jump to navigation

2.Rumah Kami

Dengan Pemahaman dan Metode Ahlus-Sunnah wal Jama’ah Rumah Belajar Ibnu Abbas mendidik anak untuk:

Rumah belajar Ibnu Abbas mendidik orangtua untuk:

Rumah Belajar Ibnu Abbas mendidik masyarakat untuk:

Dari Rumah Belajar inilah kita ciptakan Lingkungan Belajar untuk membangun Masyarakat Belajar.

Temui kami di Jl. Niin / Ibnu Abbas no: 60.
(belakang Masjid Fatahillah)
Tanah Baru – Beji RT: 05/0 Depok
HP: 081-385637967

Komentar»

1. Rafa - Juni 17, 2008

Mohon maaf, saya agak tertarik dengan blog ini. Bila berkenan, saya ingin mendapatkan informasi awalnya:
– Siapa nama pengasuh/pimpinan di Rumah Belajar Ibnu Abbas?
– Apakah beliau lulusan dari IAIN/Universitas di Indonesia/luar?
– Jenjang pendidikan yang ada, setaraf SD/SMP/SMA?

Terima kasih dan Salaam,
Rafa

2. Rafa - Juni 27, 2008

Terima kasih atas balasan emailnya Bapak Abu.

Sepertinya menarik, agak berbeda dari sistem pendidikan yang ada di masyarakat.

Ada pertanyaan lagi:
1. Sistem pendidikannya/kurikulumnya sama dg SD umum, madrasah, homeschooling, atau pondok pesantren?
2. Apakah staf pengajarnya lulusan dari IAIN/Universitas di Indonesia/luar?
3. Apakah sistem pendidikan ini diakui/bekerjasama dengan Depdiknas/Depag? Dan kelak lulusannya mendapatkan ijazah yang diakui oleh pemerintah dalam hal ini Depdiknas/Depag?

Terima kasih dan Salaam,
Rafa

3. rumahbelajaribnuabbas - Juni 28, 2008

1. Kami tidak mengatakan sama dengan SD Umum. Madsasah, Homeschooling, atau Pondok Pesantren. Cukup bagi Rafa untuk melihat di tulisan kami, apa itu rumah belajar Ibnu Abbas. Saya rasa cukup jelas.
2. Ya, staff pengajarnya ada yang lulusan DN, ada pula yang dari LN. Tetapi tdkm ada yang dari IAIN.
3. Belum diakui, atau tepatnya belum terdaftar. Adapun Ijazah, akan kami usahakan bagi yang memerlukan dengan mengikuti ujian persamaan.
4. Tambahan: Jangan bandingkan kami dengan yang pernah Rafa pikirkan. Kami bukan SD, Madrasah, Homeschooling, atau Pondok Pesantren dalam pengertian sebagaimana nama-nama/istilah itu dikenal.

4. Muhammad bin Shafwan Al-Acehi - Juli 8, 2008

Bismillah,
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Hayyakallah ya ustadz wa baraka fi ‘umrikum.

Menurut ana, blog ini sudah bagus.. Artikel soal pendidikan (di luar kutipan Buletin) favorit ana adalah “Ideologi Pendidikan Kita” sama “rumah belajar Ibnu Abbas”. Karenanya, ana berdoa semoga Allah membalas Antum dan semua yang berpartisipasi di belakang RBIB (Rumah Belajar Ibnu Abbas) dan blognya ini dengan kebaikan yang banyak.

Tapi kayaknya kalau ditambah dengan beberapa hal berikut ini akan lebih ciamik deh, hehehe..
– Ada sebagian orang yang nggak mau membaca KEBENARAN kalau tidak ada “atribut2” seperti daftar pustaka, sumber kutipan, dan yang sejenisnya. Ana rasa tidak ada salahnya kita memfasilitasi orang-orang ini dalam hal ini. Apalagi termasuk ciri ahlissunnah adalah keilmiahan dalam pembicaraan dan tulisan mereka.
– Alangkah baiknya jika ada profil singkat tentang penggagas atau penanggung jawab RBIB atau blognya ini–ngga usah panjang2, yang penting informasi globalnya aja. Dan untuk masalah ini, sebagaimana yang Antum juga mungkin sudah tahu, Asy-Syaikh Al-Walid ‘Ubaid Al-Jabiri memiliki himbauan khusus mengenai orang2 yang bergelut di internet (lihat di sahab: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=285430).
– Ana juga berharap beberapa obrolan kita tentang pendidikan (Islam) dan keadaan pendidikan Indonesia, figur2 propagandis Kumpeni Belanda yang ditokohkan dalam pembangunan identitas pendidikan Indonesia bisa Antum tuangkan dalam bentuk tulisan dan tentunya ditaruh di sini.
– Dan tentu saja: banyak-banyak diupdate tulisannya.. Hehehheh.

Afwan kalau ana ngga bisa bantu terlalu banyak kecuali numpang “Komentar”, itupun mungkin sudah terlalu jelas gagasannya. Ana juga menunggu tulisan yang Antum pernah bilang waktu itu.

Jazakallahu khairal jaza’ wa ahsana ilaikum.

Ibnukum:
Abu ‘Abdirrahman
Muhammad bin Shafwan.

5. rumahbelajaribnuabbas - Juli 11, 2008

Jazakallahu khairan ala ihtimaamikum, ya Aba Abdirrahman…

Ana (saya) Abu Khaulah Zainal Abidin, bapak -berusia 51 tahun- dari 5 orang anak..Mulanya belajar di perguruan tinggi mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Skripsi yang harus diselesaikannya lah yang menjadi sebab awal perhatiannya kepada da’wah dan pendidikan. Tepatnya, tahun1981, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memberinya hidayah -semoga ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa senantiasa menjaganya hingga akhir hayatnya- untuk mempelajari Al Islam. Kemudian belajar di Lembaga Pendidikan Da’wah Islam di Kramat Raya 45 Jakarta, 1986 – 1989. Mengajar di TPA Waladun Sholih – Masjid Al Furqan, 1988 -1998. Pengurus sekaligus pengajar TPA di Masjid Fatahillah Tanah Baru Depok. Sejak 2003 mengurus menejemen Madrasah As-Salafiyah bersama Ustadz Ja’far Sholih, Ustadz Ahmad Yuswaji Lc (sekarang di Sumpyuh), dan Ustadz Muh.Cahyo (sekarang di Madinah) di Tanah Baru – Depok.
Semoga cukup.

Selebihnya, ana lupa pernah janji cerita apa sama antum/anda (wahai, ananda) soal pendidikan. Afwan !, mungkin antum bisa ingat-ingat lagi.

6. Ahmad Abu Ibrahim - Juli 21, 2008

Assalaamu ‘alaykum,

Semoga Rumah Belajar ini bermanfaat untuk kita dan anak2 kita di dunia ini dan di hari kiamat nanti. Sekolah seperti ini tidak ada di negara2 Eropa tapi seharusnya pendidikan yang khusus untuk pelajari agama yang benar – sangat penting yaitu paling utama. Ini hak Allah atas hamba2Nya dan hak anak atas orang tuanya. Saya telah masuk link kepada blog ini di weblog saya: http://muhaajir.blogspot.com

Wassalaamu ‘alaykum

Ahmad Abu Ibrahim van der Pool

7. mumtazanas - Agustus 19, 2008

Assalamu’alaikum,
Hayyakalloh ya ustadz. Tulisannya bagus-bagus, semoga bisa ditingkatkan dan diistiqomahkan

8. Sadat ar Rayyan - Agustus 28, 2008

Assalamu’alaykum
postingannya bagus2. insya alloh, ana tar bolak-balik ke blog ini.

9. ayip syafruddin soeratman - September 7, 2008

Barakallahu fikum wa jazakumullahu khaira atas kemunculan blog ini. Sektor pendidikan anak perlu mendapat perhatian seksama. Sektor satu ini tidak bisa digarap asal-asalan, diperlukan orang-orang yang memang faqih dalam masalah ini. Walhamdulillah, blog ini telah memulainya, terkhusus untuk kalangan ahlu sunnah. Semoga Allah Ta’ala memudahkan setiap upaya kita mewujudkan generasi shalih. Semoga upaya dari pengasuh blog ini menjadi amal yang ikhlas dan diterima sebagai amal shalih.

10. Orang (dekat di) Bogor - Oktober 7, 2008

akhirnya ane bisa baca tulisan-tulisan antum. sekarang ane makin banyak belajar. semoga blog ini barokah dan harus menghasilkan generasi yang lebih baik dan sesuai harapan antum selama ini. Amin

11. Ahmad Abu Ibrahim - Oktober 24, 2008

Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Pertama, saya minta kepada untuk mejadikan kita dan anak2 kita salih dan mu’min.

Kemudian, ustadh, saya mau minta nasihat untuk saya dan kawan saya di Belanda. (Inshaa Allah saya berangkat ke Saudi minggu depan) Disini ada yayasan baru yang di atas sunnah. Hari Jumat dan Sabtu ada pelajaran untuk anak2 usia 5-10. Sekitar 2 jam per hari. Mereka belajar membaca, menulis, mengerti dan bicara bahasa arab dan juga ada pelajaran aqidah. Yayasan ini baru mulai dan saya mau membantu mereka. Apakah nasihat ustadh untuk para guru dan orang tua di sini? Bagaimana caranya mengajar anak kecil aqidah? Bagaimana kami bisa menarik orangtua untuk bepartisipasi dalam pendidikan anak2nya? Jazaakallaahu khayran!

Wassalaamu ‘alaykum,

Ahmad

12. Abu Khaulah Zainal Abidin - Oktober 24, 2008

Wa alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Alhamdulillah, senang mendengar berita antum dan ikhwah di Belanda, barakallahu fiikum. Juga ana berharap ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memudahkan segala urusan antum dan da’wah di Belanda.
Adapun yang bisa ana katakan atau nasihatkan –sesuai permintaan antum- adalah :

• Untuk Orang Tua :

1) Percayakan sepenuhnya pendidikan anak-anakmu kepada guru yang telah kalian pilihkan bagi mereka, tetapi bukan artinya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak kepada guru-guru. Karena guru yang utama bagi anak –terutama di dalam akhlaq- adalah orang tuanya sendiri.
2) Jika ada ucapan, sikap, atau tindakan pada guru anak-anakmu yang kalian kurang berkenanan, jangan tampakkan di hadapan anakmu. Akan tetapi bicarakan langsung dengan guru tersebut.
3) Jangan membuat respek (penghormatan) anak-anak kalian kepada gurunya berkurang
4) Jangan jadikan anak sebagai media penentangan / perlawanan kalian terhadap guru mereka. Yang demikian akan membuat anak bingung dan membahayakan keperibadiannya.
5) Ikuti pelajaran anak-anakmu dan aktif mengadakan pertemuan orang tua secara berkala ( sebaiknya setiap sepekan sekali)

• Untuk Guru:

1) Bersyukur dan berbanggalah menjadi guru anak-anak. Karena kalian akan mendapatkan ganjaran yang sangat banyak, seandainya kalian ikhlash. Dari satu huruf saja ب , misalnya, yang dengan mengenalkan kepada seorang murid huruf tersebut kemudian dia bisa membaca, menulis, atau melafadzkan بسم الله atau melafadzkan أعوذ بالله . Maka dari setiap bacaan yang terdapat di dalamnya huruf ب si guru mendapatkan ganjarannya. Itu baru dari satu huruf, satu murid, dan satu kali ucapan. Bagaimana jika keseluruhan huruf sehingga menjadi rangkaian kalimat bacaan, dibaca oleh lebih dari satu orang murid, dan sepanjang umur mereka?
2) Mengajarlah dengan semangat dan sepenuh hati.
3) Sadarilah, bahwa murid-muridmu datang dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda. Ada yang datang dari kedua orang tua yang telah sepaham di dalam beragama atau setingkat ilmu agamanya, ada yang tidak. Ada yang ibunya lebih bersemangat dalam beragama, ada yang sebaliknya. Ada yang datang dari keluarga yang independent, ada yang datang dari keluarga yang tidak bisa lepas dari intervensi orang tua / mertua. Maka semua latar belakang ini mengharuskan kalian berhati-hati di dalam menilai dan menyikapi murid-murid kalian.
4) Berhati-hatilah di dalam memberikan hukuman kepada mereka, karena hukuman itu harus mempertimbangkan dua hal : 1. Apa kesalahannya sehingga harus dihukum. 2 Terhadap siapa hukuman itu kita berikan.
5) Cintai murid-muridmu seakan-akan mereka anak kalian sendiri -yang kalian tentu juga menginginkan orang lain bersikap serupa terhadap anak-anak kalian-, karena kedekatan hati antara guru dan murid mutlak diperlukan bagi keberhasilan pendidikan.

• Masalah Pembelajaran:

1) Karena pertemuannya hanya 2 hari dalam sepekan, maka hendaknya Orang Tua diberikan buku panduan untuk mengawasi belajar di rumah selama 5 hari bersama Orang Tua. Untuk itu, perlu diadakan semacam pelatihan ringan untuk Orang Tua agar bisa mengawasi hafalan / pelajaran anak di rumah.
2) Mengajar Aqiedah yang paling tepat bagi anak-anak sampai dengan usia 8-9 tahun adalah dengan mengajarkan dan melatih mereka terbiasa berdo’a. Ajarkan mereka Do’a Sehari-hari.
3) Untuk usia di atas 9 tahun, antum bisa menggunakan kitab المباديء المفيدة karya :
الشيخ يحي الحجوري –حفظه الله تعالى-

13. Wahid Abu Aqomuddin - Oktober 25, 2008

Bismillah,
Masya Allah, Baarakallahu fiik untuk Ahmad Abu Ibrahim. Mudah-mudahan Allah memudahkan antum dan ikhwan yang ada di Belanda atas kepeduliannya terhadap pendidikan anak. Dan mudah-mudahan rumah belajar ibnu abbas menjadi media yang bermanfaat bagi pemerhati dunia pendidikan anak. Oya terakhir ana minta alamat e-mail antum (ahmad) ya?
Salam dari mantan tetangga antum di depok.

14. Ahmad Abu Ibrahim - Oktober 26, 2008

alamat email saya adalah: vd_pool@yahoo.com . Salam dari saudara kalian kepada semua ikhwah dan tetangga di Kampung Curug

15. miryam maulani - November 10, 2008

bismillah, saya terharu dan bersemangat kembali dengan semangat ustad { ABU khaulah ] melihat anak2 saya yang sudah besar2 bahkan sudah ada yang berumah tangga. rasanya ingin mengulang waktu mendidik mereka lagi lebih sempurna. dengan cara didik yang berlandaskan sunnah. semoga ALLAH senantiasa merakhmati ustad dengan segala usaha2 dalam menegakkan kebenaran. wassalam, ibu Miryam Nopember 2008.

16. rafa - November 17, 2008

Pak Ustadz:
– Kalau saya mau memasukkan famili sekolah disitu, dari sebelumnya klas 5 SD, bagaimana prosesnya? Dan apakah ada fasilitas pondokannya?
– Apakah famili tsb nanti saat kelulusan mendapatkan ijazah dari pemerintah (Diknas/Depag)
– Apakah disitu juga ada sekolah lanjutannya (SMP)?
Sementara itu dahulu.
Salaam

17. Abu Zaid Daryanto - November 17, 2008

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Alhamdulillah, semoga dengan adanya blog ini menjadi media bagi umat, dalam rangka mengarahkan anak-anaknya kepada pendidikan agama yang benar. Yang selama ini berprasangka bahwa kalau anaknya tidak sekolah formal, “mau jadi apa?” Padahal dengan ilmu agama lah seorang anak akan memiliki akhlak yang mulia terutama kepada kedua orang tua mereka. Betapa banyak kita saksikan orang yang berpendidikan tinggi, namun setelah memahami betapa sangat pentingnya ilmu agama, tidaklah mereka merasa bangga dengan apa yang diperolehnya dari hasil jerih payah yang begitu lama. Akhirnya mereka berkata, Dapat apa?
Semoga para pengajar RBIA tetap istiqomah dalam mengajar anak didiknya, dan diberi kesabaran. Barakallahu fiikum.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

18. Abu Khaulah - November 17, 2008

Kepada Rafa’:

1. Kami menerima murid pindahan dengan pertimbangan yang cukup hati-hati, antara lain :
1) Apakah murid pindahan tsb bisa mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung di tingkatnya, mengingat mungkin saja apa yang diajarkan di tempat kami ternyata belum sampai ia pelajari di tempatnya yang lama atau malah sama sekali belum pernah ia pelajari. Sebagai contoh, untuk beberapa ilmu syar’iy, di kelas 5;
i. Hafalan Al Qur’an rata-rata sudah mencapai 15 juz.
ii. Hafalan Hadits Al Arba’in sudah selesai 40 hadits
iii. Bhs Arab : Nahwu sudah sampai Alamatul Ism
: Sharaf sudah sampai Tashrif Lughawy untuk Fi’il Mudhari’ Tsulaatsi Maziid bi harfin.
2) Apakah apabila terpaksa diturunkan kelas hal tersebut memungkinkan baginya, dan tidak berakibat buruk baik bagi murid baru tersebut atau bagi kawan sekelasnya?
3) Seandainya memungkinkan, masih pula harus dicarikan guru dan waktu khusus bagi murid tersebut untuk mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal. Dan biasanya, orang tua murid pindahan mencari sendiri guru khusus tersebut.

2. Soal fasilitas pondokan? Kami bukan pondok pesantren yang menyiapkan fasilitas pemondokan. Kami menganjurkan orang tua murid untuk pindah rumah di sekitar rumah belajar Ibnu Abbas. Kenapa harus pindah ? Karena orang tua murid harus mengikuti kegiatan belajar. Mereka harus mengikuti beberapa mata pelajaran, seperti tahsin dan tahfidz, pertemuan orang tua setiap Sabtu siang untuk mendapatkan pelajaran tentang Metode Pendidikan, bahkan mengikuti ulangan beberapa mata pelajaran yang diperoleh anaknya sebelum diujikan kepada anak. Untuk perkara ini, solusinya mungkin dengan menitipkan anak tersebut kepada saudaranya yang tinggal di dekat lokasi kami. Itupun, mereka terkena kewajiban sebagaimana kewajiban orang tuanya.

3. Untuk mendapatkan ijazah SD, bisa kami bantu untuk mengikuti Paket A (Program Pemerintah untuk mendapatkan ijazah setara SD)

4. SMP ? Kami baru merencanakan. Insya ALLAH dua tahun ke depan sudah bisa terwujud. Selama ini, lulusan rumah belajar Ibnu Abbas kami kirim ke Pesantren Anshorus-Sunnah Batam.

19. Ibu Julia E Agoes - November 21, 2008

Bismillah saya merasa berbahagia dpt mengikuti kegiatan rumah belajar dari jauh dan mengikuti tulisan tulisan antum yang banyak membuat pencerahan. semoga Allah senantiasa menjaga antum supaya istiqomah dalam menegakkan kebenaran. Kapan kapan saya ingin datang berkunjung kesana untuk belajar langsung dari antum dan berdiskusi waktu itu hanya 2 hari rasanya jauh dari cukup apalagi antum sibuk tapi tetap meluangkan waktu unt pertanyaan2 saya yang banyak, Semoga Allah merahmati antum dan keluarga. wassalam

20. Ahmad Abu Ibrahim - Desember 2, 2008

Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh – kepada ustadh saya dan semua asaatidhah dan ikhwah di Depok. Saya udah tiba di Riyadh dan pelajarannya udah mulai walhamdulillaah

Abu Ibrahim

21. muwahiid - Desember 4, 2008

Ustadz diperbanyak artikel tentang mendidik anak dan keluarga berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

Barakallahu fiykum

22. Muhammad Reza - Februari 24, 2009

jazakallahu khayran….barakallahu fiik……..

23. dr.Abu Hana :: أبو هـنـأ ألفردان :: - Maret 7, 2009

Bismillah,

Salam kenal ya Ustadz Zainal, ana dokter di dekat Ma’had Adhwaus Salaf Bandung..

Tulisan antum sangat berfaedah, konsep pendidikan yang antum tulis luar biasa.. mohon izin ngelink dan copas artikel2nya..

Jazaakumullaahu khairan katsiiran..

http://kaahil.wordpress.com

24. abusalman007 - Maret 10, 2009

Bismillah

Subhanallah, bagus bener ney blog, bole kopi paste ya ustadz, u/ buletin di masjid.

Barakallahu Fiikum

25. Zaki - Maret 15, 2009

Assalamu’alaikum,,, nice ya ustadz,,, adem banget head blog na,,,!!! rumah na saha ntu ustadz???

26. Rahmat - Maret 15, 2009

Bismillah,

Assalamualaykum warahmatullah.

Kaifa haluk, semoga ustadz serta pengajar’ RB Ibnu abbas’ senantiasa dalam hidayah Allah subhanahu wata a’la.

Ditengah hiruk pikuknya kehidupan, kian peliknya pemikiran, kian kacaunya tujuan…kemana akan membentuk karakter anak, bingung dalam memilih pergaulan anak, sungguh nikmat Allah yang maha luas, kami sangat bersyukur atas itu semua, dengan hadirnya RB Ibnu Abbas, semoga bisa menjadi tempat yang bermanfaat bagi tarbiah putra,putri kami insyaallah di masa yang akan datang.

semoga bisa bertahan & tetap istiqomah dalam landasan Alquran & assunnah…Aminn.

Barakallahu fiik.
Wajazakumullahi khair.

27. Mubarok - Maret 26, 2009

Assalamu’alaikum yaa ustadz…
Ana senang sekali bisa berkunjung ke sini, banyak sekali faidah yang ana dapatkan walhamdulillah. Ana mohon bimbingannya yaa ustadz. Saat ini ana sedang bergelut dengan kampus “pendidikan” di salah satu Universitas di Jogja. Mohon doanya yaa ustadz, agar ana sentiasa istiqomah. Bolehkah ana memposting beberapa artikel ustadz di blog kami sekaligus mengelink blog RB Ibnu ‘Abbaz. Semoga suatu saat nanti ana bisa berkunjung langsung ke RB Ibnu ‘Abbaz. Jazaakumullohu khoiro wabaarokAllohu fiikum.

28. Abu Khaulah Zainal Abidin - Maret 26, 2009

Wa alaikumussalaam. Tafadhdhol kalau mau memposting artikel dari Blog ini. Ana juga sudah lihat Blog Antum (http://www.pendidikmuslim.co.nr). Bagus dan sangat bermanfaat.Wa iyyakum wa fiikum barakallah

29. Lutfi Hadiwijaya Abullaits - April 2, 2009

Assalamu’alaikum ustadz,

Ana baru liat2 dengan penuh seksama web antum. SUbhanAllah “Bagus Jiddan” -jempol dua-……Semoga ana bisa bergabung di masyarakat belajar disana amiin….. bersama istri dan anak2 (kalau sudah ada) BarakAllahufiikum

30. budi utomo - April 6, 2009

Semoga ustadz diberi kemudahan untuk menulis. Tulisannya insya Allah sangat bermanfaat, untuk orang-orang smacam saya yang masih hijau tentang pendidikan islami. Dan semoga kebaikan ini bisa tersebar luas.

31. dera - April 6, 2009

Assalamu’alikum
afwan jiddan ustadz ‘

ana mau bertanya, “bagaimana menurut ustad tentang metode-metode pendidikan atau pembelajaran yang ada pada saat ini, dari pengalaman yang saya pernah alami,(kebetulan saya sempat kuliah mengambil jurusan olahraga di salah stau universitas negeri yng ada di jakarta ) mereka para pengajar lebih mengarahkan kemampuan gerak motorik si ana dari pada segi afektif, khususnya masalah dien islam ini ustadz, mereka sangat berkiblat pada metode2 pembaljarn atau kurikulum luar negri, terlebih2 dlam praktek di olahraga,jadwal olahrag yang sering menggangu jadwal ibadah, bgaimana ustadz menikapi hal ini ? mohon nasihatnya” jazakumullah khairan .

32. cazhrax - April 8, 2009

mo tanya ustad bagaimana bila seorang isteri mengagumi
seorang pria yang bukan suaminya apakah itu termasuk
selingkuh atau berdosakah itu?

33. Abu Khaulah - April 9, 2009

بسم الله الرحمن الرخيم

Pertama-tama, marilah kita senantiasa berlindung kepada ALLAH dari segala kejelekan perangai dan perbuatan diri, serta dari tipu daya syaithan.

Seseorang bisa dan berhak untuk kagum kepada siapa saja yang ia kagumi. Hanya saja jika kagum tersebut disertai dengan perasaan lain -yang tidak diridhoi ALLAH- , maka kekaguman tersebut bisa menjadi jalan bagi syaithan untuk menjerumuskannya kepada dosa.

Sebagaimana seorang suami mungkin saja kagum kepada wanita lain (selain isterinya, misalnya) atas kepandaian masaknya (bukan fisiknya) dan kekaguman itu ia ucapkan kepada isterinya, kemudian isterinya menjadi cemburu. Kecemburuan ini bisa macam-macam sebabnya. Bisa karena cara suami mengungkapkan kekagumannya, bisa karena suaminya memang sengaja ingin memanas-manasi isterinya, bisa karena memang wanita lain yang disebutkannya itu merupakan “rival” bagi isterinya, atau karena isterinya saja yang terlalu perasa.

Demikian pula si isteri, hendaknya memperhatikan baik-baik bagaimana cara ia mengungkapkan kekagumannya terhadap laki-laki lain (akan prestasinya, bukan akan fisik atau hartanya) di hadapan suaminya. Di samping itu hendaknya ia menjaga dirinya dari hal-hal yang akan merusak atau menciderai perasaan suaminya. Karena boleh jadi suaminya merupakan tipe laki-laki yang sangat perasa dan pencemburu.

Mungkin ada baiknya membaca risalah saya: https://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/4jendela-anak/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/. Mudah-mudahan bermanfaat.

34. problemamuslim - April 13, 2009

Assalamu’alaykum,

Ustadz, terus di update ya blog nya.

35. Abu Khaulah - April 15, 2009

Kepada Dera…
Assalaamu alaikkum. Coba baca tulisan saya: “Benar, Baik, dan Indah” Mudah-mudahan bisa menjawab dan sekaligus nasihat.

36. bemunj - April 20, 2009

Assalamu’alikum
ustadz..didalam http://www.ahlussunnah-jakarta.com terdapat artikel tentang “Kompilasi Diktator-diktator Sadis” , Buletin ini ditulis menjelang musim penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus. yg berisi tentang kegiatan ospek yg sudah mendarah daging dan telah menjadi suatu aktivitas yg wajib di jalani bgi setiap calon mahasiswa baru, yg menjadi pertanyaan ana, bagaimana caranya atau solusi untk mengganti acara ospek tersebut di dalam dunia kampus?

37. ginkgo7 - April 28, 2009

Assalamualaykum
masyaAllah senang sekali kalo sejak dulu ada sekolah seperti ini, tidak menjadi korban sekolah yang patokannya dunia saja seperti saya…

kalo boleh tau, kurikulum di RBIA untuk tiap tingkat apa saja? dan perihal pembiayaan spt apa? persyaratan masuknya apa?

saran, kalo bisa ada index judul posting shg mudah untuk mengakses posting

saya izin add link ya…
barakallahufiyk

38. Abu Khaulah - April 30, 2009

Wa alaikumussalaam.
Pelajaran untuk setiap jenjang / tingkatan, insya ALLAH akan kami tuangkan dalam bentuk artikel tersendiri.
Pembiayaan, tergantung kemampuan. Antara 75 – 100 rb /bln. dan Uang Sarana 300 rb pada tahun pertama.
Syarat: Orang Tua harus bisa mengikuti Program Belajar Orang Tua yang diberikan di dalam Pertemuan Orang Tua setiap hari Sabtu..

39. Ahmad Abu Ibrahim - Mei 7, 2009

Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Semoga blog ini selalu beristiqomah dan bermanfaat untuk para guru dan setiap orang tua.

Ada nasihat ustadz Abu Khaulah bagaimana seorang orang tua bisa mendidik anaknya yang belum masuk sekolah (umurnya 2 sampai 5 tahun) dan menarahkannya kepada agama yang benar, amal-amal yang sholih dan akhlaq yang mulia tanpa anaknya merasa terpaksa? Bagaimana mulai? Ada alat-alat dan cara-cara khusus? Sudah harus mulai dengan belajar baca atau hafal? Atau main-main dulu?

Allaahumma baarik fiikum fii a’maalikum

Wassalaamu ‘alaykum

Saudara kalian dari Riyadh,

Ahmad van der Pool

40. Abu Khaulah - Mei 12, 2009

Wa alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Usia 4 – 6 tahun adalah masa terbaik untuk mengajarkan anak arti dan manfaat belajar. Apakah ia akan melihat belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan dan ia butuhkan atau sebaliknya -menyebalkan atau membosankan baginya- bermula dari bagaimana cara kita pertama kali memperkenalkan arti belajar kepada mereka. Dengan itu kemudian anak akan merasakan manfaat belajar bagi dirinya.

Sesungguhnya rasa ingin tahu anak itu merupakan fitrah, juga keinginan belajar dan mencobanya. Sementara itu bermain adalah aktifitasnya sehari-hari. Dengan bermain (mungkin orang dewasa saja yang menganggapnya bermain) anak belajar, mencoba, dan memuaskan rasa ingin tahunya,

Pada usia 5 tahun, anak tidak lagi merasa cukup beraktifitas di lingkungan keluarga batih-nya saja. Ia membutuhkan kawan selain ibu, bapak, dan saudara kandungnya. Maka ia memerlukan pengetahuan dan penguasaan tentang beberapa hal untuk dapat memasuki dunia pergaulannya yang baru. Pertama-tama ia harus memenuhi syarat -secara motorik- agar ia bisa tampil dengan penuh percaya diri di hadapan teman sebayanya.

Orang tua harus tahu, apa yang ingin diketahui dan dikuasai oleh si anak di samping apa yang harus diketahui dan dikuasai olehnya pada usia dan masa-masa itu. Tentu saja tidak semua yang ingin diketahui dan dikuasai anak itu bisa atau harus segera dipenuhi. Begitu pula, adakalanya anak belum tertarik dan ingin mengetahui sesuatu yang sudah harus diketahuinya.

Nah, mulailah dengan yang ia ingin dan harus mengetahuinya, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan umurnya. Setelah itu, mana yang harus ia ketahui dan kuasai pada umurnya meski belum ia inginkan. Terakhir, mana yang ia inginkan meski itu belum harus baginya.

Sebagai persiapan secara umum, berkaitan dengan tubuh dan anggotanya, anak harus memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan tubuh dan kelicahan bergerak. Artinya, berikan waktu dan porsi yang cukup agar anak memiliki kemampuan tersebut. Untuk tangannya, ajar mereka bagaimana cara memegang alat tulis (-tentu kemudian bagaimana cara menggunakan penghapus-), menggambar benda-benda yang disukainya seraya menuliskan huruf-huruf latin. Dan untuk lisannya (lidah dan bibirnya) ajarkan mereka melafadzkan huruf-huruh hija’iyah ( belajar baca Al Qur’an). Ini semua termasuk yang anak ingin dan harus pelajari.

Selanjutnya, yang termasuk bagian yang harus -meski anak belum menginginkannya- diajarkan kepada anak adalah adzkar atau do’a sehari-hari. Dan hendaknya para orang tua mengetahui, bahwa mengajar anak berdo’a itu artinya menanamkan Tauhid kepada mereka. (silahkan membaca artikel saya : https://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/jendela-orang-tua/%e2%80%9cwasiat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-kepada-ibnu-abbas-radhiallahu-anhu/ ). Tunda dahulu menghafal Al Qur’an-nya sampai do’a harian-nya cukup dikuasai dan sampai ia betul-betul kenal, hafal , dan dapat mengeluarkan bunyi-bunyi huruf hija’iyah secara benar. (-meski tentu saja belum sempurna, karena perkembangan organ-organ di dalam rongga mulutnya juga masih terus berubah-). Juga termasuk bagian yang harus adalah membiasakan anak makan dengan tangan kanan, mengucap Salam ketika masuk rumah, dan adab-adab lainnya yang dituntunkan di dalam Islam.

Setelah itu, baru kita layani apa yang mereka ingin ketahui dan kuasai walaupun itu belum menjadi keharusan baginya. Dengan demikian, sejak kecil anak sudah terlatih dengan prinsip البدء بالأهم فالأهم (Mengutamakan yang terpenting, baru kemudian yang penting)

Apakah anak akan merasa dipaksa atau tidak sesungguhnya bergantung kepada: Pertama, persoalan yang dibahas di atas. Ke-dua, cara kita mengarahkannya. Ke-tiga, waktu-waktu yang kita pilihkan untuk mengajar mereka. Ya, anak akan merasa dipaksa jika kita hanya memperhatikan apa yang harus saja baginya tanpa melihat apa yang mereka inginkan. Anak juga akan merasa terpaksa jika diminta / dituntut serius berkonsentrasi sebagaimana orang dewasa. Karena anak belum mampu memusatkan perhatian dan pikirannya. Momen-momen yang tidak tepat atau meminta anak untuk memperhatikan satu hal dalam waktu yang lebih dari 5 – 10 menit juga akan membuatnya merasa dipaksa.

Tentang adik, tak perlu menyiapkan waktu khusus untuk mengajarnya. Hendaknya para orang tua berkonsentrasi pada anak pertamanya. Biarkan adik-adiknya melihat dan meniru kakaknya. Hanya saja, jangan biarkan adiknya terlalu mengganggu kegiatan belajar kakaknya. Sikap adiknya terhadap belajar sangat dipegaruhi oleh bagaimana dia melihat kakaknya. ALLAH A’lam.

41. Ahmad Abu Ibrahim - Mei 19, 2009

Assalaamu ‘alaykum

Semoga jawaban in bermanfaat buat semua orang tua, kakek/nenek, para pembantu dan siapapun berpartisipasi dalam pendidikan anak-anak kecil.

Jazaakallaahu khayral-jazaa’

Ahmad van der Pool
Universitas al-Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, SA

42. Abu Abdillah - Juni 21, 2009

assalamu’alaikum
Ahmad, kapan ke Indonesia lagi

43. abu sa'id - Juli 2, 2009

Assalamu’alaikum..

Ana rindu untuk kembali mengunjungi rumah belajar Ibnu Abbas. Mungkin antum lupa dengan ana, ustadz.. Ketika itu, ana adalah seorang mahasiswa STAN (jebol di semester 3) yang mulazamah pada antum, ustadz Ahmad dan Ustadz Ja’far bersama dengan rekan-rekan seperti: Adib, Syarif, dll di awal berdirinya Ma’had Darul Hadits Depok.

Blog yang bagus dan bermanfaat. Jazakallahu khoir.

Abu Sa’id Ari Lumajang

44. Ummu asiyah zainab - September 14, 2009

Bismillah.assalamu’alaikum ana br membuka blog Ini hr ini,alhamdulillah biidznillah.sdh lama ana dpt alamat dr ummu hasan yg k2 putrany d rbia.subhanallah,smg allah meberikan kmdhn bg para pengajar dan siapapun ikhwah yg bekerja dibalik blog ini.ana sdh ada 2 putri,ana wa zaujiy sdh mulai mencari solusi u/pendidikn anak stlh putri pertm lahir,dah subhanallah allah membrkn petunjukny.dr ana curhat dg teman lama akhirny kami memutuskn apa yg akan km lakukan kedpn. Smg allah mberikn kemdhn bg km mdidik anak2,dan mngambil bny manfaat dr apa yg ditls ustadz abu khaulah.smg kami dan ikhwah di nganjuk jawatimur mau dan mampu spt yg di depok tentu sj dg izin allah.alhamdulillah dsn mukim ustadz abu qois ahmad,smg allah mberikn kmdhn dlm upaya km smua u/merintis pendidikn anak disini.jazaakumullahukhoiro wa baarakallohufiikum.untk smua akhowat yg mengenal ana,smg allah mempertemukn kita suatu waktu.

45. Ibnu Muhammad - November 18, 2009

Ustadz Zainal, Ana ibnu Muhammad, ana saat ini bekerja di lembaga bimbingan belajar yang memiliki materi-materi pelajaran umum yang sangat banyak, kira-kira apa yang bisa ana bantu untuk Rumah Belajar ini.. ?
Baarokallahu fiikum. Hayyakalloh.

46. Abu Abdillah Agung - Februari 18, 2010

Bismilllah

Ustadz, ana dan beberapa ikhwah dari purworejo berencana untuk mendirikan lembaga pendidikan serupa dengan rumah belajar ibnu abbas, tapi kami benar2 awam masalah pendidikan anak, dan tidak ada satu pun ustadz yang mau menetap di purworejo, apakah di dirumah belajar ibnu abbas ada program pelatihan pengajar bagi ikhwan?? kalau ada berapa biayanya??
Dan apakah ada kurikulum khusus yang diterapkan??

Jazakallah ustadz.

47. rumahbelajaribnuabbas - Februari 19, 2010

Lembaga Pendidikan adalah sebuah wadah, kurikulum itu isinya. Begitulah kira-kira. Bagaimana mungkin antum ingin membuat sebuah lembaga pendidikan dalam keadaan antum sendiri merasa awam dalam masalah pendidikan. Tentu saja pertama-tama antum harus berupaya agar ada seorang ustadz yang mau membina guru-guru dan mengawasi kurikulum. Kalau tak ada yang tinggal di Purworejo, mungkin di kota terdekat.
Insya Allah kami bisa membantu, paling-paling mengarahkan langkah-langkah apa yang harus antum tempuh. Silahkan datang ke Depok untuk lihat-lihat, mudah-mudahan antum bisa ambil manfa’at di sini. Akomodasi selama survey di Depok -insya Allah- tidak ada masalah.

48. afdan - April 27, 2010

Assalamu’alaikum

Ustadz ana lagi bingung dalam memilihkan pendidikan untuk anak. Anak ana baru akan masuk jenjang SD (6-7th). Ana pengen anak mendapatkan pendidikan yang benar. Pendidikan sesuai pemahaman manhaj salaf. Sementara dilingkungan ana sekolah seperti itu belum ada. Kalau dipaksakan sekolah di SD umum ana khawatir dengan pergaulannya. tapi untuk mengajarinya dirumahpun ana dan istri masih belum bisa. Pernah terpikir untuk memasukkan ke salah satu ma’had bermanhaj salaf. Masalahnya ma’hadnya itu terlalu jauh dari domisili ana. Sehingga paling tidak ana baru bisa menjenguknya sebulan sekali. Selain itu ana juga sering tidak tega kalau mengingat umurnya. Ana sudah coba mencari ma’had bermanhaj salaf jenjang SD yang dekat dari rumah sehingga bisa dikunjungi seminggu sekali, tapi tidak ketemu. Ustad, anapun tertarik untuk pengen menyekolahkan anak ketempat seperti apa yang ada RBIA. Tapi tempat tinggal ana jauh. Ana ada di Cirebon. Pernah berniat untuk mengontrak rumah di sekitar RBIA, tapi bagaimana dengan pekerjaan ana? Mohon solusi dan nasehatnya.
Jazakallohu khoiron katsiro.

Wassalamu’alaikum.

49. rumahbelajaribnuabbas - April 28, 2010

Wa alaikumussalaam.
Ana ikut merasakan keperihatinan antum sebagai orang tua. Rumah Belajar Ibnu Abbas juga lahir dari keperihatinan seperti itu. Kemudian kami (2-3 keluarga yang kebetulan rumahnya berdekatan) mulai saling berbagi tugas mengajar anak kami. (Ana mengajarkan anak tetangga pelajaran menulis, tetangga ana mengajarkan anak ana membaca Al Qur’an, dst).
Sesungguhnya untuk tahun-tahun pertama pendidikan (Kelas 1 tingkat SD), yang pelajarannya meliputi ; 1. Menulis Latin – Membaca. 2. Menghafal Do’a Harian dan Al Qur’an (minimal Juz Amma). 3. Menulis (Khot) Huruf Hijaiyyah, semua itu bisa dilakukan oleh orang tua di rumah; 2 jam pagi, 1 jam sore, dan 30 menit malam. Tahun depannya (Kls 2) kita lihat saja nanti. Semoga Allah adakan di Cirebon tempat pendidikan sebagaimana yang antum harapkan.
Lebih dari itu semua (-tepatnya, sebelum antum pertimbangkan usulan ana-), bukankah di Cirebon ada Al Ustadz Muhammad As-Sewed. Mintalah nasihat dan arahan dari beliau.
Wallahu A’lam bish-shawab.

50. abu ilman - Januari 31, 2011

assallaamu’alaykum, ustadz afwan ana blm phm dgn metode blajarnya. Benarkah hasil pmahaman saya bhw intinya anak2 tetap blajar di rmh dan org tua ikut platihan seminggu skali? Anak ana berusia 5 thn tp alhamdulillah utk tk, ia bhasil loncat 2 kls jd skrg masuk dlm psiapan masuk sd. Tp sayangnya dia mdh jenuh skali utk ikut rutinitas sekolah jd ana ragu utk memasukkan dia ke mahad/psantren. Kl memang bisa hanya dtg sminggu 1 atau 2 x, kami berminat utk ikut mengingat rmh kami yg ckp jauh di ciapus. Utk pindah rmh, kami merasa berat krn lingkungan dsini pun sdh bermanhaj salaf. Atas balasan dan perhatiannya kami ucapkan byk terima kasih. Jazzakallahu khoiron wasallam.

51. rumahbelajaribnuabbas - Januari 31, 2011

Wa alaikumussalaam.
Tentu saja anak antum –yang masih berusia 5 tahun- akan mudah merasakan jenuh (meski lebih tepat kalau ana katakan kelelahan) mengikuti pelajaran tingkat Sekolah Dasar, karena ia masih terlalu muda untuk itu. Apa yang bisa ibunya lakukan sampai usianya 7 tahun adalah melatih menulis, menghafal Al Qur’an, do’a sehari-hari, dan belajar membaca Al Qur’an. Itu saja sudah lebih dari cukup buatnya. Jangan terlalu membebani anak dengan berbagai kegiatan belajar. Karena untuk anak seusia itu bermain juga ada unsur belajarnya, seperti belajar menggerakkan anggota tubuh, belajar ketrampilan berbicara, juga belajar mengatur serta mengendalikan emosi. Dengan memforsir anak untuk mengikuti kegiatan belajar seperti yang sudah antum lakukan dapat mengganggu perkembangan keterampilan (motorik) dan penghayatan (affektif)-nya. Allahu A’lam bish-shawab.

52. ummu aliya - Februari 23, 2011

Assalamu’alaikum Ustadz, ana tertarik dengan blog yang menuliskan tentang rumah belajar Ibnu Abbas ini. Jujur saat ini ana bingung anak saya tahun ini usianya 6 tahun dan ana siapkan dia utk masuk SD. Setelah ana membaca blog ini ada beberapa hal yang ingin ana sampaikan :
1. Rutinitas atau pendidikan apa saja yang diberikan oleh rumah belajar ini, dengan kata lain dengan waktu yang sangat panjang di rumah belajar ini kegiatan apa yang dilakukan para murid? (tolong lebih diperinci lagi)
2. Blog tersebut menuliskan ada kegiatan tidurnya, lalu para murid tidurnya dimana yach?apakah ada semacam pondokkannya?
3. Dan yg lebih penting adalah biaya, perhitungan biayanya seperti apa seh?krn ada tidur dan makannya juga. Karena diblog dituliskan biayanya lebih murah daripada SDIT2 atu lembaga pendidikan yang ada.Mohon penjelasannya.
4. Jika ana mau menghubungi ke no telp berapa yach??
Terima kasih
Wassalamu’alaikum

53. rumahbelajaribnuabbas - Februari 23, 2011

Wa alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuh.
1. Seperti yang telah dijelaskan, kegiatan belajar di rumah belajar Ibnu Abbas bermula dari kegiatan Muroja’ah Hafalan Al Qur’an selepas sholat Subuh. Setelah itu murid pulang ke rumah masing-masing untuk kemudian kembali belajar jam 8 pagi hingga jam 11.30. Ba’da Ashar mereka kembali belajar hingga jam 17.30 sore.
2. Waktu istirahat siang, murid-murid istirahat (tidur) di rumah masing-masing. Kami tidak memiliki fasilitas pondokan.
3. Tahun lalu SPP-nya Rp 75.000,- s/d Rp 100.000,-/bln ditambah Uang Sarana bagi murid baru, sebesar Rp 350.000,- (-bisa dicicil-). Untuk tahun ini belum kami tentukan.
4. Sama seperti yang tercantum di atas : 081-385637967

54. Umm Khansa - Februari 24, 2011

Bismillah
Assalamu’alaykum ustadz, ana izin untuk mejadikan blog ini sbg link
jazaakumullahu khayran

55. iman - Maret 7, 2011

barokallahfik untuk rumah belajar ibn abbas

56. abu farannisa - April 29, 2011

Assalaamu’alaykum,
Salam kenal..
Blog yang banyak manfaatnya.
baarokalloh

57. Ummu Sultan - Juni 24, 2011

Assalamualaikum,

Alhamdulillah Allah menunjukkan web ini sampai kpd ana…

Mudah2an ana bisa hijrah ke daerah kukusan supaya ana bisa mnyekolahkan anak2 ana di RBIA. Ameen.

58. Owner1 - November 24, 2011

Artikel baru ada ustadz Abu Khaulah ?

59. Muhammad Sungkar - September 5, 2012

السلام عليكم

Dear Ikhwah,

masyaallah ‘alekum jami’an,

Gini akhi, barakallah fiik, masyaallah ana baru dibilangi salah satu ikhwah surabaya jazahullah kher ttng blog ini.

Ulamaussalaf selalu mengedepankan anak2 mereka dalam hifdhulquraan.(menghapal Al-Quraan)

disisi lain banyak orang yg menginginkan anak2 mereka tdk saja mempelajari ilmu diin (ilmu agama) tetapi juga dunia.

yg terjadi dilapangan adalah justru anak2 kita tidak belajar لادين ولادنيا (ga belajar ilmu agama juga ga belajar ilmu dunia),

contohnya: PPKN/PMP, Kesenian, Penjas masa anak2 kita disuruh belajar yang kaya ginian trus terang “it’s a waste of time”, ana ga mengatakan bahwa semua mata pelajaran disekolahan ga berguna, tetapi mengapa kita tidak mempelajari yg penting2 saja, masa anak2 kita disuru belajar semua mata pelajaran yang ada disekolahan sedangkan kita melupakan pendidikan agama (yg selalu dianaktirikan disekolah2) pun kalo ada atau bahkan ditekankan pendidikan agamanya disekolah2 tertentu adakah atsar dari anak2 tsb, jawabannya hampir tidak ya akhi, jelas semua ini adalah konspirasi.

Ana punya sohib ketika diYemen bernama Abu Danial, anak2nya mengikuti Homeschooling yang dipelajari hanyalah: Matematika & English. 2 mata pelajaran ini adalah yg wajib dipelajari anak2 warga negara inggris.

Inilah mengapa mereka bisa “MAESTRO” disuatu bidang, bukan kaya kita semua dipelajari, Allah yu’inna bas (semoga Allah melindungi kita).

La ini ana punya ide yg insyaallah implementable ana tegaskan insyaallah “implementable banget” ttng pendidikan ide ana yaitu ” International Islamic Homeschooling”.

Bagi yg suka tukar pikiran dlm masalah ini hayyakallah tafadhdhal hubungi ana:
Muhammad Sungkar 0878-7557-1063

Semoga kita dikumpulkan dijannatulfirdaus ala’la bersama para rosul, anbiya,sahabah, shuhada, salihin, serta yg mengikuti mereka.

60. ummufaris - Februari 12, 2013

Assalaamu’alaikum,
Ustadz apakah RBIA juga punya kegiatan belajar membaca Al-Qur’an yang diadakan secara privat (jika memungkinkan dirumah anak didik) ? Misalkan seminggu belajar 3 kali ( hari senin, rabu, jum’at) selama 1jam atau 1jam 30 mnt. Jazakallahu khoiron katsiro. Wassalamu’alaikum.

61. rumahbelajaribnuabbas - Februari 13, 2013

Wa alaikumussalaam. RBIA tidak mempunyai program atau kegiatan seperti yang Ummu Faris tanyakan.

62. erfian abu zahira - April 28, 2014

Bismillah’ afwan ana mukim dicilegon ana tertarik sekali in gin home schooling utk putri ana yg berusia 7th kbetulan ditpt ana INI blm ada skolah salaf to kendalax adalah pengajarx yg tdk ada, bisakah ada bantuan pengajar Dr tpt main yg mumpuni dbidang ilmi down’ mengingat dsini bnyk skali putra putri Dr ikhwan dsini yg kesulitan mndptkn tpt bljr. Jazakumullohi khoyro katsiro

63. rumahbelajaribnuabbas - April 28, 2014

Al Akh Erfian Abu Zahira. Wa antum jazaakumullahu khairan. Karena berbagai alasan, sepertinya sulit bagi kami mengirim guru bantu ke tempat antum. Coba baca :https://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2012/06/21/sekolah-atau-lingkungan-belajar-4/ . Mudah-mudahan menjadi inspirasi dan motivasi bagi antum dan ikhwan di lingkungan antum.

64. marisa - Desember 22, 2014

Assalamualaikum. Pa ustad sy membaca postingan pa ustad dan komentar mengenai takut sama mati. Karena ini sudah sy alami smnjk umur 5 tahun. Dengan hormat boleh saya dikirimkan rukhiyat mandiri karena ini sudah sangat mengganggu hidup saya. Atas bantuan pa ustad sy ucapakan trimakasih. Waalaikumsalam

65. ummua abdillah - Maret 14, 2015

Afwan sepertinya blog ini kurang lengkap utk info yg sangat urgennya. Saya cari2 info sekolah sunnah utk homeschooling sd dan saya dapat link ini. Mohon kiranya utk info seputar sekolahnya lebih di lengkapi. Semisal syarat,biaya,lokasi,dan keterangan lainnya.

Jazakallahu khoir..

66. rumahbelajaribnuabbas - Maret 14, 2015

Blog ini sengaja hanya memuat tentang konsep dan gagasan rumah belajar, tidak memuat company profile. Silahkan datang sendiri untuk melihat langsung dan menggali informasi lebih dalam. Jazaakillahu khairan atas pehatiannya.

67. rumahbelajaribnuabbas - Mei 4, 2015

Ahabbakalladzii ahbabtaniy lahu.. Afwan, terpaksa ana hapus tulisan di atas karena bukan merupakan komentar atas artikel/postingan terkait. Sampaikan saja langsung kepada saya apa yang perlu disampaikan dengan tidak menggunakan media blog ini. Baarakallahu fiik.

68. niko satriia noor - Agustus 19, 2015

Sebenarnya ana mau pindahin anak yang sekolah di MI biasa, tapi pasti terlalu berat buat mengikuti pelajarannya,, anak ana skrng klas 5. Bagaimana solusinya , pelajaran islamnya kurang sekali di situ, walaupun sudah ada pindahkan tempat belajar mengaji di AMWA, rasanya gak cukup

69. rumahbelajaribnuabbas - Agustus 19, 2015

Keluarkan dulu anak tersebut dari sekolah barang satu tahun saja. Kemudian selama satu tahun itu cari guru pribadi khusus untuk mengajarkan Al Qur’an, (Tahsin dan Tahfidz) dan Bahasa Arab (termasuk khot/imla’-nya). Tahun depannya masukkan ke tempat kami (meski kemungkinan besar masih harus diturunkan ke kelas 3).Kenapa tidak di Kelas 4? Karena di kelas 3 dasar-dasar materi pelajaran Aqidah dan Akhlaq dimulai.

70. niko satriia noor - Agustus 20, 2015

Ana sudah tanya ke anak,, dia keberatan ,, terlalu jauh keringgalannya. Ana minta saran aja ke ustadz, skolah mana kira2 nantinya dijenjang smp. Yg harus dituju.
Utk diRBIA in sya allah ana punya 2 bayi lagi. Yg akan ana skolahkan ditempat yg sesuai sunnah.

rumahbelajaribnuabbas - Agustus 20, 2015

Silahkan datang ke rumah ana. Kita bicarakan dulu.

71. taufik - Agustus 25, 2015

Bismillah,
Ana ingin bertanya apakah rumah belajar ini bermanhaj salaf( salafyyin)?
Ust. Firanda Addirja, Ust. Yazid dll apakah satu manhaj dg antum?
Barakallahu fiikum.

72. rumahbelajaribnuabbas - Agustus 26, 2015

Ya, rumah belajar Ibnu Abbas bermanhaj Salafy. Kami tidak punya hubungan dengan kedua ustadz yang antum sebutkan di atas.

73. Abi Naylah - Januari 27, 2016

Afwan ust, ana berminat memasukkan anak ke-2 ana kesana.
Info yg ana dapat harus berusia diatas 7thn yaa, per juni nanti anak ana baru 6thn 3bln..
Anak 1 ana sekarang di SD Bina Sunnah kelas 4, terpikir untuk memasukkan ke SMP RBIA nanti ust..

74. rumahbelajaribnuabbas - Januari 27, 2016

Batas toleransi umur minimal adalah 6 th 6 bln /Juni. Kami tidak bisa menerima yang lebih muda dari usia tda.
Adapun utk tingkat Mutawasithah (SMP) , mereka sudah harus menyelesaikan Kitab Durussulughoh 1.

75. Abu Hafshoh - Maret 4, 2016

Assalamu’alaykum, afwan Ustadz untuk tingkat SMP
1. apakah tinggal di RBIA atau PP?
2. menerima siswa Akhwat atau tidak?
Jazakumulloh Khoir atas tanggapannya

76. rumahbelajaribnuabbas - Maret 5, 2016

Wa alaikumussalaam.

1. Kami tidak menerima pondokan.
2. Kami menerima siswa akhwat.

77. Kayla - November 8, 2016

Assalamualaikum..
Afwan ustadz..sya mau bertanya..sya punya 2putri, yg pertama 8thn kelas 4, selama 5bulan ini mondok dsalah satu pesantren salaf..tp tnyata dluar dugaan..anak sya betah, tp sya yg ga tenang dgn lingkungan dsana..kl sya pindahkan ke rbia, apakah harus nunggu tahun ajaran besok? Dan saat dia naik kelas 5, apa harus diulang juga dari kelas 3? Tidak bisa kah dia masuk rbia semester 2 dgn tetap di kelas 4?
Putri sya ke 2, juni besok berumur 6thn 4bulan…bisa kah masuk rbia? Tp dia blm bisa baca ataupun nulis…
Sehari2 saya kerja ust, sya ibu tunggal, sya masukin anak pertama k pondok itu krn sya merasa ga mampu membimbing dan mengurusnya sendiri…apa sya harus berhenti kerja agar pendidikan anak2 sya tdk terlantaarr?

Jazakumulloh khoir atas tanggapannya…

rumahbelajaribnuabbas - November 8, 2016

Pertama, rbia bukan pondok dan tidak memiliki fasilitas untuk menginap. Semua pelajar tinggal tidak jauh dari tempat belajar kami sehingga bisa pulang-pergi 3 x sehari.
Kedua, kami tidak menerima murid pindahan di semester kedua. Ini sudah jadi kebijakan kami yang kami sudah pertimbangkan sejak semula.
Ketiga, setiap murid pindahan akan kami turunkan kelasnya, bisa satu bisa juga dua tingkat. Namun jika dalam 3 bukan pertama ternyata anak tersebut mampu untuk dinaikkan, akan kami naikkan (kembalikan) ke kelas yang sesuai. Ini pun tetap dengan mempertimbangkan kuota murid per kelas (20 orang) dan kami lebih memperioritaskan murid lama.
Keempat, syarat untuk diterima di kelas 1 usia 6 tahun 9 bulan per Juli.
Kelima, kemampuan baca-tulis tidak menjadi syarat diterimanya murid.
Keenam, tetaplah anti bekerja yang sesuai dengan syari’at. Sebab dengan terus bekerja justru pendidikan anak , in syaa Allah, tidak akan terlantar. Semoga Allah mudahkan urusan anti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: