jump to navigation

“Berdo’alah kalian…!”

Abu Khaulah Zainal Abidin

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين

(Artinya: Dan rabb-mu berkata, “Berdo’alah kalian kepada-Ku. Niscaya Aku penuhi bagi kalian. …...

Alangkah indahnya panggilan ALLAH ini kepada kita -hamba-hamba-Nya-. Padahal sungguh Ia tidak butuh kepada kita. Bahkan seandainya seluruh manusia dan jin -dari awal penciptaan sampai yang terakhir- menjadi setaat-taat atau sejahat-jahat makhluq, sungguh yang demikian itu tak ada pengaruhnya sama sekali bagi ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, tak akan menambah atau mengurangi sama sekali Kekuasaan-Nya.

يا عبادي! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم. كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم. ما زاد ذلك في ملكي شيئا.

يا عبادي! لو أن أولكم وآخركم. وإنسكم وجنكم. كانوا على أفجر قلب رجل واحد. ما نقص ذلك من ملكي شيئا.

(“Wahai, hamba-hamba-Ku. Seandainya yang pertama dan yang terakhir dari kalangan jin dan manusia semua merupakan setaqwa-taqwa makhluq di antara kalian, tidaklah yang demikian itu menambah sedikitpun kekuasaan-Ku. Dan seandainya yang pertama dan yang terakhir dari kalangan jin dan manusia merupakan seburuk-buruk makhluq di antara kalian, tidaklah yang demikian itu mengurangi sedikitpun kekuasaan-Ku…”) (Hadits Qudsiy riwayat Muslim)

Ketika ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak membutuhkan namun tetap Ia memerintahkannya, itu artinya ALLAH sangat menyayangi hamba-Nya. Dan seluruh perintah serta larangan-Nya tidak lain karena kasih sayang-Nya dan demi kebaikan hamba-Nya. Itulah sebabnya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa cinta, suka kepada hamba yang berdo’a kepada-Nya dan murka kepada yang enggan berdo’a.

Ketika kita berdo’a, itu artinya:

Karena sudah tentu seseorang tak akan berdo’a dan meminta manakala dia mengetahui atau meyakini, bahwa yang diserunya itu tidak ada. Maka, melalui berdo’a kita mewujudkan keimanan dan keyakinan kita akan adanya ALLAH. Ya, dengan berdo’a -di antaranya- kita wujudkan keimanan kita akan adanya ALLAH Yang Mencipta, Memiliki, dan Mengatur alam semesta ini.

Ketika kita berdo’a, itu artinya:

Karena sudah tentu seseorang tak akan berdo’a dan meminta manakala ia mengetahui atau meyakini, bahwa yang diserunya itu tak akan atau tak mampu mendengarkannya. Sebagaimana tak mungkinnya seseorang mengutarakan maksudnya kepada seseorang yang tak mampu mendengar dan mengetahui isi pembicaraannya.

Maka, melalui berdo’a itu seseorang mewujudkan keimanannya terhadap sifat ALLAH Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui (السميع البصير.).

Termasuk di dalamnya adalah adanya pengakuan, bahwa ALLAH itu Maha Adil dan Maha Bijaksana. Karena mustahil seseorang mengadukan permasalahannya kepada yang tidak adil dan tidak bijak.

Ketika kita berdo’a, itu artinya:

Karena sudah tentu seseorang tak akan berdo’a atau meminta manakala ia mengetahui dan meyakini bahwa yang diserunya itu miskin dan tak mampu memberikan kekayaan. Sebagaimana tak mungkinnya seseorang meminta kepada seseorang yang telah dikenal miskin dan tak mampu memberikan apa-apa.

Maka, melalui berdo’a kita mewujudkan pengakuan kita akan sifat-sifat ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa -yang di antaranya adalah Maha Kaya dan Maha Memberi Kekayaan (الغني المغني)-.

Ketika kita berdo’a, itu artinya:

Karena sudah tentu seseorang tak akan berdo’a atau meminta manakala ia mengetahui atau meyakini, bahwa yang diserunya itu tak akan dan tak mampu memenuhi permintaannya. Sebagaimana tak mungkinnya seseorang meminta kepada seseorang yang telah dikenal pelit atau bakhil.

Maka, melalui berdo’a kita mewujudkan pengakuan kita akan sifat-sifat ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa -yang di antaranya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang (الرحمن الرخيم)-.

Dan pengakuan kita terhadap sifat-sifat ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa seperti di atas menunjukkan baik sangkanya kita kepada ALLAH Subahaanahu wa ta’alaa, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pasti mendengar dan memenuhi permintaan kita.

Ibnu Katsir –rahimahullah– menjelaskan tentang firman ALLAH ((ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ)):

“Ini merupakan keutamaan dan kemuliaan yang datang dari ALLAH, bahwasanya Ia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdo’a kepada- Nya seraya memberikan jaminan akan diijabah(dipenuhi)nya do’a mereka.”

Sebagaimana pula di dalam ayat yang lain:

(Artinya: “Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Kupenuhi permintaan orang-orang yang berdo’a, jika ia berdo’a kepada-Ku.Maka hendaknya mereka penuhi pula (-perintah-)Ku dan berimanlah kepada-Ku.”) (Al Baqarah: 186)

Dan berbaik sangka -yang antara lain ditunjukkan melalui berdo’a dengan tidak pernah jemu- kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa merupakan kewajiban seorang hamba kepada rabb-nya. Demikianlah yang disampaikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada kita:

عن جابر بن عبدالله الأنصاري، قال:سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قبل موته بثلاثة أيام، يقول

“لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل”.

(Dari Jabir bin Abdillah Al Anshary, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata -tiga hari sebelum wafatnya- ,”Janganlah di antara kalian mati, kecuali di dalam keadaan berbaik sangka kepada ALLAH Azza wa Jalla.”) (HR:Muslim)

Ketika kita berdo’a, itu artinya:

Karena sudah tentu seseorang tak akan berdo’a atau meminta, manakala ia sendiri merasa mampu memenuhi segala kebutuhan dan mengatasi segala masalahnya. Dan melalui berdo’a ini seseorang mengakui butuhnya ia akan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Juga melalui ini pula ia mengakui bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’ala satu-satunya yang layak dimintai pertolongan dan satu-satunya yang layak diibadahi.

Maka mengertilah kita akan sabda Junjungan kita ini Shallallahu alaihi wa sallam :

عن النعمان بن بشير؛ قال:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :إن الدعاء هو العبادة

(Dari An-Nu’man bin Basyir: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Do’a adalah ibadah.”) (HR;Ahmad)

Mengerti pulalah, mengapa Beliau Shallallahu alaihi wa sallam berucap -kepada Ibnu Abbas- :

إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله،

(“…Jika kau berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada ALLAH…”) (HR: At-Ttirmidzi)

Maka berdo’apun menjadi tolok ukur, apakah seseorang itu Muwahhidun (orang yang mentauhidkan ALLAH) atau Musyrikun. Seorang yang mentauhidkan ALLAH, niscaya senantiasa berdo’a dan meminta kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Sementara yang mensyarikatkan ALLAH senantiasa berdo’a dan meminta kepada selain ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.

Marilah senantiasa kita berdo’a kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Marilah kita awali, i ringi, dan sudahi setiap amalan kita dengan berdo’a kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Marilah kita jadikan do’a sebagai tameng kehidupan dan pemelihara baik sangkanya kita kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alla.

من لم يسأل الله يغضب عليه

(“…barang siapa yang tidak meminta (berdo’a) kepada ALLAH, niscaya Ia akan murka kepadanya.”) (HR: Al Bukhari)

Semoga kita tidak termasuk yang dimurkai ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, semata-mata karena malas berdo’a. Apalagi jika karena sombong dan merasa tak butuh kepada-Nya.

Sesungguhnya mereka yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, niscaya mereka akan masuk ke dalam jahannam dalam keadaan hina-dina.”) (Mu’min:60)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: