jump to navigation

Sekolah atau Lingkungan Belajar? Juni 21, 2012

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
20 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Kalaulah tujuan pendidikan itu adalah agar manusia tahu untuk apa ia hadir di dunia, kalaulah tujuannya untuk melahirkan generasi yang lebih baik, kalaulah bukan semata untuk meraih kebaikan tetapi juga demi menghindari keburukan, maka bukan saatnya lagi sekarang berharap (-terlalu banyak-) kepada model sekolahan. Sekolah dewasa ini,  ibarat orang,  sudah pikun, paling sedikit linglung. Jangankan mempengaruhi orang, menyesuaikan diri saja sudah sulit. Dan layaknya orang pikun, ya  tidak tahu mau buat apa. Bisanya hanya latah. Lain yang ditanyakan, lain yang dijawab. Itupun tergagap-gagap.

Lantas apa itu Lingkungan Belajar? Lingkungan belajar adalah lingkungan yang denyut nadinya kegiatan belajar. Dia tidak sama dengan sekolah. Lingkungan ini dibangun bukan hanya agar guru mudah mengajar, tetapi juga agar murid mudah belajar. Para guru bukan sama-sama mengajar, tetapi mengajar bersama-sama. Yang murid –mulai anak-anak sampai remaja, bahkan orangtua- bukan sama-sama belajar, tetapi belajar bersama-sama. Di lingkungan ini hampir tak ada dikotomi rumah-sekolah.  Rumah ibarat sekolah, begitu pula sebaliknya. Orangtua ibarat guru, begitu sebaliknya. Lingkungan yang sangat potensial memenuhi apa yang tak lagi bisa kita harapkan dari model sekolahan.

 

Ada apa dengan sekolah?

Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, gugup menghadapi murid yang berbeda dengan jenis murid ketika pertama kali model ini diciptakan.  Yang dihadapinya sekarang adalah murid-murid yang hidup nyaris tanpa kendala ruang dan waktu, di dunia yang tak kenal istirahat dan tak pernah tidur. Terlalu banyak yang telah mencuri perhatian mereka dan juga menyusup ke dalam pikiran mereka, suka maupun terpaksa. Bagaimana tidak? Mereka adalah generasi multikultural yang tersesat di persimpangan jalan bebas hambatan yang tak lagi punya rambu-rambu, tenggelam di tengah arus informasi yang tak lagi punya kendali. Sementara sekolah (-saya tidak membicarakan sistim klasikal atau kurikulumnya-) nyaris tidak mengalami perubahan berarti dari sejak berdirinya, 350 tahun yang lalu. (lebih…)

Iklan

“rumah belajar Ibnu Abbas” Maret 22, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , ,
21 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Latar Belakang

Didiklah anakmu. Karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu ” [Hikmah].

Sya’ir di atas sangat masyhur di kalangan ulama dan tertulis hampir di setiap kitab yang membahas masalah pendidikan. Ia merupakan prinsip yang tak terbantahkan dan telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pendidik  bahwa pendidikan harus juga berorientasi ke masa depan karena buahnya baru dapat dirasakan justru di saat yang berbeda dengan masa penanamannya. Artinya, sebuah pendidikan haruslah juga diilhami oleh kecenderungan-kecenderungan masa depan dan bukan dibangun dengan visi kekinian semata.

Sampai di sini seakan tak ada yang istimewa dari sya’ir di atas. Bukankah pendidikan yang “berorientasi pasar” pun merupakan wujud prinsip di atas?.

Benar, namun tentu tak sesederhana itu maksudnya, juga ia diucapkan bukan dalam konteks lapangan kerja. Sya’ir di atas tak dapat dilepaskan dari konteks “syar’i”, yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Ia berbicara tentang Aqiedah, Ibadah,dan Akhlaq manusia di zaman di mana ummat tercerai-berai dalam kesesatan [Hadits Iftiroqul Ummah], perkara sholat dilalaikan [S.Maryam : 59], rusaknya akhlaq, sementara Islam menjadi sesuatu yang asing [Hadits Al Ghurobaa]. (lebih…)