jump to navigation

Teladan Saja Tidak Cukup Oktober 11, 2019

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
1 comment so far

Abu Khaulah Zainal Abidin

Tidak bisa dipungkiri bahwa memberi teladan merupakan metode pendidikan yang terbaik. Melalui teladan sebuah kebaikan tidak sekedar menjadi sesuatu yang normatif, tetapi jadi aplikatif: bisa diterapkan, bahkan ditiru. Karenanya, jika seseorang memberi teladan, sesungguhnya ia telah memberikan inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama, bahkan bisa melebihi. Karenanya ia akan mendapatkan dua balasan berupa pahala atau dosa dari perbuatannya dan perbuatan yang mengikutinya.

Dan karena begitu pentingnya peranan teladan -di dalam sebuah masyarakat, misalnya- sering kali ketidakadaannya dijadikan alasan sebab tidak berjalan atau dilanggarnya sebuah aturan. Akhirnya, teladan yang semula hanya sebagai penyempurna berubah menjadi unsur utama. Sampai-sampai banyak orang mengira bahwa kebaikan akan banyak dikerjakan orang cukup hanya dengan adanya teladan. Anggapan ini juga berlaku pada lingkungan yang lebih kecil: keluarga. Buktinya, setiap ada anak nakal, “kambing hitamnya” pasti tak adanya teladan di dalam keluarga.

Lantas bagaimana dengan anak-anak nakal yang datang dari keluarga “baik-baik”; yang bapaknya guru, ustadz, da’i, atau aktifis da’wah; yang orangtuanya menjadi idola masyarakat. Apa sebab ini bisa terjadi? Apa yang kurang pada orangtuanya? Orang-orang akan bilang, “Koq, bisa, ya? Kasihan orangtuanya.” Tapi keheranan itu tidak menyelesaikan persoalan. Dan kalau itu terjadi pada kita –yang merasa telah memberikan contoh yang baik dan tidak pernah sekalipun memberi contoh yang buruk kepada anak–, apa sebabnya? Perhatikanlah empat pertanyaan di bawah ini, mungkin di sana ada jawabnya.

(lebih…)

Sekolah atau Lingkungan Belajar? Juni 21, 2012

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
20 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Kalaulah tujuan pendidikan itu adalah agar manusia tahu untuk apa ia hadir di dunia, kalaulah tujuannya untuk melahirkan generasi yang lebih baik, kalaulah bukan semata untuk meraih kebaikan tetapi juga demi menghindari keburukan, maka bukan saatnya lagi sekarang berharap (-terlalu banyak-) kepada model sekolahan. Sekolah dewasa ini,  ibarat orang,  sudah pikun, paling sedikit linglung. Jangankan mempengaruhi orang, menyesuaikan diri saja sudah sulit. Dan layaknya orang pikun, ya  tidak tahu mau buat apa. Bisanya hanya latah. Lain yang ditanyakan, lain yang dijawab. Itupun tergagap-gagap.

Lantas apa itu Lingkungan Belajar? Lingkungan belajar adalah lingkungan yang denyut nadinya kegiatan belajar. Dia tidak sama dengan sekolah. Lingkungan ini dibangun bukan hanya agar guru mudah mengajar, tetapi juga agar murid mudah belajar. Para guru bukan sama-sama mengajar, tetapi mengajar bersama-sama. Yang murid –mulai anak-anak sampai remaja, bahkan orangtua- bukan sama-sama belajar, tetapi belajar bersama-sama. Di lingkungan ini hampir tak ada dikotomi rumah-sekolah.  Rumah ibarat sekolah, begitu pula sebaliknya. Orangtua ibarat guru, begitu sebaliknya. Lingkungan yang sangat potensial memenuhi apa yang tak lagi bisa kita harapkan dari model sekolahan.

 

Ada apa dengan sekolah?

Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, gugup menghadapi murid yang berbeda dengan jenis murid ketika pertama kali model ini diciptakan.  Yang dihadapinya sekarang adalah murid-murid yang hidup nyaris tanpa kendala ruang dan waktu, di dunia yang tak kenal istirahat dan tak pernah tidur. Terlalu banyak yang telah mencuri perhatian mereka dan juga menyusup ke dalam pikiran mereka, suka maupun terpaksa. Bagaimana tidak? Mereka adalah generasi multikultural yang tersesat di persimpangan jalan bebas hambatan yang tak lagi punya rambu-rambu, tenggelam di tengah arus informasi yang tak lagi punya kendali. Sementara sekolah (-saya tidak membicarakan sistim klasikal atau kurikulumnya-) nyaris tidak mengalami perubahan berarti dari sejak berdirinya, 350 tahun yang lalu. (lebih…)

“Lihat Bagaimana Orangtuanya Diperlakukan!” Juli 11, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , ,
8 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Karena perkara terpenting di dalam urusan habluminannaas (hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah birr walidain (berbakti kepada orangtua). Beberapa ayat di dalam AL Qur’an menunjukkan, betapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua. (lebih…)