jump to navigation

“Wasiat Luqman Kepada Anaknya” (ke-4)

“Wasiat Luqman kepada Anaknya” (Keempat)

Abu Khaulah Zainal Abidin

Wasiat Keempat

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Artinya: “Wahai anakku. Seandainya ada (satu amalan) seberat biji sawi pun berada di dalam batu atau di langit atau (tertanam) di dalam (perut) bumi sekalipun, niscaya Allah mendatangkan(membalas)nya . Sesungguhnya Allah Maha Halus (meliputi segala sesuatu) lagi Maha Mengetahui.”) (Luqman 16)

Ibnu Katsir –rahimahullahu ta’alaa– di dalam Tafsirnya mengatakan bahwasanya kedzaliman atau kesalahan, meski hanya seberat bij sawi, misalnya, tetap akan Allah tampakkan (perhitungkan) pada Hari Qiyamat ketika Allah menegakkan timbangan keadilan serta pembalasan. Andaikata amalannya baik, baik pula lah ganjarannya. Begitu pula jika buruk, buruk pula ganjarannya.

Wasiat ini mengajari kita, para orangtua, agar sedini mungkin mendidik anak untuk tidak meremehkan kebaikan atau keburukan meski tampak kecil. Orangtua juga harus mengajarkan anak untuk tidak menganggap sepele setiap perbuatan, baik atau buruk. Karena perkara-perkara besar sering kali bermula dari hal-hal yang dianggap sepele.

Karenanya pula sekecil apa pun kebiasaan buruk pada anak harus segera diperbaiki. Dan juga jangan pernah kita lupa memuji atau memberikan apresiasi atas perbuatan baik anak atau mendorongnya untuk melakukan kebaikan meskipun kelihatannya kecil. Bukankah Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– pernah bersabda:

(أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (رواه البخاري

(Amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah amalan yang berketerusan meskipun sedikit) (HR: Al Bukhari)

Hal ini juga akan mengajari anak kita terlatih atau terbiasa menghargai kebaikan orang lain sekecil apa pun. Sebaliknya juga akan melatih mereka peka dan waspada terhadap perkara-perkara buruk, sekecil apa pun.

Wasiat ini juga menjelaskan akan Maha Adil-nya Allah. Yakni bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hamba-Nya, sekecil apa pun. Jika amalannya baik, kebaikan itu pun akan kembali kepada pelakunya. Dan jika buruk, buruk pula lah balasannya.

[فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ () وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ    [الزلزلة:7-8

(Maka barangsiapa yang beramal semisal zarrah pun kebaikan, akan Ia perhitungkan. Dan barangsiapa yang beramal semisal zarrah pun keburukan, akan Ia perhitungkan.)(Az-Zalzalah: 7 – 8)

Bahkan dengan keadilan-Nya pula lah Allah melipatgandakan pahala kebaikan sepuluh kali lipat, dalam rangka mentarghib hamba-Nya agar bersemangat mengerjakan kebaikan. Sementara satu kejahatan atau keburukan hanya dibalas sesuai dengan kejahatan yang diperbuat tanpa dilebihkan.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ   (الأنعام:160

(Barangsiapa yang datang dengan membawa amal yang baik, baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang datang dengan membawa perbuatan jahat, dia tidak dibalas melainkan seimbang dengan kejahatannya. Dan tidak sedikitpun mereka dianiaya (dirugikan).) (Al An’aam: 160)

Juga di dalam wasiat ini ada pelajaran agar sejak dini kita menanamkan sikap muraqabah pada anak, yakni mengajari senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Karena hanya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah) saja lah seseorang akan sampai kepada derajat ihsan, yakni di mana ia beribadah seakan-akan ia melihat Allah dan yakin dirinya dilihat oleh-Nya.

Pertanyaannya adalah; mungkinkah kita mengajarkan dan menumbuhkan sifat muraqabah pada anak kecil ? Jawabannya adalah; sangat mungkin, bahkan hal tersebut bukanlah perkara sulit selama fitrahnya untuk menyenangi hal-hal yang baik senantiasa terjaga. Kita, orangtua, hanya perlu menjaga dan merawat fitrah tersebut pada anak dengan memberikan contoh-contoh dan teladan yang baik serta menjauhkan mereka dari contoh atau tontonan yang yang merusaknya.

Bukankah telah sampai kepada kita riwayat yang shahih bagaimana seorang anak penggembala kambing yang kehidupan sehari-harinya jauh dari teladan yang buruk ketika diuji oleh Khalifah -Amirul Mu’minin- Umar bin Al Khattab –radhiallahu anhu– untuk berbuat curang dengan menjual seekor kambing gembalaannya tanpa sepengetahuan pemiliknya, kemudian anak tersebut menolak seraya mengatakan, “Memangnya Allah di mana?” satu pertanyaan singkat yang tidak membutuhkan jawaban. Bahkan ia adalah sebuah pernyataan yang terkandung di dalamnya firman Allah;

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

(Dan Ia senantiasa bersamamu di mana saja kamu berada) (Al Hadid: 4)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

(Sesungguhnya tak ada sesuatu yang tersembunyi bagi Allah, bak di bumi maupun di langit) (Ali Imran: 5)

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

(Sesungguhnya rabb-mu senantiasa benar-benar mengawasi) (Al Fajr: 14)

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa menanamkan muraqabah tersebut pada anak sejak kecil? Sederhana sekali caranya. Sesederhana menanamkan tauhid kepada anak, yakni dengan mengajarinya terbiasa berdo’a. Maka cara sederhana untuk menumbuhkan perasaan dilihat dan diawasi Allah pada diri anak adalah dengan membiasakannya berdandan (berpenampilan baik) ketika sholat, kemudian selalu katakan kepada mereka ketika setiap kali hendak sholat,“Engkau hendak berhadapan dengan Allah. Maka hendaknya engkau berpenampilan baik di hadapan-Nya.” Kemudian bacakan firman Allah:

وَ تَوَكَل علي العزيز الرحيم  الذي يراك حين تقوم  و تقلبك في الساجدين (الشعراء: 217 – 219

(Bertawakal lah kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk sholat) dan melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud) (Asy-Syu’araa: 217 – 219)

Dengan demikian anak akan merasa dilihat bahkan diawasi Allah ketika sholat, bukan merasa berhadapan dengan tembok atau diawasi manusia.

Maka jika perasaan muraqabah ini sudah tumbuh ketika sholat, selanjutnya tidak akan terlalu sulit untuk memelihara perasaan tersebut di luar waktu-waktu sholat. Sebaliknya, jika ketika sholat atau ketika bersama-sama di masjid saja perasaan itu (merasa diawasi Allah) tidak ada, bagaiman bisa kita harapkan perasaan tersebut ada di selain itu.

Ketiga hal tersebut di atas lah yang dapat kita ambil hikmahnya dari wasiat ini, yakni:

  1. Tidak menyepelekan perkara baik dan buruk sekecil apa pun.
  2. Meyakini akan Maha Adilnya Allah.
  3. Merasa senantiasa diawasi Allah .

 

%d blogger menyukai ini: