jump to navigation

“Pendidikan Kita Hari Ini” Maret 22, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Abu Khaulah Zainal Abidin

“Krisis Pendidikan!”kata sebagian orang. “Pendidikan kita amburadul!”kata yang lain. Para praktisi pendidikan sibuk kutak-katik sistim dan bongkar-pasang kurikulum. Tiba-tiba kembali perploncoan di satu perguruan -konon pencetak calon-calon pemimpin- menelan korban jiwa. Dan ini bukan yang pertama kali terjadi di negeri kita tercinta. Keributan dan salah-menyalahkan pun berulang. Sebagian orang berpendapat, solusinya: Ganti Menteri! Kemudian para pedagang pun bersiap-siap mengantisipasi rejeki. Itulah dunia pendidikan kita.

Gambaran di atas hanyalah apa yang tampak di permukaan. Tetapi bukan persoalan yang sesungguhnya. Persoalan sesungguhnya dan masalah terbesar di dalam pendidikan kita justru bermula dari cara pandang dan pemahaman kita sendiri tentang pendidikan. Yaitu, ketika kita menyamakan pendidikan dengan masa belajar, ketika kita membatasi pendidikan hanya dengan kecerdasan, ketika kita merumuskan pendidikan dengan kebutuhan pasar, dan ketika kita mengaitkan pendidikan dengan pembangunan. Sesungguhnya itulah sumber kesalahannya, dan itulah ideologi pendidikan yang kita anut selama ini. Maka -disadari atau tidak- jadilah pendidikan tak lebih dari sebuah komoditi pencetak robot-robot bengis yang melayani kepentingan ideologi-ideologi sekuler.

Sesungguhnya sebelum sampai kepada taraf “Pendidikan Untuk Mencerdaskan Bangsa” -sebagaimana sering kita baca dan dengar dari slogan- , pendidikan haruslah memiliki misi:

1. Pendidikan Amanah.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْأِنْسَانُ

إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً (الأحزاب:72)

(Sesungguhnya, telah Kami kemukakan amanat kepada langit, bumi ,dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh) (Al Ahzab: 72)

Melalui ayat di atas, tampaklah bahwa Amanah -berupa keta’atan dan kejujuran- adalah sesuatu yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa bebankan kepada manusia. Namun manusia menganggapnya sebagai suatu perkara yang sepele. Oleh karena itu ALLAH Subhaanahu wa ta’alla mencap manusia -karena sifatnya itu- dzalim dan bodoh.

Sesungguhnya Amanah dan sifat-sifat yang menyertainya, seperti jujur, menepati janji, dan tidak khianat merupakan dasar dari segala bentuk tanggung-jawab pada setiap pribadi -sebagai apapun dia-. Oleh karena itu, segala upaya dan sarana yang dapat menumbuhkan sifat amanah harus diciptakan. Pendidikan sejak dini harus diarahkan untuk menumbuhkan sifat amanah. Dan segala sarana yang dapat menghantarkan kepada sifat-sifat bohong, khianat, dan mungkir harus dihilangkan dari segala media pendidikan. Tentu kita semua telah melihat bagaimana jadinya kecerdasan tanpa dilandasi sifat amanah. Juga, sia-sialah jika kita masih mengira bahwa dongeng atau sandiwara dapat menjadi inspirasi dan motivator untuk menumbuhkan sifat jujur. Sebab, kemuliaan tak mungkin diwujudkan dari kehinaan, kejujuran tak mungkin dibangun dari kedustaan serta kepalsuan, dan Al Haq tidaklah membutuhkan topangan kebathilan.

2. Pendidikan Sopan-Santun dan Lemah-Lembut.

Sopan-santun serta lemah-lembut merupakan sifat-sifat mulia yang dapat menimbulkan rasa tenang dan hangat di dalam pergaulan bermasyarakat. Ini merupakan di antara sifat-sifat yang disukai ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiallahu anha:

يا عائشة، إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله ( متفق عليه)

Ya, Aisyah. Sesungguhnya ALLAH bersifat Lemah-Lembut, menyukai kelemahlembutan.” (Muttafaqun Alaih)

Di lain waktu Beliau Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada seorang sahabatnya :

إن فيك حصلتين يحبها الله. الحلم و الأناة (مسلم)

Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai ALLAH. Santun dan berhati-hati.” (HR; Muslim)

Dengan demikian sarana dan metode apa saja yang dapat menumbuhkan sifat mulia ini harus ditempuh. Pendidikan sejak dini harus diarahkan untuk menumbuhkan sifat-sifat sopan-santun dan lemah-lembut. Dan apa saja yang dapat menumbuhkan sifat-sifat sebaliknya, seperti kurang-ajar, tak tahu malu, atau beringas harus dihilangkan dari segala media pendidikan dan pemandangan kita sehari-hari. Tentu kita semua telah melihat bagaimana jadinya kecerdasan tanpa dilandasi sifat sopan-santun dan lemah-lembut.

3. Pendidikan Rajin.

Rajin merupakan satu sifat yang sangat dipuji dalam Islam. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam berbagai ungkapan menjelaskan keutamaan sifat rajin. Di antara lain ucapannya Shallallahu alaihi wa sallam adalah:

“Sungguh, seseorang mencari seikat kayu dan memikul sendiri di atas punggungnya lebih baik dari pada ia meminta-minta kepada orang lain, diberi atau ditolak.” (Muttafaqun Alaih)

“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah…..” (Muttafaqun Alaih)

“Sesungguhnya Daud -Alaihissalaam- makan dari hasil karya tangannya” (HR: Bukhari)

Berbagai ungkapan di atas -dan masih banyak lagi- menunjukkan betapa sifat rajin sangat ditekankan di dalam Islam. Maka hendaknya segala sarana dan metode yang dapat menumbuhkan sifat rajin pada bangsa ini harus diupayakan. Sebaliknya, segala sarana dan metode yang menumbuhkan sifat malas pada bangsa ini harus ditiadakan. Segala macam bentuk kamuflase dari kemalasan, ngamen misalnya, juga harus dihilangkan. Sejak dini anak harus dibentuk oleh kurikulum yang memacu sifat rajin. Tentu kita semua tahu, apa jadinya kecerdasan yang dibarengi dengan sifat malas, …… licik.

4. Pendidikan Kuat Dan Sabar.

Islam memuji sifat kuat dan mengaitkannya dengan sabar. Kuat, sabar, atau tabah merupakan modal di dalam mengarungi kehidupan -yang memerlukan perjuangan dan penuh dengan cobaan-. Perhatikan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan beberapa kalimat kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhu , yang ketika itu usianya belum mencapai sepuluh tahun:

“….Ketahuilah. Bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan manfa’at kepadamu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu ingin mencelakakanmu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah ALLAH tetapkan atas mu….” (HR: At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra)

“…Ketahuilah. Bahwa pertolongan ALLAH datang melalui kesabaran, bersama perjuangan ada pengorbanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan…”

Apa yang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ucapkan kepada Ibnu Abbas radhialllahu anhu menunjukkan, bahwa perkara kuat dan sabar sudah harus mulai diajarkan ma’nanya dan ditanamkan kepada anak sedini mungkin.

Maka, sarana dan metode apa saja yang dapat melahirkan serta menumbuhkan kepribadian yang kuat dan sabar harus diciptakan. Sebaliknya, segala sarana dan metode yang akan membentuk keperibadian cengeng, lemah, mudah patah semangat, mudah marah, dan mudah putus asa harus dihilangkan dari media pendidikan kita. Jangan biarkan bangsa ini mengkonsumsi hal-hal yang melemahkan jiwanya, berupa lagu-lagu cengeng dan film-film picisan. Sama dapat kita bayangkan: mungkinkah ada kecerdasan tanpa dibarengi kuat dan sabar?

Dengan pilar-pilar Amanah, Santun, Rajin, dan Kuat inilah kita meraih Kecerdasan. Kecerdasan yang bertanggung jawab, manusiawi, disyukuri, dan tahan uji. Maka salah besar jika keempat misi dasar pendidikan di atas hanya dibebankan kepada lembaga-lembaga pendidikan regular – sekolah atau pondok pesantren-, karena lembaga-lembaga ini terlalu kecil, terlalu singkat, dan terlalu lemah untuk menghadapi dunia. Media Massa, pasar, lingkungan hidup, bahkan seluruh lembaga Ipoleksosbud (Ilmu Pengetahuan, Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya) adalah sarana sekaligus media yang bertanggung jawab terhadap pendidikan bangsa.

Apa jadinya jika sebuah pribadi memiliki sifat tidak amanah, tidak santun, malas, dan lemah (cengeng)? Lantas bagaimana pula kalau itu sebuah bangsa? Sungguh, jangan berhayal walau untuk sekedar tampil semalam di panggung sandiwara. Buat apa masuk pasar kalau hanya jadi barang murahan. Buat apa ikut dalam pembangunan kalau hanya untuk jadi tumbal. Lupakan orientasi pasar, lupakan ideologi pembangunan! Buang jauh-jauh gambaran seolah-olah pendidikan itu hanya gawe sekolahan! Jangan menghayal bahwa kecerdasan adalah segala-galanya!

Sungguh, ini adalah sebuah kerja berat dan kita tak boleh berputus asa serta merasa pesimis untuk mengubah cara pandang kita dan masyarakat tentang pendidikan. Nabi kita Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kita:

“Bersemangatlah kalian kepada apa-apa yang bermanfa’at bagi kalian. Mohonlah pertolongan kepada ALLAH untuk itu dan jangan pesimis dan merasa lemah” (HR:Ibnu Majah dari Abu Hurairah –radhiallahu anhu-)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: