jump to navigation

“Gara-Gara Seekor Lalat…”

Abu Khaulah Zainal Abidin

عن طارق بن شهاب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : دخل رجل الجنة في ذباب ودخل رجل النار .

قالوا: وكيف ذلك يا رسول الله ؟

قال: مر رجلان على قوم لهم صنم وقالوا : لا يجوز أحد حتى يقرب له شيئا ، فقالوا له : قرب ولو ذبابا! ،

فقرب ذبابا فخلوا سبيله فدخل النار ، وقالوا للآخر : قرب! ، فقال : ما كنت لأقرب لأحد شيأ دون الله ،

فضربوا عنقه فدخل الجنة (رواه أحمد)

(Dari Thariq bin Syihab, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada pula yang masuk neraka.”

Kemudian para sahabat bertanya: “Bagaimana bisa begitu, ya Rasulullah?

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati satu kaum di mana mereka memiliki berhala yang tak seorangpun dibiarkan berlalu sebelum mempersembahkan sesuatu bagi berhala tersebut. Dan berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut : Persembahkanlah bagi berhala itu walaupun dengan seekor lalat! Maka orang pertama ini mempersembahkan seekor lalat sehingga diperkenankan meneruskan perjalanannya, dan masuklah ia ke dalam neraka (-gara-gara perbuatan tersebut-). Kemudian mereka berkata kepada orang kedua : Persembahkanlah sesuatu ! Maka orang kedua ini menjawab : Tidak patut aku mempersembahkan sesuatu kecuali kepada ALLAH saja. Maka mereka memenggal lehernya, dan masuklah ia ke dalam surga (-gara-gara perbuatan tersebut-).” (HR; Ahmad)

Ya, seekor lalat ternyata bisa menjadi gara-gara masuknya seorang hamba ALLAH ke dalam surga, juga ke dalam neraka. Dan sungguh tidaklah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdusta atau sekedar menakut-nakuti kita dengan cerita di atas. Apa yang Beliau Shallallahu alaihi wa sallam sampaikan tidak lain di bawah bimbingan wahyu, dan cerita di atas benar-benar terjadi.

Dan apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas adalah, betapapun tampak tak berartinya sebuah perbuatan, jika sudah menyangkut Hak ALLAH, maka ia menjadi urusan yang sangat besar. Karena hanya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sajalah Yang berhaq untuk diibadahi. Dan bukankah kita diciptakan tidak lain agar beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa semata ?

Sangat boleh jadi orang yang menyembelih sesuatu atau mempersembahkan sesembelihan karena dan untuk selain ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu menduga, bahwa perbuatan tersebut bukanlah ibadah. Sangat boleh jadi yang mereka anggap ibadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa itu, hanya sholat, shaum, zakat, haji, dan berdo’a atau berdzikir, sehingga mereka mengeluarkan nadzar dan nahar (menyembelih qurban) dari urusan ibadah. Padahal ibadah itu meliputi ucapan, perbuatan -baik yang tampak maupun yang tersembunyi- yang dicintai dan diridhoi ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, sebagaimana yang dita’rifkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-. :

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأعمال والأقوال الظاهرة والباطنة

Maka jika kemudian sering kita dapati manusia menyembelih binatang, baik sapi, kambing, ayam, atau apa saja -ketika hendak membangun sebuah bangunan- , terkadang juga dengan menanam kepalanya atau menyiramkan darahnya di tempat paling “strategis” dari bangunan tersebut, kemudian memakan sisa dagingnya, maka yang demikian menjadi sangat wajar -dilihat dari sisi kebodohan mereka serta kejahilannya akan perkara tauhid dan syirik-. Dan .itu semua termasuk perbuatan “menyembelih untuk selain ALLAH”.

Perbuatan ini bahkan jauh lebih besar perkaranya dibanding dengan apa yang dilakukan oleh salah seorang di dalam riwayat di atas. Apa yang diperbuat oleh orang di atas semata karena dipaksa, dan itupun tetap menyebabkannya masuk ke dalam neraka. Sedangkan apa yang diperbuat oleh kebanyakan manusia di zaman ini sungguh dilakukan tidak dibawah paksaan, bahkan dengan kerelaan dan suka ria.

Bukankah ALLAH SWT telah berfirman:

(Artinya: “Maka sholatlah karena rabb-mu dan berkurbanlah…”) (Al Kautsar: 2)

Bukankah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah berfirman:

(Artinya: “Katakanlah; sesungguhnya sholatku, sesembelihanku, hidup, dan matiku hanyalah untuk ALLAH Penguasa Alam Semesta. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.”) (Al An’aam: 162-163)

Bukankah orang-orang yang melakukan acara-acara semacam ini di dalam format “peresmian pembangunan” atau “selamatan pembangunan” adalah juga mereka yang mampu membaca Al Qur’an yang sudah tentu pernah pula membaca firman ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa di atas. Paling tidak, mereka pun mengucapkan di dalam do’a iftitah setiap kali mereka sholat:

إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Lain halnya jika yang melakukan upacara-upacara demikian adalah selain Al Muwahhidun (golongan yang mentauhidkan ALLAH). Ketika ada sekelompok manusia dari agama selain Islam melakukan upacara persembahahan kepada arwah-arwah, kepada penguasa bumi, atau lautan dengan melarungkan (menghanyutkan) persembahan mereka dengan harapan agar penguasa bumi dan lautan tersebut memberikan keselamatan atau tidak murka, maka akan kita katakan kepada mereka: Lakum diinukum wa liyadiin.

Namun manakala yang melakukannya adalah mereka yang setiap hari bersaksi : Laa ilaaha illa’llah, akankah hal itu kita diamkan ? Bukankah mereka terancam dengan laknat ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa disebabkan perbuatan tersebut? Perhatikan apa yang diucapkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam -pribadi agung yang paling tahu bagaimana menyayangi umat manusia, karena memang ia diutus sebagai rahmat – :

لعن الله من ذبح لغير الله

(ALLAH melaknat orang yang menyembelih binatang dengan niatan bukan karena ALLAH) (HR:Muslim)

Maka hendaknya kaum muslimin mengambil perhatian tentang perkara penyembelihan. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membawakan kisah tentang lalat yang menjadi gara-gara seseorang masuk ke dalam surga atau neraka, hendaknya kita menyadari, bahwa meski sebabnya adalah perkara yang tampak sepele, namun jika terkait dengan Hak ALLAH, maka urusannya menjadi besar. Juga kita diingatkan akan pentingnya perkara niat, walau sekedar di dalam perkara yang tampak sepele.

Lebih dari itu, Islam bahkan melarang melakukan penyembelihan atau persembahan -sekalipun perbuatan tersebut dibenarkan oleh syari’at serta diniatkan karena ALLAH- di tempat-tempat di mana di sana terdapat berhala, bekas berhala, atau pernah jadi tempat hari raya orang-orang musyrik.

عن ثابت بن الضحاك رضي الله عنه، قال: نذر رجل أن ينحر إبلاً ببوانة، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم

فقال: (هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد)؟

قالوا: لا.

قال: (فهل كان فيها عيد من أعيادهم)؟

قالوا: لا.

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أوف بنذرك، فإنه لا وفاء لنذر في معصية الله،

ولا فيما لا يملك ابن آدم) [رواه أبو داود، وإسنادها على شرطهما]

(Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiallahu anhu, berkata: “Ada seorang bernadzar akan menyembelih seekor unta di (-daerah-) Buwaanah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun bertanya: Apakah di tempat itu pernah ada salah satu dari berhala-berhala jahiliyah yang disembah? Mereka menjawab: Tidak. Beliaupun kembali bertanya: Apakah di tempat itu pernah dilaksanakan perayaan dari hari besar mereka? Mereka menjawab: Tidak. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda: Penuhilah nadzarmu itu. Akan tetapi nadzar yang bersifat maksiat kepada ALLAH tidak boleh dipenuhi, juga nadzar dalam perkara yang bukan milik manusia.”) (HR: Abu Dawud. Sanadnya sah menurut syarat Al Bukhari dan Muslim)

Maka berdasar keterangan hadits di atas, terlarang pula bagi kita untuk melakukan upacara nadzar -sekalipun perkara tersebut dibenarkan syari’at dan diniatkan karena ALLAH- di tempat yang telah menjadi tempat yang dikenal sebagai tempat orang musyrik melakukan ibadah atau perayaan hari besar mereka, walau peristiwa itu telah lama berlalu dan tidak lagi ada sekarang. Karena penyerupaan dalam lahir dapat mengakibatkan penyerupaan dalam bathin. Itulah pula ma’na peringatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

من تشبه بقوم فهو منهم

(“Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka ia termasuj kaum tersebut) (HR:Abu Dawud)

Dan perkara ini –tasyabbuh bilkuffar– juga tampaknya adalah perkara yang kebanyakan kaum muslimin menganggapnya sepele. Benar, tidak sedikit perkara-perkara yang dianggap sepele ternyata urusannya besar. Ya, gara-gara seekor lalat pun seseorang bisa masuk ke dalam surga atau ke dalam neraka!!!

Komentar»

1. abul-jauzaa - Juni 17, 2009

Sebagai catatan kecil saja, bahwa riwayat yang disebutkan di awal yang benar adalah mauquf. Bukan marfu\’.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd (hal. 22), Ibnu Abi Syaibah (12/358) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/203).

Lihat Takhrij wa Tahqiq ’alaa Kitaab Al-Jawaabul-Kaafiy li-Ibnil-Qayyim oleh ’Amr bin ’Abdil-Mun’im Saliim (hal. 84-85).

2. mas akhyar - Mei 31, 2011

mohon izin kopi

3. Anonim - Januari 14, 2014

minta izin utk menkopi

4. sjamsuri - Juni 18, 2015

mohon izin mengkopi utk disharkan ke teman-2, terimakasih

5. hermanto - Mei 15, 2016

Sangat bermanfaat izin copy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: