jump to navigation

“Wasiat Luqman Kepada Anaknya” (Pertama)

Abu Khaulah Zainal Abidin

Luqman adalah hamba ALLAH yang sholeh, yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa abadikan nama, wasiat, dan sebagian kisahnya di dalam AL Qur’an. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengaruniainya Al Hikmah, sehingga jadilah ia hamba yang bersyukur kepada ALLAH. Dan ketika para Sahabat –radhiallahu anhum– gelisah dan khawatir -dengan adanya peringatan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa terhadap orang-orang yang mencampuradukkan keimanan dengan kedzaliman (الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ /Al An’aam: 82)- Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– segera mengingatkan mereka kepada ucapan Luqman di dalam Al Qur’an

ألم تسمعوا ما قال العبد الصالح :….

(Artinya: “Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan seorang hamba yang sholeh:…..)

Maka, hendaknya kita pun mengambil pelajaran dari wasiat Luqman kepada anaknya.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengawali wasiat Luqman ini dengan menggambarkan keutamaan Luqman -berupa hikmah, yakni ilmu dan kefahaman-. Dan ALLAH mengawalinya pula dengan perintah untuk bersyukur kepada ALLAH serta manfa’atnya :

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya: (Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman (-yaitu-); Bersyukur kepada-Ku. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka seseungguhnya ia bersyukur untuk dirinya. Dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya ALLAH itu Maha Kaya lagi Terpuji.) (Luqman: 12)

Kemudian ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

(Artinya: Dan (-ingatlah-) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberikan wejangan: “Wahai anakku, janganlah kau sekutukan ALLAH. Sesungguhnya perbuatan menyekutukan ALLAH (syirik) itu kedzaliman yang sangat besar.”) (Luqman: 13)

Kata (وَهُوَ يَعِظُهُ ) di dalam ayat ini menggambarkan bagaimana Luqman dalam keadaan menyengaja memberikan wejangan kepada anaknya.

Inilah pelajaran pendahuluan -bagi para orangtua- dari kisah Luqman, yakni menyengaja memberikan wejangan kepada anak-anaknya, terutama tentang perkara-perkara yang penting mereka ketahui dan amalkan. Seorang kepala keluarga hendaknya menyiapkan waktu-waktu khusus untuk memberikan wejangan kepada anak-anak dan isterinya. Orangtua -terutama ayah- harus membiasakan dan melatih diri berbicara di hadapan anak di dalam suasana memberikan pelajaran atau nasihat.

Mengadakan majelis keluarga sangat besar manfaatnya, baik bagi orangtua -yang memberi wejangan- maupun bagi anak -yang mendengarkannya-. Suasana bermajelis akan menimbulkan komunikasi dua arah yang lebih dari sekedar obrolan, dan menumbuhkan keterbukaan di antara orangtua dan anak.. Kesan formal yang ditimbulkannya juga dapat membantu menjaga “posisi” orangtua – anak, atau bahkan memperbaikinya. Anak juga -kemudian- akan melihat orangtuanya sebagai pendidik atau pemberi arahan dan nasihat, bukan sekedar pencari nafkah bagi keluarga. Orangtua juga -kemudian- akan melihat anaknya sebagai murid atau anak didik, bukan sekedar keturunan atau anggota keluarga.

Wasiat Pertama

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

(Artinya: “Wahai anakku, janganlah kau sekutukan ALLAH. Sesungguhnya perbuatan menyekutukan ALLAH (syirik) itu kedzaliman yang sangat besar.”) (Luqman: 13)

Inilah wasiat pertama Luqman kepada anak-anaknya, yakni berupa peringatan untuk menjauhi perbuatan mensyarikatkan (menyekutukan) ALLAH serta penjelasan akan bahayanya. Inilah perkara terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap orangtua, yakni perhatian terhadap aqiedah anak-anaknya. Perhatian untuk menjaga fitrah anak-anaknya agar tetap dalam keadaan mentauhidkan ALLAH. Perhatian untuk menyelamatkan anak-anaknya dari terjerumus ke dalam kesyirikan.

Sudah seharusnya orang tua mempunyai kekhawatiran terhadap aqiedah anak-anak mereka kelak sepeninggalnya. Artinya, orangtua harus membekali anak dengan ilmu yang cukup agar anak-anaknya kelak tetap mentauhidkan ALLAH. Perhatikanlah apa yang diwasiatkan Nabi Ibrahim –alaihissalaam-. kepada anak-anaknya.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

(Artinya: Dan Ibrahim-pun mewasiatkan anaknya tentang itu, demikian pula Ya’qub, “Wahai anak-anakku. Sesungguhnya ALLAH telah memilih agama ini (-Islam-) bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali di dalam keadaan sebagai muslim.”) (Al Baqarah: 132)

Demikian pula kekhawatiran Nabi Ya’qub –alaihissalaam– terhadap aqiedah anak-anaknya, sehingga dia memerlukan kepastian berupa janji anak-anaknya untuk tetap mentauhidkan ALLAH.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا

نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

(Artinya: Adakah kamu hadir ketika (-tanda-tanda-) maut mendatangi Ya’qub, ketika ia berkata kepada anakanaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab,”Kami akan menyembah rabb-mu, rabb nenek moyangmu; Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (-yaitu-) Rabb Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk kepada-Nya.”) (Al Baqarah:133)

Cukuplah kedua contoh (Nabi Ibrahim dan Ya’qub –alaihimassalaam-) di atas menjadi pelajaran bagi kita -para orangtua-, bahwa hendaknya kita lebih khawatir terhadap perkara agama atau aqiedah anak-anak kita ketimbang ” Di mana nanti mereka tinggal ?” atau “Siapa yang akan memberi mereka makan?” -sebagaimana sering dikhawatirkan kebanyakan orangtua akan nasib anak-anaknya sepeninggal mereka.

Tauhid (Mengesakan ALLAH) merupakan perkara terpenting yang ALLAH perintahkan atas hamba-Nya. Demikian pula, Syirik (Menyekutukan ALLAH) merupakan perkara terpenting yang ALLAH larang atas hamba-Nya. Oleh karenanya tidaklah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengutus rasul-Nya di setiap jaman, kecuali mereka mengajak manusia kepada Tauhid dan menjauhi perbuatan syirik.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

(Artinya: Dan telah Kami utus pada setiap umat rasul (-untuk menyeru-), “Sembahlah ALLAH, dan jauhilah Thaghut!”) (An-Nahl:36)

Maka perkara Tauhid dan Syirik menjadi hal terpenting pula yang harus diajarkan kepada anak sedini mungkin. Keduanya (menanamkan Tauhid dan menjauhi perbuatan Syirik) dilakukan bersamaan, karena tidaklah ALLAH memerintahkan hamba-Nya mentauhidkan ALLAH kecuali bersamaan pula dengan itu melarangnya berbuat syirik.

Menanamkan Tauhid kepada anak -sejak dini- dan menjauhkan mereka dari perbuatan syirik ditempuh dengan menumbuhkan penghayatan melalui pembiasaan -sholat dan berdo’a, misalnya-, serta menjauhkan mereka dari rasa takut yang tidak beralasan (-khauf sirry-). Di samping itu juga melalui pendekatan nalar manakala kemampuan menalarnya sudah memadai.

Mengajari anak lafadz-lafadz do’a dan dzikir serta membiasakan mereka berdo’a merupakan cara pertama menanamkan Tauhid kepada anak, karena (-baca juga tulisan saya yang berjudul “Berdo’alah Kalian…!“-) :

عن جابر بن عبدالله الأنصاري، قال:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قبل موته بثلاثة أيام، يقول

“لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل”.

(Dari Jabir bin Abdillah Al Anshary, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata -tiga hari sebelum wafatnya- ,”Janganlah di antara kalian mati, kecuali di dalam keadaan berbaik sangka kepada ALLAH Azza wa Jalla.”) (HR:Muslim)

إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله،

(“…Jika kau berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada ALLAH…”) (HR: At-Ttirmidzi)

Kemudian, menjauhkan anak dari perasaan takut yang tidak beralasan (-khauf sirry-) juga merupakan cara pertama untuk menjauhkan mereka dari kecenderungan kepada kesyirikan. Khauf Sirry (takut tersembunyi) adalah sejenis takut yang tidak beralasan dan bukan merupakan tabi’at asal manusia. (-baca juga tulisan saya yang berjudul “Kenapa Harus Takut?“-). Yang termasuk Khauf Sirry ini adalah seperti; takutnya seseorang kepada cerita-cerita hantu dan sejenisnya, yang ini -sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –rahimahullahu ta’alaa- di dalam Syarah Tsalatsatul Ushul- merupakan jenis kesyirikan. Karena tidaklah seorang takut kepada yang tidak beralasan untuk ditakuti itu kecuali karena ada keyakinan bahwa sesuatu tersebut memiliki kemampuan tertentu -seperti mendatangkan manfaat atau mudharat-.

Syirik tumbuh tidak lain karena ada keyakinan bahwa ada sesuatu (benda mati atau makhluq hidup) selain ALLAH Subahaanahu wa ta’alaa yang memiliki sifat-sifat ilaahiyah (berhak diibadahi: disembah, dimintai pertolongannya, dicintai, ditakuti, dijadikan tempat bergantung). Dan kecenderungan yang pertama kali tumbuh pada manusia -terutama anak-anak- adalah rasa takut. Maka hendaknya anak-anak dijauhkan dari cerita-cerita atau khayalan-khayalan yang membuat tumbuhnya khauf sirry pada jiwa mereka. Karena bibit-bibit kesyirikan pertama kali tumbuh di dalam jiwa anak melalui takut yang tidak beralasan ini.

Kedua (mengajari anak berdo’a dan menjauhkan mereka dari cerita atau khayalan yang bisa menumbuhkan khauf sirry) hal inilah yang merupakan pendekatan pembiasaan dan penghayatan yang bisa kita tempuh di dalam rangka menanamkan Tauhid dan menjauhi Syirik pada jiwa anak-anak kita. Di dalam rangka pembiasaan -agar dengannya tumbuh keyakinan- ini pulalah mengapa anak -meskipun belum mencapai usia mampu membedakan baik dan buruk- sudah harus diajari sholat.

Di samping itu -bagi mereka yang sudah bisa diajak berpikir serta mampu membedakan yang baik dan yang buruk- hendaknya kita pergunakan pula cara-cara dengan pendekatan nalar. Melalui pendekatan nalar lah keyakinan yang sudah tumbuh melalui pendekatan pembiasaan tadi mendapatkan alasan logisnya.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:

يَأيُّهَا النَّاسُ اعبُدُوا ربَّكُمُ الذَِّي خَلَقَكُم وَالذِّينَ مِن قَبلكُم لَعَلَّكُم تَتَّقُونَ(21) الّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرضَ فِرَاشًا وَالسَّمآءَ بِنآءً وَأنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَاَءً فَأخرَجَ بِهِ مِن الثَّمراتِ رِزقًا لّكُم فَلاَ تَجعَلُواْ لَلَّهِ أندَادًا وَأنتُم تَعَلُمونَ [البقرة:22،21].

(Artinya: Wahai manusia. Ibadahilah rabb-kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dia-lah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagi atap serta menurunkan hujan, lalu Dia keluarkan darinya segala macam buah-buahan sebagai rezki bagi kalian. Karena itu janganlah kalian mengada-adakan sekutu bagi ALLAH, padahal kamu mengetahui.) (Al Baqarah 21-22)

قال ابن كثير رحمه الله تعالى: ( الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة ).

(Ibnu Katsir –rahimahullahu ta’alaa– berkata (-di dalam tafsirnya): “Yang Menciptakan segala itu semua tak lain adalah yang paling berhaq diibadahi.”)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –rahimahullah ta’alaa– (-di dalam Syarah Tsalaatsatul Ushul-) :

“(-maksudnya-) jangan buat tandingan terhadap yang telah menciptakan kalian, orang-orang sebelum kalian, bahkan telah menjadikan bumi sebagai hamparan kalian, menjadikan langit sebagai atap, dan menurunkan hujan yang darinya Ia keluarkan berbagai macam buah-buahan, yang kemudian kalian beribadah kepada tandingan tadi sebagaimana seakan-akan kalian beribadah kepada ALLAH, yang kemudian kalian cintai sebagaimana seakan-akan kalian cintai ALLAH. Sesungguhnya perbuatan semacam itu tidaklah pantas bagi kalian -baik secara aqal maupun secara syar’i.

Ayat di atas merupakan satu contoh betapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menuntut nalar kita untuk mengakui kekuasaan-Nya dengan cara mengesakan-Nya di dalam peribadatan, yakni tidak menyekutukan atau menyetarakan ALLAH dengan sesuatu apapun, baik di dalam do’a dan pengharapan maupun di dalam cinta dan keta’atan.

Ketika Luqman –alaihissalaam– berwasiat kepada anaknya agar tidak menyekutukan ALLAH, ia menjelaskan bahwa perbuatan tersebut (syirik) merupakan kedzaliman yang sangat besar. Dan memang tak ada kata atau istilah yang lebih tepat untuk mengungkapkan atau menggambarkan tentang bahaya dan buruknya syirik, kecuali kata dzulmun ‘adziimun (kedzaliman yang sangat besar) Ini juga bentuk pendekatan nalar. Karena mustahil menjelaskan (baca: menyifati) sesuatu dengan sesuatu yang tidak dimengerti. Maka tentu anaknya pun sudah memahami arti atau makna dzalim.

Karenanya, ketika sudah saatnya kita menjelaskan kepada anak -melalui pendekatan nalar- keutamaan Tauhid serta buruk dan bahayanya Syirik, mereka juga harus sudah mengenal dan terbiasa mendengar kosa kata yang memuat pengertian atau konsep-konsep penting; seperti kata adil -dan tentu saja menurut Islam-, karena mustahil menjelaskan dzalim tanpa lebih dahulu memahami konsep adil, dan mustahil menjelaskan buruk dan bahayanya syirik tanpa lebih dahulu memahami konsep dzalim.

Kita dapat memperkenalkan kosep adil kepada anak melalui cara yang sederhana, seperti: “Adil itu ibarat engkau menimbang sesuatu tidak berat atau panjang sebelah. Maka, manakala engkau menimbang sesuatu dengan meletakkan alat pengukurnya pada tempat yang tepat sehingga alat timbangan itu tetap dalam keadaan rata, itu artinya kau telah menimbang dengan adil, dan tentunya engkau suka melihat keadilan semacam ini.” “Adil itu manakala engkau menghukum seseorang yang berbuat salah sesuai dengan besar kesalahannya. Maka, manakala kau menghukum atau membalas kesalahan orang yang bersalah secara tidak berlebihan, atau membedakan antara hukuman bagi anak kecil yang bersalah dengan hukuman bagi orang dewasa, itu artinya kau telah berbuat adil; dan tentunya kau juga senang jika diperlakukan seperti itu.” “Adil itu manakala engkau menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Maka, manakala engkau menempatkan kambing di kandang kambing dan harimau di kandang harimau -tidak sebaliknya atau tidak mengumpulkan mereka dalam satu kandang-, itu artinya kau telah berbuat adil. Atau manakala seorang bapak menunaikan kewajibannya sebagai bapak dan anak menunaikan kewajibannya pula sebagai anak, itu artinya mereka telah berbuat adil. dan tentunya kau juga senang melihat yang demikian.”

Pengertian dan penghayatan anak -juga manusia pada umumnya- terhadap konsep dzalim sangat bergantung kepada pengertian dan penghayatan mereka terhadap konsep adil di atas. Maka perhatikanlah, sungguh sangat tidak aneh kalau orang-orang kafir -yang menganggap adil itu adalah sekedar sama rata sama rasa- kemudian melahirkan ideologi komunisme. Juga sungguh sangat tidak aneh kalau ada muslim -yang tidak memahami konsep adil menurut Islam ini- termakan oleh propaganda Liberalisme, Emansipasi wanita, dan semacamnya.

Setelah anak memahami adil , tentu akan lebih mudah bagi kita menjelaskan makna dzalim yang merupakan lawannya:

Dzalim itu ibarat kau menimbang sesuatu dengan berat sebelah. Maka, manakala engkau mengukur sesuatu dengan meletakkan alat pengukurnya tidak pada tempat yang tepat sehingga alat timbangan itu menjadi miring ke salah satu arah, itu artinya kau telah berbuat dzalim, dan tentunya kau tidak suka melihat keadaan seperti itu.” “Dzalim itu manakala engkau menghukum seseorang yang berbuat salah dengan hukuman yang tidak sesuai dengan besar kesalahannya. Maka, manakala engkau menghukum atau membalas kesalahan seseorang secara berlebihan sehingga melebihi besar atau tingkat kesalahannya, itu artinya kau telah berbuat dzalim, dan tentunya kau tidak suka diperlakukan seperti itu.” “Dzalim itu manakala engkau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, manakala engkau memperlakukan anak seperti orang tua atau sebaliknya, itu artinya kau telah berbuat dzalim. Manakala engkau menghormati orang yang senang berbuat maksiat dan menghina orang yang selalu mengerjakan keta’atan, itu artinya kau telah berbuat dzalim. dan tentunya kau tidak senang diperlakukan seperti itu.”

Maka, bagaimana jika ada yang menyamakan atau menyejajarkan sesuatu yang tidak pantas dipersamakan atau disejajarkan? Bagaimana jika ada yang menyamakan atau mendudukkan makhluq pada kedudukan Al Khaliq (Pendipta)? Bagaimana kalau ada orang menyembah sesuatu yang tidak pantas bahkan tidak berhak untuk disembah? Jawabnya, Itu semua adalah perbuatan dzalim, bahkan yang paling dzalim. Dan tak ada kedzaliman yang lebih besar mengalahi dzalimnya perbuatan (syirik) tersebut. “إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم

Komentar»

1. adikmu - Desember 28, 2008

Bismillah,
Usul niih,……
Gimana kalo mulai ditampilkan juga tulisan-tulisan praktis yang mengarah ke cara-cara atau kiat praktis pembelajaran kepada anak-anak yang mungkin bisa dipakai rujukan bagi para ortu yang bermaksud mengajari anak-anak di rumah masing-masing.
Baarakallahu fiik.

2. Pipit - Maret 17, 2009

Pipiet – Januari 3, 2009[Edit]

Alhamdulilliah akhirnya kita sekeluarga bisa dapat ilmu agama dari blog ini, terimakasih kepada Abu Khaulah yang telah mengisi dengan cerita-cerita yang bermanfaat untuk kita semua agar dapat kita jadikan pelajaran

3. Anonim - Desember 19, 2012

semoga saya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan agama.

4. Wasiat Luqman Kepada Anaknya (Bagian Pertama) - Agustus 26, 2013

[…]  Sumber : rumahbelajaribnuabbas […]

5. “Wasiat Luqman Kepada Anaknya” (Pertama) | الغرباء Online - September 20, 2013
6. Ash-Shorowaky.net » “Wasiat Luqman Kepada Anaknya” (Pertama) - November 7, 2013

[…] Sumber:  https://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/jendela-orang-tua/wasiat-luqman-kepada-anaknya-pertama/ […]

7. Agam D'lycan - Januari 19, 2014

assalamualaikum…
bagaimana saya harus bersikap jika anak2 sy (masih umur 3 & 1;5 tahun)di asuh oleh ibunya yang sekarang beragama katolik.

8. rumahbelajaribnuabbas - Januari 19, 2014

Wa alaikumussalaam.
Hak Pengasuhan anak pada usia sda ada pada ibu kandungnya, kecuali jika hakim menentukan lain dengan alasan-alasan yang dibenarkan (spt, si ibu sakit sehingga tidak mampu mengurus anaknya). Maka seharusnya seorang ibu tidaklah membiarkan anak kandungnya diasuh oleh orang yang berbeda agama.

9. Ibnu Amin Razip Al-Bayani - Januari 30, 2014

جزاك الله خيرا

10. budid - Maret 11, 2014

Indah sekali..

11. sapeena - November 8, 2014

Assalam..jemput bertamu ke laman saya

12. Evend Az Zarkasyi - Januari 22, 2015

Semoga saja bisa anak yg berbakti pada orang tua.. Dan bisa menjadi orang tua sebagaimana yg telah ditetapkan’NYA kelak, amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: