mereka yang -katanya- ingin menasihati penguasa. Ya, keadaan semacam di atas, sungguh sangat mungkin terjadi disebabkan ulah penasihat yang tidak hikmah. Memaksakan kehendak agar semua nasihat didengar, diterima, dan dijalankan saat itu juga.  Apalagi jika telah terang-terangan melanggar rambu-rambu nasihat.</p>
<p>Kita lupa mungkin,  masing-masing kita -ketika ingin mengubah kemungkaran- harus tetap berada di atas posisi yang benar. Keluar dari posisi berarti juga telah berbuat kemungkaran. Bagaimana mungkin kemungkaran bisa diubah dengan cara yang juga mungkar?</p>
<p>Para penguasa mengubah kemungkaran dengan kekuasaan dan kekuatannya, di situlah posisinya. Para ulama, da&#8217;i, atau guru mengubah kemungkaran lewat nasihat-nasihatnya, di situlah posisinya.  Orang awam semacam kita, yang tidak berilmu juga tak memiliki kekuasaan mengubah kemungkaran dengan hati, berupa do&#8217;a dan pengingkaran hati, di situlah posisinya.  Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>:</p>
<p dir="rtl"><strong>من رأى</strong><strong>منكم</strong><strong> منكراً فليغيره بيده، فإِن لم يستطع فبلسانه، </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>فإِن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإِيمان</strong></p>
<p dir="rtl">
<p>(<em>Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika tak sanggup,  dengan lisannya. Jika tak anggup, dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman</em>.) (HR; Muslim dari Abi Sa&#8217;id Al Khudri)</p>
<p>Dan hendaknya kita sadar, bahwa syaithan menggoda siapa saja. Ahli ma&#8217;shiyat digoda,  sehingga semakin tenggelam di dalam kema&#8217;shiyatannya. Ahli ibadah juga digoda, sehingga semakin tenggelam di dalam keasyikan beribadah yang bercampur dengan kesyirikan dan kebid&#8217;ahan, tanpa mereka sadari. Mereka yang ber-<em>amar ma&#8217;ruf</em> dan <em>nahi mungkar</em> juga tak luput dari godaannya. Digoda dengan semangat dan sikap berlebih-lebihan  sehingga keluar dari posisinya. Manakala telah keluar dari posisi serta mengambil yang bukan porsinya, tinggalah menunggu saatnya mereka terjerumus ke dalam sikap selalu  beroposisi kepada penguasa,  yang berujung kepada pengkafiran dan pemberontakan. Dan bukan ini yang dikehendaki dari mencegah kemungkaran.</p>
<p>Betul, kita diperintahkan untuk mencegah kemungkaran;</p>
<p dir="rtl"><strong>عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: انصر أخاك ظالما أو مظلوما </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>قيل</strong><strong>:</strong><strong> يا رسول الله نصرته مظلوما فكيف أنصره ظالما </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>قال</strong><strong>:</strong><strong> تكفه عن الظلم فذاك نصرك إياه </strong></p>
<p>(Dari Anas bi Malik,dari Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>, berkata,&#8221;<em>Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim dan yang didzalimi</em>.&#8221; Beliau ditanya,&#8221; <em>Ya, Rasulullah. Kami mengerti tentang menolong yang didzalimi. Akan tetapi, bagaimana cara menolong yang berbuat dzalim?</em>&#8220;Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> menjawab,&#8221;<em>Cegahlah dia dari perbuatan dzalim tersebut. Demikianlah cara kalian menolong mereka</em>.&#8221;) (HR: Al Bukhari / At-Tirmidzi.  Dan    ini lafadz At-Tirmidzi)</p>
<p>Namun, ketika orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka ini mengungkapkan kata &#8220;<strong><em>cegah</em></strong>&#8221; dengan &#8220;<strong><em>tolong</em></strong>&#8221; , itu artinya perbuatan tersebut haruslah dilandasi kasih sayang, bukan kebencian!!!</p>
<p>Ya, orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka ini telah menasihati kita agar tulus dan tidak berjual-beli di dalam nasihat:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أناس بن مالك  أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إنكم سترون بعدي أثرة وأموراً تنكرونها. </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>قالوا: فما تأمرنا يا رسول الله؟ </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>قال: أدوا إليهم حقهم، وسلوا الله حقكم.</strong></p>
<p dir="rtl">
<p>(Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi<em> Shallallahu alaihi wa sallam</em> telah bersabda: &#8220;<em>Sesungguhnya kelak akan kalian dapati penguasa yang hanya mementingkan dirinya.</em>&#8220;Para sahabat bertanya:&#8221;<em>Apa yang harus kami perbuat</em> (-jika mendapati hal itu-), <em>wahai   Rasulullah?</em>&#8221; Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> menjawab:&#8221; <em>Tunaikan kewajiban kalian kepada mereka, dan <strong>mintalah hak-hak kalian kepada ALLAH</strong>!</em>&#8220;) (HR: Al Bukhari)</p>
<p>Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling sayang kepada mereka menasihati dan membimbing  agar mereka senatiasa ta&#8217;at kepada orang-orang yang diserahi tanggung jawab mengurus umat, tanpa pamrih dan tawar-menawar keta&#8217;atan, selama bukan dalam urusan ma&#8217;shiyat.  Beliau tidak mengajari kita mengatakan: <em>Kami ta&#8217;ati kalian kalau kalian memenuhi tuntutan kami</em>. Bahkan meskipun orang-orang tersebut memakan harta atau memukul punggung mereka.</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن عبادة بن الصامت قال دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعنا وأخذ علينا السمع والطاعة</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>زاد في رواية </strong><strong>إ</strong><strong>بن حبان وأحمد: وان أكلوا مالك وضربوا ظهرك</strong></p>
<p dir="rtl">
<p>(Dari Ubadah bin Shaamit, berkata:Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> telah memanggil kami,maka kamipun berbai&#8217;at dan ia mengambil janji dari kami untuk mendengar dan ta&#8217;at<strong> </strong>dalam senang atau terpaksa, dalam kelapangan atau kesempitan. Dan tidak mencabut ketaatan. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> berkata: &#8220;<em>Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang menjadi bukti bagimu di hadapan ALLAH</em>.&#8221; (Al Bukhari))</p>
<p>Pada riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban ada tambahan: &#8220;<em>Meskipun mereka             memakan hartamu dan memukuli punggungmu</em><strong>.</strong>&#8220;</p>
<p>Perhatikanlah, wahai orang yang mengaku pengikut Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam </em> (<strong><em>Meskipun mereka memakan hartamu dan memukuli punggungmu</em>) !!!. </strong>Jangan lupa, bahwa yang mengatakan ini adalah yang tidak berkata-kata kecuali di bawah bimbingan wahyu.</p>
<p>Begitu pula, ketika umat ditimpa paceklik, barang langka harga melambung, sebagaimana kejadian semacam ini -di mana saja dan kapan saja- dijadikan momentum untuk &#8220;menyadarkan&#8221; umat akan haknya, Sang Kekasih ALLAH ini justru mengingatkan kita untuk kembali kepada ALLAH:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أنس، قال: &#8211; غلا السعر على عهد النبي صلى الله عليه وسلم. فقالوا: يا رسول الله! سعر لنا </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>فقال: &#8220;إن الله هو المسعر القابض الباسط الرزاق، </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وإني لأرجو أن ألقى ربي وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة في دم ولا مال&#8221;.<br />
هذا حديث حسن صحيح.</strong></p>
<p dir="rtl">
<p>(Dari Anas bin Malik, ia berkata: Pernah di zaman Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> harga-harga melambung. Maka para sahabat berkata,&#8221;<em>Ya Rasulullah, turunkan harga!</em>&#8221; Maka Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> pun menjawab,&#8221; <em>Sesungguhnya ALLAH-lah yang menetapkan harga. Dia-lah yang Menaikkan, Menurunkan,  dan Memberi Rezeki. Sungguh aku berharap dapat berjumpa dengan rabb-ku dalam keadaan tak seorangpun di antara kalian menuntutku karena ketidakadilanku dalam urusan  darah dan harta</em>.&#8221;) (HR:At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)</p>
<p>Beliau tidak pernah menyuruh umatnya -apalagi kaum ibu- untuk turun ke jalan membawa alat dapur, memukul-mukulnya agar riuh kedengarannya, menarik perhatian orang banyak seraya berteriak-teriak menuntut turunnya harga Sebagian lagi bertindak anarkis asyik bermain-main dengan api di jalan tempat orang berlalu lalang, membikin semua orang kegerahan karena macet. Sungguh sulit untuk percaya bahwa mereka sedang membela nasib orang-orang susah. Ya, pribadi yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka tak pernah mengajari kita melakukan  tindakan sia-sia -yang merendahkan martabat- semacam ini!!!</p>
<p>Akankah kita katakan bahwa Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> tidak mengerti penderitaan umatnya? Alangkah kejamnya Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>, membiarkan umatnya didzalimi ???. Apakah para provokator  -yang senantiasa memanas-manasi umat ini-   lebih tulus nasihatnya dan lebih arif pertimbangannya dibanding Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> ?</p>
<p>Tentu saja, sangat dimaklumi, bahwa nasihat-nasihat Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> di atas sangat tidak menguntungkan bagi mereka yang suka <strong>menjadikan kedzaliman penguasa sebagai komoditi politik. </strong>Dan sungguh Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> tidak pernah mengajari kita demikian, menjual nasihat demi syahwat atau pangkat. Maka tidak ada tempat untuk bertanya: &#8220;<em>Bagaimana jika pemerintah tidak mau menerima nasihat dan teguran kita?</em>&#8221; Juga tak ada tempat untuk mencurigai ulama, bahwa mereka tidak pernah menasihati penguasa.  Apa dasar kecurigaan ini dan dari mana mereka tahu bahwa para ulama diam saja melihat kemungkaran? Apakah para ulama, da&#8217;i, ustadz-ustadz itu harus melaporkan kepada masyarakat bahwa mereka telah berkata ini dan itu kepada penguasa ???</p>
<p>Merekalah yang lebih layak untuk dicurigai -kalau memang boleh kita berburuk sangka kepada mereka- ketimbang para ulama.  Mereka yang sering -di atas mimbar- menasihati orang banyak dengan kemasan agama. Ya, cukup kepada mereka, dan kita tak punya urusan kepada  yang jahil, yang hanya jadi kaki tangan, operator lapangan yang tak mengerti sedikitpun agama ini  Tanyakan kepada mereka,: &#8220;<em>Mengapa kalian</em> -yang mengaku tahu dan peduli terhadap urusan umat-  <em>tak pernah menyampaikan hadits-hadits di atas? Dikemanakan hadits-hadits ini? Dikemanakan?</em>&#8220;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=65&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/13/dikemanakan-hadits-hadits-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dikotomisme Ilmu Di dalam Islam. Adakah Itu ?</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/02/dikotomisme-ilmuadakah-itu/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/02/dikotomisme-ilmuadakah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 15:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus-Sunnah wal Jama’ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Syari'ati]]></category>
		<category><![CDATA[Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimiin]]></category>
		<category><![CDATA[Asy”ariyah - Maturidiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[Dikotomi Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Einstein]]></category>
		<category><![CDATA[Fardhu 'Ain]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Bacon]]></category>
		<category><![CDATA[Hume]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Ghairu Syar’iy]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Syar'iy]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Leonardo Da Vinci]]></category>
		<category><![CDATA[Mu’tazilah]]></category>
		<category><![CDATA[Newton]]></category>
		<category><![CDATA[Paradigma.]]></category>
		<category><![CDATA[Sosialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[TS Kuhn]]></category>
		<category><![CDATA[Voltaire]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Jawabnya tentu bukan sekedar ada atau tidak. Dan masalah, bahkan istilah ini -berkaitan dengan Islam- tidak pernah dipertanyakan sebelumnya, kecuali karena dua sebab: Pertama, kenyataan yang terjadi di mana sebagian kaum muslimin sendiri cenderung berpandangan atau bersikap sehingga menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya dikotomisme yang keliru. Kedua, Kecemburuan sebagian kaum muslimin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=59&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" dir="rtl">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya tentu bukan sekedar ada atau tidak. Dan masalah, bahkan istilah ini -berkaitan dengan Islam-  tidak pernah dipertanyakan sebelumnya,  kecuali karena dua sebab: Pertama, kenyataan yang terjadi di mana sebagian kaum muslimin sendiri cenderung berpandangan atau bersikap sehingga menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya dikotomisme yang keliru. Kedua, Kecemburuan sebagian kaum muslimin atas ketertinggalan mereka oleh &#8220;barat&#8221; (baca: peradaban dunia non-muslim) di dalam urusan kesejahteraan material.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan ini menjadi penting, karena terlanjur muncul berbagai jawaban, mulai dari yang filosofis sampai kepada yang sifatnya praktis. Sebagai contoh (-di Indonesia-), adanya perlakuan diskriminatif antara SD, SLTP, SMU  yang berinduk ke Depdiknas dengan Madrasah Ibtida&#8217;iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang berinduk ke Depag. Kekhawatiran orang tua; kalau memasukkan anak ke Madrasah / Pesantren nanti susah mencari kerja, dan kalau memasukkan anak ke SD dan seterusnya nanti buta agama. Kesemua ini sesungguhnya bermuara kepada persoalan dikotomi ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu tidak sedikit orang -yang karena kecemburuan ini-, langsung bersemangat menyanggah, antara lain dengan alasan: <em>Banyaknya ulama Islam yang punya otoritas keilmuan lebih dari satu bidang adalah bukti kuat bahwa Islam tidak mengenal konsep dikotomi ilmu</em>. Tentu saja logika semacam ini sangat naïf. Apakah jika seseorang memiliki profesi sebagai polisi sekaligus pada saat yang bersamaan juga seorang pencuri, kemudian akan kita katakan bahwa tidak ada dikotomi antara polisi dengan bandit ?<span id="more-59"></span></p>
<p><strong>Paradigma Apa yang Kita Pakai ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membicarakan ilmu sebagai sesuatu yang dipahami (-sehingga melahirkan penggolong-golongan / pengelompokan / pengkategorian berdasarkan sifat/karakternya-) tentu berbeda dengan membicarakannya sebagai sesuatu yang diterapkan. Kita bisa membicarakan Leonardo da Vinci, misalnya sebagai seorang pelukis dan pematung sekaligus seorang insinyur, tidak berarti kedua ilmu yang digelutinya itu tidak berbeda, bukan? Juga karena ini masalah nilai, maka  tentu jawabnya tergantung siapa yang melihat, atau tepatnya paradigma apa yang  dipergunakan untuk melihat masalah tersebut. Dan yang terakhir ini sangat penting dan menentukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah peradaban &#8220;barat&#8221; (Kristen) sejak zaman Romawi memberikan pengaruh besar terhadap pendikotomian ilmu maupun arti dikotomi itu sendiri. &#8220;<em>Gereja untuk tuhan dan istana untuk raja</em>&#8220;, atau ucapan Einstein: &#8220;<em>Agama/iman tanpa ilmu, lumpuh. Ilmu tanpa agama/iman buta</em>.&#8221;merupakan contoh paling mendasar dan nyata dari praktek dikotomi. Lebih dari itu, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sana juga ikut membawa pengaruh. Pergulatan mereka di bidang filsafat ilmu pengetahuan -sejak Francis Bacon (<a title="1561" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1561">1561</a> &#8211; <a title="1626" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1626">1626</a>) sampai TS Kuhn (1922  &#8211; 1996.)- tidak pernah membebaskan mereka dari belenggu dikotomi yang telah berurat-berakar di tubuh peradaban (-kristen barat-) mereka.semenjak agama ini berkembang di sana. Sederet nama mulai dari Descartes, Newton, Voltaire, dan Hume merupakan pribadi-pribadi yang paling bertanggung jawab atas tetap terkurungnya Yesus hanya di gereja-gereja,  hingga hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ketika kaum muslimin dibesarkan di bawah asuhan nilai dan metode pendidikan &#8220;barat&#8221;, merekapun memahami dan mendudukkan perkara dikotomi sebagaimana kata/istilah itu dikenal dan dipergunakan di &#8220;barat&#8221;. Para pengekor maupun penentangnya sama-sama dibesarkan dengan cara pemahaman itu. Mereka melihat agamanya (Islam) dengan kacamata para pewaris peradaban Yunani &#8211; Romawi melihat agama Kristen. Jadi sekalipun ada sebagian yang tampak menentang, toh bantahannya sangat artifisial (semu). Kalimat-kalimat seperti: &#8220;<em>Agama dan ilmu tak perlu dipertentangkan, keduanya bisa hidup berdampingan dan saling menunjang</em>.&#8221; atau : &#8221; <em>Agar tidak menjadi generasi yang sekuler, di samping diajarkan ilmu-ilmu umum anak-anak juga harus diajarkan ilmu agama</em>.&#8221; menunjukkan bahwa justru sekulerisme itu telah tumbuh di dalam benak tanpa mereka sadari. Telaah dan renungkan dalam-dalam kalimat-kalimat di atas,  tentu akan kita dapati ruh dikotomisme-sekulerisme di dalamnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya akar permasalahan ini  bisa ditarik mulai dari makna dan penjelasan firman-ALLAH: &#8221; &#8230;غير المغضوب عليهم ولا الضالين&#8230;&#8221; (&#8220;&#8230;<em>selain orang-orang yang dimurkai atas mereka dan orang-orang yang sesat</em>.&#8221; &#8211; Al Fatihah: 7), karena dari sinilah segalanya bermula. Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> mengatakan bahwa <em>Al Maghdhub</em> itu Yahudi dan <em>Adh-Dhallin </em>itu Nashara. (-HR:Muslim-). Dan Yahudi, sebagaimana juga Nashara, memiliki karakter yang khas. Yang pertama, berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, mengedepankan aqal, dan cenderung kepada pendekatan filsafat. Yang ke-dua, beramal tetapi tidak dilandasi ilmu, mengedepankan perasaan. dan cenderung kepada gaya tasawuf. Maka mengertilah kita siapa yang ditiru -sadar atau tidak- oleh Mu&#8217;tazilah atau kaum Sufi, jika kita ingat akan peringatan Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي سعيد الخدري،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>(لتتبعن سَنَنَ من كان قبلكم، شبراً بشبر وذراعاً بذراع، حتى لو دخلوا جحر ضب تبعتموهم).</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong> قلنا: يا رسول الله، اليهود والنصارى؟ قال: (فمن).</strong></p>
<p>(Dari Abu Sa&#8217;id Al Khudry, dari Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>, berkata: &#8220;<em>Sungguh kalian akan benar-benar mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian. Sampai-sampai jika  mereka masuk ke lubang kadal tanah pun, kalian pasti mengikuti mereka</em>.&#8221; Kami bertanya: &#8221; <em>Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu (-kebiasaan-) Yahudi dan Nashara?</em>&#8221; Ia <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> pun menjawab; <em>&#8220;(-tentu saja-) Siapa lagi?&#8221; </em>) (HR: Al Bukhari &#8211; Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, ketika kita membicarakan perkara ini (dikotomi) di dalam kaitannya dengan Islam, tentu pertanyaan pertama adalah Islam yang bagaimana yang kita ambil sebagai ukuran. Tak bisa dipungkiri bahwa di sepanjang perjalanan sejarahnya umat Islam telah melalui berbagai zaman dengan berbagai macam pemikiran dan aliran (madzhab) di dalamnya. Era Mu&#8217;tazilah -yang rasionalis- kah  yang akan kita jadikan representasi Islam, atau  pandangan Sufi kah yang kita jadikan acuan? Banyak analisa dan pembahasan menjadi tidak mengena disebabkan tidak memperhatikan kenyataan sejarah ini atau melihat penggalan-penggalan sejarah tersebut secara parsial.</p>
<p style="text-align:justify;">Dewasa ini tidak sedikit orang menulis, mulai dari yang bersifat apologetik, kritik, maupun bantahan, terhadap praktek-praktek sufi  -yang menistakan dan menafikan dunia, menyepelekan peranan aqal dan mendahulukan perasaan, serta menganggap kefakiran lebih mulia dari pada kekayaan- , yang kesemuanya itu menandakan meratanya anggapan bahwa sufi -apakah itu yang dipahami dan dipraktekkan selama ini, maupun ajaran itu sendiri secara keseluruhan- lah biang keladi dari keterpurukannya umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, karena pandangan-pandangan sufistik-lah  maka segala yang ajeg membuyar, segala yang fokus melebar, segala yang kaku melentur, bahkan lebih mementingkan esensi ketimbang aturan-aturan, -seperti pengakuan para pembelanya-. Dan -ironisnya- itulah pula yang menyebabkan ia terkontaminasi -atau tepatnya lebur- dengan logika, etika, dan estetika dari mana saja yang sama sufistiknya. Dengan Kristen, bahkan Hindu dan Budha. Maka pandangan-pandangan .(-yang seakan-akan dunia itu seluruhnya buruk, aqal seluruhnya salah, serta harta dan kekayaan seluruhnya hina-) itu pun semakin mengental.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, di dalam rangka cemburu terhadap &#8220;barat&#8221;,  kaum muslimin sering (-mengerti atau tidak-) mengungkit-ungkit era Mu&#8217;tazilah  sebagai zaman &#8220;kemajuan&#8221;,  Alam bawah sadar -hasil pembentukan berabad-abad selama masa penjajahan- nyalah yang mengantarkan kepada &#8220;merasa bertemu dan terpenuhinya&#8221; hasrat dan kecemburuannya tersebut lewat nostalgia masa-masa kejayaannya Mu&#8217;tazilah, tanpa -sengaja atau tidak- mempersoalkan aqidahnya. Di satu sisi mereka ingin tetap diakui sebagai seorang Sunni, bersamaan dengan itu mereka bela orang-orang yang berkeyakinan bahwa <em>ALLAH tidak mengetahui apa yang akan terjadi</em>, bahwa <em>Al Qur&#8217;an itu makhluq</em>, bahwa <em>ada manusia yang keberadaannya kelak tidak di sorga juga tidak di neraka</em> (<strong><em>manzilatuhu bainal manzilatain</em></strong>), bahwa <em>fitnah</em> (pertanyaan) <em>qubur itu tidak ada</em>, dan masih banyak lagi bahwa-bahwa lain dari paham Mu&#8217;tazilah yang tidak mewakili pandangan seluruh kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasionalis-empiris yang diimpor dari &#8220;barat&#8221; yang di tempat asalnya masih diperdebatkan kehalalan (baca: keshahihan) metodologinya keburu jadi konsumsi ilmiah kebanyakan ilmuwan di negeri-negeri muslim.  Ini semua telah membentuk paradigma, bukan hanya ketika hendak melihat sesuatu, bahkan untuk menentukan apa yang harus atau perlu dilihat dan apa yang tidak boleh atau tidak perlu dilihat. Dan tentu saja pemilihan topik pembahasan kita kali ini juga tidak bebas dari pengaruh hal di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka untuk memperjelas dan mempermudah pembahasan,  secara jujur penulis harus katakan bahwa ia memilih paradigma Ahlus-Sunnah wal Jama&#8217;ah, setidaknya menurut yang dipahaminya. Dan yang dimaksud Ahlus-Sunnah wal Jama&#8217;ah adalah mereka yang berpegang kepada Al Qur&#8217;an dan As-Sunnah sesuai menurut pemahaman generasi terdahulu (<em>Salaful Ummah</em>). Tepatnya,  jauh sebelum lahirnya paham Asy&#8221;ariyah &#8211; Maturidiyah -sebagaimana kedua nama belakangan ini dianggap oleh sebagian kaum muslimin sebagai representasi Ahlus-Sunnah wal Jama&#8217;ah-. (?)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembagian Ilmu Di Dalam Islam</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Kata <strong>Ilmu </strong>di dalam Islam tidaklah selalu sama pengertiannya dengan ilmu (Science /Knowledge) di &#8220;barat&#8221;, sehingga pengertian <em>ilmiah </em>(memenuhi standar ilmu) nya pun berbeda. Bagi &#8220;barat&#8221;, sesuatu yang tidak teruji secara empiris bukanlah ilmu. Maka megertilah kita kenapa lahir ucapan : <em>Iman/agama tanpa ilmu, lumpuh. Dan Ilmu tanpa Iman/agama, buta. </em>Karena iman berbeda dengan ilmu. Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (baca empiris), karena ia merupakan keyakinan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam Islam <strong>Ilmu</strong> bisa mencakup seluruh pengetahuan, baik yang diupayakan maupun yang diwahyukan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Termasuk juga, apakah yang disebut di dalam Islam <em>Ilmu Dhorury</em> (sesuatu yang dapat diketahui tanpa harus belajar, seperti tahunya kita bahwa air itu basah atau asap itu menyesakkan), atau  <em>Ilmu Nadhory</em> (yang diketahui hanya dengan belajar, seperti air itu H2O atau asap itu CO2). Ilmu juga kerap diungkapkan dengan kata <strong>hikmah</strong>. Kata <strong>ilmu</strong> adakalanya juga dimaksudkan <strong>iman</strong> -seperti penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimiin -<em>rahimahullah</em>-.dan juga selain beliau tentang kata <em>amanuu</em> di dalam Surat Al Ashr, karena mustahil seorang beramal jika tidak dilandasi ilmu. Maka iman di sini adalah ilmu. Bahkan adakalanya ilmu diartikan sebagai agama, sebagaimana ucapan Muhammad ibn Siriin <em>radhiallahu anhu</em>:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>إن هذا العلم دين. فانظروا عمن تأخذون دينكم </strong>(رواه مسلم)</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Sesungguhnya Ilmu itu adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan sesungguhnya para ulama (-Islam / Ahlus-Sunnah Wal Jama&#8217;ah-) telah menjelaskan pembagian ilmu dari berbagai sudut. Adakalanya pembagian tersebut kemudian bersifat dikotomis,  adakalanya sebagai pengkhususan satu disiplin ilmu atas yang lain. Maka mengingkari (-secara mutlak-) adanya dikotomi ilmu dalam Islam adalah keliru. Sementara mendikotomikan ilmu secara serampangan juga keliru.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi sumber atau dasar pengambilannya ilmu -di dalam Islam- terbagi dua, Ilmu Syar&#8217;iy dan Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy. Ilmu Syar&#8217;iy adalah ilmu yang bersumber dari Al Qur&#8217;an dan As-Sunnah serta berkaitan langsung dengan pengamalan syari&#8217;at Islam. Atau sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimiin -<em>rahimahullah</em>-. di dalam :  <strong> كتاب العلم</strong> &#8220;<em>Ilmu Syar&#8217;iy adalah ilmu yang berkaitan tentang apa-apa yang diturunkan ALLAH kepada Rasul-Nya berupa petunjuk dan penjelasannya</em>.&#8221;  Selainnya adalah Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy, yaitu ilmu-ilmu peradaban dan yang berkaitan dengannya. Dan Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> suatu kali mengungkapkan dengan kata <em>Ilmu Dunia</em>,  sebagaimana ucapannya : <strong> </strong><strong>&#8221; </strong><strong>أنتم أعلم بأمر دنياكم </strong><strong>&#8220;</strong> (&#8220;<em>Kalian lebih tahu urusan dunia kalian</em>.&#8221; &#8211; HR: Muslim). Juga di dalam  do&#8217;anya: &#8221;  <strong>أللهم إني أسألك العفو و العافية في ديني و دنياي</strong> &#8221; (&#8220;&#8230;<em>Ya, ALLAH. Aku mohon kepada Mu kemaafan dan keselamatan di dalam urusan agamaku dan duniaku</em>&#8230;&#8221;- HR: Abu Daud dan Ibnu Majah)</p>
<p style="text-align:justify;">Tampak dari sisi ini kata <strong>agama</strong> dihadapkan (baca: dipertentangkan) dengan kata <strong>dunia. </strong>Jadi Ilmu Syar&#8217;iy itu ilmu agama, sedangkan Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy itu ilmu dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi manfa&#8217;at atau tidaknya, ilmu juga terbagi menjadi: Ilmu Yang Bermanfa&#8217;at (-bagi dunia dan akhirat-) dan Ilmu Yang Tidak Bermanfa&#8217;at (-bagi dunia dan akhirat-). Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> di dalam do&#8217;anya berucap:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة؛ قال:- كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>((اللهم! انفعني بما علمتني، وعلمني ما ينفعني، وزدني علما)).</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>(Dari Abu Hurairah, berkata: &#8220;Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> senantiasa berdo&#8217;a, <em>ALLAHUMMA,  Berikan manfa&#8217;at dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkan pula aku ilmu yang bermanfa&#8217;at bagiku. Dan tambahkan aku ilmu</em>.&#8221;) (HR: At-Tirmidzi dan  Ibnu Majah -dishahihkan oleh Syaikh Al Albaany)</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi hukum mempelajarinya, yakni tingkat kewajibannya atas setiap muslim untuk mengetahuinya, ilmu terbagi menjadi dua. Pertama, Ilmu<em> Fardlu &#8216;Ain</em> (wajib atas setiap pribadi). Ke-dua, Ilmu <em>Fardlu Kifayah</em> (tidak wajib atas setiap pribadi).</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu <em>Fardlu &#8216;Ain</em> adalah ilmu tentang sesuatu yang setiap pribadi -tidak bisa diwakilkan- harus mengetahui dan memilikinya, seperti; Pengetahuan/pengenalan seseorang akan<em> rabb</em> (Pencipta)-nya -berkaitan tentang Kekuasaan, Hak Peribadatan, serta Nama dan Sifat-Nya-. Pengetahuan/pengenalan seseorang akan nabinya -berkaitan tentang nama dan nasab, perjalanan hidup,  misi risalah, serta sunnah-sunnahnya yang wajib diamalkan-. Pengetahuan/pengenalan seseorang akan agamanya -berkaitan tentang bagian-bagian, rukun-rukun, hukum-hukum (-yang wajib secara pribadi diketahui, seperti perkara halal dan haram-),serta pembatal-pembatalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Ilmu <em>Fardlu Kifayah</em> adalah ilmu-ilmu yang bekaitan dengan kemaslahatan diri dan orang lain, yang jika telah dipenuhi (ada sebagian orang yang telah mempelajari dan menguasainya) maka terbebaslah  sebagian yang lain dari kewajiban akannya. Adakalanya Ilmu <em>Fardlu Kifayah</em> ini berbentuk Ilmu Syar&#8217;iy, seperti Ilmu <em>Fara&#8217;id</em> (ilmu waris) dan Ilmu <em>Tajwid</em>. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -<em>rahumahullah</em>- :&#8221;<em>Mencari Ilmu Syar&#8217;iy hukumnya fardlu kifayah, kecuali dalam perkara-perkara tertentu seperti mencari ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan atau diharamkan atas seseorang. Maka di dalam perkara-perkara semacam ini hukumnya menjadi fardlu ‘ain</em>.&#8221; (Majmu&#8217; ul Fatawa)</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun semua bentuk Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy atau Ilmu Dunia hukum mempelajarinya adalah <em>Fardlu Kifayah</em>. Dan ini bukan berarti mengecilkan peranan ilmu-ilmu peradaban, tetapi justru menunjukkan bagaimana Islam dapat mendudukkan setiap perkara secara proporsional. Bukankah kita tidak menuntut seluruh manusia untuk menjadi dokter atau insinyur, misalnya. Dan apa jadinya kalau di suatu negeri -antara lain disebabkan karena tidak pernah diarahkan untuk mengetahui perkara-perkara semacam ini- semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut? Ya, seharusnya sejak awal negara sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan.  Dengan  begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri ikut berdosa karena meninggalkan <em>fardlu kifayah</em> tadi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Bukannya ada atau tidak ada dikotomisme ilmu di dalam Islam, akan tetapi kenapa muncul pertanyaan ini, itu soalnya. Atau, tepatkah kalau pertanyaan semacam itu diarahkan ke Islam, mengingat konsep dikotomi itu datang dari pengalaman yang khas &#8220;barat&#8221;. Kalau kemudian dikotomisme ini hidup di dalam Islam, itu merupakan kebiasaan dari agama lain yang disusupkan ke dalam Islam oleh kaum sufi. Maka membantahnya dengan menjadikan Mu&#8217;tazilah sebagai <em>sample</em> juga tidak tepat. Pertama,  Mu&#8217;tazilah tidak sepenuhnya mewakili Islam. Kedua, &#8220;kemajuan&#8221; di bidang ilmu pengetahuan (baca: filsafat, sejarah, fisika, ilmu-ilmu hitung (matematika dan aritmatika), biologi, kedokteran, astronomi, dan geografi) tidak dengan sendirinya membuktikan tak adanya dikotomisme ilmu pada masa itu, atau bahwa Mu&#8217;tazilah tidak menganut adanya dikotomisme ilmu. Jika ukurannya adalah kemajuan di bidang sains dan material, maka &#8220;barat&#8221; dewasa ini harus juga kita katakan tidak menganut paham dikotomisme ilmu. donk ! Apa begitu ?</p>
<p style="text-align:justify;">Mempertanyakan dikotomisme di dalam Islam hampir sama kasusnya dengan orang yang mengait-ngaitkan Islam dengan sosialisme. Berbagai tulisan dikarang dengan tema &#8220;Sosialisme di dalam Islam&#8221;. Mereka mencoba membedah Islam dengan pisau analisa sosiologi berparadigma sosialis. Mencari sisi-sisi kesamaaan antara Islam dengan Sosialisme, atau menafsirkan ajaran Islam dengan kacamata sosialis -sesuatu yang asing sama sekali bagi Islam dan Islam tidak ada hubungannya sama sekali dengannya- , sebagaimana ditempuh Ali Syari&#8217;ati di Iran di tahun 1970-an.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka kalau yang dimaksudkan  dikotomi di sini adalah seperti dikotominya gereja-negara, pendeta-raja, atau agama-ilmu di dalam peradaban &#8220;barat kristen&#8221;, maka di dalam Islam hanya menyangkut <em>Ilmu Nafi&#8217;</em> (Ilmu yang bermanfaat) dan <em>Ilmu Ghairu Nafi&#8217; </em> (Ilmu yang tidak bermanfa&#8217;at). Adapun di dalam perbedaan sumber atau dasar pengambilannya -seperti Ilmu Syar&#8217;iy atau Ilmu Agama dan Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy atau Ilmu Dunia- tidaklah otomatis dianggap dikotomis -sebagaimana pengertian asalnya- karena batas kedua jenis ilmu tadi (Syar&#8217;iyAgama dan Ghairu Syar&#8217;iy/Dunia) saling menerobos manakala memasuki dataran praktis  atau  hukum mempelajari dan mengamalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak seluruh Ilmu Syar&#8217;iy itu fardhu &#8216;ain mempelajarinya, dan adakalanya Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy menjadi sebab berdosanya seluruh kaum manakala tak seorangpun menguasainya sedangkan hal itu sangat dibutuhkan masyarakat.  Begitu pula, ada di antara Ilmu Syar&#8217;iy yang fardhu &#8216;ain mempelajarinya tetapi fardhu kifayah mengamalkannya, seperti sholat jenazah. Sebaliknya ada yang fardhu kifayah mempelajrinya tetapi fardhu &#8216;ain mengamalkannya, seperti ilmu tajwid.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan nama-nama bagi kedua jenis ilmu tadi. Seharusnya kita tidak memperkenalkan dan menggunakan -seperti kebanyakan orang- kata &#8220;umum&#8221; untuk Ilmu-ilmu Ghairu Syar&#8217;iy atau Ilmu Dunia. Pertama, karena yang dipergunakan sejak dahulu oleh para ulama kita hanyalah istilah Ilmu Ghairu Syar&#8217;iy atau Ilmu Dunia -untuk seluruh yang tidak bersumber dari Al Qur&#8217;an dan As-Sunnah atau yang hanya berkaitan dengan peradaban. Ke-dua, seandainya pun yang dimaksud adalah Ilmu Dunia dan istilah itu diucapkan oleh orang yang telah paham betul akan agama Islam, namun tentu kebanyakan orang awam -yang pola pikirnya telah terlanjur sekuler- akan menangkap konsep &#8220;umum&#8221; tadi dengan kacamata sekulernya pula, dan bahkan bisa membuat sekulernya semakin menjadi-jadi tanpa disadari. Begitu pula akibatnya, jika kita mempergunakan istilah &#8220;Ilmu Akhirat&#8221;  -untuk Ilmu-Ilmu Syar&#8217;iy atau Agama- untuk dihadapkan dengan Ilmu Dunia..</p>
<p style="text-align:justify;">Jelas sulit kita membantah adanya dikotomisme ilmu di dalam Islam sebagaimana juga sulitnya kita untuk keluar dari belenggu dikotomisme kalau kitanya sendiri menggunakan kata &#8220;<strong>umum</strong>&#8221; untuk Ilmu Dunia atau &#8220;<strong>akhirat</strong>&#8221; untuk Ilmu Agama. Dan pendikotomian Ilmu Agama &#8211; Ilmu Umum atau Ilmu Dunia &#8211; Ilmu Akhirat sungguh telah membawa dampak-dampak filosofis, psikologis,  dan sosiologis. bagi ummat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dampak filosofisnya, telah membuat kebanyakan orang melihat agama Islam melulu atau hanya urusan akhlaq baik-buruk, itupun sifatnya sangat umum (-tidak khas menurut ukuran Al Qur&#8217;an dan As-Sunnah-) sekali. Keadaan demikian membuat kebanyakan orang tidak memiliki perhatian sama sekali atau memang sama sekali tidak mengerti akan perkara aqiedah. Tak penting bagi mereka syirik atau bid&#8217;ah, asalkan tidak minum khamer, mencuri, berzina, membunuh, dan semisalnya dari macam-macam pelanggaran -yang sesungguhnya selain muslim pun tahu akan buruknya perkara tersebut-.</p>
<p style="text-align:justify;">Dampak psikologisnya, kebanyakan orang baru mau mempelajari agama kalau sudah tua atau pensiun kerja, karena ilmu agama adalah ilmu akhirat. Agama adalah kesibukan orang-orang yang sudah lanjut usia. Masyarakat merasa heran kalau melihat anak  yang masih muda tetapi sudah besar perhatiannya kepada agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dampak sosiologisnya, misalnya lahir istilah atau ungkapan &#8220;<em>puisi religius</em>&#8220;, &#8220;<em>seorang yang religius</em>&#8220;, seakan-akan dekatnya seorang hamba kepada ALLAH atau ibadah itu perkara yang tidak lazim. Di sekolah-sekolah &#8220;umum&#8221;, pelajaran &#8220;agama&#8221; diberikan hanya dua jam sepekan, itupun meliputi pelajaran aqidah, ibadah, dan akhlaq, termasuk tafsir Al Qur&#8217;an dan pelajaran Al Hadits dijadikan satu. Sementara pelajaran ekonomi, misalnya, diberikan waktu seluas-luasnya dengan bagian-bagiannya, seperti makro, mikro, dan sebagainya.   Ilmu-ilmu ghoiru syar&#8217;iy mendapatkan kedudukan yang terhormat dan dipentingkan di dalam masyarakat, sementara ilmu-ilmu syar&#8217;iy disepelekan. Kalau ada sebuah pesantren menggunakan komputer saja sudah merupakan berita yang perlu diekspos. Gambar seorang pelajar berpeci dan berjilbab duduk di hadapan komputer di jadikan hiasan halaman utama brosur-brosur pesantren, untuk menunjukkan &#8220;kemoderenan&#8221;nya -yang justru mengukuhkan &#8220;keterbelakangan&#8221;nya-. Seorang ustadz , jika berbicara soal teknologi atau ekonomi, akan dipertanyakan kapan dan di mana ia belajar, seakan-akan teknologi dan ekonomi adalah perkara yang asing baginya. Sebaliknya, seorang dokter atau insinyur berani bicara panjang lebar dan dibiarkan berjam-jam berceramah tentang Islam sementara ia tidak pernah berguru sama sekali dan hanya bermodalkan membaca dan menafsirkan sendiri, tak pernah dipersoalkan. Kenapa ? Karena belajar Ilmu Syar&#8217;iy itu mudah sedang Ilmu &#8220;umum&#8221; (baca: Ghoiru Syar&#8217;iy) itu sulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, bukan ada atau tidak ada dikotomisme ilmu soalnya. Tetapi, ketidaksadaran kita telah masuk ke dalam lobang kadal tanah Yahudi dan Nashara, itu soalnya. Ketidaksadaran kita menggunakan kacamata yang salah ketika hendak melihat Islam, itu soalnya.  Ketidaksadaran kita memakai  istilah secara keliru, itu soalnya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=59&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/02/dikotomisme-ilmuadakah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Lihat Bagaimana Orang Tuanya Diperlakukan!&#8221;</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/07/11/lihat-bagaimana-orang-tuanya-diperlakukan/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/07/11/lihat-bagaimana-orang-tuanya-diperlakukan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 07:57:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Berbakti Kepada Orang Tua.]]></category>
		<category><![CDATA[Bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[Birr walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Hablun minannaas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Karena perkara terpenting di dalam urusan habluminannaas (hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah birr walidain (berbakti kepada orang tua). Beberapa ayat di dalam AL Qur&#8217;an menunjukkan, betapa ALLAH Subhaanahu wa ta&#8217;alaa menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=55&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Karena perkara terpenting di dalam urusan <em>habluminannaas </em>(hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah <em>birr walidain </em>(berbakti kepada orang tua). Beberapa ayat di dalam AL Qur&#8217;an menunjukkan, betapa ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> adalah berbakti dan berbuat baik kepada orang tua.<span id="more-55"></span></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya:<em>Dan(-ingatlah-)ketika Kami mengambil perjanjian dengan Bani Isra&#8217;il, agar kalian (-wahai Bani Isra&#8217;il-) tidak beribadah kecuali kepada ALLAH, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua</em>.)(Al Baqarah: 83)</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: <em>Dan ibadahilah oleh kalian ALLAH. serta jangan kalian sekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua</em>.)(An-Nisaa&#8217;:36)</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: <em>Katakanlah,&#8221;Marilah kubacakan apa yang ALLAH haramkan ataskalian, yaitu: janganlah kalian menyekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua</em>&#8230;&#8221;)(Al An&#8217;aam:151)</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: <em>Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah  kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua</em>.)(Al Isra&#8217;:23)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em>, melalui ayat di atas, mengaitkan antara bersyukur kepada ALLAH dan bersyukur kepada makhluq- Nya. Bahkan, Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> mengungkapkan di dalam haditsnya:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>هذا حديثٌ صحيحٌ.</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu anhu</em>, berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia</em>.&#8221; (HR: At-Tirmidzi &#8211; Shohih)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan seutama-utama makhluq, seutama-utama manusia yang layak mendapatkan sikap bersyukur dan berterima kasih adalah kedua orang tua, ayah dan ibu.</p>
<p>Ya, dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dari cara bersikap kepada kedua orang tuanya lah bermula bagaimana kelak seseorang hidup bermasyarakat. Dan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> telah mewasiatkan kepada segenap manusia akan perkara ini.</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: <em>Dan telah kami wasiatkan manusia (-berbuat baik-) kepada kedua orang tuanya, yang mana ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang amat sangat dan menyapihnya selama dua tahun. Agar  hendaknya bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuanya. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali</em>.)(Luqman:14)</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui ayat ini ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> mengungkapkan tentang penderitaan dan pengorbanan orang tua bagi anaknya -sejak anaknya masih di dalam kandungan-. Kedua orang tua telah bersusah payah membesarkan serta  memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anaknya. Dan pengungkapan ini tidak lain agar anak berterima kasih dan tak melupakan pengorbanan kedua orang tuanya. Juga <strong>hendaknya kedua orang tua mengajari anak-anaknya agar mampu melihat dan menghargai jasa-jasa mereka</strong>. Dan perasaan  serta kebutuhan akan -disyukuri dan dihargai- ini berlaku dan merupakan fitrah pada setiap manusia, kafir sekalipun dia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orang tua bagi dirinya, di awal-awal usianya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-<strong>:</strong> bau keringat ibunya yang tercium dari balik kain gendongan, gerakan tangannya ketika menyuapi, memandikan, dan menuntunnya berjalan, bahkan keluhan atau omelan-omelannya :&#8221; <em>Ibu capek, nak. Ibu lagi repot, nak</em>.&#8221; Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orang tua bagi dirinya, di masa-masa pertumbuhannya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-<strong>:</strong> kesibukan bapaknya bersiap-siap untuk berangkat kerja, kurang tidurnya mereka karena sejak malam sudah harus mengemas barang yang hendak dibawanya ke pasar, wajah ibu bermandikan peluh yang sejak sebelum subuh sudah di hadapan tungku, mempersiapkan dagangannya di pagi hari, yang mungkin ia sendiri ikut mondar-mandir membantu mereka mengambil  ini dan itu, bahkan keluhan dan omelan-omelannya  &#8220;<em>Jadi anak tahu diri, donk. Kita ini bukan orang kaya seperti mereka!</em>&#8221; Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orang tua bagi dirinya, di masa-masa menjelang dewasanya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: air muka kesedihan atau kesusahan yang nampak karena memikirkan masa depan anaknya, jerih payah jasmani dan ruhaninya guna memenuhi kebutuhan anaknya, keringat, waktu, atau mungkin rasa malu yang dikorbankan demi anaknya. bahkan keluhan dan omelan-omelannya: &#8220;<em>Bilang, SPP sejak Juli belum bisa kami lunasi!</em>&#8221; Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, ketika peristiwa-peristiwa penting  -yang tampaknya sepele-  semua hilang dari ingatan. Ketika semua hari-hari bersejarah itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam tak terlupakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, seandainya kepada manusia yang paling berjasa -yang terlihat dan terasa pengorbanan serta kasih sayangnya, yang telah mempersembahkan tetesan keringat, air mata, bahkan darah- bagi dirinya saja seseorang tak mampu bersyukur dan berterima kasih, bagaimana pula kepada selain mereka?</p>
<p>Ya, dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika orang tua gagal mendidik anaknya untuk menjadi orang yang pandai berterimakasih. Ketika kepada orang yang paling berjasa saja ia tak mampu membalas budi. Kepada yang hidup bersamanya sejak  kecil saja  ia berbuat dzalim. Ketika kepada orang yang seharusnya ia bersikap santun dan merendahkan diri di hadapannya saja ia berlaku kasar dan jahat. Ketika kepada orang yang paling mencintainya saja begitu tega ia berdusta dan menipunya. Maka bagaimana pula kepada selain mereka?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja ini tidak berarti, bahwa orang yang berlaku baik, patuh, dan cinta kepada kedua orang tuanya pasti berlaku sama kepada selain keduanya. Namun, sebaliknya, hampir bisa dipastikan,  seseorang yang tega berlaku buruk, kurang ajar, dan jahat kepada kedua orang tuanya,  sangat mungkin berbuat lebih kepada selain mereka!  Maka, kepada siapa saja yang hendak memilih teman, rekan usaha, bahkan calon menantu, lihat.., lihat dan perhatikanlah bagaimana orang  tuanya diperlakukan!</p>
<p>Ya, dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> menambahkan ni&#8217;mat-Nya bagi yang pandai bersyukur dan menimpakan adzab-Nya yang sangat pedih bagi yang mengkufuri ni&#8217;mat-Nya, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya:<em>Dan (-ingatlah-) ketika rabb-mu mema&#8217;lumkan,&#8221;Jika kalian bersyukur,sungguh akan Aku tambahkah ni&#8217;mat-Ku.Dan jika kalian mengingkari (ni&#8217;mat-Ku-), maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih</em>.&#8221;) (Ibrahim: 7)</p>
<p style="text-align:justify;">Maka mengertilah kita mengapa di dalam urusan bersyukur digunakan kata <strong>pandai,</strong> bukan sekedar <strong>bisa</strong>. Karena begitu tak terhingganya ni&#8217;mat-ALLAH,  namun begitu banyak pula yang tak mampu melihatnya. Dan ketidakmampuan -melihat  atau merasakan ni&#8217;mat-ALLAH yang tiada terhingga- Itu boleh jadi disebabkan oleh kebodohan. Maka membiarkan diri atau anak senantiasa di dalam kebodohan bersyukur sama saja dengan menyiapkan diri atau anak untuk mendapat adzab ALLAH yang sangat pedih.</p>
<p>Ya, dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ni&#8217;mat-ALLAH yang tiada terhingga itu tak mampu ia rasakan, bahkan ia senantiasa merasa kurang dan tidak bahagia. Ya, di dalam hidup yang bergelimang keni&#8217;matan saja ia merasa susah dan menderita. Bagaimana pula jika benar-benar ALLAH timpakan musibah atasnya ? Mampukah ia bersabar dan kuat mengatasi kesusahan dan penderitaan ?</p>
<p>Ya, dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah di antara hikmah kenapa ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> dahulukan perintah bersyukur  -kepada-Nya dan berterima kasih kepada orang tua- dengan pengungkapan tentang jasa dan pengorbanan orang tua. Itulah pula di antara hikmah kenapa Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> mengatakan : &#8220;<em>Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sebabnya, kenapa  perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> adalah berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Karena dari sinilah segalanya bermula&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=55&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/07/11/lihat-bagaimana-orang-tuanya-diperlakukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dasar-Dasar Pendidikan Bagi Anak</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/06/18/dasar-dasar-pendidikan-bagi-anak/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/06/18/dasar-dasar-pendidikan-bagi-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 03:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[penalaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Penghayatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=33&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa juga disalahkan manakala timbul permasalahan di usia-usia belajar mereka. Dari sisi ini tampak sekali, bahwa &#8220;pendidikan sebagai produk masyarakat&#8221; lebih dominan ketimbang &#8220;masyarakat sebagai produk pendidikan&#8221;. Masyarakat telah lebih dahulu mendifinisikan, bahwa: Pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang mendidik (-nyatanya hanya mengajar-) di usia-usia belajar mereka, 6-3-3-6 th dst. Masyarakat telah lebih dahulu mendisain masa depannya dan meciptakan sistim pendidikannya untuk itu.  Tepatnya, bisa dikatakan, bahwa pendidikan adalah cermin sistem sosial, di mana ia diselenggarakan di dalam sekaligus demi cita-cita sistem tersebut.<span id="more-33"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Padahal pendidikan  adalah sebuah proses mengambil, menyerap, dan mengamalkan ilmu. Cakupannya meliputi ketrampilan, penghayatan, dan penalaran. Dan karena kebutuhan manusia akan ilmu itu tidak terbatas, bahkan sebanyak tarikan nafasnya -kata Imam Ahmad-, maka tentu saja waktu dan tempat pendidikan pun tak terbatas. Dan karenanya proses tersebut tidak bisa semata menjadi tanggung jawab sekolah. Rumah tangga, tempat rekreasi, kantor, pabrik, bahkan pasar semua adalah lembaga pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tentu saja keluarga atau rumah tangga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama. Dari sanalah segalanya bermula. Oleh karenanya para orang tua harus bisa meletakkan landasan dari mana kelak anak-anaknya menatap dunia dan memasuki masa-masa pendidikan yang tiada ujungnya. Apa itu pendidikan bagi mereka, apa artinya bagi kehidupan, serta bagaimana mereka menyikapi dan menjalaninya, semua bermula di sini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Orang tua harus berupaya agar <strong><em>anak</em></strong> <strong><em>menyadari keutamaan ilmu, pendidikan</em>,</strong> dan perlunya belajar, serta dapat menghargai segala aspek yang bekaitan dengan ketiganya tadi. Rasa hormat dan penghargaan kepada ilmu akan memberikan dampak yang sangat luas di dalam kehidupan anak tersebut kelak. Dia akan bersungguh-sungguh belajar, dia akan terlatih mengakui dan menghormati orang-orang yang lebih pandai dari padanya. Dia tidak akan rela mengorbankan ilmunya demi kepentingan yang akan merusak kecintaan dan penghargaannya terhadap ilmu, dalam keadaan apapun. Mudahnya seseorang menyelewengkan pengetahuannya, antara lain disebabkan sikap moral yang tidak menghargai ilmu. Berbohong atau menghalalkan kebohongan demi mencapai maksud, antara lain juga bermula dari perkara ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ke-dua</strong>: Orang tua harus berupaya agar <strong><em>anak mampu menyadari dan mengembangkan kemampuan Keterampilan, Penghayatan dan Penalaran-nya sesuai dengan tingkat perkembangan umurnya</em></strong>. Keterampilan berkaitan dengan kemampuan motorik dan teratasinya hambatan-hambatan motorik di mana seorang anak mampu mengontrol secara sempurna gerakan anggota tubuhnya. Hambatan-hambatan motorik dapat menjadi sebab timbulnya rasa kurang percaya diri pada anak Penghayatan berkaitan dengan perasaan senang, cinta,  benci, takut, marah, dan kasihan. Penghayatan juga berkaitan dengan citarasa, selera, dan rasa keindahan. Melalui inilah tumbuh sikap, jujur, berani, bertanggungjawab, santun, sabar, simpati, serta ingin menolong dan ingin berbagi. Tumbuhnya sikap berpihak dan anti terhadap sesuatu atau seseorang juga datang dari sisi ini. Dan anak memerlukan bimbingan dan pengarahan agar dapat dengan tepat mengekspresikan perasaannya sesuai dengan situasi dan kondisi.  Penalaran berkaitan dengan kemampuan berpikir secara logis dan konsisten serta memahami sebab akibat Ketiga kemampuan ini (Keterampilan, Penghayatan, dan Penalaran) harus berkembang secara proposional sesuai dengan bertambahnya umur. Jika tidak, maka akan tumbuh pribadi yang tidak seimbang. Sebagai contoh; anak yang kelewat berani tanpa pertimbangan, anak yang kelewat penakut, atau anak yang kurang percaya diri, misalnya. Tahukah anda, bahwa sifat licik itu merupakan kombinasi cerdas dengan malas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ke-tiga</strong> : Orang Tua harus berupaya agar <strong>anak mampu melaksanakan perintah ALLAH dan menjadikan hal itu sebagai jalan untuk memahami Kehendak dan Ketentuan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em></strong>. Dan kemampuan melaksanakan perintah ALLAH ini dicapai melalui latihan dan pembiasaan. Kebiasaanlah yang kemudian akan membentuk pola berpikir, sehingga anak tahu untuk apa ALLAH menciptakannya, apa manfa&#8217;at dari perintah-larangan ALLAH bagi dirinya, serta apa yang harus didahulukan dan dibelakangkan di dalam menjalani kehidupan ini. Pendidikan ini berlangsung mengikuti ritme dan aktifitas kehidupannya sehari-hari. Wudlu, sholat, berdo&#8217;a, belajar membaca dan menghafal Al Qur&#8217;an, mendengarkan Hadits-Hadits, serta terbiasa mengenal perintah dan larangan atau  perkara halal-haram yang disampaikan secara tepat dan proporsionil sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=33&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/06/18/dasar-dasar-pendidikan-bagi-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Ketika Kebenaran Didustakan dan Kedustaan Dibenarkan”</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/06/17/%e2%80%9cketika-kebenaran-didustakan-dan-kedustaan-dibenarkan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/06/17/%e2%80%9cketika-kebenaran-didustakan-dan-kedustaan-dibenarkan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 23:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Risalah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kedustaan Atas Nama Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Di antara sebab murkanya ALLAH kepada bangsa Yahudi, adalah karena mereka mendustakan nabi-nabi yang diutus. Padahal tidaklah ALLAH memilih utusan-utusan-Nya, kecuali dari orang-orang terbaik di kalangan dan pada zamannya. Tentu saja, karena ALLAH Subhaanahu wa ta&#8217;alaa mengutus mereka dalam rangka mengajak manusia beribadah hanya kepada ALLAH dan meninggalkan kesyirikan. Mereka dipilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=32&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara sebab murkanya ALLAH kepada bangsa Yahudi, adalah karena mereka mendustakan nabi-nabi yang diutus. Padahal tidaklah ALLAH memilih utusan-utusan-Nya,  kecuali dari orang-orang terbaik di kalangan dan pada zamannya. Tentu saja, karena ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> mengutus mereka dalam rangka  mengajak manusia beribadah hanya kepada ALLAH dan meninggalkan kesyirikan. Mereka dipilih untuk . diterima,  dicintai, diutamakan, serta diteladani. Mereka diutus untuk didengar, dipercaya dibenarkan, kemudian dita&#8217;ati dan diikuti.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>, sebagai rasul akhir zaman dan penutup para nabi, tentu saja memiliki keistimewaan tersendiri. Beliau diutus untuk segenap manusia yang ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> tidak mengutus lagi seseorang setelah dia, baik nabi, apalagi rasul. Yang tak ada alasan bagi orang Yahudi maupun Nashara untuk bertahan di dalam agama mereka, yang tidak ada balasan bagi mereka yang menolak ajakan Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> kecuali dijebloskan ke dalam neraka.<span id="more-32"></span></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه قال:<br />
&#8220;والذي نفسي محمد بيده! لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني،</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong> ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به، إلا كان من أصحاب النار&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Demi Yang jiwa Muhammad di tangannya! Tidak seorang pun yang mendengar tentangku -apakah itu Yahudi atau Nasrani- kemudian dia mati dalam keadaan belum beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia menjadi penduduk neraka</em>.&#8221; (HR:Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan semua kebaikan dari seluruh utusan-ALLAH itu terkumpul pada satu pribadi yang diutus sebagai penyempurna akhlaq manusia -sejak ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;ala</em>a sendiri menyatakan telah disempurnakannya agama ini, dilengkapkannya ni&#8217;mat-Nya-, dan diridhoi-Nya Islam sebagai agama. Beliau <em>Shallallahu laihi wa sallam</em> adalah pribadi terbaik dari keturunan yang terbaik, sebagaimana yang ia sampaikan:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>أن واثلة بن الأسقع يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>&#8220;إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل. واصطفى قريشا من كنانة.</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong> واصطفى من قريش بني هاشم. واصطفاني من بني هاشم&#8221; </strong>(<strong>رواه مسلم</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Sesungguhnya dari keturunan Isma&#8217;il ALLAH telah memilih Kinaanah, dan dari Kinaanah Ia memilih Quraisy, dan dari Quraisy Ia memilih Bani Hasyim,   dan dari Bani Hasyim Ia memilih aku</em>.&#8221; (HR: Muslim dari Wa&#8217;ilah bin Al Asqa&#8217;)</p>
<p>Ibnu Katsir -<em>rahimahullah</em>- menjelaskan di dalam tafsirnya, tentang hubungan antara kesempurnaan agama ini dengan diutusnya Muhammad <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>هذه أكبر نعم اللّه تعالى على هذه الأمة حيث أكمل تعالى لهم دينهم، فلا يحتاجون إلى دين غيره،</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>ولا إلى نبي غير نبيهم صلوات الله وسلامه عليه، ولهذا جعله الله تعالى خاتم الأنبياء، </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>وبعثه إلى الإنس والجن، </strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>فلا حلال إلا ما أحله ولا حرام إلا ما حرمه، ولا دين إلا ما شرعه</strong><strong>.</strong><strong> </strong></p>
<p dir="rtl">
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Inilah ni&#8217;mat-ALLAH yang terbesar atas umat ini, yakni ketika IA menyempurnakan agama mereka. Sehingga mereka tak lagi membutuhkan  agama-agama lain, juga tak lagi membutuhkan nabi selain dari nabi-nabi   mereka sendiri. Dan karenanya ALLAH jadikan dia sebagai penutup para nabi, yang diutus bagi segenap jin dan manusia. Maka tak ada yang halal  selain yang telah dia halalkan, dan tak ada yang haram selain yang dia haramkan. Dan tak ada agama selain apa yang telah dia tetapkan</em>&#8230;.&#8221;</p>
<p>Beliau adalah sesempurna-sempurnanya akhlaq manusia yang diutus antara lain untuk memperbaiki serta menyempurnakan akhlaq manusia, sebagaimana yang ALLAH  <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> tegaskan;</p>
<p>(Artinya: &#8220;<em>Sesungguhnya engkau memiliki akhlaq yang agung</em>.&#8221;) (Al Qalam:4)</p>
<p>kemudian Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> nyatakan sendiri:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال</strong><strong>:</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>بعثت لأتمم صالح الأخلاق</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> &#8220;</strong><em>Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia</em>.&#8221;</p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> diutus untuk mengajari manusia tentang kejujuran, karenanya mustahil kalau dirinya sendiri pendusta. Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> diutus untuk mengajari manusia tentang amanah, karenanya mustahil kalau dirinya sendiri khianat. Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> diutus untuk mengajari manusia tentang Al Haq, karenanya mustahil kalau dirinya sendiri menempuh cara-cara yang bathil.</p>
<p>Untuk misi yang sangat mulia inilah karenanya ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> tidak membiarkan Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> berbicara kecuali di bawah bimbingan wahyu.</p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: &#8220;.<em>Tidaklah dia (_Muhammad-) berucap mengikuti hawa-nafsu. Tidak lain yang diucapkan  adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya</em>&#8230;&#8221;)(An-Njam: 3 &#8211; 4)</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan lebih dari itu, Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> pun diperintahkan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> untuk mengajari para pengikutnya, agar meneladani cara-cara beliau berda&#8217;wah.</p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: &#8220;<em>Katakanlah (-wahai Muhammad-) :Inilah jalanku. Aku menyeru kepada ALLAH di atas bashirah. Aku dan mereka yang mengikutiku</em>&#8230;&#8221;) (Yusuf:108)</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> pun memberikan jaminan akan keteladanan Beliau, dari sisi atau sudut manapun dan sebagai apapun dia.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>(الأحزاب:21)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: <em>Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi mereka yang mengharapkan perjumpaan dengan ALLAH dan hari Akhir, serta  banyak mengingat ALLAH</em>.) (Al Ahzab:21)</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah begitu sempurnanya ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> persiapkan Beliau <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>, dipilih dari keluarga terhormat di kalangan dan pada zamannya, dikenal sebagai Al Amin bahkan sebelum dilantik menjadi nabi, dihiasai dengan akhlaq mulia yang diakui bahkan oleh musuh-musuhnya, dibimbing di dalam bicara dan berda&#8217;wah. namun masih begitu banyak yang mendustakannya dan hidayah tak mereka peroleh. Maka bagaimana pula jadinya jika melalui seseorang yang bukan dipersiapkan oleh ALLAH <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em>, bukan utusan-NYA, tak dikenal sebagai Al Amin, belum terbukti akhlaqnya, serta tidak dibimbingan ALLAH di dalam bicara dan berda&#8217;wah?</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh benar ucapan Beliau<em> Shallallahu alaihi wa sallam</em> tentang apa yang akan terjadi:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong><br />
ستأتي على الناس سنون خداعة يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين</strong><strong> </strong><strong>وينطق فيها الرويبضة </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>قيل: وما الرويبضة </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>قال: السفيه يتكلم في أمر العامة.(مسند أحمد)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>&#8220;<em>Akan datang pada manusia masa yang penuh tipu daya. Para pendusta dianggap jujur, sebaliknya orang jujur dicap pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah, dan orang yang amanah dicap penghianat. Dan para <strong>Ruwaibidhah</strong> mulai angkat bicara.</em>&#8221; Ada yang bertanya:&#8221;<em>Apa itu <strong>Ruwaibidhah</strong></em>?&#8221; Beliau menjawab,&#8221;<em>Orang dungu yang sok berbicara tentang umat</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah saatnya zaman tersebut ! Zaman yang lebih buruk dari pada zaman ketika Beliau<em> Shallallahu alaihi wa sallam</em> diutus. Orang-orang jahiliyah di masa itu hanya mendustakan Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>. Mereka hanya mendustakan kebenaran, tetapi tidak pernah membenarkan kedustaan. Bahkan kedustaan dianggap sebagai akhlaq orang-orang rendahan. Mereka tidak pernah menjadikan kedustaan sebagai wasilah untuk menggapai maksud.  Mereka tidak pernah menghalalkan cara-cara hina guna mencapai tujuan . Perhatikanlah bagaimana ucapan Abu Sufyan ketika ditanya oleh Raja Najasi, Hiraklius, perihal Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>&#8220;&#8230;<em>Demi ALLAH. Kalaulah tidak takut malu akan disebut pendusta, sungguh          aku sudah berdusta tentangnya</em>&#8230;&#8221; (HR: Al Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka hanya menuduh dan mencap Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> sebagai orang gila yang dengan sihirnya memecah belah bangsa Arab, tidak lebih dari itu.  Tetapi mereka tidak pernah menganggap atau mencap orang-orang khianat sebagai amanah. Ketika itu, da&#8217;wah yang haq -dan yang disampaikan dengan cara yang haq- didustakan. Tetapi da&#8217;wah yang bathil -dan yang disampaikan dengan cara yang bathil-  tak pernah ada dan tak pernah mereka benarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun zaman sekarang, da&#8217;wah yang haq didustakan -dengan berbagai alasan-. sedangkan da&#8217;wah yang bathil dibenarkan dan dianggap benar -juga dengan berbagai alasan-. Khabar yang shahih diragu-ragukan, sedangkan cerita khayali dianggap suatu kebenaran. Da&#8217;wah yang haq ditinggalkan, sedangkan kedustaan dijadikan wasilah da&#8217;wah.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerpen, dongeng, sandiwara, dan yang semisal dengannya tidak lebih dari bentuk-bentuk kedustaan atau kebohongan yang dikemas dengan keindahan bahasa, alur cerita, dan cara pengungkapan. Tetapi hakekatnya tetap dusta. Sedangkan agama yang haq dan mulia ini sama sekali tidak membutuhkan bantuan atau topangan berbentuk kedustaan. Sungguh agama ini terlalu suci dan terlalu mulia untuk mengharapkan bantuan dan pertolongan dari kebathilan.</p>
<p style="text-align:justify;">(Artinya: &#8220;<em>Maka tak ada setelah AL Haq, selain kesesatan</em>.&#8221;) (Yunus: 32)</p>
<p style="text-align:justify;">Jika melalui pribadi yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa saja da&#8217;wah belum tentu menyebabkan seseorang mendapat hidayah. Maka apa yang diharapkan melalui da&#8217;wah yang dibangun di atas kedustaan ?</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas, apa artinya ucapan Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> -yang senantiasa mengawali khutbah-khutbahnya- bagi kita semua:</p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl">إن اصدق الحديث كتاب الله وخيرا الهدي هدي النبي&#8230;..</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, sebenar-benar pembicaraan adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk An-Nabi</em>&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas, apa sebabnya kita bisa membenarkan kedustaan? Menganggap dongeng khayali sebagai wasilah da&#8217;wah sama saja dengan membenarkan kedustaan, sekaligus mendustakan kebenaran. Bukankah Rasulullah S<em>hallallahu alaihi wa sallam</em> telah memperingatkan kita akan hal ini? Akankah peringatan itu kita dustakan pula?</p>
<p>Ya, inilah saatnya zaman tersebut ! Di mana kebenaran didustakan dan kedustaan dibenarkan.!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=32&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/06/17/%e2%80%9cketika-kebenaran-didustakan-dan-kedustaan-dibenarkan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;rumah belajar Ibnu Abbas&#8221;</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/rumah-belajar-ibnu-abbas/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/rumah-belajar-ibnu-abbas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 18:15:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi guru bagi anak-anaknya sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[metodologi pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[sistim pendidkan]]></category>
		<category><![CDATA[Tahfidz Al Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/rumah-belajar-ibnu-abbas/</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Latar Belakang &#8220;Didiklah anak mu. Karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu &#8221; [Hikmah]. Sya&#8217;ir di atas sangat masyhur di kalangan ulama dan tertulis hampir di setiap kitab yang membahas masalah pendidikan. Ia merupakan prinsip yang tak terbantahkan dan telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pendidik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=16&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar Belakang </span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&#8220;<strong><em>Didiklah anak mu. Karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu</em></strong> &#8221; [Hikmah].</p>
<p>Sya&#8217;ir  di atas sangat masyhur di kalangan ulama dan tertulis hampir di setiap kitab yang membahas masalah pendidikan. Ia merupakan prinsip yang tak terbantahkan dan telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pendidik, bahwa pendidikan haruslah berorientasi ke masa depan karena buahnya baru dapat dirasakan justru di saat yang berbeda dengan masa penanamannya. Artinya, sebuah pendidikan haruslah diilhami oleh kecenderungan-kecenderungan masa depan dan bukan dibangun dengan visi kekinian semata.</p>
<p>Sampai di sini seakan tak ada yang istimewa dari sya&#8217;ir di atas. Bukankah pendidikan yang &#8220;berorientasi pasar&#8221; pun merupakan wujud prinsip di atas?.</p>
<p>Benar, namun tentu tak sesederhana itu maksudnya, juga ia diucapkan bukan dalam konteks lapangan kerja. Sya&#8217;ir di atas tak dapat dilepaskan dari konteks &#8220;syar&#8217;i&#8221;, yakni Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Ia berbicara tentang Aqiedah, Ibadah,dan Akhlaq manusia di zaman di mana ummat tercerai-berai dalam kesesatan [Hadits Iftiroqul Ummah], perkara sholat dilalaikan [S.Maryam : 59],  rusaknya akhlaq, sementara Islam menjadi sesuatu yang asing [Hadits Al Ghurobaa].<span id="more-16"></span></p>
<p>Dengan demikian tentu yang dimaksud adalah agar kita mempersiapkan generasi yang kelak dapat bertahan hidup di atas syari&#8217;at Islam di zaman di mana urusan dunia telah membuat orang tak lagi mengenal SIAPA yang harus diibadahi dan bagaimana cara beribadah kepada-NYA.</p>
<p>Sayangnya kebanyakan kita masih meletakkan pendidikan ilmu syar&#8217;i di dalam posisi pasif, semata sebagai pelengkap kurikulum. Dan tentu saja terlambat jika syari&#8217;at Islam baru &#8220;dilirik&#8221; manakala telah terjadi kemerosotan akhlaq sebagai ekses &#8220;kemajuan&#8221; zaman. Karena mengasah iman dan akhlaq tentu tak semudah mengasah kecerdasan dan ketrampilan. Apalagi karena problema sosial itu timbul dari sistim yang ia [Islam] bukan sebagai <em>blue print</em>-nya.</p>
<p><strong>Agama adalah pedoman hidup. Melaluinya seseorang mengetahui untuk apa ia diciptakan, apa yang harus ia perbuat, apa yang mendatangkan manfa&#8217;at atau mudlarat  bagi dunia dan akhiratnya, apa saja yang harus diprioritaskan, serta kepada siapa ia harus memberikan loyalitas dan terhadap siapa ia harus berlepas diri.</strong></p>
<p>Untuk itu, seorang anak harus terlebih dahulu diperkenalkan kepada ilmu-ilmu syar&#8217;i [yang bersumber dari Al Qur'an dan As Sunnah] sebelum disibukkan oleh ilmu lainnya. Kepada anak ,sejak dini harus ditanamkan sikap mendahulukan ilmu-ilmu<em> fardlu &#8216;ain</em> di atas ilmu-ilmu <em>fardlu kifaayah</em>. Hanya dengan cara inilah akan tumbuh kelak generasi yang sadar akan kedudukannya sebagai hamba-Allah, terlebih di zaman di mana <em>hedonisme</em> [pengagungan dunia] sudah ditanamkam secara sistimatis kepada anak-anak kita sejak dini.</p>
<p>Lagi-lagi disayangkan, pendidikan yang diterima anak-anak kita tidaklah demikian. Mereka harus menanggung beban yang lebih berat dibandingkan dengan sebayanya. Karena pada saat yang bersamaan harus mempelajari apa-apa yang wajib mereka kuasai sebagai muslim di samping pelajaran-pelajaran yang tak ada sangkut pautnya dengan keislaman dan keimanan mereka. Mereka dituntut menjadi muslim yang &#8220;utuh&#8221; lewat sistim pendidikan yang sama sekali bukan dirancang untuk itu. Tentu saja tidak adil jika kita menuntut mereka menjadi anak sholeh sementara kita tidak pernah mempersiapkan mereka untuk menghadapi gaya pendidikan massa, informasi massa, dan konsumsi massa yang tidak memihak kepada kebutuhan mereka.</p>
<p>Sementara itu, metodologi pengajaran yang ditempuh sekolah-sekolah Islam atau madrasah yang ada pun belum sepenuhnya mencerminkan penjabaran yang tepat atas konsep-konsep kognitif [penalaran], affektif [penghayatan], dan  motorik [ketrampilan], baik dalam mensifati ilmu, metode penyampaiannya, maupun yang berkenaan dengan perkembangan kemampuan anak. Penentuan prioritas materi dan pemilihan metode yang secara tak langsung menggiring anak ke tradisi berpikir &#8220;rasionalis&#8221; membuktikan betapa dominannya pendekatan kognitif pada kurikulum awal anak-anak kita. Padahal siapa pun tahu, kemampuan anak itu berkembang mulai dari yang bersifat motorik, lalu affektif, baru kemudian kognitif. Dan konsep ilmu serta akal dalam Islam tidak identik dengan sekedar rasional. Akibatnya, yang terasa sekarang, daya mengingat anak-anak kita menjadi lemah, dan semakin cerdas mereka semakin sulit pula baginya untuk menerima hal-hal yang seharusnya cukup diimani.</p>
<p>Agaknya, yang tampak di permukaan,  bertumpuknya beban kurikulum dan kekeliruan metodologis inilah yang paling berat dihadapi anak-anak kita. Kenyataan ini menggiring para orang tua kepada pilihan-pilihan yang sama pahitnya. <span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>, membiarkan anak menanggung beban kurikulum berlebihan dalam sistim pendidikan yang mencetak hanya muslim &#8220;tanggung&#8221;. <span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>, membiarkan anak tumbuh menjadi muslim &#8220;rasionalis&#8221; yang penguasaannya terhadap ilmu-ilmu syar&#8217;i lemah. <span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span>, memaksakan anak masuk pesantren yang sepenuhnya mengajarkan ilmu-ilmu syar&#8217;i dan meninggalkan sekolah konvensional hanya lantaran khawatir terhadap model pergaulan tidak islami, sementara mereka tidak mengerti atau tak dapat membedakan apakah yang diajarkan di sana sesuai dengan Sunnah atau justru bid&#8217;ah. <span style="text-decoration:underline;">Keempat</span>, mengeluarkan biaya lebih banyak untuk mengecap janji-janji yang ditawarkan oleh model <em>Boarding School</em>/ Sekolah Terpadu yang dewasa ini sedang <em>ngetrend</em>.</p>
<p>Ya, ternyata persoalan yang sedang kita hadapi ini ada di dalam pendidikan itu sendiri dan bukan di luarnya. Kekhawatiran berlebihan yang sering digembar-gemborkan tentang dampak negatif era globalisasi sesungguhnya hanyalah cermin kebimbangan jiwa yang rapuh sebagai produk sistim dan metode pendidikan yang berlaku selama ini. Dan perlu disadari, bahwa sesungguhnya sistim pendidikan berhubungan dan merupakan cermin dari sebuah sistem sosial. Pendidikan diselenggarakan <span style="text-decoration:underline;">di dalam</span> sekaligus <span style="text-decoration:underline;">untuk</span> cita-cita/ideologi sistem tersebut. Dengan demikian sampailah kita pada kesimpulan bahwa persoalan ini[pendidikan] lebih dari sekedar bersifat teknis-metodologis. Ia juga harus dilihat sebagai persoalan struktur-ideologis.</p>
<p>Untuk itu, pertama-tama kita harus kembali kepada keyakinan, bahwa pendidikan haruslah berorientasi ke masa depan. <span style="text-decoration:underline;">Atas dasar</span> sekaligus <span style="text-decoration:underline;">ke arah</span> itulah  persoalan teknis-metodologis didisain. Dengan demikian perlu pendataan tentang Masa Depan [Tantangan dan Harapan] di samping tentang Masa Kini [Kendala dan Peluang]. Dari sinilah rancang bangun struktur-ideologis pendidikan yang berwawasan masa depan diaktualisasikan.</p>
<p><strong><em>Tantangan</em></strong> masa depan di sektor fisik-material ditandai dengan menipisnya sumber daya alam, meningkatnya polusi terutama di negara-negara &#8220;berkembang&#8221;, ledakan penduduk di perkotaan akibat urbanisasi, dan menyempitnya lapangan pendidikan dan pekerjaan. Di sektor non fisik/in-material anggota  masyarakat masa depan potensial untuk menjadi sangat egois. Pergeseran nilai-nilai menjadikan masyarakat, pada situasi tertentu, mudah mengalami alienasi. Perubahan-perubahan yang sangat cepat mempermudah pula terjadinya instabilitas sosial. Gambaran ini tentu dengan asumsi bahwa masa depan &#8220;hadir tanpa kendali&#8221;.</p>
<p>Namun demikian, masa depan juga membersitkan <strong><em>harapan-harapan</em></strong>. Kemajuan besar di bidang  iptek membuat segala teknologi dan informasi menjadi mudah dan murah. Dengan demikian, tingkat mobilitas sosial,  baik dalam pengertian fisik maupun struktural menjadi semakin tinggi. Ini semua memberikan pengaruh yang sangat besar di bidang sosial. Masyarakat menjadi semakin terbuka, mandiri, dan relatif lebih egaliter.</p>
<p>Sementara itu, berbagai <strong><em>kendala</em></strong> pun melingkar dan menghadang di hadapan kita. Produk metode dan gaya pendidikan masa kini sering kalah cepat dalam merespon kemajuan iptek dengan segala implikasinya. Gaya pendidikan sentralistik dan semakin birokratis yang terus dipertahankan, demi alasan ideologis yang disembunyikan, menjadikan pendidikan lebih sebagai proses pengkaburan dan pemasungan ketimbang proses pencerahan dan pembebasan.</p>
<p>Terbatasnya  ruang bagi penyelenggaraan sistim pendidikan konvensional di samping rusaknya keseimbangan demografi bukanlah semata kesalahan tata ruang di dalam program pembangunan  perkotaan atau pedesaan. Ini lebih merupakan bukti kesalahan paradigmatik dari teori pembangunan yang dianut oleh hampir semua  negara &#8220;berkembang&#8221;. Dampak kesalahan ini bahkan menimpa sampai kepada sistem sosial yang terkecil, yakni keluarga.</p>
<p>Peranan keluarga terus mengalami pelemahan disebabkan semakin beragamnya diciptakan unit kerja  yang merampas peranan mereka, khususnya kaum ibu.      PRT, TK, <em>Play</em> <em>Group</em>, dan <strong>T</strong>empat <strong>P</strong>enitipan <strong>A</strong>nak telah membuat anak terlatih melonggarkan ikatan emosionalnya dengan keluarga sejak dini. Maka melemahnya kontrol sosial dan kecenderungan kehilangan jati diri anggota masyarakat merupakan konsekuensi yang sangat logis.</p>
<p>Di samping kendala, masa kini juga menyisakan <strong><em>peluang-peluang</em></strong>. Termasuk peluang untuk memperbaiki sistim pendidikan kita. Perubahan waktu yang sedemikian  cepat  memaksa setiap perencana pendidikan berbicara dalam jangkauan abad, bukan lagi tahun. Karena itu, sudah waktunya ide-ide besar di segala sektor dilahirkan. Itu artinya mungkin saja terjadi perubahan-perubahan paradigmatik, khususnya di bidang pendidikan. Hanya melalui perubahan-perubahan paradigmatik lah akan lahir bentuk pendidikan yang minimal membebaskan ketergantungan masyarakat pada sekolah, meningkatkan kesadaran dan peran keluarga serta masyarakat terhadap pendidikan, berpijak pada realitas, murah , serta memperhatikan pentingnya keseimbangan demografi dan lingkungan hidup, yang kesemua ini merupakan karakter dominan pendidikan masa depan. Inilah yang tengah dirintis oleh  <strong>rumah belajar Ibnu Abbas</strong> sejak 1998 di wilayah Tanah Baru Beji Depok.<span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Tujuan</span></strong></p>
<p>Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa pendidikan awal yang disodorkan  kepada anak-anak kita dewasa ini sungguh sangat tidak memadai bagi terwujudnya anak yang sholeh. Pilihan yang ditawarkan tidaklah secara otomatis menyelamatkan mereka dari kekeliruan-kekeliruan teknis-metodologis yang berlaku, terlebih karena basis ideologinya tidak berubah. Maka diperlukan langkah-langkah konstruktif berbasis agama yang benar melalui pemahaman yang juga benar.</p>
<p>Rumah Belajar Ibnu Abbas dengan Pemahaman dan Metode Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah mendidik <strong>anak</strong> untuk:</p>
<ul>
<li>Menghargai Ilmu.</li>
<li>Menyadari dan mengembangkan Keterampilan, Penghayatan, dan Penalaran sesuai dengan perkembangan usianya.</li>
<li>Mampu <span style="text-decoration:underline;">mengamalkan</span> Hukum dan Perintah Allah <em>Subhaanahu wa ta&#8217;alaa</em> sebagai jalan untuk <span style="text-decoration:underline;">mengimani</span> Ketentuan dan Kehendak-Nya.</li>
<li>Mengenal dan mengamalkan prinsip-prinsip menentukan prioritas nilai dan tindakan.</li>
<li>Belajar dalam situasi apapun.</li>
<li>Kreatif dan produktif.</li>
<li>Mengenal dan ramah terhadap lingkungan.</li>
</ul>
<p>Rumah belajar Ibnu Abbas mendidik <strong>orang tua</strong> untuk:</p>
<ul>
<li>Mampu menjadi guru bagi anak-anaknya sendiri.</li>
<li>Terlibat penuh di dalam persoalan pendidikan.</li>
</ul>
<p>Rumah Belajar Ibnu Abbas mendidik <strong>masyarakat</strong> untuk:</p>
<ul>
<li>Menghancurkan sekat yang memisahkan antara sekolah dengan rumah.</li>
<li>Menyadari dan menghargai lingkungannya sebagai media belajar.</li>
</ul>
<p>Dari <strong>Rumah Belajar</strong> inilah kita ciptakan <strong>Lingkungan Belajar</strong> untuk membangun <strong>Masyarakat Belajar.</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Nama dan Bentuk Kegiatan</span></strong></p>
<p>Kegiatan ini kami namakan Rumah Belajar, yakni sebuah konsep &#8220;pendidikan bukan sekolah&#8221; tingkat dasar enam tahun, di mana anak usia belajar tingkat dasar dilatih cara belajar dan menjadikan rumah guru-gurunya sebagai lokasi belajar di samping masjid dan fasilitas-fasilitas umum di sekitarnya, meliputi pelajaran-pelajaran sbb:</p>
<ul>
<li>Tahsin Al Qur&#8217; an (Belajar membaca dan memperbaiki cara membaca Al Qur&#8217;an)</li>
<li>Tahfidz Al Qur&#8217;an (Menghafal Al Qur&#8217;an sampai selesai / 30 Juz)</li>
<li>Tahfidz Al Hadits (Menghafal Hadits-hadits Aqiedah, Fiqh, dan Akhlaq)</li>
<li>Tahfidz Al Mutun (Menghafal kitab ringkas : Ushuluts Tsalatsah / Al Ujurumiyah)</li>
<li>Do&#8217;a &amp; Dzikir (Menghafal do&#8217;a dan dzikir sehari-hari)</li>
<li>Imla/Khot (Belajar cara menulis huruf Hija&#8217;iyah (Arab))</li>
<li>Aqiedah</li>
<li>Fiqh (Belajar teori dan praktek ibadah : Seputar Sholat dan Puasa)</li>
<li>Akhlaq</li>
<li>Bahasa Arab</li>
<li>Ilmu Tajwid</li>
<li>Bahasa Indonesia</li>
<li>Matematika</li>
<li>Keterampilan</li>
<li>Olah Raga</li>
</ul>
<p>Kegiatan belajar dimulai dari pukul 05.00 pagi (setelah sholat berjama&#8217;ah di masjid) s/d 17.30  dengan istirahat tidur siang.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=16&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/rumah-belajar-ibnu-abbas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Ideologi Pendidikan Kita&#8221;</title>
		<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/ideologi-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/ideologi-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 18:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Formington Scheme]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Mc Clelland]]></category>
		<category><![CDATA[moderenisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Padat Karya]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[rekayasa sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Siap pakai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/ideologi-pendidikan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Diakui atau tidak, dunia pendidikan kita sungguh telah terperangkap ke dalam kemelut yang mungkin belum pernah terbayangkan semula. Kritik sistim dan bongkar-pasang kurikulum -seperti yang ditempuh selama ini- ternyata tak pernah memuaskan. Maka apa salahnya jika kita melirik kepada ideologinya. Mungkin di sana ada jawabnya. Pendidikan adalah bagian dari rekayasa sosial. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=15&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p><em>Diakui atau tidak, dunia pendidikan kita sungguh telah terperangkap ke dalam kemelut yang mungkin belum pernah terbayangkan semula. Kritik sistim dan bongkar-pasang kurikulum -seperti yang ditempuh selama ini- ternyata tak pernah memuaskan. Maka apa salahnya jika kita melirik kepada ideologinya. Mungkin di sana  ada jawabnya.</em></p>
<p>Pendidikan adalah bagian dari rekayasa sosial. Melalui pendidikanlah  masyarakat dibentuk dan diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu. Tetapi pendidikan juga merupakan produk masyarakat. Dengan kata lain, ia juga bisa dilihat sebagai sebuah proses sosial. Sebab, bagaimanapun sistim atau modelnya, pendidikan tak mungkin terbebas dari pengaruh kesadaran dunia, cita-rasa, dan selera tertentu. Bahkan sangat boleh jadi ia dibentuk di bawah tekanan belenggu-belenggu struktural yang sedang berlaku.</p>
<p>Di dalam kritik ideologi (bukan kritik sistim) kita tak akan bertanya, misalnya; berapa sekolah telah dibangun, berapa sarjana telah dihasilkan, serta bagaimana kualitasnya atau bagaimana meningkatkan semangat belajar pada siswa. Kritik ideologi berbicara tentang sejarah, aspek psiko-sosiologis, bentuk dan isi pendidikan, serta hubungannya dengan tingkah laku masyarakat.</p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p>Feodalisme, masyarakat agraris, pengalaman dijajah 350 tahun, dan situasi dunia internasional merupakan di antara faktor yang mempengaruhi bentuk dan ideologi pendidikan bangsa Indonesia. Tentu saja kita pun tak boleh lupa, bahwa &#8220;Politik Ada Maunya&#8221;  merupakan pelajaran pertama yang kita warisi dari penjajahan Belanda.</p>
<p>Pribumi -ketika itu- dididik dan dicetak menjadi <em>administrateur, </em> tidak lain untuk dijadikan kaki-tangan politik kolonialis-imperialis mereka. Karenanya wajar kalau kemudian -setelah merdeka- kursi para pengambil keputusan didominasi mereka yang berselera dan bercita-rasa &#8220;indo&#8221;. Sebab hanya merekalah yang siap. Meski mereka adalah nasionalis-nasionalis sejati dan telah berjasa bagi republik ini, namun tak bisa dipungkiri bahwa -secara tak langsung- lewat sebagian dari mereka pulalah pengkultusan terhadap &#8220;barat&#8221; mulai ditanamkan. Dan yang demikian terjadi hampir di setiap bekas negara jajahan. Dendam terhadap penjajah secara menakjubkan berubah menjadi rasa &#8220;berterimakasih&#8221;. Kemudian mulailah &#8220;barat&#8221; menjadi acuan segala nilai kebajikan. Menjadi tolok ukur kesejahteraan, demokrasi, toleransi, atau apa saja. Di dalam suasana kejiwaan semacam inilah bangsa kita tumbuh dan dibesarkan</p>
<p>Di awal masa kemerdekaan kita tak punya pilihan selain meneruskan target-target lama. Tentu saja kali ini di dalam semangat nasionalisme. Pendidikan diselenggarakan di dalam rangka memenuhi kebutuhan sektor negara. Dan karena hampir seluruh sektor swasta hanya dikuasai keturunan Arab, Cina, dan India, mengabdi sebagai pegawai negeri seakan menjadi manifestasi semangat mengisi kemerdekaan ketika itu.</p>
<p>Tetapi karena belum banyak orang pintar, apalagi karena sebelumnya Belanda hanya mendirikan sekolah tinggi untuk hukum, teknik, dan kedokteran saja, jangan heran kalau ketika itu ada sarjana duduk di kementerian mengurus masalah di luar disiplin ilmu yang ia kuasai. Begitu juga di dunia pendidikan, tak sedikit yang mengajar bahkan diangkat menjadi guru besar di bidang spesialis yang mereka bukan ahlinya. Tentu ini berakibat tidak saja kepada mutu, tetapi juga kepada paradigma ilmunya.</p>
<p>Lahirnya jaringan kerja-sama antara perguruan tinggi nasional dengan universitas-universitas seperti Cornell University, UCLA, atau Massachusetss Institute of Technology di tahun 50-an ikut mewarnai perkembangan ilmu dan pendidikan kita. Indonesia pernah menjalin hubungan &#8220;Bapak-Anak Angkat&#8221; dengan Cornell University. Program ini secara tak langsung mempengaruhi bentuk kurikulum perguruan tinggi kita ketika itu dalam hal: apa yang harus  dan apa yang tak perlu dipelajari, obyek penelitian, serta metodenya. Kalau Marshall Plan &#8220;membantu&#8221; kita supaya bisa jadi partner dagang, maka program -yang popular dengan sebutan <em>Formington Scheme </em>ini<em>-</em> &#8220;membantu&#8221; kita agar bisa jadi <em>sparing partner</em> berpikir. Ini merupakan pelajaran selanjutnya bagi bangsa kita tentang  &#8220;Politik Ada Maunya&#8221;.</p>
<p>Situasi politik awal tahun 60-an mengubah arah perkembangan keilmuan dan pendidikan kita ketika itu. Kerja sama dengan universitas-universitas Amerika terputus. Ilmu-ilmu sosial berparadigma sosialis mulai tampil. Buku pelajaran sejarah juga ikut disesuaikan dengan haluan politik saat itu. Menjadi orang kaya ketika itu identik dengan kapitalis. Meski telah berjasa menciptakan lapangan kerja, wiraswastawan yang sukses mudah dicurigai telah berkolaborasi dengan imperialis, atau dituduh sebagai antek-anteknya. Akhirnya tak sedikit orang menempuh &#8220;jalur partai berkuasa&#8221; sekedar demi mempertahankan hidup.</p>
<p>Ketika Orde Baru berkuasa, keadaan berbalik. Pulangnya para sarjana kita dari studinya di Barat menambah barisan orang pintar. Para pendekar yang baru turun gunung itu mengoleh-olehi kita ilmu dan teori-teori sosial yang lagi &#8220;ngetren&#8221;, <em>Modernism</em>-nya Mc Clelland misalnya. Kita juga diperkenalkan dengan macam-macam isme pembangunan. Dan kita menjadi tak lagi canggung bergaul dengan mazhab-mazhab yang dominan di Berkeley, Sorbone, atau tempat-tempat lainnya, yang sedikit banyak juga bicara pendidikan.</p>
<p>Meski tidak semua agennya dari bangsa kita itu langsung berselera Amerika atau Prancis, tetapi kesan keberpihakan kepada logika-logika liberalis -baik dalam teori-teori yang diajarkan di sekolah-sekolah maupun dalam praktek sosialnya yang berwujud kebijakan-kebijakan pemerintah-  sangat terasa. Ditandai dengan banyaknya orang pintar memainkan peran ganda, sebagai teoritisi yang mengajar di perguruan-perguruan tinggi sekaligus sebagai teknokrat.</p>
<p>Keadaan ini menguntungkan pemerintah, tetapi tidak bagi perkembangan ilmu. Yang diajarkan di perguruan tinggi tak lebih dari teori-teori yang membenarkan kebijakan pemerintah. Meski demikian, ada pula baiknya, karena hal itu telah menghidupkan banyak pihak. Dan entah,  apakah ini juga termasuk pelajaran tentang  &#8220;Politik Ada Maunya&#8221;?</p>
<p>Agaknya zaman ketika itu pun berpihak untuk memenangkan isme yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Dan ini sangat sesuai dengan kepentingan negara-negara kapitalis. Modal asing masuk, MNC-MNC (Multi National Corporation) hadir, kemudian industri-industri swasta pun tumbuh. Artinya, terbuka lagi lapangan kerja baru. Tetapi ternyata ini hanya menolong sesaat dan bagi sebagian orang saja. Sebabnya jelas. Industri-industri tersebut sudah tentu tidak dimaksudkan untuk jadi &#8220;panti asuhan&#8221;. Dan memaksakan konsep Padat Karya menurut logika bisnis mereka sama saja dengan bunuh diri.</p>
<p>Ketika ternyata pengangguran tidak berkurang, orang masih percaya bahwa kesalahan terletak pada <em>skill, </em>atau <em>mental</em> -kata sebagian lain. Solusinya,  pendidikan kewiraswastaan masuk kurikulum, fakultas-fakultas politeknik dibuka, serta BLK-BLK didirikan dan perusahaan-perusahaan swasta dihimbau untuk membuka kesempatan magang. Hasilnya? Lahirlah istilah &#8220;Tenaga Siap pakai&#8221;. Setiap orang bangga dengan status ini. Sekolah-sekolah menjadikannya tema promosi dan perusahaan-perusahaan pun berjanji membelinya.</p>
<p>Maka ketika industri tercanggih yang kita miliki, seperti IPTN -yang tidak semua orang Indonesia pantas direkrut kecuali putra terbaiknya saja-, ternyata harus juga mengurangi karyawannya, kita pun terperangah. Ternyata kita memiliki begitu banyak orang pintar lagi siap pakai sampai-sampai sulit menampungnya dan terpaksa tidak dipakai. Boleh jadi ada yang bertanya; kenapa surplus orang pintar dan siap pakai itu tidak dimanfaatkan untuk membuat cabang-cabang IPTN, walau sekedar untuk memproduksi layang-layang? Lantas apa artinya &#8220;Tenaga Siap pakai&#8221;? Kenapa ternyata mereka tidak siap untuk tidak dipakai? Kenapa tak kita didik saja mereka sejak awal untuk menjadi &#8220;Tenaga Siap Tak Terpakai&#8221;? Dengan kata lain, kenapa bukan istilah &#8220;Tenaga Siap Cipta&#8221; -misalnya- yang kita masyarakatkan?</p>
<p>Di dalam &#8220;cipta&#8221; ada makna kemandirian dan kemampuan. Sedang di dalam &#8220;pakai&#8221; ada makna ketergantungan dan ketidakberdayaan. Tergantung dan tak berdaya di dalam memilih dan menentukan, seakan tak punya pilihan, serta dipaksa untuk menerima apa yang disodorkan. Manusia menjadi tak lebih dari sekedar operator bagi sebuah teknologi, bahkan untuk sebuah ideologi. Lantas, siapa yang diuntungkan dengan istilah itu?  Mudah diduga, untuk kepentingan siapa sebenarnya istilah itu dimunculkan. Tentu itu bukan sekedar bahasa teknologi, apalagi psikologi. Itu bahasa ideologi!</p>
<p>Akhirnya, orientasi &#8220;Lapangan Kerja Selepas Sekolah&#8221; semakin mendominasi pertimbangan memilih bidang studi. Terlihat sekali ketika industri perbankan tumbuh menjamur, sekolah-sekolah manajemen keuangan dan yang sejenisnya pun langsung surplus peminat. Gayung pun bersambut, karena &#8220;Politik Ada Maunya&#8221; semua orang pun ramai-ramai bikin sekolahnya. Mencetak orang untuk dijadikan  <em>administrateur </em>para konglomerat. Kalau kemudian para alumninya berwiraswasta di bidang lain, itu terpaksa, karena ternyata penawaran lebih besar dari permintaan. Herannya, kita tak pernah berhenti percaya kepada janji-janji yang telah berulang kali memperdayakan, tak pernah berhenti berharap kepada teori-teori yang telah berulang kali mengecewakan.</p>
<p>Jelas ini masalah ideologi, jika pola-pola kebijakan pendidikan sepanjang sejarah ternyata tak pernah bersih dari &#8220;Politik Ada Maunya&#8221;. Selalu saja ada &#8220;vested interest&#8221;. Selalu saja berbau eksploitasi dari yang kuat terhadap yang lemah,yang kaya terhadap yang miskin, yang pintar terhadap yang bodoh, dan yang merdeka terhadap yang tak punya pilihan.</p>
<p>Akhirnya kita dipaksa mengerti mengapa misalnya, sekolah melarang murid membeli buku kecuali yang telah disediakan. Mengapa guru-guru ikut mengatur pengadaan seragam murid. Mengapa di kota besar murid diperebutkan sementara di desa mereka yang wajib belajar sulit menemukan sekolah.</p>
<p>Lebih dari itu, &#8220;Politik Ada Maunya&#8221; menimbulkan dampak psikologis sekaligus sosiologis bagi kita. Budaya curiga dan buruk sangka merupakan dampak psikologisnya. Kita curiga kalau ada siswa akrab dengan dosennya,  curiga kalau mendengar ada rencana perubahan kurikulum. Kita menjadi tak percaya pada keluhuran budi serta cenderung mencemoohkan sebagian orang -yang masih tulus-  dengan tuduhan dan anggapan-anggapan yang menghinakan. Dampak sosiologisnya, lahirnya berbagai bentuk kolusi dan nepotisme di dalam sistim sosial kita. Mekanisme pertahanan diri -untuk bertahan hidup- pun memaksa kita beradaptasi dengan situasi ini. <em>Symbiosis mutualistis</em>!!!  Semua berusaha mengambil keuntungan di dalam posisinya sebagai apa pun atau siapa pun.  Tak perlu ada yang merasa dirugikan atau ditipu. Yang ada hanya kepura-puraan. Pura-pura mengerti sekaligus pura-pura tidak mengerti!!!</p>
<p>Nah, kritik ideologi &#8211; yang saya maksudkan di atas-  itu bukan mempertanyakan ideologi dalam artian normatif. Dan jawabannya bukan pada deklarasi-deklarasi resmi, motto, atau retorika pejabat pemerintah. Tetapi di dalam rangkaian fakta; pengangguran terpelajar, ijazah AsPal, orientasi lapangan kerja selepas sekolah, minimnya guru dan sekolah di pedesaan (-sedangkan di perkotaan murid diperebutkan, sekolah mewah bertebaran, dan guru bejibun-), lembaga pendidikan bermasalah, komersialisasi, bentuk ketergantungan yang semakin kuat justru setelah melalui proses pendidikan,  serta konsep-konsep  -obyektif, ilmiah, netral atau rasional, bahkan indikator  kesejahteraan, kemajuan, dan keterbelakangan- yang melulu mengacu pada tolak ukur Barat.</p>
<p>Kita tidak pernah membuang keyakinan  &#8220;pendidikan merupakan proses moderenisasi, segala yang tidak sejalan dengan moderenisasi bukanlah pendidikan&#8221;. Itulah soalnya, itulah akar masalahnya. Ini andil sejarah!!!  Kemudian pendidikan menjadi &#8220;gengsi&#8221;, karena menyandang sekaligus menghasilkan atribut-atribut moderenisme. Karenanya, tenaga, uang, dan waktu harus dikerahkan ke sana. Otomatis pendidikan menjadi komoditi. Sehingga kebijakan apapun yang ditempuh, &#8220;Politik Ada Maunya&#8221; pasti ikut berpartisipasi.  Meletakkan akar masalah ini selalu dalam posisi di luar pembicaraan  -sebagaimana yang terjadi selama ini-  justru memperkuat dugaan bahwa itulah ideologi pendidikan yang kita anut selama ini. Atau, mungkin ada yang masih mau coba-coba mengatakan: ini bukan masalah ideologi?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com&amp;blog=2822486&amp;post=15&amp;subd=rumahbelajaribnuabbas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/03/22/ideologi-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f16637f253fbfa73b4f8b00030aea1df?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahbelajaribnuabbas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
