jump to navigation

Dasar-Dasar Pendidikan Bagi Anak Juni 18, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , ,
7 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa juga disalahkan manakala timbul permasalahan di usia-usia belajar mereka. Dari sisi ini tampak sekali, bahwa “pendidikan sebagai produk masyarakat” lebih dominan ketimbang “masyarakat sebagai produk pendidikan”. Masyarakat telah lebih dahulu mendifinisikan, bahwa: Pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang mendidik (-nyatanya hanya mengajar-) di usia-usia belajar mereka, 6-3-3-6 th dst. Masyarakat telah lebih dahulu mendisain masa depannya dan meciptakan sistim pendidikannya untuk itu. Tepatnya, bisa dikatakan, bahwa pendidikan adalah cermin sistem sosial, di mana ia diselenggarakan di dalam sekaligus demi cita-cita sistem tersebut. (lebih…)

Iklan

“rumah belajar Ibnu Abbas” Maret 22, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , ,
21 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Latar Belakang

Didiklah anakmu. Karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu ” [Hikmah].

Sya’ir di atas sangat masyhur di kalangan ulama dan tertulis hampir di setiap kitab yang membahas masalah pendidikan. Ia merupakan prinsip yang tak terbantahkan dan telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pendidik  bahwa pendidikan harus juga berorientasi ke masa depan karena buahnya baru dapat dirasakan justru di saat yang berbeda dengan masa penanamannya. Artinya, sebuah pendidikan haruslah juga diilhami oleh kecenderungan-kecenderungan masa depan dan bukan dibangun dengan visi kekinian semata.

Sampai di sini seakan tak ada yang istimewa dari sya’ir di atas. Bukankah pendidikan yang “berorientasi pasar” pun merupakan wujud prinsip di atas?.

Benar, namun tentu tak sesederhana itu maksudnya, juga ia diucapkan bukan dalam konteks lapangan kerja. Sya’ir di atas tak dapat dilepaskan dari konteks “syar’i”, yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Ia berbicara tentang Aqiedah, Ibadah,dan Akhlaq manusia di zaman di mana ummat tercerai-berai dalam kesesatan [Hadits Iftiroqul Ummah], perkara sholat dilalaikan [S.Maryam : 59], rusaknya akhlaq, sementara Islam menjadi sesuatu yang asing [Hadits Al Ghurobaa]. (lebih…)

“Ideologi Pendidikan Kita” Maret 22, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , ,
17 comments

Abu Khaulah Zainal Abidin

Diakui atau tidak, dunia pendidikan kita sungguh telah terperangkap ke dalam kemelut yang mungkin belum pernah terbayangkan semula. Kritik sistim dan bongkar-pasang kurikulum -seperti yang ditempuh selama ini- ternyata tak pernah memuaskan. Maka apa salahnya jika kita melirik kepada ideologinya. Mungkin di sana ada jawabnya.

Pendidikan adalah bagian dari rekayasa sosial. Melalui pendidikanlah masyarakat dibentuk dan diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu. Tetapi pendidikan juga merupakan produk masyarakat. Dengan kata lain, ia juga bisa dilihat sebagai sebuah proses sosial. Sebab, bagaimanapun sistim atau modelnya, pendidikan tak mungkin terbebas dari pengaruh kesadaran dunia, cita-rasa, dan selera tertentu. Bahkan sangat boleh jadi ia dibentuk di bawah tekanan belenggu-belenggu struktural yang sedang berlaku.

Di dalam kritik ideologi (bukan kritik sistim) kita tak akan bertanya, misalnya; berapa sekolah telah dibangun, berapa sarjana telah dihasilkan, serta bagaimana kualitasnya atau bagaimana meningkatkan semangat belajar pada siswa. Kritik ideologi berbicara tentang sejarah, aspek psiko-sosiologis, bentuk dan isi pendidikan, serta hubungannya dengan tingkah laku masyarakat.

(lebih…)

“Pendidikan Kita Hari Ini” Maret 22, 2008

Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Abu Khaulah Zainal Abidin

“Krisis Pendidikan!”kata sebagian orang. “Pendidikan kita amburadul!”kata yang lain. Para praktisi pendidikan sibuk kutak-katik sistim dan bongkar-pasang kurikulum. Tiba-tiba kembali perploncoan di satu perguruan -konon pencetak calon-calon pemimpin- menelan korban jiwa. Dan ini bukan yang pertama kali terjadi di negeri kita tercinta. Keributan dan salah-menyalahkan pun berulang. Sebagian orang berpendapat, solusinya: Ganti Menteri! Kemudian para pedagang pun bersiap-siap mengantisipasi rejeki. Itulah dunia pendidikan kita.

Gambaran di atas hanyalah apa yang tampak di permukaan. Tetapi bukan persoalan yang sesungguhnya. Persoalan sesungguhnya dan masalah terbesar di dalam pendidikan kita justru bermula dari cara pandang dan pemahaman kita sendiri tentang pendidikan. Yaitu, ketika kita menyamakan pendidikan dengan masa belajar, ketika kita membatasi pendidikan hanya dengan kecerdasan, ketika kita merumuskan pendidikan dengan kebutuhan pasar, dan ketika kita mengaitkan pendidikan dengan pembangunan. Sesungguhnya itulah sumber kesalahannya, dan itulah ideologi pendidikan yang kita anut selama ini. Maka -disadari atau tidak- jadilah pendidikan tak lebih dari sebuah komoditi pencetak robot-robot bengis yang melayani kepentingan ideologi-ideologi sekuler.

(lebih…)