jump to navigation

6.Jendela Orangtua

ٌ

“Wahai para orangtua…,

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memerintahkan segenap hamba-Nya untuk senantiasa mengesakan-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Artinya: Wahai segenap manusia, ibadahilah (esakan) rabb- mu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum      kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.) (Al       Baqarah: 21)

Dan juga ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

(Artinya: Ingatlah kalian kepada-Ku, maka Aku-pun ingat  kepada kalian. Bersyukurlah kalian kepada-Ku, dan jangan kalian kufuri (-ni’mat-Ku-).) (Al Baqarah: 152)

ALLAH Subhaanahu wa ta’a’laa juga mengingatkan:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

(Artinya: …dan ketika telah mencapai usia empat puluh tahun ia pun berdo’a, “Ya rabb-ku, tunjukilah aku agar mensyukuri ni’mat yang telah Engkau kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat dengan amal sholeh yang engkau ridhoi, serta perbaikilah diriku dan anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.”) (Al Ahqaaf: 15)

juga mengingatkan akan kewajiban kita sebagai orang tua:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

(Artinya: Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.) (At-Tahriim:6)

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– juga mewasiatkan:

كلكم راعء وكلكم مسؤل عن رعيته

(Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya.) (Muttafaqun alaih)

قال النبي صلى الله عليه وسلم: ما من مولود إلا يولد على الفطرة،

فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه،

(Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali di dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuannya lah yang menjadikan  mereka yahudi, nasrani, atau majusi.) (HR: Al Bukhari)

dan masih banyak lagi keterangan yang menunjukkan kepada kita akan betapa besarnya tanggung jawab kita -sebagai orangtua- atas anak-anak kita yang merupakan amanah-ALLAH yang kelak kita diminta pertanggungjawabannya.

Orangtua wajib menjaga fitrah anak-anaknya agar senantiasa cenderung kepada Al Haq, Tauhid. Orangtua wajib mensyukuri keadaannya sebagai orang yang diamanahi keturunan oleh ALLAH, dan juga berkewajiban mendidik keturunan mereka agar menjadi hamba-ALLAH yang pandai bersyukur. Orangtua wajib menyelamatkan dirinya -disebabkan khianatnya ia akan amanah tersebut- juga menyelamatkan keturunannya -disebabkan ia lalaikan kewajiban untuk mendidik mereka- dari jilatan api neraka. Orangtua berkewajiban menyiapkan anak-anaknya untuk mampu menghadapi masa depan mereka kelak.

Jendela Orangtua rumah belajar Ibnu Abbas merupakan media yang dengannya berbagai masalah yang dihadapi orangtua dan apa yang harus diketahui oleh mereka dibicarakan. Jendela ini sengaja dibuka untuk  -melaluinya- mengingatkan para orangtua akan  kewajiban dan tanggung jawabnya. “

Komentar»

1. Abu Rayhan Zulhaidir - Agustus 24, 2009

Assalamu ‘Alaykum,

Barakallahu fiikum ustadz,

Program antum sangatlah mulia. Ana mau sharing dan mohon solusi antum ustdz. Alhamdulillah anak ana saat ini sekolah di kelas 3 Ma’had Al-Azhar As-Syarif dan sudah menghafal 3 juz walaupun belum terjaga. Satu hal yang sangat ana khawatirkan adalah pendidikan akhlak dan pribadi anak ana ustazd, sampai-sampai ana perfikir bahwa akan saya carikan media program sabtu – minggu untuk menutupi kekurangan tersebut, dan ana melihat Rumah BElajar Ibnu Abbas sangat efektif. Mohon nasehat dan arahan antum ustadz.

Jazakallah Kahoyr.

2. rumahbelajaribnuabbas - Agustus 26, 2009

Wa alaikumussalaam

Kekhawatiran antum terhadap akhlaq anak adalah juga kekhawatiran setiap orang tua. Jika apa yang antum dapati pada anak antum -berupa kekurangan di dalam perkara akhlaq dan kepribadian- ternyata juga antum lihat pada kebanyakan atau hampir seluruh kawannya di Ma’had tsb, maka artinya sumber permasalahan tersebut ada di Ma’had tsb, baik sistim, metode pembinaan/pendidikan, atau pendidiknya. Akan tetapi, jika itu hanya terjadi pada anak antum sendiri, maka sumbernya adalah di dalam rumah tangga / keluarga antum sendiri.
Ayah dan ibu harus memiliki cara pandang dan penanganan yang sama mengenai anak. Jika si ibu mengatakan “anak kita mulai nakal” sedang si ayah mengatakan “anak kita sedang lucu-lucunya”, maka dari sinilah mulanya anak akan menjadi bermasalah. Begitu pula jika standar akhlaq dan kepribadian antara keluarga dan sekolah tempat anak belajar berbeda.
Maka agaknya sulit diharapkan akhlaq dan kepribadian anak akan tergarap dengan baik, jika tidak pernah ada forum duduk bersama (majelis) antara orang tua dan pihak guru untuk menyatukan pandangan dan langkah.
Di “rumah belajar Ibnu Abbas” para orang tua murid bertemu setiap pekan dengan guru-guru anak mereka dan mengadakan majelis ta’lim bersama. Gunanya:
1. Menyamakan visi dan misi pendidikan antara ortu dengan guru.
2. Saling mengenal dan mendalami posisi dan karakter masing-masing (antara ortu dan guru, terutama Wali Kelasnya). Guru mengenal dari keluarga dan orang tua macam apa muridnya datang. Dan Ortu juga mengenal betul siapa dan bagaimana karakter guru yang dia percayakan anaknya dididik olehnya.
3. Membekali ortu tentang ilmu jiwa pendidikan/ ilmu jiwa perkembangan.
4. Menyelasaikan persoalan/perbedaan sikap di antara guru dan orang tua tentang keseharian anak di tempat belajar, jika ada yang di luar kebiasaan.
5. Menyelesaikan persoalan di antara sesama ortu jika anak-anak mereka bertengkar.
6. Memeriksa apakah ortu melihat dan mengikuti pelajaran anak-anaknya.

Pendeknya, para ortu harus aktif meminta pihak sekolah untuk mengadakan majelis semacam di atas. Tanpa menempuh langkah ini, mustahil perkembangan jiwa anak terpantau dengan baik.

Wa fiika barakallah

3. dakhyar - Juli 11, 2010

Bismillaah. Ustadz, ana baru browsing di blok yg antum kelola. Allahu Akbar, ternyata sangat2 bermanfaat sekali utk ortu, anak2 n keluarga. Barakallahu fiik.

4. adigani - September 3, 2010

Bismillah,
Assalamu’alaykum ustadz,
Ana yang kemarin mengundang ustadz untuk tausyiah di Menara Global Jakarta. Alhamdulillah sesuai saran ustadz, ana sudah membuka blog ini, tapi perlu waktu untuk mempelajari semua isinya, insya Allah sangat bermanfaat bagi ana dan istri utk menentukan arah pendidikan anak-anak kami.
Jazakallahu khoiron atas tausyiahnya kemarin ustadz, semoga Allah Subhanahu waTa’ala memberi balasan pahala dan menjaga antum sekeluarga.
Ke depan insya Allah ana undang lagi ke Jakarta ya ustadz.
Barrokallohu fiik. Wassalamu’alaikum warohmatullah.

5. ummu asysyifa - Mei 13, 2013

bismillaah.
assalamu’alaikum warohmatullah..
‘afwan ustadz, blh ana share tentang psikologi anak dan cara penanganannya? anak didik ana ada yng adab dan akhlaknya sedikit kurang..

6. rumahbelajaribnuabbas - Mei 13, 2013

wa alaikumussalaam. Silahkan. Mudah-mudahan saya bisa membantu.

7. ummu asysyifa - Mei 15, 2013

‘afwan ustadz, ana dititipn seorang umahat untuk menjaga anaknya, pergi, pulang dan kesehariannya selalu bersama ana. dan sekarang yang timbul malah efek negatif.
orang tuanya berharap dgn bersama ana dia bisa jd mandiri, tp sebaliknya yng ada sekang dia jd sangat manja. teman2nya juga gak suka karena stiap x dekat dngn dia selalu buat ribut.
karena ingin diperhatikan dia selalu melakukan sesuatu yang tergolong ekstrim..
krna tingkahnya itu yng dulunya dia juara sekarang nilainya jatuh
tahfizhnya jg mandeg.
sebenarnya dia anak yang pandai

syukron ustadz, atas wktu yang telah diluangkan.
jazaakallahu khoiron…

8. rumahbelajaribnuabbas - Mei 15, 2013

Melatih kemandirian anak bukan dengan cara menjauhkan anak dari orangtuanya. Kedua orangtua anak tersebut harus lebih dahulu sepandangan dan sejalan di dalam mengasuh anak.

Orangtua adalah pihak yang paling kompeten untuk mendidik anak sendiri. Mereka memiliki hubungan darah yang menjadi modal untuk membangun kasih sayang, kedekatan emosional, dan kewibawaan.
Bagaimana anak akan memiliki kelembutan hati jika sejak kecil sudah dipisahkan dari orangtua.

.
Ahsan, kembalikan anak tersebut kepada kedua orangtuanya.
Jangan terlalu berharap kita bisa mendidik anak orang kalau anak tersebut oleh orangtuanya sendiri tidak bisa diatur

9. ummu asysyifa - Mei 18, 2013

tetap tinggal bersama orang tua ustadz..pergi sekolah dan belajar bersama ana itu saja. selama belajar juga tetap dalam pengawasan orang tua..
perhatian orang tua selalu ada untuk anak, sampai sekecil apapun itu tetap dalam pengawasan orang tua..
jd bagaimana ustadz

10. rumahbelajaribnuabbas - Mei 19, 2013

Kemungkinan besar anak tersebut sangat dimanja oleh kedua orangtuanya. Anak tersebut juga dimanja dengan harta, mungkin. Kalau memang dugaan saya benar, yang pertama harus dilakukan adalah mengubah perlakuan kedua orangtua tsb kepada anaknya. Allahu A’lam bish-shawab.

11. ummu asysyifa - Mei 23, 2013

dari kecil orang tua selalu mengajarkan kesederhanaan dan zuhud.. dari yang awalnya banyak harta sampai sekarang tidak punya apa2, kehidupan mereka tidak berubah, selalu biasa2 saja. dan ke2 orang tuanya selalu mengajarkan untuk slalu bersyukur.

12. rumahbelajaribnuabbas - Mei 23, 2013

Boleh jadi banyak hal atau ada hal yang belum terungkap tentang keadaan atau hubungan orangtua-anak yang sesungguhnya serta kemungkinan adanya pihak ketiga (kakek/nenek). Sebab, kalau memang orangtuanya mengawasi dan senantiasa mengajari bersyukur (bagaimana cara mengajarnya, sih?), seharusnya anak tersebut tidak lagi bermasalah. Allahu A’lam.

13. ummu asysyifa - Mei 24, 2013

insyaAllah sesuai dengan alqur’an dan assunnah..
dulu memang sebelum masuk k TK sang anak beberapa bulan sempat tinggal beberapa bulan bersama neneknya..
linkungan sekolah jg lingkungan yng bagus d salah 1 SDIT tempat saya mengajar. lingkungan rumah jg bagus.
kadang saya berpikir, mungkin ini adalah ujian buat orang tuanya..
dan saya yakin anak tersebut akan berubah menjadi anak yang santun.
tp saya belum menemukan caranya.
mungkin pindah sekolah k rumah belajar ibnu abbas ustadz?

14. rumahbelajaribnuabbas - Mei 24, 2013

Apa sudah pernah dibicarakan kepada orangtuanya perihal anak tsb?
Samakah persepsi antara ibu dan ayah tentang anak tsb, juga antara Ummu Asysyifa dengan kedua orangtuanya?
Sebelum berpikir untuk pindah ke “rumah belajar Ibnu Abbas”, seharusnya khan kedua orangtuanya yang aktif bertanya (seperti yang Ummu Asysyifa lakukan dengan kami). Ada apa?

15. ummu asysyifa - Mei 25, 2013

perbedaan anatara umi dan abinya itu tentu ada ustadz, tapi insyaAllah bisa diatasi. komunikasi dengan ana jg baik.. qadarullah anaknya memang sangat aktif..
dari cerita orang tua, sejak bayi anak ne beda dr yang lainnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: