jump to navigation

Dikotomisme Ilmu di Dalam Islam. Adakah Itu ? Agustus 2, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
16 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Jawabnya tentu bukan sekedar ada atau tidak. Dan masalah, bahkan istilah ini -berkaitan dengan Islam- tidak pernah dipertanyakan sebelumnya, kecuali karena dua sebab: Pertama, kenyataan yang terjadi di mana sebagian kaum muslimin sendiri cenderung berpandangan atau bersikap sehingga menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya dikotomisme yang keliru. Kedua, Kecemburuan sebagian kaum muslimin atas ketertinggalan mereka oleh “barat” (baca: peradaban dunia non-muslim) di dalam urusan kesejahteraan material.

Pertanyaan ini menjadi penting, karena terlanjur muncul berbagai jawaban, mulai dari yang filosofis sampai kepada yang sifatnya praktis. Sebagai contoh (-di Indonesia-), adanya perlakuan diskriminatif antara SD, SLTP, SMU yang berinduk ke Depdiknas dengan Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang berinduk ke Depag. Kekhawatiran orang tua; kalau memasukkan anak ke Madrasah / Pesantren nanti susah mencari kerja, dan kalau memasukkan anak ke SD dan seterusnya nanti buta agama. Kesemua ini sesungguhnya bermuara kepada persoalan dikotomi ilmu.

Sementara itu tidak sedikit orang -yang karena kecemburuan ini-, langsung bersemangat menyanggah, antara lain dengan alasan: Banyaknya ulama Islam yang punya otoritas keilmuan lebih dari satu bidang adalah bukti kuat bahwa Islam tidak mengenal konsep dikotomi ilmu. Tentu saja logika semacam ini sangat naïf. Apakah jika seseorang memiliki profesi sebagai polisi sekaligus pada saat yang bersamaan juga seorang pencuri, kemudian akan kita katakan bahwa tidak ada dikotomi antara polisi dengan bandit ? (lebih…)

Iklan